
Setelah berbicara dengan dingin pada Marsel, Ardian kembali kekamar untuk sekedar beristirahat. Ardian duduk di pinggir ranjang dengan menoleh ke depan pintu kamar mandi di mana Melody yang sepertinya sedang mandi.
Tidak lama Melody keluar dari kamar mandi dengan dress tidur selututnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk putih. Melody melihat ke arah suaminya yang terduduk murung membuat Melody langsung menghampiri Ardian dengan duduk di samping Ardian.
" Kakak kenapa?" tanya Melody.
Ardian tersenyum tipis, " aku tidak apa-apa?" jawab Ardian.
Melody membuang napasnya perlahan kedepan, " aku tidak percaya kalau Chaca akan pulang kampung," ucap Melody yang tampaknya sedih.
" Apa ini yang pertama kali?" tanya Ardian.
" Mereka sering sih, keluar Negri, kota. Tetapi belum pernah pulang kampung. Seingat aku mamanya kak Gadis yang pernah berkunjung ke Jakarta. Mungkin karena sudah lama juga tidak bertemu makanya mereka pulang kampung. Tapi pasti kali ini sangat lama perginya. Biasanya mereka itu kalau pergi pasti paling lama hanya seminggu saja. Tetapi ini sudah pasti akan sangat lama lagi," ucap Melody dengan wajah manyunnya.
" Apa kamu sedih?" tanya Ardian.
Melody menganggukkan kepalanya. " aku itu sayang banget sama Chaca, aku juga tidak tau kenapa. Tetapi sungguh aku sangat menyayanginya. Aku malahan menganggap Chaca itu seperti anakku sendiri. Ya karena dua sangat lucu dan menggemaskan. Kak Gadis sangat beruntung memiliki anak seperti Chaca," ucap Melody yang bercerita dengan wajah bahagianya.
Ardian hanya tersenyum yang ikut bahagia dengan Melody yang sekarang hidupnya kembali berwarna. Namun terkadang kata yang di keluarkan dari mulut Melody justru membuatnya sedih. Karena istrinya itu sedang mengalami perang batin. Tetapi tidak tau apa artinya.
" Sangat beruntung kan kak Gadis dan kak Marsel memliki seorang anak," ucap Melody lagi.
Ardian meraih ke-2 tangan Melody yang membuat mereka lebih dekat.
" Apa kamu juga ingin memiliki seorang anak?" tanya Ardian dengan suara seraknya yang sekarang mengusap-usap pipi Melody.
Deg.
Tiba-tiba jantung Melody berdebar tidak karuan dengan intensnya Ardian berbicara padanya.
__ADS_1
" Kita juga bisa Melody, kamu bisa hamil dan juga melahirkan, kamu juga bisa memiliki anak seperti Chaca, anak yang lucu dan juga cantik," lanjut Ardian lagi yang bicara semakin intim pada Melody.
" Mari kita lakukan!" ucap Ardian yang bicara to the point.
Uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk.
Melody langsung batuk-batuk dan sedikit menjauh dari Ardian yang mana dia menjadi gugup dengan kedekatannya dengan Ardian.
" A-ak-aku, aku mau minum dulu," ucap Melody gugup dan langsung berdiri yang berusaha untuk menghindar
Ketika ingin melangkah Ardian menahan tangan Melody, membuat darah Melody semakin berdesir hebat.
" Mau minum di mana?" tanya Ardian.
" Ma_ mau minum di dapur," ucap Melody dengan gagap. Bahkan wajahnya sampai memerah karena begitu canggungnya.
" Di sini ada air minum. Kenapa harus jauh-jauh untuk kedapur, minumlah di sini," ucap Ardian.
" Iya, aku lupa," sahut Melody yang langsung melangkah mendekati nakas untuk minum. Ardian tersenyum dengan kegugupan yang terjadi pada Melody yang memang sangat terlihat jika Ardian sengaja untuk menggoda Melody.
Melody yang selesai minum beberapa kali membuang napasnya panjang kedepan yang lebih tepat untuk menenangkan dirinya dari Ardian. Di mana Ardian berada tidak jauh di belakangnya
" Kenapa kak Ardian tiba-tiba harus bicara seperti itu. Aku juga kenapa harus memancing ke arah sana," Melody mengumpat di dalam hatinya yang tidak tau apakah dia merasa dirinya bodoh, kelepasan atau seperti apa. Tetapi yang jelas perasannya tidak tenang saat ini.
Dan jantungnya kembali berdebar cepat. Ketikan merasakan tangan berada di pundaknya yang membuat Melody kaget dan semakin gugup.
Ardian membalikkan tubuh Melody agar tepat berdiri di hadapannya. Melody yang gugup menunduk yang tidak berani menatap Ardian. Ardian mengangkat dagu Melody. Agar wajah cantik yang merah merona itu sejajar padanya.
Ardian perlahan mencium kening Melody yang membuat Melody memejamkan matanya. Setelah itu Melody membuka perlahan matanya dan langsung bertatapan dengan Ardian.
__ADS_1
" Apa aku harus menunggu lagi Melody?" tanya Ardian.
Pertanyaan itu merupakan suatu tuntutan yang mengarah pada hubungan intim yang memang harus di lakukan. Karena pada dasarnya mereka adalah pasangan suami istri.
" Melody!" tegur Ardian yang ingin mendapat jawaban dari istrinya. Melody yang gugup dengan napasnya yang naik turun tidak tau harus menjawab apa. Namun perlahan tangannya memegang pipi Ardian, mengusap lembut pipi itu.
Melody terlihat seperti berusaha menahan rasa traumanya yang berusaha untuk menjadi wanita normal. Walau bisa di pastikan Melody saat ini begitu ketakutan.
" Ya Allah, aku adalah istrinya dan pria di hadapanku ini adalah suamiku. Ini sudah kewajibanku untuk melayani suamiku. Aku tidak bisa membuatnya terus menungguku dan mungkin ini sudah waktunya. Aku harus kuat dan percaya bisa melawan semuanya. Aku juga ingin menjadi wanita normal. Aku harus melakukannya," batin Melody dengan perasaannya yang bercampur aduk.
" Aku bisa melihat Melody sedang berusaha saat itu. Tetapi aku yakin jika dia siap melakukannya. Perlahan tidak akan ada yang tersisa di dalam traumanya. Aku yakin itu Melody akan bisa mengingat dengan sendirinya, aku tidak ingin memaksamu Melody. Tapi aku hanya ingin kamu bisa kembali seperti dulu,"' batin Ardian yang sebenarnya tidak tega untuk memaksa Melody. Namun dia harus melakukannya.
Ardian pun semakin mendekatkan wajahnya pada Melody memeringkan kepalanya dan langsung menempelkan bibirnya pada Melody. Membuat Melody memejamkan matanya dan memberi izin Ardian untuk menciumnya.
Melody dengan perasaanya yang tidak menentu mencoba untuk tenang dan Ardian sendiri memberikan ciuman lembut itu dengan memberi kenyamanan untuk Melody.
Tanpa Melody sadari ternyata Ardian sudah mengangkat tubuhnya ala bridal style, mengangkat tubuh itu ke atas tempat tidur tanpa melepas ciuman itu dan sepertinya Melody memang terbawa suasana sehingga begitu nyaman.
Tampaknya Melody memang akan siap jika Ardian suaminya akan menyentuhnya malam ini. Suasana juga sudah tepat dan sampai sejauh ini Melody belum ada penolakan.
Tok-tok-tok-tok.
Ketukan pintu harus jadi penghalang untuk pasangan itu. Di mana ke-2nya harus berhenti di tengah-tengah ciuman panas dengan gairah yang penuh. Ardian yang berada di atas tubuh Melody harus menengok ke arah pintu.
" Siapa?" tanya Ardian dengan suara beratnya.
" Chaca. Chaca mau bobok sama Aunty dan Om," ucap Chaca. Membuat Ardian dan Melody saling melihat dan mereka berdua harus pasrah dengan gagalnya malam yang sudah hampir bisa terjadi itu.
Bersambung
__ADS_1