
Ardian, Melody, Widia, Eyang besar, Shandra, Widia, Evan, Arya, Vivi, Mila, Bayu, Lea, Evan Raisa dan Novi sedang berkumpul di ruang keluarga untuk membahas masalah yang tadi tertunda itu. Mereka memang harus membicarakan dengan serius untuk masalah itu.
" Kita sudah berkumpul di sini dan melody kami hanya menunggu jawabanmu," sahut Eyang besar.
" Sebelum menjawab, alangkah baiknya Melody meminta maaf dulu pada Raisa," sahut Novi mulai mencari masala.
Melody langsung kaget mendengarnya. Mana mungkin dia meminta maaf pada Raisa. Memang Novi selalu saja mencari gara-gara.
" Untuk apa Tante," sahut Mila heran.
" Ya jelas karena permasalahan yang baru terjadi. Keponakan ku terluka. Jadi bukannya seharunya Melody meminta maaf," sahut Novi menegaskan.
" Apa itu perlu. Bukannya seharunya kita membahas masalah pada intinya saja," sahut Bayu.
" Benar kita bahas saja masalah intinya. Saya harus kekantor buru-buru," sahut Vivi yang terlihat gelisah yang bolak-balik melihat jam tangannya.
" Vivi hanya sebentar jangan pergi dulu," tegur Arya suaminya.
" Jika pembicaraannya ingin di lanjutkan. Ya maka Melody harus meminta maaf dulu," sahut Novi dengan menegaskan.
" Kenapa aku harus meminta maaf?" tanya Melody yang pasti akan membantah hal itu.
" Karena kamu sudah menyakiti perasaannya Raisa. Jadi jangan bertanya seolah-olah kamu tidak tau," sahut Novi.
" Apa yang aku sakiti. Aku tidak melakukan apa-apa dan iya aku tidak akan meminta maaf," sahut Melody menegaskan.
" Melody kamu...."
__ADS_1
" Jangan menyuruhku meminta maaf," sahut Melody memotong pembicaraan Novi, " Jika masih menyuruhku meminta maaf atas kesalahan yang tidak aku lakukan. Maka aku akan memanggil orang tuaku untuk menyelesaikan masalah ini," sahut Melody menegaskan membuat semua orang kaget mendengarnya.
" Apa maksud kamu Melody?" tanya Mila yang terlihat cemas.
" Aku tidak bersalah dan kalian semua memojokkanku seperti ini. Memanggilku untuk membahas masalah penting. Tetapi menyuruhku meminta maaf. Tadi Dokter baru saja memeriksa ku. Dan aku seperti ini akibat kejadian tadi. Aku juga akan melaporka kepada polisi atas ketidak nyamanan yang di lakukannya kepadaku. Aku jelas punya buktinya dan surat dari Dokter bukti terkuatnya. Jadi jika kalian tidak bida bicara dengan baik. Maka aku akan melaporkan Raisa ataupun keluarga ini ke kantor polisi," ucap Melody menegaskan dengan suara rendahnya yang sepertinya dia sudah capek.
Raisa melotot mendengar ancaman Melody yang tidak di sangka-sangkanya. Dan orang-orang di sana juga terlihat kaget dengan Melody yang membawa-bawa polisi dengan santainya.
" Aku rasa masalah ini tidak perlu sampai kesana Melody," sahut Bayu.
" Jika tidak maka jangan memulai perdebatan yang membuatku hilang kesabaran. Aku manisia. Jika kalian ingin di hargai. Maka hargai juga aku," sahut Melody dengan santai-santai.
" Sudah-sudah masalah ini tidak perlu di lanjutkan lagi. Baik Melody maupun Raisa. Jangan membahas masalah itu lagi. Kita berkumpul untuk menunggu jawaban Melody bukan membahas masalah yang lain," sahut Eyang besar mengambil keputusan.
Raisa dan Novi langsung terdiam yang sekarang berubah menjadi panik karena Melody yang membawa-bawa nama polisi dan mungkin kalau gilanya Melody datang pasti akan melakukan hal itu.
" Aku akan melakukannya. Melakukan semua tradisi yang kalian minta," sahut Melody dengan yakin dengan keputusan yang sudah di pikirkannya matang-matang.
Mila, Bayu, Vivi, Arya, Evan, Widia, Eyang, dan Shandra bernapas lega mendengarnya. Akhirnya Melody mau mendengarkan apa yang di katakan mereka.
" Sial, wanita ini pasti sengaja melakukannya untuk mengalahkan ku," batin Raisa yang kelihatan tidak terima.
" Syukurlah kalau begitu kita semua bisa siapkan semuanya," sahut Mila.
" Tetapi aku meminta beberapa syarat," sahut Melody yang membuat orang-orang heran.
" Apa lagi yang di inginkan Melody," batin Ardian yang malah panik.
__ADS_1
" Syarat apa Melody?" tanya Widia.
" Sebagai seorang wanita aku mempunyai impian perniakah terlepas menikah di paksa atau tidak. Tetap sudah terlanjur dan aku ingin meminta hak ku sebagai wanita yang di nikahi. Aku ingin kalian menyiapkan resepsi Untuku dan Ardian," ucap Melody.
Permintaan itu membuat Raisa tersentak kaget. Bukan hanya Raisa Novi juga kaget dan orang-orang di sana saling melihat mendengar pernyataan Melody tidak tau apa itu kabar bahagia atau tidak.
" Ya dia sudah benar-benar bangun dari tidurnya kenapa tidak dari kemarin," batin Lea yang tersenyum.
" Itu tidak mungkin," sahut Raisa yang langsung protes, " Resepsi tidak mungkin ada. Jika ada orang-orang akan tau Ardian sudah menikah. Sementara aku dan Ardian yang sudah mempersiapkan pernikahan. Jadi jangan berharap resepsi itu akan ada," ucap Raisa menolak mentah-mentah.
" Ada apa Raisa. Kata-katamu seolah kau menginginkan aku berpisah dari Ardian," sahut Melody membuat Raisa menatapnya tajam. " Atau jangan-jangan kalian juga berpikir seperti itu. Pikiran kalian setelah aku menikah dengan Ardian maka akan berpisah. Lalu menikahkan Raisa dengan Ardian. Apa yang kalian pikirkan. Apa kalian pikir pernikahan ku ini sementara," sahut Melody dengan santai. Orang-orang yang di sana saling melihat.
" Aku di nikahi di rumah sakit dan kalian mengangapnya sah. Lalu kalian juga membawa pernikahan itu kepengadilan yang mana aku sah sebagai istri di mata agama dan juga hukum. Lalu apa yang salah jika aku meminta resepsi pernikahan. Pernikahan ku hanya sekali. Aku juga ingin teman-teman ku tau jika aku sudah menikah dan pastinya semua keluarga besar juga harus tau bukan jika Ardian sudah menikah,"
" Jadi apa yang kalian sembunyikan. Kalian ingin tutupi dan tradisi bukannya memang akan di lakukan dengan terbuka dan resepsi juga akan di laksanakan untuk orang-orang tau aku menikah dengan Ardian," ucap Melody mengaskan pada orang-orang di sana.
" Tapi aku tidak setuju. Aku yang sudah mempersiapkan pernikahan dengan Ardian dan bukan kamu. Jadi orang-orang hanya akan tau pernikahanku dengan Ardian," sahut Raisa yang terus memperotes.
" Itu bukan urusanku. Aku tidak mau tau hal itu. Aku sudah menikah yang mana orang-orang di rumah ini harus memikirkanku dan memberikan hak ku. Dan masalahmu tidak ada urusannya denganku," ucap Melody mendengarkan dengan menatap sinis Raisa.
" Tidak aku tetap tidak mau hal ini terjadi. Ardian apa-apaan kamu ini. Aku ini masih pacarmu, bicaralah dan jangan melakukan resepsi dengannya. Kita akan menikah dan seharusnya kamu ceraikan dia," sahut Raisa yang terus protes.
" Cukup!" bentak Ardian dan langsung berdiri melihat satu persatu orang di sana.
" Siapkan resepsi untuk aku dan Melody," sahut Ardian dengan yakin pada keputusannya. Melody merasa lega mendengarnya dengan ketegasan Ardian.
Bersambung
__ADS_1