Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 191 Melepas rindu.


__ADS_3

" Arghh, sudahlah Rasti jangan membahas hal yang tidak penting. Bukannya kamu mau beli makanan sana beli nanti Melody kelaparan lagi, kamu tidak mau kan dia ke laparkan," ucap Lea mengusir Rasti secara halus. Agar pembicaraan mengenai dia dan Alvin bisa teralihkan.


" Astaga aku sampai lupa karena ke asyikan bicara," sahut Rasti menepuk jidatnya. Lea hanya tersenyum kaku saja.


" Ya sudah kalau begitu. Aku pergi dulu ya," ucap Rasti. Lea mengangguk dengan tersenyum.


" Huhhhhh," Lea membuang napasnya panjang kedepan, " kenapa sih harus tau banget hubungan aku dan Alvin. Apa pentingnya coba. Aku juga tidak bisa memberitahu detailnya hubungan ku dengan Alvin. Karena belum waktunya apa lagi masa-masa seperti ini. Cukup Melody dan Ardian saja yang tau hal itu," ucap Lea yang masih menutup tentang dia dan Alvin.


" Semoga saja Rasti tidak terus mengungkit masalah hubungan kami," batin Lea dengan geleng-geleng kepala.


***********


Kediaman Alvin.


Alvin ke luar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe sembari melap kering rambutnya dengan handuk kecil.


Alvin tampak lelah dengan banyaknya yang di kerjakan nya seharian. Bukan urusan bisnisnya melainkan urusan kepolisian mengenai Novi dan Raisa. Seharusnya Alvin tidak ikut-ikutan. Tetapi dia harus ikut-ikutan sekalian mencari informasi mengenai kasus kecelakaan Rio yang memastikan apa Raisa dan Novi tau hal itu. Jika dia ada di balik kematian saudara tirinya itu.


Ya sejauh ini semuanya bersih dan pihak Polisi sudah di konfirmasi kalau memang kejadian yang menimpa Rio murni kecelakaan. Tetapi Alvin juga was-was dan ingin memastikan saja. Apa lagi pada Raisa. Karena Raisa masih hidup dan Alvin takut Raisa mengetahui sesuatu yang akhirnya dia terseret.


" Aku lelah sekali," keluhnya memijat belakang lehernya dengan menggoyang-goyangkan kepalanya. Agar otot-otot lehernya bisa lebih baik.


Toko-tok-tok-tok.


Di tengah pekerjaannya sembari melamun dalam pikirannya yang kemana-mana. Tiba-tiba pintu di ketuk.


" Ada apa?" tanya Alvin tanpa membuka pintu kamar.


" Maaf tuan. Ada yang ingin bertemu di bawah," jawab suara pelayan wanita dari luar kamar.


" Siapa?" tanya Alvin.


" Nona Lea," jawab Alvin.


" Suruh dia kemari saja!" perintah Alvin.


" Baik tuan," jawab pelan itu dan langsung pergi.

__ADS_1


" Tumben sekali Lea datang kemari. Aku juga tidak pernah bicara dan bertemu dengannya setelah kami sampai ke rumah sakit. Apa ada yang penting sampai harus menemuiku tanpa mengabariku dulu," gumam Alvin yang tampaknya sedikit tenang dengan kehadiran Lea. Wanita yang di sukainya itu.


Krekk.


Tidak lama akhirnya Lea pun datang yang mana Lea masih memasukkan kepalanya terlebih dahulu ke dalam kamar.


" Masuklah! jangan di sana saja," sahut Alvin yang duduk di sofa. Lea menganggukkan kepalanya dan langsung memasuki kamar Alvin yang menghampiri Alvin duduk di sofa.


" Kenapa datang kemari?" tanya Alvin.


" Memang tidak boleh datang kemari?" tanya Lea.


" Bukan begitu. Aku hanya heran saja. Tiba-tiba datang tanpa mengabari apa ada hal yang penting?" tanya Alvin yang sekarang memegang tangan Lea mengusap punggung tangan itu dengan lembut.


" Tidak ada yang penting dan bahkan tidak penting-penting amat. Aku datang hanya ingin tau ke adaanmu saja. Karena kamu tidak mengabari apa-apa kepadaku dan bahkan aku hanya tau dari Evan," jawab Melody.


" Maksudnya? aku tidak mengerti dengan perkataanmu?" tanya Alvin heran dengan menautkan ke-2 alisnya.


" Masalah ke polisi an. Apa terjadi sesuatu?" tanya Lea yang mungkin punya firasat yang tidak enak dengan kekasihnya di depannya itu.


" Kenapa sekarang harus membahas Polisi memang apa yang terjadi dan apa yang di katakan Evan?" tanya Alvin.


" Lalu apa yang salah dalam hal itu. Apa itu bukannya biasa saja?" tanya Alvin heran.


" Alvin kamu mengurus semua masalah Raisa dan Novi kekantor Polisi yang aku rasa kamu tidak perlu melakukannya. Bahkan kami saja menyerahkan semua kepada Polisi. Tetapi kamu terlihat sibuk. Seperti sengaja ingin turut campur masalah ke Polisian. Katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya. Apa kamu ikut campur. Karena ingin mencari tau sesuatu," ucap Lea dengan wajahnya yang tiba-tiba khawatir pada Alvin yang merasa ada yang di sembunyikan Alvin darinya.


Alvin membawa Lea lebih dekat padanya dan mendekatkan wajahnya pada Lea. Dengan memegang pipi Lea dan mengusapnya dengan lembut.


" Sejak pertama bertemu dengan mu. Aku sudah menyadari. Kamu wanita yang pintar dan punya insting kuat. Sampai kamu juga hari ini tau apa tujuanku sebenarnya," ucap Alvin.


" Jadi benar ada sesuatu?" tanya Lea yang menatap Alvin ingin tau segalanya dari Alvin.


" Hmmm, aku hanya memastikan masalah Rio. Itu saja Lea," jawab Alvin yang memang tidak akan bisa berbohong pada Lea.


" Alvin katakan padaku. Apa kecelakaan Rio kamu yang melakukannya?" tanya Lea yang tiba-tiba ingin tau.


Awalnya dia tidak peduli. Karena itu bukan urusannya dan dia pertama tidak meminta apa-apa dari Alvin mengenai Rio dan jelas saat Rio di kabarkan meninggal karena kecelakaan helikopter saat ingin melarikan diri. Lea juga terkejut dan sebelumnya Alvin mengatakan jika dia memberi bonus pada Lea dan mungkin bonus itu adalah kematian Rio.

__ADS_1


" Kenapa diam? jawab pertanyaan ku?" tanya Lea yang masih menunggu jawaban Alvin.


" Lea apa itu penting untukmu?" tanya Alvin.


" Itu memang tidak penting. Jika tidak berhubungan dengan kamu. Jadi masalahnya sekarang begitu penting. Karena berhubungan dengan kamu," ucap Lea dengan memegang pipi Alvin.


" Perkataan kamu sudah menjawab apa yang kamu tanyakan sendiri," sahut Alvin.


Mendengar hal itu membuat Lea menghela napasnya panjang, " lalu apa semuanya akan baik-baik saja?" tanya Lea yang rasa khawatirnya semakin tinggi.


" Aku berjanji akan baik-baik saja. Ini masalah kecil dan tidak akan terjadi apa-apa," ucap Alvin meyakinkan Lea.


" Aku juga berharap seperti itu," jawab Lea.


" Hmmm, sudahlah jangan memikirkan itu. Aku adalah Alvino yang bisa mengurus masalah itu dengan mudah. Jadi jangan khawatir," ucap Alvin yang menyombongkan dirinya agar Lea memang tidak khawatir padanya.


" Iya. Aku tau kamu memang bisa melakukan apa saja. Tetapi tetap saja aku khawatir," sahut Lea.


" Aku sudah mengatakan jangan khawatir dan lupakan masalah itu. Sekarang katakan kepadaku. Bagaimana ke adaan Ardian. Apa sudah ada perkembangan?" tanya Alvin.


" Ardian masih dalam keadaan kritis. Ya Dokter bilang kondisinya begitu parah dan Melody juga kasihan. Dia terus menangis dan bahkan makan pun sudah tidak berselara lagi. Aku juga khawatir mengenai kesehatannya," ucap Lea dengan wajahnya yang penuh rasa khawatir.


" Semoga saja mereka baik-baik saja. Ardian cepat sadar dan Melody di beri kekuatan dan juga ketenangan," ucap Alvin dengan harapannya yang penuh.


" Amin," jawab Lea.


Lea menatap wajah Alvin yang tampak kusut dan begitu berpikir besar membuat Lea harus memegang pipi Alvin.


" Kamu sudah makan?" tanya Lea dengan lembut yang mulai perhatian pada Alvin dan Alvin menggelengkan kepalanya. Memang dia belum makan sama sekali.


" Kamu mau makan?" tanya Lea. Alvin menggeleng.


" Lalu kamu mau apa?" tanya Lea.


" Aku merindukan mu," jawab Alvin dengan suara seraknya yang sekarang mengecup bibir Lea sekilas.


" Aku juga," jawab Lea dengan tersenyum manis menatap dalam-dalam wajah Alvin yang sudah berada di depannya yang begitu dekat dengannya di mana dahi mereka saling menempel dengan mata mereka yang saling melihat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2