
" Apa yang Tante katakan salah Lea. Apa yang tante katakan adalah kebenarannya. Kamu lihat wanita ini dia berani menolak Evan dan lihat apa yang terjadi pada Evan. Evan menerima dirinya apa adanya. Kelakuannya yang selalu ingin suka-suka. Evan selalu mengalah untuknya. Tapi apa yang di lakukannya dia hanya menghancurkan kehidupan Evan dan kamu ingin Tante hanya dia saja. Itu tidak mungkin Lea!" teriak Shandra yang benar-benar emosi.
" Tante jangan berteriak di sini. Lihat di sekitar Tante banyak orang Tante. Malu Tante jangan seperti ini," ucap Alvin mengingatkan Shandra.
" Aku tidak peduli. Semuanya pantas di dapatkannya. Wanita tidak tau terima kasih, wanita yang sudah di berikan hidup enak. Tetapi tidak tau diri. Atau jangan-jangan kamu mendapatkan laki-laki yang lebih kaya lagi dari Evan. Iya makanya kamu meninggalkannya dengan mudah!" tuduh Shandra.
" Aku tidak melakukan itu," sahut Rasti mengangkat kepalanya yang wajahnya di penuhi dengan air mata yang deras.
" Sudahlah Tante jangan membicarakan ini lagi. Ayo kita cari tempat untuk bicara. Jangan di sini!" ajak Lea berusaha membujuk Shandra.
Karena sejak tadi mereka menjadi tontonan orang-orang.
" Maaf aku sudah membuat kalian semua kecewa. Tetapi sungguh. Aku tidak bermaksud untuk melakukannya. Maafkan aku. Aku mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk Evan," ucap Rasti menyeka air matanya dan langsung berdiri pergi meninggalkan tempat itu.
" Rasti!" panggil Lea yang langsung mengejar Rasti. Alvin bingung harus berbuat apa. Dia hanya melihat Shandra sebentar dan langsung pergi menyusul Lea dan Rasti.
" Rasti!" panggil Lea yang berhasil menghentikan Rasti saat Rasti ingin memasuki mobil.
" Rasti came on. Kamu jangan seperti ini. Tidak baik pergi begitu saja. Ayo bicara sebentar dengan Tante Shandra. Tante Shandra hanya marah. Apa yang di katakannya pasti sangat di sesalinya. Jadi jangan memasukkan kata-kata Tante Shandra kehati kamu. Kamu harus tau Tante Shandra itu hanya kecewa dan perasaannya tidak enak," ucap Lea.
" Toda Lea. Apa yang di katakan Tante Shandra adalah kebenarannya. Dan iya aku memang tidak tau diri dan wajar kok Tante Shandra mengatakan itu. Memang aku pantas mendapatkannya," ucap Rasti tersenyum untuk menutupi hatinya yang sakit.
" Rasti!" lirih Lea.
" Sudahlah Lea. Aku tidak apa-apa. Ini jauh lebih baik. Dan memang seharusnya aku mendapatkan semua ini. Jadi aku tidak apa-apa sama sekali," ucap Rasti dengan tenang.
Rasti mengambil tangan Lea dengan telapak tangan Lea yang terbuka.
" Berikan ini pada Evan," ucap Rasti meletakkan kunci mobil di tangan Lea.
" Apa yang kamu lakukan Rasti?" tanya Lea heran.
" Ini milik dia. Jadi kamu berikan saja ini kepadanya. Katakan terima kasih untuk semua yang telah di berikannya. Aku tidak bisa membalasnya," ucap Rasti.
" Rasti!" lirih Lea.
" Sudah ya aku pulang dulu. Sampai jumpa lain kali," ucap Rasti tersenyum membawa luka dan akhirnya pergi dari hadapan Lea.
" Rasti!" panggil Lea. Namun Rasti tidak menggubris dan berlari meninggalkan tempat itu.
" Lea!" panggil Alvin yang menghampiri Lea.
" Dia pergi," ucap Lea.
" Dia mungkin terluka dengan kata-kata Tante Shandra," ucap Alvin.
" Pasti iya, kasihan Rasti. Aku tidak tau apa yang terjadi. Tetapi sungguh dia pasti begitu terluka," ucap Lea.
__ADS_1
" Sudahlah kita doakan saja apa yang terbaik," ucap Alvin. Lea hanya mengangguk saja.
**********
Melody dan Ardian sampai ke rumah. Namun saat berada di rumah terdengar keributan membuat Ardian dan Melody langsung buru-buru masuk kedalam.
" Siapa uang menyuruh mama untuk menemuinya!" teriak Evan.
" Mama memang sengaja untuk menemuinya. Untuk mengetahui apa alasannya untuk meninggalkan kamu!" teriak Shandra.
" Apa semua itu perlu mah. Apa mama harus mengatakan ini itu kepadanya. Mah selama ini aku tulus sama Rasti. Mama tidak perlu menghinanya seperti itu," ucap Evan yang terlihat begitu marah.
Ardian, Melody, Lea, Alvin dan yang lainnya yang ada di sana cukup kaget melihat Evan. Karena sebelumnya Evan tidak pernah semarah itu. Ini pertama kali Evan begitu marah.
" Kamu memang tulus kepadanya. Tetapi bagaimana dengan wanita itu hah! dia tidak pernah tulus pada kamu dan hanya memanfaatkan kamu untuk permasalahan semuanya. Apa kamu sadar itu Evan. Lihat apa yang di lakukannya. Beraninya dia melakukan semua ini kepada kamu. Apa yang kamu lakukan yang kamu berikan kepadanya hanya di balas dengan semua ini dan sekarang kamu masih membelanya. Kamu seharusnya sadar Evan!" teriak Shandra menunjuk tepat di wajah Evan.
" Mama cukup!" bentak Evan.
" Evan!" lirih Widia yang berusaha untuk menenagkan Evan.
" Aku sudah mengatakan kepada mama apa yang terjadi kepadaku dan juga Rasti itu adalah urusanku. Jadi aku mohon sama mama jangan melakukan ini lagi. Aku tidak ingin mah Rasti terluka karena perbuatan mama," ucap Evan merendahkan suaranya.
" Kamu benar-benar sudah di butakan olehnya," sahut Shandra tidak habis pikir.
" Terserah apa yang mau mama katakan. Yang jelas aku peringatkan sekali lagi pada mama jangan pernah mengganggunya lagi," tegas Evan yang akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.
" Evan!" panggil Shandra.
" Aku melakukan demi anakku," sahut Shandra.
" Tetapi apa yang kamu dapatkan demi anak kamu hah! lihat apa yang terjadi. Kamu bukan hanya melukai hati Rasti. Tetapi Evan juga," ucap Eyang.
" Benar Shandra biarkan mereka mengurus masalah mereka sendiri," sahut Widia.
Shandra menghela napasnya panjang dan membuatnya perlahan kedepan. Lalu meninggalkan tempat itu.
" Apa yang terjadi Lea?" tanya Melody pelan.
" Ceritanya panjang," jawab Lea membuat Melody dan Ardian bingung dan bertambah penasaran.
" Kalian sebaiknya istirahat," sahut Widia.
Melody, Ardian dan Lea mengangguk yang memang sebaiknya mereka itu beristirahat.
***********
Evan, Ardian dan Alvin berada di halaman belakang yang sepertinya mengobrol serius dengan Evan.
__ADS_1
" Sebaiknya kembali bicara dengan Rasti dengan baik-baik," ucap Ardian menyarankan.
" Aku sudah ingin melakukannya. Tetapi Rasti tidak mengangkat telpon ku. Dia sudah menghindariku," jawab Evan yang pasrah dengan hubungannya.
" Kamu coba temui dia di rumahnya atau tempat kerjanya," sahut Alvin memberi saran.
" Aku sempat kepikiran untuk melakukan hal itu. Tetapi aku takut. Masalah akan semakin banyak," jawab Evan.
" Evan kamu sadar tidak jika Rasti sedang menyembunyikan sesuatu," sahut Ardian membuat Evan melihat ke arahnya.
" Maksud kamu?" tanya Evan heran.
" Kamu lihat apa yang terjadi sekarang ini. Apa kamu yakin. Jika Rasti menolak lamaran kamu dan memutuskan hubungan kalian. Hanya dengan alasan yang tidak masuk akal sama sekali," ucap Ardian.
" Mungkin saja dia punya pilihan lain yang terbaik dari aku," sahut Evan tampak pasrah.
" Tidak mungkin Evan. Kamu pasti mengenal Rasti seperti apa. Apa menurut kamu hanya itu alasannya," sahut Ardian.
" Lalu apa?" tanya Evan, " aku sudah mengatakan aku sudah capek dengan semua ini. Kalau memang ini yang terbaik ya sudah. Aku tidak mau masalah semakin banyak dan mama semakin berbuat yang tidak-tidak," ucap Evan yang sudah tidak ingin membahas Rasti lagi.
" Tetapi paling tidak berusaha lah Evan. Karena hubungan kamu dan Rasti bukan terjadi baru kemarin. Kalian sudah lama menjalani semuanya dan seharusnya tidak berakhir tanpa ada kejelasan. Jadi lakukan lah sesuatu," ucap Ardian.
Evan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya yang tampak terlihat stres dengan masalah yang di hadapinya.
" Aku setuju sama Ardian. Dari pada kamu mengurung diri di dalam rumah membuat Tante Shandra semakin marah. Ada sebaiknya kamu benar-benar mencari tau ada apa dengan Rasti. Agar masalah ini benar-benar clear dan jika memang yang terbaik untuk kalian adalah berpisah. Paling tidak kau sudah berusaha. Jadi tidak akan ada penyesalan lagi," ucap Alvin dengan bijak memberikan saran.
Tidak tau apakah kata-kata Ardian dan Alvin masuk kedalam otak Evan atau tidak. Namun Evan masih terlihat stress dengan masalahnya. Yang juga kebingungan harus melakukan apa. Dan dia sudah beberapa hari ini mengurung diri yang benar-benar galau karena putus cinta.
*********
Hari ini Melody dan Lea pergi kerumah sakit. Rumah sakit di mana kemarin Melody dan Ardian cek kandungan dan juga saat bertemu dengan Rasti dan Rasti menghilang begitu saja. Melody menceritakan kepada Lea tentang kejadian semalam dan mereka memutuskan untuk ke rumah sakit. Karena mereka ber-2 merasa ada sesuatu yang tidak beres. Jadi mereka datang untuk memastikan apa yang terjadi.
" Kamu yakin akan dapat petunjuk di sini?" tanya Lea yang melihat-lihat ke luar.
" Tidak ada salahnya kita coba. Aku tidak tau apa yang terjadi. Tetapi aku punya perasaan yang tidak beres. Aku hanya berharap. Ada petunjuk," jawab Melody yang juga tidak yakin sebenarnya.
" Ya sudah mari kita masuk," sahut Lea. Melody mengangguk dan mereka sama-sama membuka sabuk pengaman mereka. Namun tiba-tiba Melody menghentikan pekerjaannya.
" Lea lihat itu!" tunjuk Melody dan Lea langsung melihatnya. Di mana ternyata Rasti yang baru keluar dari dalam Taxi.
" Rasti!" gumam Lea dengan kaget.
" Libatkan dia memang datang ke rumah sakit ini. Berarti aku tidak salah lihat. Dia datang lagi," ucap Melody.
" Ya sudah ayo cepat buruan. Kita harus cari tau apa yang terjadi. Jangan sampai kita kehilangan jejak lagi," ucap Lea yang buru-buru keluar dari mobil. Begitu juga dengan Melody. Mereka berdua langsung memasuki rumah sakit untuk mengikuti Rasti.
Memang sangat bertepatan Rasti datang dan Melody dan Lea juga ingin memastikan sesuatu. Insting Melody dan Lea memang begitu kuat.
__ADS_1
Mereka berdua mencari-cari di mana Rasti dan menemukan Rasti yang berjalan dengan santai. Melody dan Lea terus mengikuti Rasti.
Bersambung