Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 252 dukungan teman-teman.


__ADS_3

" Tapi Evan, itu tidak mungkin," sahut Rasti.


Evan mendekatkan dirinya pada Rasti dengan berada di hadapan Rasti. Memegang ke-2 tangan Rasti.


" Apa yang tidak mungkin. Bagiku semuanya sudah mungkin. Kamu adalah milikku. Dan jika milikku kenapa-kenapa. Maka itu tugasku untuk mengurusnya. Jadi jelas dengan apa yang aku katakan aku tidak akan meninggalkanmu walau hanya sedetik saja. Kita akan berjuang sama-sama. Aku akan melakukan banyak hal untukmu. Kamu jangan takut aku akan selalu ada untukmu," ucap Evan yang kembali mengulang kata-katanya yang benar-benar akan tulus berada di sisi Rasti.


" Itu tidak mungkin Evan," sahut Rasti ragu.


" Apa yang tidak mungkin. Aku mengenalmu bukan kemarin. Kita berbunga bukan sebulan 2 bulan. Jadi tidak ada yang salah untuk apa yang aku lakukan. Itu hal yang wajar Rasti," tegas Evan.


" Tante Shandra bagaimana. Evan semua sudah tidak seperti dulu lagi. Semuanya sudah berubah. Tante Shandra sudah sangat membenciku Evan," ucap Rasti yang masih mengingat makian Shandra padanya.


" Mama bukan iblis Rasti. Kamu tau bagaimana mama ku. Dia akan mengerti dan pasti sangat menyesal dengan apa yang di katakannya kemarin padamu. Rasti kamu tidak perlu menyembuyikan apa-apa lagi dari ku. Dari keluargaku. Bukan hanya aku yang menjadi bagian dari hidupmu. Tetapi seluruh keluarga ku sudah menjadi bagian dari hidupmu yang artinya apapun yang terjadi kita akan tetap bersama, melewati semuanya berusaha dan pasti berdoa," ucap Evan dengan tulus bicara yang tanpa melepas tatapan matanya dari Rasti.


Mendengarnya Rasti hanya semakin menangis. Air matanya semakin mengalir deras membuat Evan langsung mengusapnya.


" Aku mencintaimu Rasti. Katakan kepadaku. Jika kau juga mencintaiku. Katakan kepadaku jika perasaan mu tidak pernah berkurang sedikit pun kepadaku. Katakan jika menjadi istriku adalah impianmu yang sebenarnya. Katakan semua itu kepadaku Rasti. Aku ingin mendengarnya," ucap Evan dengan air matanya yang menetes.


Rasti mengangguk-angguk dan langsung memeluk Evan dengan erat.


" Aku mencintaimu dan maafkan dengan semua kata-kata ku. Aku hanya takut mengecewakan mu. Makanya aku melakukan semua itu. Maafkan aku Evan. Aku sungguh-sungguh tidak bermaksud melakukannya. Aku sangat mencintaimu dan sangat ingin menjadi istrimu," ucap Rasti yang menangis di pelukan Evan.


" Aku juga mencintaimu. Jangan pergi lagi dariku. Kita akan berjuang sama-sama. Jangan menyembunyikan apa-apa lagi dariku. Kamu mengerti kan," ucap Evan. Rasti mengangguk-angguk pelan.


************


" Kenapa Evan menyuruh kita untuk bertemu di sini!" tanya Melody heran yang mana Evan tadi menelpon dan mengatakan ingin bicara dengan Alvin, Lea, Ardian dan juga Melody. Karena bingung tempatnya di mana jadi Evan menyuruh untuk bertemu di Restaurant Melody.


" Aku juga tidak tau. Sebenarnya dia juga kemana semalaman tidak memberi kabar dan baru ini memberi kabar. Sudah tau orang-oranga pusing memikirkan Rasti yang masih tidak tau apa yang terjadi. Semua masih dugaan," ucap Lea yang mengoceh sejak tadi yang benar-benar steres mengurus sepupu dan juga temannya.


" Sayang kamu jangan marah-marah terus, lihat wajah kamu sangat jelek," ucap Alvin uang mencoba mencairkan mood istrinya itu.


" Bagaimana tidak marah-marah. Semuanya sangat menyebalkan, belum lagi masalah Tante Shandra, kerjanya juga setiap hari marah-marah terus. Aku pusing," sahut Lea memijat pangkal hidungnya.


" Sudahlah dari pada pusing kita pesan makanan aja sambil menunggu Evan," sahut Ardian yang langsung memutuskan.


" Iya benar, kita makan aja ya. Kebetulan di sini ada makanan yang baru. Jadi pasti bisa mengobati rasa pusing kamu. Biar pikiran kamu juga tenang," ucap Melody.


" Ya sudah sayang sana kamu ambil!" suruh Ardian.


" Baiklah kalian tunggu di sini," sahut Melody dengan tersenyum yang mencoba menghibur Lea. Walau Lea begitu kesalnya.


***********

__ADS_1


Akhirnya mereka benar-benar mengisi perut di pagi hari sembari menunggu Evan. Memang kalau masalah menunggu tidak heran. Karena memang Evan orangnya sangat hobi telat dan apalagi dalam perjanjian. Mau itu dia yang berjanji atau tidak masalah telat tetap saja tidak terhindari.


Sama dengan saat ini yang sudah berapa lama, Melody, Ardian, Lea dan Alvin menunggu bahkan makanan yang di rekomendasikan Melody juga sudah hampir habis. Namun Evan yang ditunggu-tunggu tidak datang sama sekali.


" Di mana sih Evan, nggak datang juga. Jadi apa tidak sih sebenarnya," sahut Lea yang mulai kesal.


" Tau nih sudah jam berapa ini," sahut Alvin.


" Ya sudah biar aku telpon saja," sahut Melody yang mencoba menghubungi.


" Itu dia datang," sahut Ardian menunjuk yang melihat kedatangan Evan yang ternyata bersama Rasti.


" Rasti!" pekik mereka dengan serentak yang terkejut melihat ke datangan Rasti yang tiba-tiba saja bisa-bisanya bersama Evan.


" Aku tidak salah lihat dia bersama Rasti," sahut Lea yang melihat pasangan itu dengan serius yang memasuki Restaurant bahkan dengan tangan yang saling bergandengan.


" Memang tidak salah lihat. Itu memang Rasti. Apa mereka sudah baikan?" sahut Melody yang juga tidak percaya.


" Kalau sudah seperti itu. Ya pasti mereka sudah baikan," sahut Ardian.


" Sudah diam! mereka mau dekat," sahut Alvin menghentikan pergosipan itu saat Rasti dan Evan sudah sampai pada meja mereka.


" Maaf kami datangnya terlambat," ucap Evan dengan wajah yang seriusnya.


" Tidak apa-apa Evan sudah biasa," sahut Lea dengan menyindir.


" Aku baik-baik saja," jawab Rasti dengan tersenyum tipis.


" Ya sudah ayo duduk. Jangan berdiri saja di sana," sahut Ardian. Evan dan Rasti saling melihat dan akhirnya mereka duduk.


" Evan kami menunggu kamu cukup lama. Jadi sekarang katakan apa maksud dan tujuan kamu untuk menyuruh kami berkumpul di sini," sahut Alvin yang tidak ingin basa-basi.


" Ini langsung saja mengenai hubunganku dan Rasti dan juga apa yang terjadi dengan Rasti belakangan ini. Kecurigaan kalian kepada Rasti," jawab Evan yang berbicara sendu.


" Evan apa ada hal yang begitu serius?" tanya Melody yang terlihat sangat gugup. Evan menganggukkan kepalanya dan melihat ke arah Rasti dengan memegang tangan Rasti yang seakan memberikan kekuatan untuk Rasti.


" Apa yang terjadi sebenarnya Evan. Apa yang ingin kamu bicarakan dengan Rasti sebenarnya?" tanya Ardian yang juga penasaran.


" Maafkan aku sudah membuat kalian semua resah. Kalian banyak berpikir mengenai aku. Maafkan untuk semua yang sudah aku lakukan. Gara-gara hubungan ku dan Evan kalian jadi ikut-ikutan repot dan juga mengalami semua ini. Hal ini karena aku tidak berani untuk mengungkap kebenaran bahwa selama ini aku mengalami kanker rahim," ucap Rasti yang berterus terang membuat Melody, Ardian, Lea dan Alvin terkejut mendengarnya.


Mata mereka terbuka lebar dengan mulut menganga, Melody dan Lea sampai menutup mulut mereka dengan satu tangan mereka.


" Jadi dugaanku benar. Jika kamu sebenarnya sedang sakit," sahut Melody dengan suaranya yang tertahan yang masih begitu terkejut mendengar pengakuan dari Rasti.

__ADS_1


" Iya Melody aku diagnosa kanker rahim dan Dokter menyarankan untuk melakukan pengangkatan rahim. Aku tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa memaksakan hubunganku dengan Evan. Makanya aku mengambil keputusan itu," jelas Rasti dengan matanya yang berkaca-kaca. Melody memegang tangan Rasti untuk menguatkan Rasti.


" Kenapa tidak cerita kepada kami?" tanya Melody yang pasti kecewa dengan Rasti menyembunyikan hal sebesar itu.


" Aku tidak ingin membuat kalian repot dan kepikiran tentang aku," jawab Rasti.


" Rasti tapi apa yang kamu lakukan tidak benar. Kamu sudah banyak membantuku. Apapun masalahku aku selalu beritahu. Kita selalu berbagi. Lalu kenapa kali ini kamu tidak membaginya padaku. Kenapa hanya diam saja dan tidak mengatakan apa-apa. Kenapa menyembunyikan seolah tidak menganggapku dan yang lainnya ada," ucap Melody yang begitu kecewanya.


" Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk melakukannya. Aku sungguh minta maaf. Maafkan aku Melody, Lea," ucap Rasti dengan tertunduk.


" Lalu sekarang bagaimana. Apa tindakan Dokter memang itu jalan satu-satunya?" tanya Ardian yang kembali fokus pada penyakit Rasti.


" Iya. Aku bahkan sudah menolaknya. 3 hari lalu aku menemui Dokter dan sudah menolaknya. Dokter mengatakan semua resikonya. Aku tetap menolak operasi itu dan sekarang aku tidak tau apa lagi yang akan Dokter katakan setelah itu," ucap Rasti terlihat sudah putus asa.


" Sudah konsultasi dengan berapa Dokter?" tanya Alvin.


" Hanya satu," jawab Rasti.


" Baiklah! kalau begitu. Kita cari Dokter lagi. Mencari yang terbaik yang bisa membuat kamu sembuh dan tidak ada drama-drama angkat rahim," sahut Alvin dengan cepat memutuskan.


" Aku juga sudah menyarankan hal itu pada Rasti dan aku juga berharap Rasti mau," sahut Evan.


" Rasti kamu harus tetap semangat. Jangan hanya pada satu Dokter saja. Kamu harus ingat kita semua ada untuk kamu. Jadi kita akan berjuang sama-sama untuk kesembuhan kamu," ucap Melody yang memberi semangat Rasti.


" Tapi Alvin itu tidak ingin kalian repot-repot dan pasti biaya yang keluar tidak akan murah," sahut Rasti.


" Siapa yang menyuruh kamu untuk memikirkan biaya. Apa gunanya kita semua disini. Kamu hanya perlu memikirkan bagaimana untuk sembuh, tetap semangat dan yang lainnya kita yang mengurusnya," sahut Lea.


" Benar kata Lea. Aku juga punya banyak kenalan Dokter. Kita bisa konsultasi dan melakukan semua upaya untuk kesembuhan kamu. Jadi jangan memikirkan biaya," sahut Ardian yang pasti akan ikut andil untuk Rasti.


" Sama aku juga punya banyak kenalan di dalam dan Luar Negri dan sekarang semuanya tergantung kamu. Kamu mau apa tidak untuk berobat," sahut Alvin.


" Ayolah Rasti kita ini bukan orang asing. Ini demi kebaikan kamu. Apa kamu tidak mau sembuh," sahut Melody yang melihat Rasti pasti merasa tidak enak karena yang lain begitu khawatir kepadanya dan pasti repot-repot karena Rasti.


" Rasti kita sudah bicarakan ini sebelumnya. Jadi jangan memikirkan apa-apa lagi. Semua ini demi kebaikan kamu," ucap Evan yang juga mengingatkan Rasti.


" Rasti kamu tidak kasihan dengan Evan. Dia juga berjuang banyak untuk kamu," sahut Lea.


Rasti melihat satu persatu temannya itu. Terlihat teman-temannya begitu tulus kepadanya membuat air matanya akhirnya jatuh. Dan mengangguk pelan menyetujui teman-temannya.


" Terima kasih untuk kebaikan kalian semua," ucap Rasti dengan suara seraknya. Melody dan Lea berdiri dari tempat duduk mereka dan langsung memeluk Rasti untuk memberikan Rasti semangat.


" Jangan menangis kamu tidak akan apa-apa. Percayalah semuanya akan baik-baik saja," ucap Melody mengusap-usap punggung Rasti.

__ADS_1


" Kita akan berjuang sama-sama. Kamu akan sembuh," sahut Lea menambahi. Evan lega dengan Rasti yang memang akhirnya mau menerima bantuan dari mereka dan dia juga lega yang akhirnya tau apa yang terjadi pada kekasihnya itu.


bersambung.


__ADS_2