
Tetap dalam keadaan berdiri di depan lemari yang pintunya masih terbuka. Tetap membuka lembaran demi lembaran. Dengan air matanya yang mengisaratkan apa yang di lihatnya begitu menyakitkan.
Ceklek.
Pintu kamar yang tiba-tiba terbuka membuat Melody tersentak kaget, Melody langsung menyeka air matanya dan buru-buru memasukkan album itu kembali ke lemari namun karena tergesa-gesa. Yang ada tangannya menarik satu pakaian yang membuat lipatan pakaian yang lainnya berjatuhan dan album itu juga jatuh.
Ardian yang berdiri di depan pintu melihat apa yang di lakukan Melody. Dia berdiri dan melihat Melody yang tidak fokus dan terlihat tergesa-gesa yang sekarang berjongkok menyusun pakaian yang sama sekali tidak rapi. Karena pikirannya sudah kacau.
Ardian melihat ke arah album yang jatuh itu. Ardian menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. Lalu Ardian langsung melangkah mendekati Melody berjongkok di depan Melody dan membantu Melody membereskan pakaian itu.
Melody tidak melihat Ardian sama sekali dia sibuk menunduk. Namun pasti ada air mata yang di tahannya. Dia juga terlihat begitu panik. Ardian memegang tangan Melody yang mengehentikan rasa panik Melody. Sehingga Melody mengangkat kepalanya dan bertemu dengan mata Ardian.
" Kenapa masih menyimpannya, kamu ingin menunjukkan jika kamu adalah laki-laki yang hebat, yang serakah, laki-laki egois. Kamu menyimpannya. Namun menjalin hubungan dengan wanita lain. Apa kamu ingin mengatakan itu terlalu indah untuk di buang," sahut Melody dengan menekan suaranya. Matanya bergenang yang menatap mata Ardian yang memerah dengan tatapan sendu.
" Kamu masih memakainya," sahut Ardian.
" Apa maksud kamu?" tanya Melody heran. Mata Ardian melihat ke arah leher Melody yang di mana kalung pemberiannya masih melekat indah pada leher itu. Melihat mata Ardian fokus kemana. Melody menundukkan kepalanya dan melihat benda ke di lehernya itu.
Melody diam seakan diam. Dia bahkan terlihat linglung. Seakan sadar atau tidak kalung yang di pakainya kapan ada di lehernya. Tetapi dia tau itu kalung pemberian Ardian. Tetapi kenapa tidak melepasanya dan kenapa memakainya sampai detik ini. Melody juga tidak tau. Air mata Melody jatuh dengan wajahnya yang terlihat cemas.
Melody dengan cepat menyeka air matanya dan langsung berdiri berlalu dari hadapan Ardian. Ardian dengan cepat berdiri dan memeluknya dari belakang membuat langkah Melody terhenti dengan ke-2 lengan Ardian berada di dadanya.
" Kau masih mencintaiku Melody," ucap Ardian. Jantung Melody berdetak kencang saat mendengan kan hal itu. Air mata itu semakin mengalir deras, " Jika kau tidak mencintaiku. Jika kau sudah melupakanku. Tidak mungkin kau masih memakainya sekarang," lanjut Ardian dengan suara beratnya.
Napas Melody terasa sesak. Tidak tau apa yang harus di katakannya. Seharusnya bisa menyangkal kata-kata Ardian. Tetapi mulutnya seakan tidak bisa bicara seakan membenarkan kata-kata Ardian jika dia masih mencintainya.
__ADS_1
" Melody jika masih memiliki hati yang sama. Kenapa tidak untuk memulai semuanya," ucap Ardian.
Kata yang keluar dari mulut Ardian. Seolah penyesalan dan ingin memperbaiki. Namun kenapa kata-kata itu terlalu sakit untuk di dengar.
" Cukup Ardian!" sahut Melody melepas pelukan dari Ardian dan menghadap Ardian. Dengan jelas Ardian melihat wajah Melody yang sudah penuh dengan air mata.
" Kau jangan berpikir terlalu jauh. Aku sama sekali tidak pernah mencintaimu. Perasaan ku tidak sedikitpun ada kepadamu. Aku sudah mati rasa kepadaku. Kau bukan siapa-siapa ku. Aku melanjutkan pernikahan ini. Hanya untuk memperingatkan mu atas dosa yang kau lakukan kepadaku," tegas Melody dengan matanya menatap tajam Ardian.
" Aku mengenalmu Melody. Kau tidak akan tahan melakukan itu. Apa yang kau lakukan hanya membuatmu semakin terluka," sahut Ardian. Melody tersenyum menanggapi kata-kata Ardian.
" Bukankah itu yang kau inginkan. Jika kau tidak menginginkan itu. Kau tidak akan berani menikahiku. Jika sudah hancur maka hancur sekalian dan bukan hanya aku. Tetapi kau juga. Apa yang kau lakukan kepadaku. Sudah membuat luka di sini!" tegas Melody nunjuk dadanya.
" Dan kau katakan ingin memperbaiki. Jika kau ada niat memperbaiki. Kau akan datang saat itu. Kau tidak akan berpacaran dengan dia. Dan semua ini sudah tidak ada gunanya," sahut Melody mengeluarkan isi hatinya yang terpendam. Mata Melody menunjukkan rasa kebencian yang semakin besar. Melody menyeka air matanya, lalu beralih dari hadapan Ardian.
Melody menaiki tempat tidur, memiringkan tubuhnya membelakangi Ardian. Dia berusaha untuk menenangkan dirinya. Ardian hanya menatap nanar punggung Melody. Dengan Ardian yang menarik napas panjang dan membuangnya dengan perlahan kedepan.
************
Mentari pagi kembali tiba. Melody yang tertidur berbaring membuka matanya dengan perlahan. Setelah matahari sudah masuk dari jendela-jendela kamarnya dan begitu sangat mengganggunya.
Melody mengambil handphonenya dan melihat jam 7 pagi.
" Apa aku kesiangan," ucapnya menguap dengan menutup mulutnya.
Melody menoleh kesampingnya dan Ardian sudah tidak ada di sana yang mungkin Ardian sudah berangkat untuk bekerja.
__ADS_1
Melody menarik napasnya panjang dan membuangnya dengan perlahan kedepan. Mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya dan saat kepala itu menunduk.
Melody melihat kalung yang melekat di lehernya itu. Melody memutar kalung itu yang ingin meraih pengaitnya untuk melepasnya. Namun tiba-tiba niatnya di urungkannya dan dia tidak jadi melakukannya. Melody pun bangkit dari tempat tidurnya dan merapikan tempat tidur itu. Sebelum dia siap-siap untuk mandi.
***********
Ardian menuju kamar Eyang besar. Yang mana Eyang besar telah memanggilnya tadi. Di dalam kamar itu ada mamanya. Hal itu membuat Ardian heran.
" Eyang, kenapa memanggilku pagi-pagi," tanya Ardian yang menghampiri sofa di mana Widia terlihat cemas dan seperti ada sesuatu. Eyang pun berdiri menghadap Ardian.
" Ada apa Eyang?" tanya Ardian.
Plakkkkkkk.
Ardian di kagetkan dengan tamparan Eyang besar tiba-tiba pada pipinya. Mata Ardian sampai melotot yang benar-benar schok menerima tamparan itu dan Widia hanya memejamkan matanya seolah pasrah dengan apa yang di lihatnya.
" Eyang kenapa menamparku?" tanya Ardian dengan suara beratnya.
" Anak kurang ajar. Kamu terbuat dari apa hatinya. Apa yang kamu lakukan kepada Melody. Sampai kamu bisa merusak mental dan kejiwaannya!" teriak Eyang besar dengan suara mengelegar.
" Apa maksud Eyang?'' tanya Ardian yang benar-benar bingung.
" Kamu masih bertanya apa yang Eyang maksud. Pantas saja anak orang hampir gila karena menikah dengan mu. Ternyata perbuatanmu begitu bejat kepadanya. Apa kamu sudah merasa laki-laki paling hebat hah! merasa paling sempurna bisa merusak seorang wanita hah!" teriak Eyang besar yang marahnya tidak terkendalikan.
Ardian masih bingung dengan kata-kata Eyang. Tetapi jelas itu berhubungan dengan Melody.
__ADS_1
Bersambung