
Acara ijab kabul di lanjutkan dengan acara resepsi yang tidak terlalu mewah. Acara nya sederhana saja yang penting tidak lepas dari yang namanya acara resepsi.
Alvin dan Lea pun sudah berdiri di depan pelaminan yang mana pasti mereka sudah mengganti pakaian mereka dengan gaun pengantin yang indah. Dengan gaun yang sebelumnya pernah di coba Lea saat bersama Rasti dan Melody.
Gaun indah berwarna putih yang membuat Lea begitu cantik dan sangat elegan dengan rambutnya yang di tata mengenyamping yang membuat Lea memang menjadi ratu di acara tersebut.
Alvin juga begitu tampan dengan setelan jas putih dengan dasi kupu-kupu yang putih yang memang sangat pas bersanding pada Lea istrinya tersebut.
Ke-2 pasangan bahagia itu tidak henti-hentinya mengalami para tamu yang mengucapkan selamat bahagia untuk mereka. Kalau di tanya lelah pasti lelah.
Pasangan pengantin baru yang bahagia itu yang berada di atas pelaminan mencuri perhatian Melody yang sejak tadi berdiri menatap pasangan itu dari jauh. Tidak tau apa yang di pikirkan Melody. Dia terus melihat ke arah Alvin dan juga Lea.
Ternyata Ardian juga memperhatikan Melody dari jauh. Ardian bertanya-tanya melihat istrinya itu yang sejak tadi terlihat murung. Akhir ijab kabul tadi perubahan sikap Melody mulai terlihat dan diamnya sangat banyak.
" Ardian!" tegur Evan yang menepuk bahu Ardian yang sudah berada di samping Ardian yang mana Evan datang bersama dengan Rasti.
" Kenapa kau?" tanya Evan.
" Tauh nih malah melamun?" sahut Rasti yang juga bertanya.
" Aku tidak tau apa yang salah dengan Melody. Aku melihat Melody tampak diam saja. Sejak tadi dia murung dan terus memperhatikan Lea dan Alvin," jawab Ardian.
" Ya Melody pasti terharu lah. Kan kamu tau sendiri perjuangan Lea dan Alvin tidak mudah. Mungkin saja dia juga tidak percaya Alvin dan Lea bisa menikah. Jadi pasti Melody hanya terharu saja," ucap Rasti dengan berpikiran positif.
" Masa iya sih?" tanya Ardian yang merasa bukan itu kesalahan istrinya.
" Ya lalu apa lagi. Ya kamu lihat sendiri dong dia itu seperti apa," sahut Evan.
" Tapi Melody bukan hanya melihat Alvin dan Lea saja. Aku bisa memperhatikan tatapan dia itu seperti ada sesuatu. Kepalanya juga selalu berkeliling seperti melihat situasi di acara ini," sahut Ardian.
" Ya kalau begitu Melody mengagumi acara ini," sahut Evan.
" Ya iya benar. Karena tidak mungkinkan Melody ingin resepsi seperti itu," sahut Rasti membuat Evan dan Ardian melihat Rasti dengan secara bersamaan dengan wajah mereka yang terkejut.
__ADS_1
" Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Rasti menjadi panik.
" Tidak mungkin Melody tiba-tiba menginginkan hal itu," sahut Ardian dengan suara pelan yang berpikiran sesuatu.
" Maksud kamu apa Ardian?" tanya Evan heran.
" Maksud kamu Melody sedih. Karena Lea dan Alvin menikah dan mengadakan resepsi seperti ini sementara dia dulu tidak seperti ini. Apa itu maksud kamu?" tanya Rasti yang menebak-nebak apa yang di pikiran Ardian.
" Sungguh Ardian itu yang membuat Melody menjadi sedih dan murung," sahut Evan.
" Aku juga tidak tau. Tapi bisa jadi. Karena sewaktu lamaran Lea dan Alvin, Chaca sempat menyinggung hal itu dan membuat Melody diam sampai tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Wajahnya juga begitu sedih," ucap Ardian menjelaskan yang mengingatkan kejadian yang pernah terjadi sebelumnya.
" Jadi maksud kamu dia menginginkan hal itu?" tanya Evan.
" Aku hanya menebak-nebak saja. Mengingat aku menikahi Melody begitu saja dan kami tidak ada acara hal yang sakral, adat atau apapun," ucap Ardian.
" Ardian tetapikan kamu sama Melody bukannya juga melakukan resepsi waktu itu dan semua orang juga tau kalau kamu sama Melody sudah menikah. Jadi mana mungkin Melody sedih karena semua ini," sahut Rasti yang mencoba berpikiran lain apa yang membuat Melody menjadi sedih.
" Benar juga Ardian sangat tidak masuk akal dan lagian mungkin aja dia memang hanya sedih saja," sahut Evan sepemikiran dengan Rasti.
" Kalau itu mungkin bisa jadi. Tetapi kan bukannya kalian sudah saling mengerti masa iya harus memikirkan hal itu, karena situasinya kan memang tidak mendukung hal itu," sahut Evan.
" Mungkin kamu benar Evan. Tetapi kita tidak tau apa di hati Melody dan mungkin ada keinginan ingin sama dengan orang lain. Tetapi merasa mana mungkin di lakukan. Dan Melody juga sedang hamil. Mungkin saja Melody juga menginginkan hal itu karena bawaan dari janin yang di kandungnya," sahut Rasti yang lebih paham karena sesama wanita.
" Lalu apa yang harus aku lakukan agar membuat Melody tidak merasa kurang dalam pernikahannya?" tanya Ardian yang ingin melakukan banyak hal untuk istrinya.
Rasti dan Evan saling melihat yang mana wajah mereka yang kelihatan penuh dengan pemikiran.
" Aku ada ide," sahut Evan.
" Apa?" tanya Ardian. Evan mendekatkan kepala mereka ber-3 untuk membicarakan ide tersebut dan lancarnya mulut Evan yang bicara. Ardian dan Rasti mengangguk-angguk saja.
" Bagaimana menurut kalian. Apa ide ku bisa di terima?" tanya Evan.
__ADS_1
" Masuk akal," sahut Rasti.
" Ardian kamu setuju?" tanya Evan. Ardian mengangguk yang tampaknya setuju dengan ide Evan dan akan mengikuti ide Evan tersebut.
************
Acara pernikahan akhirnya selesai dan tidak ada hambatan sama sekali. Para tamu sudah berpulangan dan sebagian para kerabat ada yang pulang dan ada yang menginap di hotel.
Untuk pasangan pengantin baru pasti menginap di kamar hotel yang di sediakan untuk pengantin baru dan di hias dengan ala-ala kamar malam pengantin.
Tempat tidur yang berseprai putih yang di atasnya di tabur dengan mawar merah dan pasti ada handuk yang di model seperti angsa yang indah sedemikian rupa.
Lea sudah memasuki kamar terlebih dahulu dan terlihat Lea yang baru saja melepas asesoris di tubuhnya yang berdiri di depan cermin. Tiba-tiba sebuah tangan sudah mengusap punggungnya yang terlihat karena gaun pengantin yang di pakainya memperlihatkan bagian pundak dan juga punggungnya sedikit.
Lea tersenyum melihat dari cermin yang siapa lagi kalau bukan Alvin yang sekarang sudah mencium pundaknya.
" Kamu cantik sekali hari ini!" puji Alvin yang berbisik di telinga Lea.
Lea membalikkan tubuhnya dan mengalungkan tangannya pada Alvin.
" Kamu sudah mengatakan hal itu berkali-kali," jawab Lea.
" Mungkin aku tidak akan berhenti mengatakan hal itu," jawab Alvin.
" Benarkah?" tanya Lea. Alvin mengangguk dan mengecup bibir Lea.
" Aku sangat merindukanmu dan malam ini kau akan jadi milikku," ucap Alvin selepas mencium bibir Lea.
" Kau juga akan menjadi milikku. Kita akan sama-sama memiliki," sahut Lea yang juga merindukan Alvin yang sekarang sudah menjadi suaminya itu.
" Aku mencintai mu Lea. Aku tidak percaya. Kita akan menikah," ucap Alvin.
" Sama Alvin. Aku juga tidak percaya bisa menikah dengan kamu," jawab Lea yang merasa bahagia.
__ADS_1
Mereka saling menatap dengan penuh Cinta yang akhirnya bibir mereka saling mendekat dan akhirnya bibir saling menempel dalam ciuman yang romantis, ciuman yang sudah lama tidak di lakukan ke-2nya
Bersambung