Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 157 tawaran.


__ADS_3

Lea memasuki kamarnya dengan wajahnya yang tampak begitu gelisah. Lea mengusap wajahnya kasar sampai kepucuk kepalanya dengan ke-2 tangannya.


" Argggghhh, kenapa sih semuanya jadi seperti ini. Kenapa coba tiba-tiba dia ada di sini dan malah rekan bisnisnya Ardian lagi. Bagaimana jika dia bercerita apa yang sebenarnya terjadi. Tidak mungkin, ya tidak mungkin dia menceritakannya," ucap Lea dengan wajahnya yang penuh kebingungan dan kepanikan yang tidak sengaja harus bertemu dengan Alvin.


" Aku harus secepatnya menyelesaikan masalahku dengannya. Aku tidak mau dia justru mencampuri hidupku nantinya," gumam Lea yang berpikir keras dengan permasalahannya dengan Alvin. Pria yang membantunya menyelesaikan masalah Ardina dan Melody.


*********


Acara jamuan itu telah selesai para tamu sudah pulang dan tinggal tuan rumah yang beres-beres semua rumah. Karena memang begitu berantakan.


Melody dan Ardian juga sudah berganti pakaian yang kelihatan pasangan suami istri itu ingin pergi. Ardian dan Melody menuruni anak tangga dan menuju ruang tamu yang mana masih berantakan dan di bereskan beberapa orang yang ada di rumah.


" Kalian mau kemana Ardian?" tanya Widia.


" Kita mau jemput Chaca mah, soalnya tadi sudah janji mau jemput Chaca. Tetapi karena ada acara kita tunda," jawab Ardian dengan sedikit penjelasan.


" Ini kan sudah malam, masa iya kalian masih mau mengajak Chaca main," sahut Widia.


" Nggak main kok mah, kita hanya mengajak menginap di rumah dan besok baru main," sahut Melody.


" Ya sudah kalau begitu. Kalian hati-hati," ucap Widia.


" Ya ampun Melody bantuin dulu kek beres-beres," sahut Vivi yang melap meja sambil duduk.


" Vivi kamu ini ya, baru aja melap meja sudah mengeluh. Tadi juga Melody sudah bantu beres-beres," sahut Widia.


" Lap meja juga capek mah, Melody Ardian pergi, Lea juga langsung pergi, mereka kayak melarikan diri," keluh Vivi.


" Siapa yang melarikan diri kak, kita cuma bentar jemput Chaca, nanti juga akan di bantuin," sahut Ardian.


" Memang Lea kemana?" tanya Melody heran.


" Tadi Lea baru pergi. Katanya ada urusan penting. Mama juga tidak tau kemana," jawab Widia.


" Paling alasan bilang aja menghindari pekerjaan," sahut Vivi.


" Sudah-sudah kami ini. Kalau kerja itu yang ikhlas," ucap Widia.


" Ya sudah lah ma, kak, kami pergi dulu!" ucap Ardian yang kembali pamitan.


" Iya. Kalian hati-hati," ucap Widia. Ardian dan Melody sama-sama mengangguk dan langsung pergi.


**********


Ardian dan Melody yang sudah berada di dalam mobil. Yang pasti Ardian yang menyetir dan Melody yang duduk di sebelahnya.


" Kak Ardian teman kamu yang tadi yang salah paham dengan Lea, dia itu sudah lama bekerja sama dengan Perusahaan?" tanya Melody tiba-tiba.


" Alvin maksud kamu?" tanya Ardian memastikan. Melody menganggukkan kepalanya.


" Bulan lalu, kebetulan Perusahaan 1 proyek dengan Perusahannnya. Kerja sama dengannya sangat menguntungkan Perusahaan dan bahkan saham Perusahaan meroket naik. Makanya aku, kak Bayu dan kak Ari harus bekerja lebih keras untuk Perusahaan dan pastinya tidak Perusahaan Alvin," jelas Ardian sedikit singkat.


" Apa dia Pengusahaan yang hebat?" tanya Melody.


" Aku kurang tau Melody. Aku juga tidak tau banyak tentang dia. Karena kak Arya yang mengenalnya pertama kali. Tetapi garis besarnya yang aku tau dia itu Pengusaha muda yang benar-benar sukses dan banyak bekerja sama dengan Pengusaha-Pengusaha lainnya," jawab Ardian.


" Hmmm, begitu rupanya," sahut Melody.


" Kamu tumben bertanya, ada apa?" tanya Ardian melihat sebentar kearah istrinya.


" Tidak apa-apa. Aku hanya melihat dia dan Lea sepertinya saling mengenal. Ya aku tidak tau pasti. Tetapi saat di tempat acara tadi aku melihat seperti ada sesuatu di antara mereka," ucap Melody yang mengeluarkan apa yang mengganggu pikirannya tadi.


" Kayaknya Lea tidak mungkin kenal. Soalnya yang aku tau Alvin juga tinggal lama di Milan dan mungkin saja itu karena kesalah pahaman yang terjadi di antara mereka karena masalah kamar mandi tadi. Mungkin Alvin tidak nyaman dengan kejadian itu. Makanya kami melihat seperti ada yang aneh di antar mereka. Tetapi kamu jangan khawatir. Karena tadi masalah di antara mereka sudah selesai. Lea sudah minta maaf dan Alvin sudah melupakan kejadian itu," ucap Ardian dengan tersenyum.


" Syukurlah kalau begitu. Ya kalaupun mereka ada hubungan apa-apa mau dekat atau tidak ya itu juga tidak berhak kita campuri. Lea juga sudah dewasa dan pasti dia tau apa yang terbaik untuk dirinya," ucap Ardian Melody.


" Iya kamu benar, sudah jangan memikirkan apa-apa. Kita sudah mau sampai," ucap Ardian. Melody menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


***********


Tidak tau apa lagi yang mau Lea lakukan intinya setelah acara di rumahnya selesai. Tiba-tiba Lea mendapat telpon dari sekretaris Alvin yang mengabarkan jika Lea harus menemui pria itu.


Di mana tempat yang berbeda yang Lea temui, bukan di tempat kemari di kamar mewah, melainkan di salah satu Restaurant mewah yang mana sekarang Lea di antarkan seorang pelayan resto ke meja yang pasti sudah ada Alvin.


" Silahkan nona!" ucap pelayan itu mempersilahkan duduk dan Lea menganggukkan kepalanya. Lalu duduk di hadapan Pria dengan wajah dingin yang terlihat menantang itu. Sementara pelayan itu pun langsung memilih untuk pergi.


" Ada apa kau ingin bertemu di sini!" ucap Lea dengan ketus.


" Aku ingin menagih janjimu," jawab Alvin.


" Bukannya kau bilang sudah tidak tertarik denganku dan ilfil padaku," sahut Lea mengingatkan perkataan Pria itu.


Alvin mendengus kasar mendengarnya dengan tersenyum miring melihat Lea dengan intens, melihat wajah wanita yang selalu berpura-pura tenang itu.


" Aku memang mengatakan rasa tertarik berkurang kepadamu. Tetapi bukan berarti kau tidak akan membayar apa yang sudah aku lakukan," sahut Alvin.


" Tuan Alvin. Jika anda merasa ilfil atau tidak tertarik lagi denganku. Jangan di paksakan. Aku tau anda sudah melakukan banyak hal untukku dan aku tidak mungkin tidak membayar janjiku. Tetapi aku juga tidak mau membuat anda kecewa. Jadi begini saja. Jika anda sudah tidak tertarik padaku. Aku akan mencari pengganti ku. Yang lebih dari aku yang membuat anda benar-benar puas dengan pilihanku," ucap Lea yang bernegosiasi.


Alvin mendengus kasar mendengar kata-kata Lea, " apa kau takut melakukan denganku?" tanya Alvin menduga.


Lea langsung tertawa terbahak-bahak dengan menutup mulutnya, " Hahahahaahah, aku takut!" tunjuk Lea pada dirinya, " astaga tuan Alvin aku mana mungkin takut, aku sudah bisa dalam hal seperti itu. Jadi aku tidak mungkin takut," sahut Lea dengan tertawa-tawa. Namun terlihat jelas dia menutupi rasa gugupnya.


" Benarkah kau tidak takut?" tanya Alvin.


" Ya iyalah benar. Jangan mengatakan takut, dunia seperti itu sangat biasa padaku dan apalagi masalah hal itu. Aku tidak takut. Aku hanya ingin memberimu penawaran itu saja," sahut Lea dengan santainya.


" Baiklah kalau kau tidak takut. Mari kita lakukan malam ini," ucap Alvin dengan tegas. Lea yang ingin minum tiba-tiba tidak jadi dan melihat ke arah Alvin yang melihatnya dengan sinis.


Lea begitu terkejut dan mendadak diam dengan kata-kata Alvin. Bahkan jantungnya rasanya ingin berhenti saat Pria itu berbicara dengan wajahnya yang terlihat begitu dingin. Tatapan matanya yang begitu menusuk.


" Kenapa kau diam. Kau tidak mau melakukannya?" tanya Alvin menatap Lea penuh selidik.


" Bukan begitu. Hanya saja aku tidak bisa melakukannya malam ini dan 7 hari kedepan. Karena aku sedang datang bulan," jawab Lea.


Alvin mendengus kasar, " Ck alasan!" desis Alvin.


" Aku ingin melihatnya," sahut Alvin memotong pembicaraan Lea.


" Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk," Lea langsung terbatuk-batuk mendengarnya.


" Kau gila!" umpat Lea dengan wajah shocknya.


" Kenapa? apa tidak bisa. Aku juga tidak peduli dengan tamu mu itu," sahut Alvin.


" Tuan Alvin, kau jangan bercanda. Kau yang akan rugi jika memaksakan kekonyolanmu itu. Kau bisa terdampak penyakit. Aku sih terserahmu. Tetapi aku hanya mengingatkanmu saja. Aku tidak akan lari kau jangan khawatir," ucap Lea yang memberikan peringatan pada Alvin sebelum semuanya terjadi.


" Hanya menunggu 1 Minggu kedepan. Kau terlihat begitu tidak sabaran," ucap Lea.


" Aku memang tidak sabaran, apa kah perkataan mu sesuai dengan servismu," ucap Alvin dengan menaikkan 1 alisnya melihat Lea.


" Issss Pria ini benar-benar keterlaluan. Kenapa sih aku harus terjebak dengan laki-laki sepertinya. Ya ini sudah resiko Lea. Jadi hadapi lah," batin Lea benar-benar mati kutu menghadapi Alvin.


" Baiklah, aku akan menunggu seminggu. Sampai alasanmu itu selesai," sahut Alvin mengambil keputusan yang membuat Lea bernapas Lea.


Rasa lega Lea pun jelas di lihat oleh Alvin yang membuat Alvin mendengus kasar, " sangat terlihat jelas dia begitu gugup. Tapi sangat sok-sokan seolah-olah dia berani dan bisa melakukannya. Baiklah jika kau terus berusaha mengulur waktu dengan permainan mu. Aku akan mengikuti permainan mu dan kita lihat siapa yang bertahan dan lagian hal ini menantang untukku," batin Alvin yang terus melihat intens Lea.


" Ya keputusan yang kamu ambil memang tepat. Kalau begitu aku pulang dulu. Ini sudah malam," ucap Lea yang berpamitan.


" Kita memang tidak jadi melakukannya. Tetapi aku juga tidak menyuruhmu untuk pulang," sahut Alvin.


" Maksudmu?" tanya Lea dengan menautkan ke-2 alisnya.


" Temani aku makan, itu jauh lebih penting," ucap Alvin.


" Untuk apa. Untuk apa aku harus menemanimu makan. Nggak penting banget," sahut Lea.

__ADS_1


" Kau dengarkan aku nona Lea. Kita tidak akan berakhir sebelum semuanya imbalan yang kau berikan selesai dan semakin kau mengulur waktu. Kau hanya akan membuat kita bertemu setiap hari. Jadi semuanya itu tergantung padamu. Jadi sama dengan malam ini. Jika kau terlalu banyak alasan. Maka temani aku makan dan mungkin hari berikutnya juga akan seperti itu. Sampai akhirnya urusan kita ber-2 selesai," tegas Alvin.


" Argggghhh sial, kenapa aku jadi terjebak dalam masalah ini. Issssh benar-benar Pria ini tidak bisa di anggap main-main," batin Lea yang terlihat tidak bisa melakukan apa-apa.


" Bagaimana nona Lea. Anda tidak keberatan kan untuk menemani saya makan?" tanya Alvin.


Lea tersenyum kaku, " tidak sama sekali. Saya akan menemani anda makan. Sampai anda selesai baru saya pulang," sahut Lea dengan tersenyum yang terus merasa paling tenang yang padahal dia benar-benar begitu gugup.


Alvin tersenyum penuh kemenangan yang berhasil membuat Lea tidak bisa apa-apa dan mau tidak mau harus menuruti dirinya. Alvin dan Lea pun akhirnya makan bersama tanpa ada obrolan lagi di antara keduanya.


***********


Mentari pagi kembali tiba. Seperti biasa di pagi hari yang cerah keluarga besar Ardian sedang menikmati sarapan pagi. Sebelum kesekolah, sebelum bekerja dan sebelum melaksanakan aktivitas seperti biasanya memang mereka wajib untuk sarapan.


" Lea, kamu tadi malam pulangnya kok lama sekali. Kamu habis dari mana?" tanya Widia yang melihat Lea serius sehingga Lea menghentikan makannya melihat ke arah Widia menatapnyanya penuh tanya.


" Hmmm, habis main sama teman-teman Tante," jawab Lea dengan gugup dengan senyum kaku yang di keluarkannya.


" Main mulu Lea," sahut Evan.


" Ya kan sekali-kali," sahut Lea.


" Lea, Eyang tidak mau ya. Jika kamu keseringan keluar malam. Eyang tidak tau apa yang kamu lakukan di luar sana. Jadi jangan keluyuran malam-malam," ucap Eyang mengingatkan Lea.


" Kan hanya sekali-sekali Eyang. Lea juga kalau di Luar Negri sering keluar malam," sahut Lea.


" Ini Indonesia, bukan Luar Negri jadi jangan di samakan. Eyang mengajak kamu ke Indonesia juga untuk mengubah kebiasaan buruk kamu itu," tegas Eyang.


" Tapi Eyang," sahut Lea.


" Lea sudahlah dengarkan saja apa kata Eyang jangan membantah," sahut Shandra. Lea pun sudah tidak berkutik lagi dan memilih untuk diam.


" Kenapa sih sekarang Eyang semakin ketat membuat aturan," batin Lea yang tampaknya akan gelisah dengan peraturan Eyang nya.


" Oh iya Ardian kamu sudah siapkan berkas-berkas yang kakak minta?" tanya Bayu.


" Sudah kak," jawab Ardian.


" Berkas-berkas apa mas?" tanya Mila.


" Perpanjangan kontrak dengan Tuan Alvin," jawab Bayu.


" Alvin yang kemarin?" sahut Vivi.


" Iya benar-benar. Dia tiba-tiba ingin memperpanjang kontrak kerja sama dengan perusahan," sahut Arya menjelaskan.


" What, dia ingin memperpanjang kontrak Perusahaan. Tidak-tidak. Ini pasti ada yang tidak beres. Kenapa aku merasa Pria itu sengaja untuk dekat-dekat dengan keluarga ini. Nasibku bisa berantakan jika dia benar-benar sengaja melakukannya. Lama-lama rahasiaku akan kebongkar," batin Lea yang seketika menjadi panik.


" Syukurlah jika beliau ingin memperpanjang kontrak. Mama dengar Perusahaan semakin maju semenjak bekerja sama dengannya," sahut Widia dengan rasa leganya.


" Iya mama benar, perusahan memang semakin maju karena bantuan dari Alvin," sahut Ardian membenarkan.


" Alhamdulillah kalau begitu," sahut Shandra.


" Kalau begitu apa kita sebaiknya mengundang beliau saja untuk makan malam," sahut Mila yang tiba-tiba kepikiran.


" Aku setuju sama kak Mila. Anggap aja syukuran dan rasa terima kasih kita terhadapnya," sahut Melody menambahi.


Yang lain tampak berpikir keras. Namun Lea yang tampak terlihat panik.


" Boleh juga idenya," sahut Arya.


" What!" pekik Lea tanpa sadar. Sehingga semua orang melihatnya


" Ada apa Lea?" tanya Melody.


" Tidak, tidak apa-apa," sahut Lea tersenyum menutupi rasa gelisahnya.

__ADS_1


Bagaimana tidak gelisah yang tiba-tiba Alvin akan makan malam bersama keluarganya.


Bersambung


__ADS_2