
Setelah kepergian Rasti, Evan dan Lea. Ardian menutup pintu dan Melody berdiri di belakangnya dengan ke-2 tangan di lipat di dadanya yang penuh pertanyaan pada Ardian yang sudah berdiri menghadapnya.
" Ada apa ini. Kenapa kamu bohong pada ibu dan bapak. Kita dari Palembang dan bukan Jakarta. Yang mana kalau kamu bilang kita dari Jakarta kita akan cepat kembali. Karena desa itu tidak jauh dari tempat kita tinggal dan kenapa tiba-tiba ada Evan dan Rasti yang menjemput kita dan membawa kita kemari bukannya mengantar kita pulang dan Lea juga bisa-bisanya ada di sini membawa pakaian kita dan katanya yakin tidak ada yang tau. Ardian aku benar-benar bingung tidak mengerti dengan semua ini," ucap Melody yang sudah menanyakan semuanya pada Ardian.
Ardian menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan lalu mengajak Melody untuk duduk di sofa dan sampai akhirnya Melody ikut duduk di samping Aditya.
" Maaf jika apa yang aku lakukan membuatmu bingung dan tidak memberitahumu sama sekali. Aku minta maaf Melody. Aku tidak bermaksud untuk melakukannya. Melody aku sengaja untuk mengatakan pada orang yang menolong kita. Jika kita bukan berasal dari Jakarta. Agar kita tidak di temukan dengan cepat," ucap Ardian yang membuat Melody semakin bingung.
" Melody dengan kita hilang adalah suatu keuntungan dengan begitu, Rio akan lengah," ucap Ardian lagi.
" Maksudnya?" tanya Melody semakin bingung.
" Jadi seperti ini. Ketika kita mengobrol kemarin dan di hutan. Kita berdua saling tau. Kau memikirkan cara agar Rio dan juga yang terlibat dalam hal ini akan mendapat hukumannya tanpa ada yang lolos satupun. Aku sengaja mengarang cerita pada ibu dan bapak untuk menutupi identitas kita dan tanpa sepengetahuan kamu aku berkomunikasih dengan Lea melalu telpon warga," jelas Ardian yang membuat Melody benar tidak percaya dengan Ardian.
" Jadi kamu sudah menghubungi mereka?" tanya Melody yang benar-benar kaget.
" Kamu benar, intinya aku dan kamu akan tetap di sini, tetap hilang dan mereka tetap mencari kita untuk membuat musuh-musuh lengah dan tidak khawatir dan tidak bertindak terlalu jauh dan untuk Lea, Rasti dan Evan. Mereka akan mengumpulkan semua bukti," jelas Ardian yang membuat Melody tidak percaya dengan rencana Ardian yang begitu cepat.
" Bukannya semua bukti sudah cukup?" tanya Melody.
" Tidak ada bukti yang kuat untuk Raisa terlibat atau tidak. Karena Raisa terlibat hanya berdasarkan opini kita ber-2 saja. Jadi kita harus punya bukti kuat untuk keterlibatan Raisa dalam hal ini," ucap Ardian yang menjelaskan dengan detail.
" Jadi begitu rupanya. Aku tidak percaya jika kamu langsung cepat melakukan semuanya," ucap Melody. Ardian meraih ke-2 tangan Melody, memegangnya dengan erat.
" Aku melakukannya untuk mendapatkan keadilan untuk kamu. Aku melakukannya hanya untuk kamu. Aku tidak ingin masalah ini hanya seperti ini saja. Melody kamu sudah banyak menderita. Selain aku bertanggung jawab untuk mengembalikan semuanya kebahagian kamu. Aku juga ingin orang-orang yang di belakang semua ini mendapatkan ganjarannya, aku ingin mereka membayar semua yang telah mereka lakukan kepada kamu. Termasuk aku yang juga akan membayar kesalahanku," ucap Ardian dengan memegang pipi Melody yang dari mata Ardian benar-benar tulus bicara dengan Melody.
" Kamu mengertikan Melody apa maksudku?" tanya Ardian.
__ADS_1
" Jadi kita akan di sini sampai masalahnya selesai?" tanya Melody. Ardian mengangguk.
" Lalu bagaimana dengan keluarga kita, apa mereka tidak akan mengkhawatirkan kita. Mau sampai kapan kita akan di sini," ucap Melody.
" Aku mengerti perasaan kamu. Tidak akan lama Melody kita akan kembali dengan masalah yang sudah selesai dan kita bisa memulai semua dari awal lagi," ucap Ardian. Kamu harus percaya kepadaku dan kita harus berkorban sedikit saja," ucap Ardian yang meyakinkan Melody.
" Baiklah kalau begitu aku akan coba untuk mengikuti kamu dan memahami semuanya," ucap Melody. Ardian mengangguk dan langsung meraih Melody kedalam pelukannya.
" Terima kasih Melody," ucap Ardian dengan mencium pucuk kepala Melody.
Ardian memang harus bermain cantik untuk mengelabui musuhnya dan dengan cepat dia langsung merencanakan semuanya bahkan tanpa sepengetahuan Melody. Ya hanyutnya Ardian yang terseret arus membuat otak Ardian ternyata semakin encer.
***********
Penginapan mereka lumayan nyaman dan pasti sangat nyaman. Ardian sedang mandi, sementara Melody berada di dapur yang sedang memasak mie instan. Karena mereka belum makan dan Melody memasak apa yang simple.
Setelah Ardian mandi dan sudah bersih-bersih. Ardian pun keluar dari kamar yang sudah memakai baju yang jauh lebih santai dan Melody juga sudah menuangkan mie kedalam 2 mangkok dan mengantarnya ke meja dengan satu persatu. Melody juga menyiapkan 2 gelas air putih.
" Tidak apa-apa ya, kalau hanya makan mie," ucap Melody. Ardian mengangguk dan langsung duduk di sofa.
" Ini sudah cukup. Lagian ini sudah malam jadi lebih baik kita makan apa adanya saja," ucap Ardian.
" Ya sudah kalau begitu ayo kita makan," ucap Melody yang juga sudah duduk. Ardian mengangguk dan mereka berdua mulai makan dengan meniup-niup terlebih dahulu karena lumayan panas.
" Hmmm, Ardian!" tegur Melody.
" Ada apa?" tanya Ardian.
__ADS_1
" Aku boleh tau tidak bagaimana keadaan keluargaku dan untuk Chaca aku yang kepikiran apa dia baik-baik saja?" tanya Melody yang memang tidak akan puas jika tidak mengetahui kabar keponakannya yang sangat di sayanginya itu.
" Lea mengatakan jika Chaca masuk rumah sakit karena demam tinggi dan merindukan Melody. Melody pasti panik jika mengetahui semua itu," batin Ardian yang sudah mengetahui kabar dari keponakan Melody.
" Ardian kenapa kamu diam?" tanya Melody.
" Melody kamu jangan panik ya. Chaca sedang demam," ucap Ardian yang langsung membuat Melody kaget.
" Chaca demam!" pekik Melody. Ardian mengangguk.
" Lalu bagaimana kondisinya?" tanya Melody panik.
" Kamu jangan khawatir Melody. Lea mengatakan dia sudah baik-baik saja dan sebentar lagi Chaca akan sembuh. Percaya kepadaku," ucap Ardian yang menenangkan Melody.
" Kamu yakin dia baik-baik saja?" tanya Melody yang masih kepanikan. Ardian mengangguk.
" Kita akan kembali secepatnya. Jadi jangan khawatir dengan ke adaannya. Dia baik-baik aja. Kamu sebaiknya jangan memikirkan Chaca. Percayalah besok juga Chaca akan sembuh," ucap Ardian meyakinkan Melody.
" Kamu makan lagi ya," ucap Ardian dengan lembut. Melody mengangguk.
" Ya Allah, semoga Chaca baik-baik saja. Aku sangat mencemaskannya," batin Melody yang tetap tidak akan pernah tenang.
Jangan lupa mampir ke karya terbaru aku
Bersambung
__ADS_1