
Lea yang begitu marah dengan mamanya yang seenaknya mengatakan tidak akan merestuinya membuatnya murka. Setelah mengantarkan Alvin sampai depan. Lea langsung memasuki kamar mamanya dengan membuka pintu dengan kasar
Brukkkk.
" Lea!" sahut Iriana yang duduk di kursi dan melihat ke datangan Lea.
" Keterkaitan mama. Apa yang mama lakukan. Kenapa mama bisa berbicara seperti itu di depan semua orang," ucap Lea yang langsung marah-marah.
" Apa yang mama bicarakan hah! bukannya semuanya memang benar hah! kamu dan dia sedang ada di hotel itu dan mulut kamu sendiri juga yang mengatakan jika kamu itu cek in bersama dia. Jadi aku hanya mengatakan apa yang menjadi kebenarannya saja," tegas Iriana yang tidak kalah marahnya dengan Lea.
" Tetapi aku tidak hamil. Aku bukan wanita seperti mama yang hamil di luar nikah," sahut Lea berteriak yang sudah tidak tahan dengan mamanya itu.
" Munafik kamu. Apa kamu pikir laki-laki dan wanita jika berada di dalam kamar tidak akan melakukan apa-apa hah! kamu itu jangan munafik Lea. Aku sudah berpengalaman dan sangat mustahil. Jika kamu masih mengatakan kalau kamu itu tidak di sentuh olehnya," sahut Iriana dengan sinis.
" Astaga aku tidak pernah menyangka. Jika ada ya wanita seperti di hadapanku ini sangat bangga dengan dosa-dosa yang di lakukannya. Apa mama begitu bangganya dengan pengalaman mama yang menjijikkan itu. Pengalaman mama yang suka gonta-ganti pasangan, berselingkuh dari yang ini ke yang ini, menikah cerai, menikah cerai. Mama sungguh bangga dengan hobi mama yang suka tidur dengan pria ini itu. Apa mama memang tidak punya prestasi lagi. Sampai itu merupakan prestasi paling berharga mama," ucap Lea yang sinis melihat orang tuanya itu.
Mendengarnya Iriana tampak emosi dengan tangannya yang terkepal dan langsung berdiri mendekati Lea.
Plakkk. Satu tamparan melayang pada pipi Lea.
" Anak biadab, kurang ajar!" maki Iriana yang begitu marah dengan perkataan Lea. Mendapat tamparan itu hanya membuat Lea tersenyum miring.
__ADS_1
" Enak ya jadi orang tua. Hanya bisa memakai dan main tangan saja. Tidak perlu membesarkan, tidak perlu ini itu dan tiba ananknya ingin bahagia malah mencari masalah dengan menuduh anaknya sendiri dan sekarang main pukul seenaknya," sahut Lea dengan sinis yang masih tersenyum dengan perlakuan mamanya yang kelewatan batas.
" Itu pantas kau dapatkan. Seharusnya kau punya batas untuk bicara," tegas Iriana menunjuk tepat di wajah Lea.
" Aku tidak perlu membatasi diriku untuk bicara dengan seorang ibu yang tidak punya hati sepertimu," tegas Lea dengan menatap mata Iriana tajam membuat Iriana naik darah lagi dan ingin memukul Lea lagi. Namun kali ini tangannya di tangkap Lea dengan mencengkram kuat tangan itu.
" Jangan berani-beraninya lagi memukulku. Aku bisa kehilangan kesabaran dan akan mematahkan tanganmu!" tegas Lea dengan menatap tajam mamanya itu yang benar-benar menantang sang mama.
" Kau berani kepadaku?" sahut Iriana menekan suaranya.
" Aku tidak takut kepadamu dan aku juga tidak peduli. Kau mau merestui hubungan ku dengan Alvin atau tidak. Karena aku tidak menginginkan restumu!" tegas Lea yang langsung melepas kasar tangan mamanya itu.
" Anak kurang ajar, anak durhaka!" maki Iriana.
" Anak durhaka itu hanya untuk ibu yang tepat. Bukan sepertimu!" tegas Lea dengan menekankan suaranya.
" Oh, begitu. Baiklah terserah kau mengatakan apa. Tetapi kau harus tau satu hal. Jika aku benar-benar tidak akan merestui mu bersamanya dan terserah kau mau menuruti apa tidak yang jelas pada intinya aku tidak akan merestui hubungan kalian," tegas Iriana.
" Aku tidak peduli. Jika mama masih mengganggu hidupku. Maka aku juga akan mengganggu hidupmu. Batas kesabaran orang ada batasnya dan mungkin batas Kesabaranku akan berakhir. Ketikan aku sudah menganggap wanita yang melahirkanku sudah mati," tegas Lea dengan mengencamkan kata-katanya yang benar-benar tidak peduli lagi dengan Iriana. Dia begitu marah dengan Iriana.
Mendengar ucapan Lea membuat Iriana hanya menahan emosi dengan tangan terkepal dan juga dengan napas yang naik turun yang tidak bisa berkata apa-apa lagi. Lea yang merasa sudah puas meluapkan kemarahannya langsung keluar dari kamar itu meninggalkan mamanya yang penuh dengan kemarahan.
__ADS_1
" Argggghhh!" teriaknya yang tidak bisa mengendalikan dirinya dengan mengacak rambutnya frustasi bahkan menyapu semua yang tersusun rapi di meja riasnya yang mana dia benar-benar marah dengan apa yang di katakan Lea.
***********
Sementara di dalam kamar Melody dan Ardian. Terlihat Melody yang mengganti perban Ardian. Luka tembakan itu memang sudah lumayan sembuh dan sudah tidak apa-apa sama sekali. Hanya rutinitas mengganti perban saja.
" Aku mendengar suara ribut-ribut. Apa itu Lea dan Tante Iriana?" tanya Ardian.
" Hmmm, tadi waktu aku keluar mengambil air hangat. Aku memang melihat Lea memasuki kamar Tante Iriana dan dapat di pastikan. Itu memang suara mereka yang sedang ribut," jawab Melody sembari membersihkan luka suaminya itu yang mana Melody duduk di belakang Ardian.
" Kamu pasti tidak nyaman dengan rumah ini yang penuh keributan," ucap Ardian yang merasa tidak enak. Melody menghentikan pekerjaannya sejenak. Namun melanjutkannya kembali.
" Dulu juga kita baru-baru menikah sering ribut. Bukannya kita terus saja bertengkar waktu itu dan mungkin ini yang di rasakan orang-orang di rumah ini sangat tidak nyaman saat mendengar pertengkaran kita yang mana mereka hanya diam tanpa bisa ikut campur," ucap Melody yang mengingat kejadiannya dulu bersama Ardian ya mungkin hal itu lebih parah yang tidak ada hari tanpa pertengkaran. Karena ke-2nya yang sama-sama keras kepala.
" Kamu benar Melody. Aku juga tidak tau. Bisa-bisanya aku menikah. Tetapi hanya menikah saja tanpa mempersiapkan mental dan tidak memikirkan apa-apa. Ya aku hanya menikah karena ingin mewujudkan impianmu. Tetapi apapun itu aku tidak akan menyesali keputusanku saat menikah denganmu. Jika tidak ada hari itu. Maka hari ini juga tidak akan ada," ucap Ardian.
Melody tersenyum mendengarnya, " sudahlah yang penting kita ber-2 sudah sama-sama belajar. Jadi kalau sekarang telinga kita berdua harus sakit karena mendengar ini itu yang berisik. Anggap aja itu karma. Karena selama ini kita tidak pernah memikirkan perasaan dan juga kenyamanan orang lain yang mana kita hanya ribut tanpa tau jika orang lain terganggu. Jadi anggap saja kota lagi dapat karma," ucap Melody yang legowo menerima apapun.
" Iya kamu benar. Anggap saja ini karma," sahut Ardian tersenyum yang sama dengan Melody yang juga tersenyum lebar yang kembali melanjutkan apa yang harus di kerjakannya.
Bersambung.
__ADS_1