
Melihat luka Ardian membuat Melody panik yang tidak menyangka jika Ardian mengalami luka yang cukup parah itu.
" Aku tidak apa-apa Melody," sahut Ardian yang memakai pakaiannya yang merasa dia tidak apa-apa.
" Tidak apa-apa bagaimana kamu jelas terluka. Aku akan bantu obati," ucap Melody yang mengambil kotak obat dan langsung dengan gercep mengobati luka Ardian.
" Ahhhh!" ringis Ardian saat Melody menuangkan cairan alkohol pada luka itu yang membuat Ardian kepedihan.
" Maaf," sahut Melody yang merasa bersalah.
" Shhhh, tidak apa-apa," sahut Ardian.
" Aku akan lebih pelan lagi," ucap Melody yang merasa bersalah. Ardian menganggukkan kepalanya dan Melody kembali mengobati luka di punggung Ardian dan Ardian sekali-kali meringis kesakitan.
" Ini sepertinya terkena ranting kayu," ucap Melody sembari dengan lembut mengobati luka Ardian.
" Mungkin iya," sahut Ardian.
" Kenapa tidak bilang dari tadi kalau kamu terluka. Bagaimana jika sampai infeksi," ucap Melody yang panik. Ardian menengok kebelakang untuk melihat wajah Melody.
" Kau mengkhawatirkanku?" tanya Ardian melihat Melody dan Melody pun melihatnya yang membuat mata mereka saling bertemu. Namun Melody tidak menjawab dan kembali mengobati Ardian. Ardian pun kembali meluruskan wajahnya dan membiarkan Melody mengobatinya.
" Sudah selesai," ucap Melody saat sudah selesai mengobati suaminya.
" Terima kasih," sahut Ardian yang langsung memakai kaos yang di berikan pemilik rumah sebagai bahan gantinya dan membalikkan tubuhnya menghadap Melody.
" Kita makan!" ucap Ardian.
__ADS_1
Melody mengangguk dan mengambil 2 piring nasi yang berisi lauk tempe goreng dan juga ikan goreng. Melihat lauk itu membuat Melody tidak berselera. Bukan apa-apa karena Melody tidak menyukai tempe dan juga jenis ikan. Ya pasti ada yang membuatnya tidak menyukai makanan itu.
Ardian pasti tau apa yang tidak di sukai Melody. Dia sudah lama mengenal Melody dan Ardian juga melihat ekspresi Melody saat melihat makanan itu.
" Melody, ini rumah orang kita tidak akan dapat makanan yang kita inginkan. Cobalah makan dengan apa adanya," ucap Ardian yang melihat Melody terus melihati makanan itu.
" Aku makan pakai nasi saja," ucap Melody membuat lauk di piringnya ke piring Ardian.
" Apa mungkin kamu makan tanpa lauk?" tanya Ardian.
" Mau bagaimana lagi," sahut Melody. Ardian mengambil daging ikan itu sedikit dengan tangannya dan langsung menyuapi Melody.
" Makanlah!" ucap Ardian. Melody menggelengkan kepalanya.
" Kamu tidak alergi ikan. Kamu hanya tidak menyukainya. Jadi jika memakannya juga tidak akan masalah. Jadi makanlah," ucap Ardian yang membujuk Melody.
" Enak kan?" tanya Ardian. Melody menggelengkan kepalanya. Kalau memang tidak suka ya mau gimana lagi.
" Walau tidak enak. Tapi kamu harus tetap makan," ucap Ardian. Melody akhirnya mengangguk dan tetap menerima suapan Ardian. Di mana Ardian juga pelan-pelan menyuapi Melody memisahkan duri ikan dari dagingnya. Agar istrinya tidak terkena duri ikan tersebut.
Setelah selesai makan Melody dan Ardian Merapi-rapikan kamar itu dan akhirnya mereka berdua berbaring dengan jarak mereka yang sangat berdekatan.
Di kamar itu hanya ada satu bantal dan itu di pakai ke-2nya di mana mereka 1 bantal untuk dua kepala. Jadi pasti mereka berdua berdekatan.
Melody berbaring lurus dengan tangannya di lipat di atas perutnya dan Ardian juga berbaring lurus dengan matanya yang melihat kelangit-langit kamar tersebut.
" Terima kasih Melody!" ucap Ardian tiba-tiba membuat Melody menoleh kearah Ardian.
__ADS_1
" Makasih untuk apa?" tanya Melody.
" Kamu sudah memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," sahut Ardian. Melody langsung memiringkan tubuhnya dan membelakangi Ardian dengan kedua tangannya yang di satukan yang berada di bawah pipinya.
" Aku tidak tau Ardian itu sudah kesempatan yang keberapa. Sudah banyak kesempatan yang aku berikan. Tetapi kamu tidak pernah menggunakannya dan terus mengulang kesalahan yang sama," ucap Melody dengan suara rendahnya.
Ardian memiringkan tubuhnya, membuat 1 tangannya di bawah kepala Melody dan Ardian juga memeluk Melody dari belakang yang membuat Melody memejamkan matanya saat merasakan sentuhan Ardian.
" Aku akan merubah segalanya. Aku akan mengembalikan semuanya, meski begitu sulit untuk di kembalikan. Tetapi aku akan mencoba untuk memperbaikinya. Aku janji Melody akan menyelesaikan masalah ini dan kamu akan mendapat ke adilan yang seharusnya kamu dapatkan. Aku janji," ucap Ardian.
" Kata janji bukan hanya di katakan di mulut saja Ardian. Tapi ada pelaksanaannya. Aku tidak tau posisiku bagaimana sekarang. Perasaanku yang bercampur aduk. Aku juga keberanian untuk mengingat semua masalah itu dan aku sudah mengorbankan diriku berkali-kali," ucap Melody.
Ardian semakin mempererat pelukannya pada Melody dengan tangan Ardian berada di perut Melody yang menyalurkan perasaan penyesalannya untuk Melody. Rasa menyesal dan ingin memberikan ke adilan untuk Melody.
" Ini yang terakhir Ardian," ucap Melody dengan suara seraknya. " Jika kamu ingin memperbaiki segalanya dan ingin mengungkap semua kebenarannya. Maka ini yang terakhir kesempatan untukmu. Jika semuanya tetap dengan kamu Ardian yang baru-baru ini ku kenal yang sikapnya tidak bijak dan plin-plan. Maka tidak akan ada kesempatan lagi. Aku juga ingin hidup dan bukan hanya hidup bersamamu saja. Jika kau tidak bisa membuatku melanjutkan hidup. Maka akan mencari kehidupan sendiri," ucap Melody dengan matanya berkaca-kaca.
Tangan Ardian yang menjadi bantal Melody, di geser Ardian meraih kepala Melody sehingga membuat tubuh Melody berbalik yang mana sudah menghadap Ardian di mana akhirnya wajah mereka saling berdekatan.
Namun Melody masih menundukkan pandangannya yang tidak melihat Ardian yang di depannya yang mana Ardian terus melihatnya sembari memebelai-belai rambut Melody. Dan bahkan Ardian mencium lembut kening Melody dan Melody diam dengan matanya yang terpejam. Ardian memegang dagu Melody, mengangkat dagu itu membuat wajah Melody sejajar dengan Ardian dan mata mereka yang saling melihat.
" Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku sungguh khilaf dengan semua kejadian yang pernah terjadi. 4 tahun lalu aku menjadi orang bodoh yang hanya percaya dengan kata-kata tanpa mencari tau. Tetapi sekarang aku sadar dengan pernikahan kita. Tuhan memberikan kita jalan untuk saling memperbaiki, untuk saling mengetahui apa yang terjadi. Untuk kita berdua yang harus melanjutkan apa yang sudah ada," ucap Ardian yang berbicara tulus pada Melody.
Ardian meraih tangan Melody dan membuatnya di telapak dadanya.
" Kamu bisa merasakan perasaan ku. Jika semuanya masih sama. Tidak ada satupun kenangan yang aku lupakan saat bersamamu dan aku akan mengembalikan semua kenangan yang kamu lupakan," ucap Ardian yang terus bicara tanpa mengalihkan pandangannya dari Melody dan Melody hanya diam dengan menatap mata Ardian dalam-dalam. Melihat dari mata itu memang banyak keseriusan. Ardian yang dulu pernah di kenalnya seakan sudah kembali.
Bersambung.
__ADS_1