
Melody tampak diam dengan kepergian Lea yang berbicara banyak kepadanya dan jujur seakan membuat hatinya berkecamuk.
Setelah kepergian Lea. Ardian memasuki kamar dan menutup pintu kamar. Lalu
Ardian melangkah mendekati ranjang yang langsung menuju nakas mengambil obat di sana dan memberinya pada Melody.
" Minum obatmu!" titah Ardian yang langsung memberikan Melody obatnya.
Melody mengambilnya saja tanpa melihat Ardian dan langsung menelan obat itu. Ardian juga memberinya air putih dan Melody mengambil saja tanpa melihat suaminya itu.
Kelihatan emosinya Melody masih memuncak makanya masih sangat marah pada Ardian. Memang kapan Melody tidak marah pada Ardian.
" Kau istirahatlah, aku keluar dulu," ucap
Ardian yang tidak ingin mengganggu Melody. Karena juga tau kondisi Melody tidak baik. Melody diam saja dan tidak menjawab kata-kata Ardian. Ardian pun melangkah keluar dari kamar.
" Aku akan mengikuti semuanya," sahut Melody yang membuat langkah Ardian terhenti, " Aku akan mengikuti semua apa yang di katakan Eyang. Apa yang keluarga mu inginkan. Aku akan mengikutinya tanpa membantah sedikitpun," ucapnya memperjelas kata-katanya.
Ardian membalikkan tubuhnya dan melihat Melody dengan heran. Jelas heran bahkan tanda tanya dengan Melody yang tiba-tiba berubah pikiran dengan cepat. Bukannya Melody yang histeris dan sampai memanggil Dokter. Karena masalah itu. Namun tiba-tiba langsung membuatnya berubah pikiran.
" Apa yang dia katakan barusan. Apa aku tidak salah dengar," batin Ardian terlihat seperti orang bingung.
" Aku akan menerima pernikahan ini. Semuanya sudah terlanjur tidak ada yang bisa di sesali lagi. Jadi aku akan menerima kenyataan ini. Jadi aku akan mengikuti peraturan dan adat-istiadat yang kalian ingin kan," lanjut Melody dengan keputusannya yang sepertinya tidak main-main. Namun Ardian menunjukkan ekspresi yang masih tidak percaya dengan apa yang di katakan Melody.
__ADS_1
" Apa yang di katakan Lea kepadamu?" Tanya Ardian yang pasti Lea mengatakan sesuatu makanya Melody tiba-tiba sangat mudah berubah pikiran. Melody diam yang seolah tidak langsung bisa menjawab.
" Lea mengatakan sesuatu makanya kamu seperti ini?" tanya Ardian memastikan. Melody menelan salavinanya yang berusaha seolah tenang.
" Apa yang aku katakan barusan tidak berbunga dengan Lea yang masuk kekamarku. Jadi jangan menyangkut-pautkan dengan Lea," ucap Melody membantah pikiran Ardian.
" Aku hanya heran saja dengan tiba-tiba semuanya seperti ini," sahut Ardin.
" Kau tidak perlu heran. Karena aku sudah memikirkannya untuk mengikuti semua aturan dan juga menerima pernikahan ini. Jadi jangan berpikir kemana-mana lagi. Aku capek dan membantah tidak ada gunanya. Kau juga tidak akan melepasku bukan," sahut Melody menegaskan yang seolah meyakinkan Ardian jika memang keputusan yang di ambilnya tepat.
Ardian masih terlihat diam yang mearasa terkejut dengan cepatnya Melody yang berubah pikiran.
" Tapi dengan satu syarat," sahut Melody yang mengajukan syarat membuat Ardian melihatnya dengan serius.
" Apa syaratnya?" tanya Ardian.
" Terutama," lanjut Melody yang membuat Ardian semakin penasaran tentang lanjutan apa yang di bicarakan oleh Melody.
" Terutama untuk wanita itu. Jika aku sudah menikah dan sudah menjadi istri. Yang itu artinya aku wanita dan juga istri yang sah. Aku datang sebagai menantu yang sudah di nikahkan tanpa aku sadari. Aku akan menerima semuanya. Tetapi. Aku akan menutup telinga dan mataku dan seakan tidak mau tau tentang urusanmu dan Raisa yang itu artinya mau dia tersakiti, sangat memprihatinkan itu bukan urusanku. Jadi jangan melarangku jika aku berbicara atau melakukan apapun jika dia menye-menye di depanku. Kau juga harus bisa menghargai diriku dan bertindak tegas. Bisa membedakan mana istrimu dan mana tidak," ucap Melody menegaskan pada Ardian dengan serius.
" Aku akan melakukan tugas ku sebagai istri. Seperti apa yang kalian inginkan. Aku mencoba belajar menerima kenyataan. Tapi aku hanya berharap kau juga tau batasanmu. Apa yang harus kau lakukan dan tidak kau lakukan. Jika kau bisa menghargaiku. Maka aku akan menghargaimu," ucap Melody yang benar-benar memberi ketegasan pada Ardian.
" Selama aku menjadi istrimu. Kau harus tau juga aturannya. Jika kau ingin aku mengikuti aturan mu kau juga tau batasanmu," lanjut Melody dengan penuh penekanan dan penegasan pada Ardian.
__ADS_1
" Apa yang di bicarakan Melody apa sungguh itu kata-kata dari hatinya. Atau ada sesuatu yang di balik kata-kata itu. Kenapa tiba-tiba dia cepat sekali berubah pikiran," batin Ardian yang terlihat tidak percaya begitu saja dengan Melody.
" Aku memang harus bertahan. Melody hanya sebentar saja. Lalukan semuanya. Mungkin ini kesempatan yang di berikan tuhan untukmu untuk membalas rasa sakit hatimu. Kau harus bertahan Melody, semua ini demi kebaikanmu. Kau mungkin rugi. Tapi percayalah ini demi kebaikanmu," batin Melody dengan meremas seprai yang mana matanya saling bertemua dengan Ardian.
" Kenapa kau diam apa syarat yang aku ajukan sangat memberatkanmu, atau jangan-jangan kau yang tidak menginginkan pernikahan ini berlanjut. Dengar Ardian jangan jadikan aku bonekamu. Jika ingin di perbaiki maka aku akan mencobanya. Tapi kau juga bisa tegas dalam bertindak," sahut Melody menekankan sekali lagi.
" Baiklah! mari kita perbaiki semuanya," sahut Ardian yang akhirnya mengikuti saja jalan dari Melody.
" Sinaga kamu bisa menjalankan semua ini Melody. Kamu pasti bisa bertahan," batin Melody dengan yakin.
Ternyata di luar kamar Lea belum pergi sama sekali. Lea menguping pembicaraan Ardian dan juga Melody. Lea menyunggingkan senyumnya saat mendengar percakapan itu.
" Akhirnya dia melakukannya. Ya semoga saja dia bisa mendapatkan apa yang di inginkannya," batin Lea yang keliatan begitu bahagia dengan apa yang di dengarnya.
" Lea!" tegur Mila yang menepuk bahu Lea yang membuat Lea tersentak kaget.
" Kak Mila," sahut Lea.
" Kamu ngapain di sini?" tanya Mila.
" Hmmm, tidak, tidak ngapain-ngapain," jawab Lea gugup. " Kakak sendiri ngapain?" tanya Lea kembali.
" Ini. Kakak lagi mau nganterin buah untuk Melody," sahut Mila menunjukkan nampan yang di bawanya.
__ADS_1
" Oh begitu, ya sudah masuk aja," sahut Lea tersenyum dan Lea langsung pergi. Mila hanya gelang-gelang melihat kepergian Lea.
Bersambung