
Melody berdiri di sekitar ranjang seperti setrikaan yang mondar-mandir dengan mengigit jempol jarinya yang terlihat Melody begitu kebingungan.
" Hmmm, besok pagi aku harus membuat apa. Aku harus menunjukkan kualitas ku di rumah ini sebagai menantu. Aku sangat yakin Besok ular berbisa itu akan membuat ulah. Dia mana mungkin diam melihatku dengan lancar melakukannya. Hmmm, aku juga harus pada dengan dia dan tantenya itu. Tapi apa yah yang harus aku buat. Supaya 2 manusia itu tidak meremehkanku," batin Melody yang terus berpikir keras.
Melody memang mulai ingin menonjolkan diri. Agar semua orang menyukainya. Agar saingannya di rumah itu hanya Raisa dan Novi. Makanya saat makan malam tadi saat Eyang menyampaikan hal itu Melody langsung mau-mau aja. Dia sudah mulai bermain dengan cantik.
Saking sibuknya berpikir dan mondar-mandir terus menerus. Melody tidak menyadari Ardian sudah keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang di lilit di pinggangnya. Ardian juga heran dengan apa yang di lakukan Melody dan melangkah mendekati Melody.
Melody yang tidak menyadari keberadaan Ardian membalikkan tubuhnya tiba-tiba dan langsung tertabrak Ardian. Melody dan Ardian sama-sama kaget dengan Ardian yang memegang ke-2 bahu Melody.
Wajah Melody yang sejajar dengan bidang dada Ardian. Melihat dengan melotot dada yang lebar dan kekar itu dan perlahan mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Ardian yang tepat di depannya. Hal itu membuat mereka sama-sama saling beradu pandang.
Dengan Melody yang tiba-tiba kesulitan menelan salivanya karena melihat ketampanan Ardian yang begitu jelas di depannya. Air yang menetes dari rambut Ardian membuat Melody seakan ingin berhenti bernapas.
Debaran jantung itupun pasti ada dan debaran itu tidak pernah hilang walau mereka putus. Debaran yang tiba-tiba akan muncul saat mereka sama-sama bertemu.
Ardian juga tidak melepas tatapannya dari mantan kekasihnya yang dulu begitu manja dan sekarang sekarang mantannya itu menjadi istrinya. Sama dengan Melody yang sama-sama merasakan debaran di dalam sana.
Melody tiba-tiba tersentak sadar dan langsung mendorong Ardian.
" Kenapa ada di belakangku tiba-tiba," ucap Melody yang begitu gugup yang tidak berani melihat Ardian.
" Kamu yang tidak melihat-lihat, jika aku ada di belakang mu," sahut Ardian.
" Lagian kenapa tidak memakai baju, sengaja mau pamer-pamer," ucap Melody yang menyalahkan Ardian. Ardian mendengus kasar dengan Melody yang ada-ada saja untuk menyalahkannya.
" Pakaianku di lemari dan aku habis mandi wajarlah aku seperti ini. Lagian apa yang di pamerkan," sahut Ardian heran dengan Melody.
__ADS_1
" Alasan saja," sahut Melody yang terlihat canggung dan sengaja menutupi kecanggungannya dengan menyalahkan Ardian apa saja.
" Kamu kenapa sih, terlihat gugup seperti itu," sahut Ardian dengan menyunggingkan senyumnya yang Melody langsung melihatnya.
" Apa maksud mu?" tanya Melody kesal, " siapa yang gugup," ucapnya dengan penuh emosi.
" Ya kamu lah, lihat wajah mu sampai memerah," goda Ardian dengan polosnya Melody langsung memegang wajahnya. Ardian tersenyum miring melihat kelakuan Melody.
" Jangan kepedean kamu aku tidak pernah gugup dengan mu," sahut Melody yang membantah tuduhan Ardian.
" Jangan bohong aku bisa melihatnya dari wajahmu," sahut Ardian yang terus menggodanya.
" Terserah apa katamu yang jelas aku tidak pernah gugup denganmu. Jadi jangan berpikiran yang lain-lain," ucap Melody yang kesal yang langsung menaiki ranjang. Dia memang terlihat salah tingkah makanya tingkahnya ada-ada saja.
" Kalau ada Raisa aja kamu sudah pasti melakukan hal yang lain," ucap Ardian menyinggung Raisa yang membuat Melody terlihat begitu kesal.
" Apa maksud mu membawa-bawa namanya," sahut Melody yang langsung sensian.
Melody yang bertambah kesal langsung mengambil bantal dan melemparnya pada Ardian. Untung saja Ardian berhasil menangkap bantal itu.
" Terserah apa katamu," sahut Melody dengan kesal yang langsung menarik selimut dan menutup tubuhnya yang membelakangi Ardian. Ardian menyunggingkan senyumnya yang melihat kelakukan Melody yang memang tidak akan bisa menyembunyikan rasa canggung itu.
" Iss, dia pikir aku tertarik padanya. Cinta itu sudah hilang. Seharunya tidak kepedean seperti itu," batin Melody yang kesal dengan Ardian.
***********
Subuh-subuh Melody sudah bangun dia sudah sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk keluarga itu. Dia memang tidak akan spele dengan tantangan itu. Makanya dia begitu semangat untuk menyiapkan segalanya.
__ADS_1
Raisa dan Novi memang benar-benar mengawasi Melody dan dari wajah-wajahnya terlihat memang 2 wanita itu punya rencana pada Melody.
" Apa menurut Tante dia akan bisa menyelesaikan semuanya?" tanya Raisa.
" Mana mungkin. Paling hanya membuat roti untuk sarapan seperti yang di lakukan Vivi dulu," sahut Novi yang begitu meremehkan Melody.
" Tante benar, orang kayak dia mana mungkin bisa membuat makanan yang Wau," ucap Raisa.
" Raisa hanya kamu yang bisa melakukan hal itu. Dengan begini keluarga ini akan semakin sadar. Wanita yang di jadikan sebagai istri Ardian adalah wanita yang tidak bisa apa-apa sama sekali," ucap Novi.
" Ya, dengan menerima tantangan itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri saja," sahut Raisa yang menyunggingkan senyumnya.
Melody yang serius di dalam dapur tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan melihat Raisa dan Novi berdiri di sana.
" Ngapain kalian di situ?" tanya Melody dengan ketus.
" Apa ini dapurmu sehingga kami harus melapor kepadamu," sahut Raisa.
" Kau lupa dengan apa yang di katakan Eyang tadi malam. Menantu akan menyiapkan makanan dan itu artinya dapur akan menjadi miliknya saat dia menjalankan tugasnya. Kau tidak melihat apa tidak ada orang di sini yang artinya orang-orang lain sangat paham dan tidak seperti kalian yang tidak paham sama sekali," jelas Melody.
" Jangan terlalu kepedean Melody. Kau juga tidak akan bisa melakukan hal itu," sahut Raisa yang menahan kekesalannya.
" Bisa atau tidak bisa yang penting aku melakukannya tidak sepertimu yang tidak akan pernah punya kesempatan untuk melakukannya. Makanya sana nikah supaya bisa merasakannya," sahut Melody dengan tajam bicara.
Raisa mendengarnya mengepal tangannya dan ingin melangkah mendekati Melody yang pasti sudah terpancing emosinya karena ulah Melody. Namun Novi langsung menghentikan Raisa.
" Sudah Raisa, kita pergi saja. Jangan meladeni wanita gila ini," ucap Novi yang langsung menarik tangan Raisa membawanya pergi.
__ADS_1
" Mengataiku gila. Apa dia tidak ngaca. Jika dialah yang gila. Sudah kuduga mereka memang pasti akan terus mengawasiku. Aku harus berhati-hati jangan sampai rencana jahat mereka akan menghancurkanku," batin Melody yang begitu hati-hati.
Bersambung