
Melody menuruni anak tangga yang mana di sana ada Widia, Eyang besar dan Shandra yang duduk di ruang tamu. Langkah Melody memelan setelah melihat orang-orang yang ada di ruang tamu itu yang ternyata Ardian pun juga sudah menyusul Melody yang mana Ardian berada di atas yang jaraknya 5 tangga dari Melody.
" Melody, Ardian Kemarilah!" panggil Eyang besar.
Melody mendengar nama Ardian menengok kebelakang nya yang mana tanpa iya sadari. Jika Ardian sudah ada di belangnya. Ardian pun menuruni anak tangga melewati Melody yang masih bengong yang antara mau turun atau tidak.
" Melody kenapa diam. Kamu tidak mendengar Eyang?" tanya Eyang yang mengurus Melody untuk turun lagi.
Melody pun akhirnya menuruni anak tangga. Dia memang sangat keras kepala. Tetapi tampaknya untuk melawan pada Eyang besar Melody juga tidak berani. Dia masih rada-rada takut dengan Eyang. Karena memang Eyang begitu di hormati di rumah itu.
Dan Melody juga sudah mengenal Eyang besar sebelumnya. Ardian dulu pernah mengenalkannya dan juga sudah tau bagaimana tegasnya Eyang nya itu kepada keluarga itu. Melody pun sudah sampai di ruang tamu.
" Duduk lah!" perintah Eyang. Melody mengambil tempat duduk yang jauh dari Ardian.
" Jangan berjauh-jauhan duduk. Dekat sana sama suamimu!" perintah Eyang lagi yang melihat tempat duduk Ardian masih kosong namun Melody jauh. Melody kelihatan tidak mau mendengarnya.
" Melody Eyang akan sulit bicara. Jika kamu jauh di sana. Ayo jangan keras kepala. Kecantikan kamu tidak akan luntur jika dekat dengan Ardian. Ardian bukan menyerap kecantikan," sahut Eyang besar dengan guyonan sedikit.
Melody membuang napas perlahan dan mau tidak mau duduk di samping Ardian walau tetap dengan jarak Jang jauh.
" Kalian ber-2 ini benar-benar aneh, suami istri duduknya dengan jarak. Apa di kamar kalian juga seperti ini," ucap Eyang geleng-geleng.
" Ayo berdekatan sedikit lagi," ucap Eyang, Ardian mengalah dan bergeser sedikit mendekati Melody.
" Beginilah lebih enak. Eyang bisa bicara dengan kamu dan Ardian dengan dekat, jangan jauh-jauhan Muku," ucap Eyang. Widia tersenyum tipis yang mungkin memang hanya ibunya yang bisa mengatasi Melody yang kerasnya melebihi batu.
__ADS_1
" Ada apa memanggilku?" tanya Melody dengan suara datar yang benar-benar terlihat jutek.
" Pertama, Eyang ingin memberikan buku nika kalian berdua yang sudah jadi," ucap Eyang memberikan buku nikah itu pada Melody.
Namun Melody mengalihkan pandangannya yang tidak ingin melihat buku nika itu. Shabdara dan Widia saling melihat dengan Melody yang sama sekali tidak menanggapi pemberian Eyang besar.
" Berati harus Ardian yang menyimpannya," sahut Eyang besar yang langsung memberikan pada Ardian dan Ardian pun langsung mengambilnya. Dia tidak mau membuat masalah lagi dengan banyak protes seperti Melody. Apalagi harus sama-sama keras dengan Melody. Ardian harus banyak-banyak mengalah untuk Melody.
" Baiklah yang kedua. Melody kamu sudah menjadi menantu di rumah ini dan aturannya sama. Semua menantu sama di ruamh ini dan kamu menantu bungsu yang juga harus mengikuti tradisi keluarga ini yang telah kamu lewatkan," jelas Eyang besar.
" Aku tidak mau mengikuti tradisi itu. Tradisi itu untuk suami istri yang menikah dengan kesepakatan, komitmen dan dengan cinta. Semetara pernikahanku hanya paksaan dan sepihak dan pernikahan itu tidak akan lama. Jadi aku tidak perlu mengikuti tradisi itu," ucap Melody menegaskan yang memang pasti akan menolak.
" Jangan membantah Melody. Kamu ikuti saja," sahut Shandra. Eyang besar terlihat menarik napas dengan kata-kata Melody.
" Aku bilang tidak mau maka tidak mau," sahut Melody tetap yakin.
" Apa yang mama katakan?" tanya Widia.
" Tradisi ini sangat kental. Bukan hanya keluarga besar kita yang akan ada tapi juga orang-orang yang akan datang. Jika Melody tidak mau dia bisa jadi istri Ardian yang di sembunyikan. Hanya status kamu yang menjadi istri dan biar Raisa yang melakukan tradisi itu dan orang-orang akan tau istrinya siapa," sahut Eyang besar membuat Melody kaget.
Bukan hanya Melody. Tetapi Ardian dan semuanya juga kaget dengan kata-kata Eyang seakan memberikan ancaman pada Melody. Mungkin Eyang punya caranya sendiri untuk memberi gertakan pada Melody biar apa-apa jangan mengancam.
" Mah, apa yang mama bicarakan. Mana mungkin seperti itu," sahut Widia.
" Melody menolaknya yang itu artinya dia tidak ingin statusnya di perjelas. Dan kalau begitu biarkan saja. Biar Raisa yang menggantikannya dan jika orang-orang paling hanya tau jika Raisa menantu yang terlihat," tegas Eyang besar.
__ADS_1
" Aku bersedia melakukannya," sahut Raisa yang ternyata ada di ujung anak tangga sedari tadi mendengar kata-kata Eyang besar. Raisa sekarang tersenyum dengan menuruni anak tangga seakan mendapat kesempatan besar.
Melody menyunggingkan senyumnya dengan mengepal tangannya, dia merasa Raisa benar-benar wanita yang tidak ada harga dirinya sama sekali. Tetapi Melody juga sekarang di buat bertambah stres yang seolah di hadapkan dengan pilihan.
" Kamu mau Raisa melakukannya? Karena Melody menolaknya," ucap Eyang besar.
" Iya Eyang aku bersedia. Jika itu demi kebaikan keluarga ini. Dan lagian aku bukannya harus belajar untuk melakukannya. Karena nanti aku akan menjadi istri Ardian. Lagian ini juga untuk menutupi jika akan adanya perceraian di rumah ini. Jadi memang sebaiknya aku yang melakukannya dan Ardian pasti lebih senang jika aku yang melakukannya," sahut Raisa tersenyum miring yang sudah berada di ruang tamu.
" Apa yang Eyang katakan. Ini sangat tidak masuk akal," sahut Ardian yang seolah tidak setuju.
" Ardian jika istri paksaan kamu tidak mau mengikutinya yang berarti bukannya aku wanita yang kamu cintai yang harus menggantikannya. Agar orang-orang tau bahwa aku adalah istrimu," sahut Raisa tersenyum Sinis. Melody seakan sedang di uji oleh Raisa.
" Melody jangan membuang-buang waktu. Kamu mau apa tidak? jika tidak biar Raisa yang melakukannya," tanya Eyang memastikan. Melody mengangkat kepalanya dan meliahat Eyang besar dengan serius.
" Eyang mengatakan tradisi itu sangat kental berhubungan dengan Agama dan juga adat istiadat. Di mana agamanya jika dengan mudahnya Eyang harus menggantikan istri sah dengan wanita yang tidak jelas seperti dia," sahut Melody yang mengeluarkan kata-kata tajqmnha.
Raisa melotot mendengar kata-kata wanita tidak jelas. Dia jelas sangat tersinggung dengan kata-kata itu.
" Jaga bicara mu Melody. Kau yang tidak jelas di rumah ini," sahut Raisa yang langsung membantah kata-kata tajam itu.
Melody tersenyum langsung berdiri dan menarik buku nika dari tangan Ardian. Ardian heran apa lagi yang ingin di lakukan Melody. Melody mendekati Raisa dan menghadap nya dengan menunjukkan buku nikah itu.
" Aku rasa matamu tidak buta. Kau bisa membaca dan melihat apa di depanmu," sahut Melody membuka kan buku nikah itu di depan Raisa. Raisa mengepal tangannya saat 2 buku nikah itu terpampang di wajahnya di mana foto Melody dan Ardian bersanding di sana.
Mata Raisa memerah dengan tubuh bergetar yang seolah sedang di perlihatkan kenyataan oleh Melody tentang status Melody yang sah menjadi istri baik dari agama maupun negara dan memperjelas status Raisa yang memang tidak jelas.
__ADS_1
Bersambung