Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 134 Memikirkannya.


__ADS_3

Ardian yang melihat Melody bengong membuatnya keluar dari tempat permainan ice skating tersebut, lalu menghampiri istrinya.


" Melody!" tegur Ardian memegang pundak Melody yang membuat Melody tersentak.


" Kamu kenapa?" tanya Ardian. Melody hanya menggeleng pelan. Tanpa menjawab apa-apa. Namun Ardian melihat tatapan Melody begitu kosong yang sedang berpikir keras.


" Kamu sakit?" tanya Ardian lagi. Melody menggelengkan kepalanya. Karena memang dia tidak sakit sama sekali.


" Kita cari makan ya!" ajak Ardian. Melody hanya bermain dengan kepalanya yang setuju atau tidak tanpa mengeluarkan suara yang pasti hal itu semakin membuat Ardian penasaran ada apa dengan istrinya itu.


" Aku panggil Chaca sebentar," ucap Ardian yang langsung pergi memasuki kembali permainan ice skating untuk memanggil Chaca.


Melody pun melihat ke arah Ardian yang sudah bersama Chaca, Melody mengamati dua wajah Ardian dan Chaca seakan Melody meneliti 2 wajah yang memastikan kesamaannya.


" Tidak mungkin apa itu mungkin," batin Melody.


Owe-Owe-owe-owe-owe-owe


Telinga Melody tiba-tiba bergerak yang mendengar tangisan bayi. Melody dalam diamnya yang berdiri mematung melihat lokasi permainan ice skating itu adalah rumah sakit dan melihat beberapa Dokter dan suster membantu seorang wanita dalam bersalin.


Namun dalam halusinasinya Melody tidak dapat melihat wanita yang sedang bersalin itu karena di tutupi oleh banyaknya Dokter yang ada di sana.


Air mata Melody tiba-tiba menetes saat hanyut dalam halusinasinya. Dia diam di tempat sampai orang-orang yang berjalan di belakanganya menyenggolnya dan membuat Melody jatuh. Namun dia tetap seperti orang linglung yang terduduk di lantai yang tidak tau apa yang terjadi.


Ardian melihat istrinya terduduk langsu ng menghampirinya berjongkok di depan Melody bersama Chaca, " Melody kamu kenapa?" tanya Ardian panik yang melihat wajah istrinya yang mendadak pucat dan melihat air mata di pipi itu. Melody tidak menjawab melihat lama wajah Ardian dan berpindah pada Chaca. Lagi-lagi Melody mencari kesamaan di wajah ke-2 orang itu.


" Aunty kenapa?" tanya Chaca dengan polosnya. Melody diam tanpa menjawab apapun.


..." Aku menemukan tespeck di kamarmu. Apa kamu hamil saat itu dan katakan di mana anak kita?" Ardian...


..." Darah Ardian Ab positif sama dengan darah papanya, jadi untung saja darah mereka cocok," Ratih....


..." Itu anak kamu, Hmmmm mirip sekali dengan Ardian," Siska...


..." Aku minta maaf atas kejadian 4 tahun lalu," Siska....


Semua ingatan itu terlintas di dalam pikiran Melody yang sepertinya merasakan sesuatu yang mana pikirannya mulai terbuka dengan banyaknya kejadian beberapa tahun lalu yang terlewatkan yang sama sekali tidak di ingatnya dan sekarang muncul beberapa ingatan tentang kejadian-kejadian itu. Semakin Chaca bicara semakin besar ingatan itu muncul di pikirannya.

__ADS_1


" Kamu tidak enak badan ati kita pulang!" Ardian langsung membantu Melody untuk berdiri. Ardian hanya merasakan tubuh Melody yang bergetar.


" Ayo Chaca!" ajak Ardian memegang satu tangan Melody. Chaca mengangguk dan dan berjalan bersama Ardian dan Melody. Namun Melody hanya terus melihat Chaca tanpa dua bersuara sama sekali.


Mereka tidak jadi makan dan memilih untuk pulang kembali. Di dalam mobil Ardian yang menyetir dan Melody duduk di sampingnya yang terlihat begitu murung.


" Kamu kenapa?" tanya Ardian. Lagi-lagi Melody hanya menggelengkan kepalanya yang merasa bahwa dia sama sekali tidak apa-apa.


" Aku melihat kamu begitu banyak pikiran apa yang kamu pikirkan?" tanya Ardian.


" Apa mungkin itu terjadi. Apa selama ini apa yang dekat dan rasa yang aku rasakan itu sungguh berarti," batin Melody.


" Melody!" tegur Ardian. Melody hanya menggeleng kepalanya lagi.


**********


Saat sampai di rumah, di ruang tamu ada Gadis, Febby, Marsel, Dania dan Wawan dengan beberapa koper yang tersusun rapi.


" Assalamualaikum," sapa Chaca yang berlari pada orang tuanya.


" Walaikum salam!" sahut semuanya dengan serentak.


" Happy mah, tapi Aunty tiba-tiba tidak enak badan akhirnya kita pulang," sahut Chaca dengan polosnya menjawab. Semua mata tertuju pada Melody yang melihat Ardian merangkul tubuh Melody.


" Kamu baik-baik saja Melody?" tanya Wawan. Melody hanya menganggukkan kepalanya dan matanya langsung melihat ke arah koper-koper itu.


" Siapa yang mau pergi?" tanya Melody dengan suara seraknya.


" Bukannya kamu juga sudah tau, kami akan pulang kampung besok. Jadi semuanya sudah di siapkan," sahut Marsel dengan tenang bicara. Ardian hanya menanggapi datar-datar saja.


" Chaca juga ikut?" tanya Melody yang merasa ada ke tidak relaan.


" Ya kan memang harus ikut Melody. Chaca kalau ke Luar Negri mana pernah tidak ikut dan lagian nanti dia akan ngerepotin kamu jika tidak ikut," sahut Gadis.


" Berapa lama kalian pergi?" tanya Melody.


" Belum tau Melody," jawab Marsel.

__ADS_1


" Tapi kopernya sangat banyak. Kalian tidak akan pindahkan?" tanya Melody yang merasa was-was.


Marsel, Gadis, Wawan, Dania saling melihat yang merasa pertanyaannya Melody seperti ada sesuatu.


" Kenapa diam! apa kalian akan pindah?" tanya Melody ingin memastikan.


" Kak Melody kenapa, kok tiba-tiba aneh gitu," batin Feby dengan heran mengamati wajah Melody.


" Melody kamu kenapa nak?" tanya Dania.


" Aku tidak apa-apa. Aku hanya bertanya kalian pulang kampung atau pindah," sahut Melody.


" Memang kita akan pindah ma?" tanya Chaca melihat sang mama yang menunjukkan wajah polosnya.


" Siapa yang mau pindah Melody. Tidak ada yang mau pindah," sahut Wawan.


" Lalu kenapa kopernya sebanyak ini?" tanya Melody lagi.


" Melody kami itu ingin pulang kampung dan wajar membawa koper banyak. Kamu seharusnya tidak bertanya dengan mengintimidasi seperti itu," sahut Marsel.


" Melody sebaiknya kita istirahat, aku lihat kamu tidak enak badan," sahut Ardian.


" Aku tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin kalian pergi membawa Chaca," sahut Melody tiba-tiba.


Pernyataan Melody membuat semuanya kaget. Bahkan Ardian sendiri sebagai suami juga kaget dengan permintaan Melody.


" Apa maksud kamu Melody. Chaca harus di bawa karena tidak mungkin terpisah dari orang tuanya," sahut Marsel.


" Kalian bukan orang tuanya," sahut Melody yang semakin membuat semuanya kaget sampai bola mata mereka ingin keluar karena perkataan Melody yang seakan mengetahui semuanya.


Wajah Chaca hanya polos-polos saja yang tidak mengerti apa-apa. Febby yang merasa ada yang tidak beres langsung berdiri dan membawa Chaca.


" Ayo kita kekamar, Chaca harus istirahat!" ajak Febby. Chaca dengan polosnya mengangguk dan pamitan pada semuanya.


" Apa Ardian mengatakan semuanya kepada Melody," batin Marsel yang panik, sama dengan istrinya yang tidak kalah paniknya.


" Tidak mungkin jika Melody sudah mengingat semuanya. Tetapi dari tadi Melody memang sangat aneh yang aku merasa terjadi sesuatu padanya," batin Ardian yang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2