
" Jangan bicara panjang lebar. Apapun itu aku tetap tidak ingin satu kamar denganmu!" tegas Melody lagi.
" Aku sudah mengatakan kepadamu Melody. Bukan aku yang menginginkan semua ini tetapi Eyang. Jadi aku hanya melakukan saja apa yang di inginkannya," sahut Ardian.
" Apa maksud mu?" tanya Melody dengan panik yang merasa sudah ada yang tidak beres.
Ardian berjalan menuju lemari dan membuka 2 pintu lemari yang mana pakaian Ardian sudah rapi tersusun di dalam sana.
Betapa terkejutnya Melody saat melihat pakain itu sampai matanya melotot yang hampir ingin keluar dan mata itu berpindah pada Ardian yang terlihat tenang.
" Tidak itu tidak mungkin. Aku tidak mau sekamar denganmu, keluarkan pakainamu dari sana aku tidak mau sekamar denganmu!" teriak Melody kembali seperti Dajjal yang langsung setan-setannya bermasukan kedalam tubuhnya.
" Aku sudah mengatakan berkali-kali. Bukan aku yang menginginkan semua ini. Tetapi Eyang. Jadi jika kamu ingin protes makan komplenlah dengan Eyang jangan kepadaku," sahut Ardian dengan menegaskan.
" Kau sengajakan melakukan ini. Ini pasti kamu yang menyuruh Eyang melakukan semua ini. Ini pasti gara-gara kamu. Kau benar-benar ingin menghancurkan ku. Kau ingin membuatku menderita. Makanya kau menyuruh Eyang untuk melakukan semua ini. Kau itu benar-benar bajinagn!" teriak Melody yang malah menuduh Ardian yang kongkalikong dengan Eyang besar
" Terserah apa katamu. Aku tidak pernah mengatakan apa-apa kepada Eyang. Dan itu tidak ada keuntungannya denganku," sahut Ardian membantah tuduhan Melody.
" Alah bohong. Kau pikir aku tidak tau apa yang kau lakukan hah! niat mu sudah buruk dari awal kepadaku. Aku tau semua ini hanya rencanamu," sahut Melody.
" Cukup Melody. Aku capek Melody harus mendengar tiap hari kata-kata mu yang itu-itu terus. Aku juga capek membuat kesalahan di rumah ini dan aku tidak mau membantah Eyang. Jika kamu keberatan. Kamu saja yang bicara dan satu lagi ini adalah kamarku dan seharusnya aku yang berkuasa di sini," ucap Ardian menegaskan dengan bicara suara rendah.
" Oh jadi mentang-mentang ini kamarmu. Kamu mau sesukamu di sini. Aku tidak peduli. Yang penting aku tidak mau sekamar denganmu!" teriak Melody menegaskan yang pasti tidak akan mau kalah.
Ardian menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.
__ADS_1
" Terserah, kamu mau atau tidak. Aku juga tidak punya pilihan. Jadi mengertilah. Cukup membuat keributan," ucap Ardian yang langsung memalih keluar dari kamar itu dari pada akan menimbulkan keributan yang besar lagi.
" Ardian mau kemana kamu? bawa kembali pakaian mu. Aku tidak Sudi sekamar denganmu. Bawa semuanya pakainamu Ardian!" teriak Melody. Ardian tidak menanggapi yang mungkin dia pergi untuk menenangkan dirinya.
" Argggghhh, kamu benar-benar jahat Ardian, aku sangat membencimu, aku sangat membencimu, kau itu bajingan Ardian!" teriak Melody dengan meremas seprai kuat.
Dia harus kembali menangis. Yang mana dia bukan hanya menjadi istri Ardian yang sah dalam agama maupun negara. Tetapi juga 1 kamar dengan Ardian dan itu rasanya dunianya benar-benar sudah hancur.
Melihat Ardian saja membuat darahnya berdesis tidak menentu. Apa lagi harus sekamar. Tidak tau apa yang akan terjadi lagi. Bagaimana rekanan akan semakin banyak di dapatkannya dengan satu kamar dengan Ardian.
************
Melody yang berada di atas ranjang yang menayandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan air matanya yang menetes dan tangannya beberap kali harus menyekanya. Di mana Mila iparnya yang sedang membujuknya untuk berhenti menangis.
" Melody sudahlah, kamu jangan menagis seperti itu. Kamu jangan seperti ini Melody. Ardian dan kamu sudah menikah dan tidak ada yang slaah. Kalian mau satu kamar atau tidak," ucap Mila membujuknya. Melody hanya diam dan tidak menanggapi apa yang di katakan Raisa sama sekali. Diamnya dia sudah kemarahan untuknya.
" Tolong Melody jangan seperti ini. Ini adalah keputusan eyang dan kamu tidak bisa seperti ini. Kamu jangan menagis terus seperti ini Melody. Kamu dan Ardian sudah sama-sama dewasa. Jadi bersikaplah dewasa," sahut Mila. Dengan membelai-belai rambut Melody.
" Ya sudah ini sudah malam, kamu istirahat ya, besok kamu ada pertemuan dengan ahli terapi, jadi kamu jatus mempersiapkan diri kamu," ucap Mila dengan mebgusao pipi Melody. Lalu dia langsung berdiri. Melihat Melody dengan sendu dan langsung pergi begitu saja.
Yang jelas dia sudah memberikan Melody arahan. Agar Melody tenang dan tidak marah-marah. Mila hanya berharap Melody benar-benar menerima semuanya.
**********
Kecemburuan yang di terima Raisa barusan jelas membuatnya marah. Raisa berdiri di pinggir kolam renang dengan tangannya yang di lipat di dadanya.
__ADS_1
" Melody dan Ardian sudah sah menjadi suami istri. Bahkan pernikahan mereka bukan hanya berdasarkan agama saja. Sudah sah di mata hukum juga. Dan tadi apa yang di lakukannya dia benar-benar kurang ajar. Berani sekali dia meminta gendong pada Ardian. Dia pikir siapa dirinya," ucap Raisa dengan sinis dengan tangan yang mengepal.
" Ya dia istrinya," tiba-tiba terdengar sahutan suara yang membuat Raisa menoleh kebelakang nya yang ternyata Lea yang melangkah dengan santai dengan membawa segelas jus
" Masih di tanya dia siapa. Jelas dia istrinya. Masa tidak mengerti juga, bagaimana sih. Kamu benar-benar sangat aneh," ucap Lea dengan santai bicara dengan senyum yang seolah mengejek.
" Ngapain kamu di sini. Jangan ikut campur urusanku," sahut Raisa yang bertambah kesal.
" Ya terserahku dong mau ngapain. Rumah ini kan rumah Tante Widia dan aku keponakannya. Sangat jelas statusku sebagai keponakan. Lalu kamu yang di pertanyakan siapa. Istri Rendy bukan. Calon juga tidak," sahut Lea dengan penuh sindiran.
Apa yang di dengar Raisa semakin membuatnya kesal yang rasanya ingin mencabik-cabik mulut Lea.
" Kamu dengar Lea. Aku memperingatkan mu untuk tidak ikut campur kepadaku. Jangan menggangguku," tegas Raisa. Lea hanya tersenyum menanggapi apa yang di katakan Raisa.
" Aku tidak pernah mengganggu hanya menanggapi saja," sahut Lea dengan santai, " Di mana kamu tadi bertanya siapa Melody dan kebetulan aku mendengarnya ya aku jawab Melody istri sahnya Ardian dan mungkin saja dengan aku menjawab. Kamu sudah tau siapa dia dan kamu juga tau siapa dirimu," lanjut Lea dengan sinis.
" Cukup!" bentak Raisa membuat Lea tersenyum penuh ejekan.
" Kenapa marah, memang ada yang salah," sahut Lea dengan santai.
" Aku sungguh muak bicara dengan mu. Aku tidak akan mengulangi kata-kataku. Jangan menggangguku dan jangan ikut campur dengan urusanku," tegas Raisa menunjuk tepat di wajah Lea dan Raisa langsung pergi. Lea hanya tersenyum geleng-geleng dengan kepergian Raisa yang marah-marah.
" Dasar aneh," batin Lea yang kembali meneguk minumannya.
Bersambung
__ADS_1