Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 26 Sindiran untuk Raisa


__ADS_3

" Evan kenapa kamu diam, apa yang kamu katakan barusan?" tanya Melody yang benar-benar menunggu jawaban Evan.


" Hah, maksud aku, anu itu," sahut Evan gugup Dnegan menggaruk kepalanya dengan jarinya.


" Itu apa," sahut Melody yang bertambah penasaran.


" Ehmmm," tiba-tiba Raisa berdehem yang menghampiri Melody dan juga Evan. Membuat Melody bertambah malas dan seakan dengan cepat melupakan pertanyaannya pada Evan yang membuatnya begitu penasaran. Ketika melihat Raisa yang datang tiba-tiba.


" Sangat tidak tau malu, sudah tau punya suami. Tetapi mengundang Pria lain masuk kedalam kamarnaya " ucap Raisa sinis yang langsung main tuduh dengan suka-suka.


Melody hanya mendengus kasar mendengar kata-kata Raisa yang memang pasti akan menggunakan kesempatan untuk mencari masalah.


" Raisa maksud kamu apa. Siapa yang masuk kekamarnya. Kamu jangan aneh-aneh deh. Orang aku berdiri di sini dari tadi," sahut Evan yang pasti membela Melody. Karena memang dia tidak habis dari kamar Melody.


" Ya ampun Evan kamu itu ya suka banget membelanya. Kamu juga seharusnya ingat kamu itu punya pacar. Masa iya berduaan dengan wanita yang sudah memiliki suami. Ya si wanita juga terlihat murahan. Makanya mau-mau aja dan ngebebasin pria lain masuk kekamarnya," ucap Raisa lagi yang bicara asal-asalan.


" Jangan bicara sembarangan kamu Raisa. Aku sudah mengatakan aku tidak masuk kekamar Melody. Aku dark tadi di sini," sahut Evan yang menegaskan berulang kali.


" Hmmm. Ya Milan sudah saling kompak Jadi mana ada yang mau mengaku. Kalian ber-2 memang cocok. Kenapa tidak memperjelas hubungan kalian saja. Jangan bersembunyi-sembunyi menjalin hubungan," sahut Raisa yang terus bicara.


" Raisa udah deh, nggak usah cari masalah. Apa yang kamu katakan tidak benar. Jadi cukup," tegas Evan.


" Ada apa ini!" tiba-tiba Ardian datang yang melihat ke recokan di depan kamarnya.


Namun Ardian kaget dengan Melody yang sudah bisa berdiri tegak. Dia tidak tau kemana aja dia sampai tidak melihat perkembangan Melody. Mata Ardian bahkan tidak lepas melihat Melody yang tidak tau tatapan itu mengartikan apa. Bahagia, takjub atau apapun hanya Ardian yang tau perasaannya.


" Kenapa kalian ribut di sini?" tanya Ardian yang melihat satu per-satu orang yang ada di sana.

__ADS_1


" Ya aku mergoki Evan keluar dari kamar Melody," sahut Raisa yang asal main tuduh.


" Ardian kamu taukan itu tidak mungkin. Ini anak bicaranya ada-ada aja," sahut Evan membantah. Namun Melody diam yang bahkan tidak menanggapi tuduhan Raisa.


" Lalu kenapa kalian bisa ada di sini. Kamar kamu kan di bawah Evan," sahut Raisa.


" Ya kami sendiri ngapain di sini. Kamu juga tidak punya kamar di sini," sahut Evan yang membalikkan pertanyaan.


" Sudah-sudah kenapa kalian jadi ribut sih," sahut Ardian bertambah pusing. Dan Ardian kembali melihat Melody kembali yang seakan ingin berbicara.


Raisa sampai kesal dengan Ardian yang menatap Melody di depannya.


" Apa-apaan sih Ardian bisa-bisanya dia melihat Melody seperti itu. Bahkan tidak menanggapi aduanku," batin Raisa dengan kesal.


Tiba-tiba Raisa tersenyum seolah Raisa mendapatkan ide. Dengan cepat Raisa mengaksikan idenya dan langsung menggandeng lengan Ardian dan bermanja pada Ardian. Hal itu baru membuat Ardian beralih pandang melihat Raisa yang sudah menempel di lengannya.


Namun Melody hanya mendengus kasar melihat Raisa yang bermanja pada Ardian. Ya Melody pasti sangat jijik dengan Raisa yang menempel-nempel.


" Kamu maukan Ardian?" tanya Raisa yang memastikan.


" Hhh! Sangat tidak tau malu. Sudah tau suami orang. Tetapi masih berani-beraninya mendekati nya, hanya mengatakan orang yang tidak tau malu. Kamu bahkan melakukannya terang-terangan dasar pelakor," desis Melody penuh sindiran sini pada Raisa dan langsung pergi seakan muak dengan Raisa dan juga Ardian.


Mendengar kata dari Melody jelas membuat Raisa naik pitam dengan singgungan itu.


" Sial, apa yang di katakannya, dia mengataiku pelakor di depan Ardian," batin Raisa yang kepanasan sendiri. Evan tersenyum melihatnya dan langsung pergi menyusul Melody yang juga ingin tertawa terbahak-bahak. Namun masih menghargai Ardian. Jadi tertawanya nanti saja.


" Ardian kamu dengar apa yang di katakan wanita itu barusan dia mengatakan aku pelakor," sahut Raisa yang kelihatan tidak menerima perkataan Melody. Ardian menghela napasnya.

__ADS_1


" Sudhalah Raisa jangan membahas masalah yang tidak penting. Aku capek," sahut Ardian yang terlihat dingin menanggapi aduan dari Raisa.


" Apa kamu bilang. Kamu bilang kamu capek. Lalu bagaimana dengan aku. Apa kamu pikir aku tidak capek dengan semua ini. Lihat Melody sudah berjalan. Lalu tunggu ala lagi kamu cwraikan dia karena kita akan menikah," sahut Raisa yang meminta kepastian atas dirinya.


" Raisa. Keluarga ini punya aturan. Tidak bisa menikah lalu bercerai begitu saja. Semuanya ada aturannya," sahut Ardian.


" Kalau kamu tau keluarga kamu ada aturannya. Lalu kenapa mengambil keputusan menikah seenaknya dengannya," ucap Raisa dengan marah-marah kembali.


" Raisa stop jangan menyakan hal-hal yang itu-itu lagi. Aku sudah menjawab berkali-kali. Jadi cukup jangan tanya lagi. Kamu mengerti tidak," ucap Ardian yang membentak Raisa.


" Sial semua ini gara-gara Melody. Tidak Raisa kamu tidak bisa marah-marah terus pada Ardian. Kamu harus mengingat posisimu sedang dalam kesulitan. Marah-marah kepadanya tidak akan membuat masalah selesai. Ingat kata Tante Novi Raisa. Kamu harus terlihat sabar dan seakan menjadi wanita terdzolimi. Agar kamu mendapatkan simpatik dari Ardian. Jika kamu marah-marah pada Ardian. Lama-lama Ardian muak melihatmu," batin Raisa yang mencoba menenangkan dirinya.


" Aku minta maaf aku tidak bermaksud membuat marah. Aku hanya butuh waktu," sahut Raisa yang berpura-pura sabar.


" Sudahlah lupakan semuanya. Aku mohon mengerti posisiku," sahut Ardian. Raisa mengangguk tersenyum.


" Aku mengerti posisimu Ardian dan aku akan selalu menunggu yang terbaik dari kamu. Aku tau kamu tidak mungkin meninggalkanku. Aku tau kamu mencintaiku," ucap Raisa memegang tangan Ardian.


" Hmmm, yasudah sekarang kita keluar ya. Kita makan di luar. Aku ingin menetralkan pikiran ku denganmu," ucap Raisa yang berbicara dengan lembut.


" Maaf Raisa aku tidak bisa Raisa. Aku harus oergi sekarang. Nanti saja. Kalau aku ada waktu," sahut Ardian yang menolak ajakan Raisa dengan lembut.


Ardian melepas tangannya dari Raisa dan langsung pergi meninggalkan Raisa yang kembali menahan kemarahannya.


" Baik. Kali ini aku mengalah Ardian. Tetapi kamu lihat setelah ini. Aku tidak akan melepasmu. Dan Melody aku tidak akan membiarkan dia semakin menginjak-injak ku," batin Raisa dengan mengepal tangannya menatap tajam punggung Ardian yang jauh berjalan semakin jauh.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2