
Pagi hari kembali tiba. Di kamar Melody dan Ardian terlihat Melody yang tertidur di pelukan suaminya. Terlihat pasangan suami istri itu tanpa busana dan hanya yang tertutupi selimut. Sinar matahari membuat Melody mengerjapkan matanya secara perlahan. Melody mengangkat kepalanya dan melihat suaminya yang masih tertidur pulas.
Melody tersenyum dengan mencium pipi suaminya lembut.
" Sayang bangun!" ucap Melody lembut sembari mengusap-usap pipi Ardian.
" Sayang!" Melody membangunkan lagi suaminya itu. Sampai akhirnya Ardian membuka matanya dan langsung di suguhkan pemandangan yang indah di depannya. Wanita cantik yang tak lain istrinya. Ardian meraih tangan Melody dan mencium tangan itu.
" Kenapa membangunkanku?" tanya Ardian dengan suara seraknya khas bangun tidur.
" Sudah pagi. Jadi bukannya kalau sudah pagi harus bangun," jawab Melody.
" Aku masih mengantuk. Aku masih capek. Memang kamu tidak capek?" tanya Ardian. Melody menggelengkan kepalanya.
" Kalau tidak capek. Aku ingin mengajakmu untuk bekerja keras lagi," ucap Ardian.
Melody tertawa kecil mendengarnya, " kamu ini ada-ada aja. Tadi malam kan sudah," ucap Melody.
" Memang harus ada batasan?" tanya Ardian.
" Nggak sih, tapi kan kita hari ini banyak pekerjaan. Kamu lupa Evan sudah mengingatkan kita tadi malam untuk bekerja ekstra membuat Supraise lamaran pada Rasti. Jadi kita tidak boleh malas-malasan," ucap Melody yang mengingat hal itu.
" Issss, merepotkan," sahut Ardian dengan malas.
" Sayang kok bicara," ucap Melody.
" Dia itu merepotkan sayang. Masa iya mau lamaran aja harus melibatkan kita semua. Tidka mandiri bikin repot aja," ucap Ardian yang belum apa-apa sudah mengeluh duluan.
" Sayang kamu itu bicara apa sih. Dia bukannya bantuin kamu juga tadi malam dan kamu bilang malah apa yang kamu lakukan tadi malam adalah idenya Evan. Masa iya saat dia butuh bantuan. Kita tidak bantuin. Kan tidak boleh seperti itu sayang," ucap Melody.
Ardian tersenyum mendengarnya lalu membelai-belai pipi Melody, " aku hanya bercanda. Kenapa langsung di bawa serius. Aku pasti membantu Evan," ucap Ardian.
" Ya sudah kalau begitu ayo buruan kamu bangun, kita mandi lalu siap-siap. Jangan sampai gagal loh. Nanti Evan jadi malu di depan Rasti," ucap Melody mengingatkan.
" Baiklah sayang. Tapi mandi berdua ya," ucap Ardian. Melody mengkerutkan dahinya mendengar permintaan suaminya dan Melody langsung menggelengkan kepalanya.
" Kamu ini selalu menolak. Kalau aku mengajakmu mandi berdua. Kita sudah menikah Melody," ucap Ardian.
__ADS_1
" Tetap aku tidak mau!" tegas Melody, " ayo buruan mandi!" ajak Melody yang mencoba duduk namun Ardian menarik tangannya dan Melody menindih Ardian dengan Ardian memeluknya.
" Kalau begitu biarkan sebentar saja seperti ini. Aku ingin memelukmu dulu," ucap Ardian. Melody mengangguk saja dan membiarkan suaminya memeluknya.
***********
Rasti yang berada di kamarnya terlihat murung yang duduk di pinggir ranjang dengan memegang handphonenya. Wanita itu semenjak pergi ke Jepang memang kurang semangat dan bahkan sejak makan tadi malam bersama pacarnya. Rasti juga semakin murung wajahnya menyimpan suatu beban yang tidak tau apa itu.
Rasti membuang napasnya perlahan ke depan. Napas berat yang menggambarkan adanya masalah.
Krekkk.
Pintu kamar terbuka membuat Rasti Menoleh yang ternyata Melody yang memasuki kamar dengan membawa paper bag.
" Melody!" sapa Rasti.
" Aku ganggu ya?" tanya Melody yang duduk di samping Rasti.
" Nggak kok," sahut Rasti.
" Nanti saja jalan-jalan nya," jawab Rasti singkat, " kamu sendiri ada apa?" tanya Rasti.
" Oh ini," Melody memberikan paper bag yang di pegangnya pada Rasti.
" Apa ini?" tanya Rasti.
" Buka aja," jawab Melody. Rasti pun langsung membukanya dan mengeluarkan isinya. Berupa dress putih selutut yang lengkap dengan heels dan beberapa aksesoris. Rasti heran dan melihat ke arah Melody.
" Untuk apa ini?" tanya Rasti heran.
" Kamu pakai ya nanti malam. Nanti malam kita ada acara makan malam. Jadi kamu pakai ini," ucap Melody.
" Kenapa harus pakai ini kan aku ada baju yang lainnya?" tanya Rasti.
" Tidak apa-apa. Kebetulan aku dan Lea juga memakai yang sama. Jadi kamu pakai saja. Agar kamu terlihat cantik dan Evan semakin jatuh hati padamu," ucap Melody tersenyum.
" Apa ini sebagian dari rencana Evan," batin Rasti dengan tebakannya.
__ADS_1
" Malah melamun. Kamu tidak suka ya dengan dressnya?" tanya Melody.
" Sukak kok. Ini sangat cantik. Makasih ya Melody," ucap Rasti.
" Sama-sama. Kamu harus tampil cantik ya," ucap Melody. Rasti mengangguk dengan tidak bersemangat.
" Akhirnya rencanaku berhasil juga. Nanti malam Rasti akan memakai dress yang sudah di siapkan Evan. Ya semoga rencana berikutnya lancar," batin Melody merasa lega. Rasti tidak banyak bertanya.
***********
Malam ini Evan memang akan melamar kekasihnya Rasti. Wanita yang di pacarinya sudah lebih 5 tahun dan selama itu hubungan mereka sering sekali mengalami cek-cok sana-sini dan pasti Melody yang menjadi penengah di antara ke-2nya.
Di moment yang tepat. Sambil menyelam sambil minum air. Evan akan melamar Rasti. Di tempat yang indah yang sudah di hiasi dengan lampu-lampu yang kelap-kelip. Banyak bunga-bunga indah dengan berada di atas kaca yang di bawahnya air. Tempat yang di siapkan sedemikian rupa untuk melamar Rasti.
Melody, Ardian, Alvin dan Lea bersembunyi tidak jauh dari tempat itu di pastikan mereka akan di butuhkan untuk acara penutupan yang identik dengan kembang api.
" Lama amat sih si Evan bawa Rasti kemari," keluar Ardian yang mulai bosan.
" Sabar sayang sebentar lagi pasti datang," ucap Melody.
" Tauh ni Ardian, nggak sabaran amat," sahut Lea.
" Tuh mereka sudah datang," tunjuk Alvin.
Mereka pun melihat Evan yang membawa Rasti, menuntun Rasti berjalan karena mata Rasti di tutup. Rasti tampil cantik dengan Dress yang tadi di berikan Melody. Sama dengan Evan terlihat tampan dengan setelan jas putih.
" Evan apa masih jauh?" tanya Rasti.
" Sabar sudah mau sampai," ucap Evan yang membawa Rasti ketengan dan akhirnya sampai di tengah.
" Aku buka ya mata kamu. Tetapi perlahan-lahan buka mata kamu!" titah Evan. Rasti mengangguk saja. Evan pun membuka perlahan penutup mata Rasti dan ketika di buka Rasti perlahan membuka matanya dan melihat betapa indahnya tempatnya berdiri.
Rasti takjub melihat semuanya. Ya meski sebenarnya rahasia Evan yang melamarnya sudah bocor. Namun Rasti tetap merasa takjub dan terharu melihat keindahan di mana tempatnya berdiri.
Kepalanya berkeliling melihat tempat itu. Selain hiasan-hiasan pada lampu-lampu dan bunga-bunga. Juga terlihat papan layar yang menunjukkan foto-foto Rasti dan Evan yang membuat Rasti tidak percaya.
Bersambung
__ADS_1