
Melody yang ingin berangkat kerumah mamanya keluar dari kamar mandi yang masih menggunakan baju handuk mandi berwarna putih. Dia memang masih menyempatkan untuk mandi kembali sebelum berangkat ke tempat sang mama.
" Kenapa kelupaan pakaian," gumamnya menghampiri tempat tidur mengambil pakaian ganti yang sudah di siapkannya tadi.
Brukkkk. Tiba-tiba pintu kamarnya di buka dengan kuat membuat Melody tersentak kaget dan melihat Ardian yang masuk tiba-tiba dan Ardian langsung menghampirinya dengan Ardian yang mendorong Melody ke arah tempat tidur yang membuat Melody kaget.
" Apa yang kamu lakukan apa kamu gila," ucap Melody panik dengan Ardian yang kasar kepadanya.
" Semua ini gara-gara kamu. Aku jadi di marahi sama Eyang dan juga malu gara-gara kamu," ucap Ardian yang langsung menindih Melody dengan Melody yang kebingungan dengan sikap Ardian yang sekarang membuka jasnya.
" Apa yang mau kau lakukan?" tanya Melody panik.
" Yang harus aku lakukan sebagai suami," sahut Ardian dengan sosok matanya yang sangat menyeramkan.
" Apa maksud mu?" tanya Melody lagi yang semakin panik dengan Ardian yang sudah melempar jasnya entah kemana dan sekarang sudah membuka satu persatu kemejanya.
" Aku suamimu dan seharusnya semua ini terjadi sejak awal pernikahan kita. Aku bisa saja tidak melakukannya. Tapi karena ulahmu pagi ini aku mendapat teguran dan di anggap Pria lemah dan kau sekarang terima akibat dari perbuatanmu," tegas Ardian yang dengan kemarahannya yang ingin meminta haknya dan Melody yang masih terkejut dengan Ardian yang tiba-tiba seperti itu. Di tengah rasa terkejutnya Ardian mencoba untuk mencium bibirnya. Namun Melody langsung menghindar dan berusaha mendorong tubuh Ardian.
" Apa yang kau lakukan Ardian. Aku tidak mau, menyinggir dari ku Ardian, menyinggir!" berontak Melody terus menghindar dan memukul-mukul dada Ardian dan juga berusaha untuk mendorongnya.
Ardian yang merasa terhina karena di tegur oleh Eyangnya yang harus tau masalah ranjangnya tidak peduli dengan Melody yang memberontak dia layaknya seperti Pria yang memperkosa Melody. Karena kesulitan dengan tangan Melody yang terus memukulnya. Bahkan mengenai wajahnya Ardian pun mencengkram ke-2 pergelangan tangan itu meletakkan di sisi kiri dan kanan Melody yang sejajar dengan kepalanya Melody.
" Bajingan!" maki Melody dengan mata berkaca-kaca menatap wajah Ardian yang berada di depannya.
" Aku suamimu dan sudah seharusnya kau melayaniku," sahut Ardian dengan suara beratnya yang melihat Melody menahan tangis melihatnya. Ardian pun ingin mencium Melody dan Melody mengalihkan pandangannya kekananya.
" Kau pernah melakukannya," sahut Melody dengan suara tertahan dan Ardian berhenti melakukan itu tiba-tiba dan melihat wajah Melody yang meneteskan air mata, " lalu untuk apa melakukannya lagi. Kau pernah melakukannya ke padaku," lanjut Melody.
__ADS_1
Ardian terdiam dan mendadak diam dan terus melihat wajah Melody dengan napasnya yang saling memburu. Melody meluruskan pandangannya menghadap Ardian dan langsung mendorong Ardian.
Ketika Ardian sudah tidak ada di atas tubuhnya lagi. Melody langsung duduk.
" Kau benar bajingan Ardian. Kau tidak cukup melakukannya sekali. Kau lupa jika kau menghancurkan kehidupan wanita yang masih sekolah," ucap Melody menegaskan dengan membuat Ardian yang terdiam tanpa kata sama sekali seakan mencoba mengingat apa yang di katakan Melody.
Tok-tok-tok-tok. Ketukan pintu membuat ke-2nya tersentak.
" Ardian Melody apa kalian sudah siap. Ayo turun!" terdengar suara Widia yang menyuruh Melody dan Ardian turun.
" Iya mah," jawab Ardian dengan suara beratnya dan langsung menuju kamar mandi untuk mendengarkan pikirannya. Sementara Melody menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan, Melody menunduk dengan mengusap menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya. Dia masih berusaha untuk mengatur napasnya yang tetap tidak stabil. Melody juga memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa berat dan wajahnya juga yang mendadak pucat.
Sementara Ardian berada di dalam kamar mandi yang membasuh wajahnya di wastafel. Wajah Ardian begitu merah dengan matanya yang juga sangat merah. Ardian menatap wajahnya di cermin melihat betapa brengseknya dia dengan apa yang di lakukannya barusan dan lebih brengseknya lagi ketika mendengar kata-kata Melody.
Bahkan sekilas muncul di depan cermin di mana dia dan Melody yang berciuman di dalam suatu ruangan. Ardian menggoyang-goyangkan kepalanya dengan dengan mengusap kasar wajahnya yang seakan telah menjadi Pria pengecut.
Masalah yang terjadi tadi pagi membuat Melody dan Ardian saling diam tanpa bertegur sapa sama sekali di dalam mobil. Di mana Ardian menyetir dan Melody duduk di sebelahnya dengan wajah murung dan hanya melihat ke arah jendela mobil.
Untung saja Eyang tidak bicara banyak pada Melody saat mereka berpamitan tadi dan pamitan tadipun terlihat biasa dan tenang-tenang saja dan hanya memberi pesan untuk Ardian dan Melody agar tidak bertengkar.
Ardian menoleh kesampingnya, melihat Melody yang masih tetap diam tanpa mengeluarkan suara apapun. Jika di tanya marah pasti iya Melody marah dengan apa yang di lakukan Ardian tadi kepadanya yang seakan tidak menghargainya.
" Di sepanjang perjalanan itu pasangan suami istri itu hanya diam-diam saja dan tanpa bicara apa-apa. Sampai mobil itu akhirnya sampai kerumah Melody. Rumah yang tidak pernah di datanginya setelah menikah.
Melody membuka seat beltnya dan langsung turun dari mobil begitu saja dan Ardian pun menyusul Melody yang sudah berjalan menuju pintu rumah itu.
" Assalamualaikum," sapa Melody saat membuka pintu. Dania, Wawan, Gadis, Marsel dan Chaca berada di ruang tamu sama-sama melihat ke arah pintu dan kaget melihat kedatangan Melody.
__ADS_1
" Melody," pekik semuanya yang benar-benar terkejut melihat kedatangan Melody bersama Ardian.
" Aunty!" teriak Chaca yang begitu senangnya dan langsung lari, Melody berlutut dengan mengulurkan ke-2 tangannya untuk menyambut keponakannya yang berusia 3 tahun itu.
" Sayang," ucap Melody begitu kangennya dengan keponakannya itu.
" Aunty Chaca kangen sama Aunty," ucap Chaca. Ardian yang melihat hal itu tersenyum tipis. Memang Melody begitu bahagia jika sudah berurusan dengan Chaca dan bahkan Melody seolah melupakan banyak masalah. Wawan dan yang lainnya langsung menghampiri Melody dan Ardian. Ardian pun langsung mencium punggung tangan ke-2 mertuanya itu dan dan juga memeluk Marsel. Jangan tanya wajah Marsel. Wajah Marsel tidak akan pernah tersenyum jika sudah berurusan dengan Ardian.
Melody melepas pelukan itu dari keponakannya.
" Kamu kangen sama aunty?" tanya Melody. Chaca mengangguk.
" Tapi kok Aunty lihat Chaca bohong sama Aunty," ucap Chaca.
" Tidak Aunty Chaca tidak bohong. Chaca benar-benar kengen sama Aunty," sahut Chaca.
" Baiklah Tante percaya," sahut Melody. Chaca melihat Ardian dan langsung memeluk pinggang Ardian.
" Chaca juga kengen sama Om," sahut Chaca.
" Om jauh lebih kangen," sahut Ardian dengan mengusap-usap pucuk kepala Chaca. Melody melihatnya datar saja dan langsung berdiri dan memeluk orang tuanya secara bergantian.
" Kalian tidak bilang kalau mau datang," ucap Dania.
" Iya mah, tadi kelupaan," sahut Melody.
" Ya sudah tidak apa-apa, sekarang ayo kita duduk. Ayo Ardian!" ajak Dania. Ardian dan Melody sama-sama mengangguk dan langsung pergi keruang tamu dan Chaca memegang tangan Ardian yang seolah begitu nyaman. Yang mana Chaca sangat sulit untuk dekat dengan orang lain.
__ADS_1
Bersambung