
Setelah beres-beres akhirnya Raisa pun meninggalkan rumah tempatnya selama ini di rawat. Di mana tetap Rais pergi tanpa Dokter Axel dan Eyang, Wida dan Shandra mengantarkan Raisa ke rumah baru yang di inginkan Raisa.
Bukan hanya Dokter Axel saja yang tidak mengantarnya 2 Suster yang ikut merawatnya juga tidak mengantarnya dan hanya menantunya untuk beres-beres saja tadi.
Raisa di sepanjang perjalanan tadi hanya diam saja yang tidak ada bicara dan terlihat begitu murung. Begitu mereka semua memasuki rumah langsung ada 2 pelayan yang menyambut mereka yang satu Suster yang satu asisten rumah tangga.
" Raisa mereka ber-2 yang akan menemani kamu di sini!" ucap Eyang besar.
" Iya Eyang," jawab Raisa dengan pelan.
" Ya sudah kalian bantu angkat barang- Raisa ke kamarnya," sahut Shandra.
" Baik Bu," jawab ke-2 wanita itu dan langsung pergi ke dalam kamar Raisa.
" Kamu kenapa Raisa? apa yang kamu pikirkan?" tanya Shandra.
" Tidak apa-apa Tante. Raisa hanya tidak percaya, jika Eyang, Tante Widia, Tante Shandra dan semua keluarga masih peduli pada Raisa. Raisa sudah tidak punya siapa-siapa. Tetapi keluarga yang Raisa jahati, membantu Raisa dan itu membuat Raisa benar-benar tidak percaya ada di dalam keluarga ini," ucap Raisa dengan penuh rasa keharuannya yang masih dianggap keluarga oleh keluarga Ardian.
" Kami ini manusia Raisa dan kamu hanya melakukan apa yang terbaik. Kamu tetap keluarga kami dan setiap kesalahan ada pada manusia. Karena tidak ada manusia yang tidak punya kesalahan. Termasuk kamu. Jadi jangan menganggap diri kamu sudah tidak punya siapa-siapa. Karena kita semua ada di sini untuk kamu," ucap Widia dengan tulus sembari mengusap rambut Raisa.
" Makasih Tante. Raisa janji tidak akan jahat lagi. Raisa janji akan menjadi orang yang jauh lebih baik. Raisa akan membalas kebaikan keluarga kalian semua. Terima kasih sudah memberikan Raisa banyak kesempatan. Makasih Tante," ucap Rais dengan air matanya yang akhirnya jatuh.
Widia langsung memeluknya, " kamu anak yang baik dan kami semua di sini sangat percaya itu. Kamu jangan menangis lagi ya. Kamu sekarang harus belajar untuk menata hidup. Agar kedepannya kamu jauh lebih baik," ucap Widia. Raisa mengangguk-angguk.
" Semoga kamu juga betah tinggal di rumah ini ya. Ingat kalau ada apa-apa. Kamu kabari kami," ucap Shandra. Lagi dan lagi Raisa hanya mengangguk saja dengan cucuran air matanya yang akhirnya jatuh juga.
***********
__ADS_1
Raisa berada di dalam kamarnya yang berdiri di depan jendela yang melihat langit malam di atas sana. Shandra, Eyang dan Widia sudah pulang yang ingin membiarkan Raisa untuk beristirahat.
Wajah Raisa terlihat begitu murung dengan tatapannya yang kosong. Bagaimana tidak murung. Saat tadi dia menelpon Axel. Namun Axel tidak mengangkat sama sekali. Sampai mereka tidak bisa bicara dan Raisa juga tidak tau apakah Axel akan tau Rais pindah kemana atau tidak.
Raisa memegang lehernya yang melingkar kalung di lehernya.
" Ini hadiah untukmu karena kamu akhirnya sembuh dan itu karena kemauan dari diri kamu yang mana kamu akhirnya bisa sembuh," ucap Axel memakai kan kalung itu kepadanya.
" Cantik!" puji Raisa.
" Kamu menyukainya?" tanya Axel. Raisa mengangguk dan Axel tersenyum dengan mencium kening Raisa dengan lembut.
Ingatan beberapa hari lalu saat Axel memberinya hadiah terbayang di pikiran Raisa dengan memegang kalung yang indah itu.
" Lalu kenapa bersikap seolah aku terpenting dalam hidupmu. Lalu pergi tiba-tiba dan bahkan tidak membicarakan apa-apa kepadaku. Jika ada perpisahan bukannya seharusnya kita mengucapkan kata perpisahan. Kenapa membuatku jadi bingung sekarang," batin Raisa yang jadi galau sekarang.
***********
Evan menyuapi Rasti makan. Yang mana Rasti sekarang bersandar di kepala ranjang yang menerima suapan dari Evan kekasihnya.
" Kamu harus makan yang banyak ya," ucap Evan. Rasti mengangguk dengan tersenyum.
" Oh iya Evan bagaimana kata Dokter. Apa aku akan tetap operasi, pengangkatan tumornya. Tanpa mengangkat rahim?" tanya Rasti.
" Iya Rasti, Ardian kemarin cerita kepadaku. Dokter Gita mengambil tindakan untuk melakukan operasi pada kamu. Tetapi resikonya sangat tinggi. Operasi yang di lakukan belum juga bisa memastikan segalanya. Hanya ada dua kemungkinan berhasil di angkat tanpa mengganggu rahim. Atau tidak berhasil dan resiko terbesarnya tetap pada rahim. Karena memang jalan satu-satunya rahim kamu harus diangkat," jelas Evan dengan wajah senduh nya yang menceritakan kemungkinan buruk terjadi padanya.
Air mata Rasti menetes saat mendengar pernyataan Evan. Yang sebenarnya hanya ada pilihan yaitu pengangkatan rahim. Jika ingin terbebas dari tumor. Namun masih ada kesempatan untuk tidak melakukannya, tetapi kemungkinannya hanya sedikit.
__ADS_1
Evan langsing mengusap air mata Rasti dengan memegang ke-2 pipi Rasti yang mendekatkan wajah Rasti kepadanya.
" Rasti berjanjilah padaku. Mau rahim kamu ada atau tidak. Kamu akan tetap menikah denganku. Kamu tidak akan lari dari ku," ucap Evan yang begitu tulus mencintai Rasti.
" Tapi Evan. Jika rahimku tidak ada bagaimana mungkin aku bisa mempunyai anak. Impian kamu hanya mempunyai anak dari ku yang mana kita hidup bersama anak-anak kita nantinya dan aku tidak akan bisa mewujudkan itu," ucap Rasti.
" Itu bukan impian utamaku. Impian utamaku adalah kamu yang akan menemaniku sampai kita tua nanti. Aku dan kamu yang saling mencintai yang hidup berdampingan. Anak-anak itu hanya titipan Rasti dan aku tidak menginginkan itu. Tidak menomor satukan itu. Hanya kamu Rasti yang aku inginkan," ucap Evan.
" Tetapi....."
Evan langsung meletakkan jarinya bibir Rasti
" Aku tidak ingin mendengar apapun dari kamu. Aku hanya ingin kamu menjawab iya dalam pertanyaan ku. Mau kah kamu menikah denganku?" tanya Evan lagi. Rasti semakin terharu mendengarnya yang tidak bisa berkata apa-apa.
" Jawab aku Rasti," ucap Evan menunggu jawaban Rasti lagi. Rasti akhirnya menganggukkan kepalanya yang akhirnya menerima lamaran Evan. Menerima lamaran Evan dalam kondisinya yang sakit parah.
" Aku mencintaimu Rasti," ucap Evan yang langsung memeluk Rasti dan tangis Rasti semakin pecah di pelukan Evan.
Ternyata Melody dan Ardian berdiri di depan pintu ruangan Rasti. Yang mana air mata Melody juga menetes melihat ke haruan itu dan Ardian langsung membawa Melody kedalam pelukannya.
" Kenapa hubungan mereka di uji sebegitu beratnya. Kasian Rasti yang tidak percaya diri. Karena keadaannya. Mereka saling mencintai. Namun harus di uji dengan masalah ini," ucap Melody yang terisak-isak di dalam tangisannya di pelukan Ardian.
" Kita berdoa saja. Semoga ada jalan yang terbaik untuk kondisi Rasti dan percayalah Rasti akan kuat dalam menghadapi masalah ini. Dia wanita yang kuat dan sangat hebat," ucap Ardian.
Melody mengangguk-anggukkan kepalanya yang menangis di pelukan Ardian. Rasti dan Evan adalah sahabatnya dan banyak membantunya dalam setiap masalah yang di hadapinya dan wajar jika dia juga sekarang kepikiran untuk 2 pasangan itu yang saling mencintai yang hubungan mereka telah di uji.
Bersambung.
__ADS_1