
Ardian masih berdiri di ruang tamu dan melihat paket itu.
" Apa ini!" gumam Ardian kebingungan dengan isi paket itu dan membolak-balik yang ada nama pengirimnya yang tak lain. Namanya adalah Lia.
" Lia, Lia siapa," batin Ardian yang tampaknya tidak mengingat siapa nama temannya itu yang ternyata namanya.
Melody keluar dari kamar mandi dan terlihat habis menagis. Ardian langsung meletakkan paket itu di atas meja dan langsung menghampiri Melody.
" Jangan mendekatiku," sahut Melody dengan mengangkat tangannya yang tidak ingin di dekati Ardian.
" Melody kita harus menyelesaikan masalah kita," ucap Ardian.
" Kamu selalu mengatakan menyelesaikan. Kamu tidak menyadari. Jika kamu adalah orang yang berbelit-belit," ucap Melody yang langsung menaiki ranjang dan langsung berbaring menarik selimut yang sama sekali tidak mempedulikan Ardian.
" Iya, aku tau kamu akan terus salah paham denganku Melody. Tapi sungguh aku tidak berkomunikasi dengan Raisa," ucap Ardian. Melody memejamkan matanya paksa untuk menutup kuping agar tidak mendengar kata-kata Ardian.
************
Malam hari tiba. Pertengkaran tadi juga membuat hasil Melody yang tidak bicara lagi dan sekarang tertidur dengan membelakangi Ardian. Di mana Ardian dan dia tidur punggung-punggungan. Ardian membaringkan tubuhnya dan mengintip Melody yang memang tertidur. Namun Ardian sama sekali tidak bisa tertidur dan akhirnya menyinggirkan selimut dari tubuhnya dan langsung duduk.
Ardian memilih untuk keruang kerjanya yang juga berada di dalam kamar namun tetap ada pintunya. Ardian menghampiri meja kerjanya.
Ardian duduk di kursi putarnya itu dengan memijat-mijat kepalanya yang semakin berat.
Hanya hembusan napas kasar yang di keluarkan Ardian dengan tangannya yang memijat kepalanya. Mata Ardian fokus pada paket yang tadi di berikan kakak iparnya padanya. Ardian langsung mengambilnya.
" Apa ini sebenarnya," batin Ardian yang langsung membuka isi paket itu yang mana dua juga penasaran dengan isinya.
" Lia, Lia siapa sebenarnya," Ardian bergerutu sambil tangannya terus membuka isi paket itu dan akhirnya Ardian melihat kotak kecil dan langsung membukanya yang ternyata berisi Flashdisk.
__ADS_1
" Apa ini," gumamnya kebingungan dengan melihat-lihat Flashdisk tersebut. Tanpa berpikir lama Ardian pun langsung menghidupkan laptopnya dan langsung mencolokkan Flashdisk tersebut dengan dan melihat hanya ada 1 file di dalam flashdisk tersebut.
" Rekaman 4 tahun lalu!" judul di dalam fileitu membuat Ardian penasaran dan langsung menekan datanya dan menekan enter.
Terlihat jelas di dalam rekaman itu di mana Melody yang di tarik paksa ke ruang tamu di dalam Villa keluarganya. Ardian langsung terkejut melihat Melody apa yang di depan matanya.
Melihat Rio yang menyiram Melody dengan alkohol. Dengan suara Rio yang tertawa-tawa Tidak hanya itu di dalam rekaman itu juga terliahat Melody di tampar berkali-kali dan juga di mana temannya Ari dan juga boy memegang tangan kiri dan kanannya dan di dan mencekoki Melody dengan alkohol.
Juga terdengar dengan suara rekaman suara Ardian yang seolah-olah menyerahkan Melody pada teman-temannya untuk di gilir.
Air mata Ardian melihat apa yang terjadi jelas pada saat itu di mana Melody di siksa oleh 3 temannya.
" Ardian!" panggil Ari dan Boy saat Ardian memanaskan mobilnya.
" Ada apa?" tanya Ardian.
" Melody tidak enak badan. Jadi aku sama Melody mau pulang terlebih dahulu," jawab Ardian.
" Begitu rupanya. Kamu sekalian deh penuhi bensin dulu. Soalnya nanti susah," sahut Boy.
" Nanti aja sekalian aku sama Melody," sahut Ardian.
" Sudah jangan bandal pergi aja sana. Kamu mau nanti ada apa-apa sama kalian di jalan. Lagian hanya sebentar saja. Pacarnya juga pasti sabar menunggu," ucap Boy. Wajah Ardian terlihat ragu.
" Malah mikir sana buruan," desak Ari.
" Ya sudah aku pergi dulu. Jagain Melody bentar," ucap Ardian yang menepuk bahu temannya itu. Ari dan Boy mengangguk dan Ardian langsung pergi.
" Jadi kalian ber-3 merencanakan semua ini untuk menyuruhku pergi dan meninggalkan Melody di sana," batin Ardian terasa sesak dengan melihat yang terjadi pada Melody.
__ADS_1
Ardian juga mengingat lintasan ingatan pada awal-awal dia mengenalkan Melody pada teman-temannya dan si sana sudah terlihat teman-temannya yang punya maksud jahat pada kekasihnya.
" Argggghhh tidak mungkin!" teriak Ardian yang langsung memukul meja dengan penuh emosi dengan menyapu semua isi mejanya kerjanya sehingga berjatuhan kebawah termasuk leptop tersebut.
Ardian frustasi dengan meremas rambutnya dengan kuat beberapa kali memukul meja dengan tangannya yang mengepal yang akhirnya tau kenapa Melody membencinya. Karena saat itu dia pergi dan tidak tau apa yang terjadi pada kekasihnya.
Ardian seperti orang gila yang histeris dengan memukul tangannya ke dingding, menumbuk dingding berkali-kali sampai sudah punggung tangan itu sudah berdarah.
" Kau benar-benar bodoh Ardian. Kau sungguh bodoh!" teriak Ardian yang sekarang hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri dan Melody yang tertidur di tempat tidur mendengar suara keributan dan banting- banting barang.
Melody langsung perlahan duduk dan melangkah mendekati ruang kerja Ardian tiba di depan pintu ruangan kerja itu suara Ardian semakin kedengaran.
" Kenapa dia," batin Melody kebingungan dan ingin membuka pintu ruangan kerja itu. Namun Melody tidak berani untuk melakukannya. Namun dia juga penasaran dengan Ardian yang di dalam sana yang tidak tau apa yang terjadi.
*************
Pagi hari kembali tiba ruangan kerjaan itu sudah seperti kapal pecah yang begitu berantakan dan Ardian sendiri bersandar di dingding yang sepertinya tadi malam tidak tidur dengan laptop di ujung sana yang masih terbuka dan masih tetap rekaman itu hidup dan terus berputar yang di ulang-ulang yang membuat mata Ardian terus melihat rekaman itu.
Jangan tanya tangannya yang sudah terluka. Bahkan darah itu sudah mengering di punggung tangannya yang mungkin sakit itu tidak terasa sama sekali di bandingkan apa yang terjadi pada Melody.
" Kenapa kau begitu bodoh Ardian, kenapa kau begitu bodoh. Jadi ini maksud dari perkataan Melody setalah semua terjadi padanya dan aku pergi karena termakan omongan mereka dan mereka melakukan itu pada Melody. Dan dengan bodohnya kau percaya kepada mereka dan menganggap Melody meninggalkanmu. Kau sungguh berengsek Ardian. Kau benar-benar brengsek Ardian. Kau memang bajingan," ucap Ardian yang memukul-mukul wajahnya sendiri dengan kenyataan yang di lihatnya.
Ardian pun langsung berdiri dengan tenaganya yang sudah tidak ada lagi. Ardian langsung keluar dari ruangan kerjanya dan saat membuka pintu Melody ada di depan pintu dan melihat Ardian yang berantakan dan dan tangan Ardian yang terluka membuat Melody terkejut sampai menutup mulutnya.
" Ardian kamu kenapa?" tanya Melody dengan wajahnya yang panik dengan memegang tangan Ardian. Namun Ardian langsung menepisnya dan seakan tidak berani melihat wajah Melody. Melody bingung dengan Ardian yang langsung pergi begitu saja.
" Ardian!" panggil Melody yang panik mencemaskan Ardian yang keluar dari kamar yang membuat Melody penasaran.
Bersambung
__ADS_1