Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 156 pertemuan tidak terduga


__ADS_3

Lea yang masih Bangkong di kamar tiba-tiba terbangun dengan memegang perutnya.


" Argggghhh, kenapa mau pipis segala lagi?" keluhnya yang merasa sesak dan langsung duduk menyibak selimut berlari ke kamar mandi.


Ceklek.


Lea menekan kenopi pintu namun tiba-tiba tidak bisa membuat Lea bingung dan mencobanya lagi.


" Apa ada orang di kamar mandi!" teriak Lea dengan menggedor-gedor kamar mandi.


" Aliya kak, Aliya ada di kamar mandi," sahut Aliya dari dalam dengan suara yang tertahan.


" Ngapain di sana, buruan keluar kakak mau pipis," teriak Lea sambil menahan pipis yang seperti cacing kepanasan.


" Aliya lagi pup. Kaka di kamar mandi tamu aja," teriak Aliya.


" Kamu ini, seharusnya kamu yang di sana. Lagian ngapain sih pakai kamar mandi kakak buruan keluar!" teriak Lea yang semakin tidak tahan dengan pipisnya.


" Kan ini kamar Aliya, kakak di kamar mandi tamu aja," sahut Aliya.


" Aliya tapi kakak sudah sesak, ini bisa kencing- kencing di sini," ucap Lea yang sudah tidak tahan lagi.


" Aliya juga masih sesak kak," sahut Aliya yang tidak mau mengalah.


" Argggghhh, Aliya nyebelin banget sih," umpat Lea dengan kesal dan mau tidak mau keluar dari kamar untuk menuju kamar mandi tamu. Lea yang bangun tidur tidak peduli dengan penampilannya yang begitu berantakan.


Rambutnya yang acak-acakan. Apa lagi tadi malam dia tidur dalam ke adaan rambut di ikat. Jadi sekarang kebayang saja bagaimana berantakannya dia dengan wajah kusam khas bangun tidur. Ya sangat berantakan yang berlari ke luar kamar menuju kamar mandi di lantai satu.


Sama dengan Alvin yang sudah memasuki rumah untuk menuju kamar mandi yang mana Alvin di antarkan salah satu pelayan.


" Silahkan tuan!" ucap pelayan itu dengan menyuruh Alvin memasuki kamar mandi.


" Terima kasih," sahut Alvin. Pelayan itu mengangguk dan langsung pergi. Alvin pun langsung memasuki kamar mandi itu dan dengan bersamaan Lea yang buru-buru menuruni anak tangga dan langsung membuka pintu kamar mandi yang sama dengan Alvin. Karena Alvin juga tidak mengkuncinya.


" Aaaaaaaaa!" teriak Lea dengan matanya melotot saat melihat Pria yang buang air kecil di closet. Alvin tersentak kaget melihat aset berharganya yang di pertontonkan dan Alvin secepatnya membalikkan tubuhnya membelakangi Lea.


" Siapa kau!" Lea terus berteriak dengan tangannya yang sekarang menutup matanya. Namun Lea masih terlihat mengintip.


" Sial!" umpat Alvin yang sudah selesai menarik resleting celananya dan membalikkan tubuhnya melihat wanita yang berteriak itu dan Lea yang mengintip memastikan Pria itu sudah menutup aset berharganya membuka matanya, melihat jelas siapa Pria itu yang membuat Lea dan Alvin sama-sama terkejut.


" Kau!" pekik mereka sama-sama serentak dengan wajah kaget mereka.


" Kau kok bisa ada di sini?" mereka sama-sama bertanya lagi dengan saling menunjuk.


" Aku yang seharusnya bertanya kepadamu, ngapain kamu di sini?" tanya Alvin masih dengan wajah terkejutnya dan pasti lebih terkejut lagi melihat wanita itu yang berbeda dengan di lihatnya sebelumnya.


Wanita ini seperti wanita malas yang bangun tidur. Jelas Alvin tau Lea bangun tidur. Karena penampilan Lea yang tidak bisa di bohongi. Dan Alvin lebih terkejut lagi bisa-bisanya ada seorang wanita yang bangun tidur sudah sesiang ini.


" Aku yang seharusnya bertanya kepadamu. Ngapain kamu di sini?" sahut Lea yang bertanya dengan kemarahan dan juga sama terkejutnya dengan Alvin.


" Jika aku bertanya. Maka jawab jangan bertanya lagi," sahut Alvin dengan menekan suaranya.


" Heh, ini itu rumahku. Jadi jelas aku yang bertanya padamu," sahut Lea dengan kesalnya yang sudah berkacak pinggang.


" Ini rumah mu," sahut Alvin bertambah shock lagi.


" Ya iyalah, ini rumahku dan kau ngapain di sini. Kau sedang tidak mengikutiku kan. Hey aku sudah mengatakan aku tidak akan lari dan lagian kau yang meninggalkan ku malam itu dan kau atau sekretarismu tidak mengabariku pertemuan selanjutnya. Jadi kau tidak perlu mencariku sampai ke rumahku," cerocos Kayra seperti rel kereta api yang membuat Alvin pusing dengan kuatnya suara Lea yang membuat gendang telinganya rusak.


" Lea!" tiba-tiba terdengar suara Melody.


Melody dan Ardian mendengar suara keributan dan langsung melihat ke kamar mandi yang berasal dari suara keributan itu. Mereka melihat Lea dan Alvin yang bertengkar di dalam kamar mandi.


" Melody!" sahut Lea.


" Ada apa ini Lea?" tanya Ardian.


" Ini ada orang asing masuk rumah ini, dia penguntit," ucap Lea menunjuk Alvin dengan menuduh Alvin suka-sukanya. Alvin sampai mendengus kasar mendengar Lea yang menuduhnya sampai dia geleng-geleng kepala dengan kelakukan wanita itu.

__ADS_1


" Lea kamu ini apa-apaan sih, Pak Alvin mana mungkin melakukan itu," sahut Ardian.


" Ardian kamu mengenalnya?" tanya Lea dengan wajah cemasnya.


" Pak Alvin ini salah satu rekan Bisnisku dan tamu undangan di rumah ini dan dia tadi permisi untuk ketoilet," jelas Ardian membuat Lea kaget dan melihat Alvin yang mana Alvin menatapnya dengan tajam dengan 1 alis yang terangkat.


" Ta_ tamu_ mak_ maksudnya tamu apa?" tanya Lea heran.


" Kamu sih Lea masih aja tidur, ini itu sudah jam 11 siang dan kamu sampai tidak menyadari. Jika di rumah ini sedang ada acara," ucap Melody geleng-geleng.


Lea begitu terkejut mendengarnya dan tidak sengaja Lea melihat cermin di sampingnya dan melihat wajahnya yang berantakan dengan rambut yang naik-naik ke atas membuatnya terkejut sendiri melihat wajahnya dan dengan cepat merapikan ala kadarnya.


" Pak Ardian saya hanya meminjam kamar mandi di rumah ini. Tetapi wanita ini masuk sembarangan dan berteriak pada saya lalu menuduh saya yang tidak-tidak. Sungguh sangat mengganggu ketenangan saya," ucap Alvin dengan menatap sinis Lea.


" Lea kamu ini ya," tegur Ardian. " maaf Pak Alvin saya benar-benar tidak menyangka kejadian ini akan terulang saya minta maaf atas ketidak nyamanan ini," ucap Ardian merasa tidak enak.


" Sial, jadi dia rekan bisnisnya Ardian dan sekarang. Aisssss Lea kamu itu benar-benar ya," batin Lea yang merasa dirinya sendiri begitu bodoh.


" Baiklah saya lupakan masalah ini," sahut Alvin dengan santai.


" Ya sudah pak Alvin mari kita bicara di luar, bapak juga harus menikmati makanan yang sudah kami siapkan," ucap Ardian dengan tersenyum ramah.


" Baiklah kalau begitu," sahut Alvin.


Ardian dan Melody mempersilahkan di depan pintu untuk Alvin keluar dari kamar mandi.


Alvin berjalan keluar. Namun begitu berpapasan dengan Lea dia menghentikan langkahnya, " aku tidak percaya jika ini wajah asilimu apa aku sedang di tipu make up mahalmu," bisik Alvin yang melanjutkan langkahnya.


Lea mendengarnya berdesis kesal dengan wajahnya yang merah tangannya yang mengepal yang tidak percaya jika dia di permalukan.


Ardian pun ikut menyusul Alvin. Sementara Melody menghampiri Lea yang masih sibuk dengan kekesalannya.


" Lea kamu ini benar-benar ya," tegur Melody.


" Aku mana tau dia ada di dalam dan lagian sejak kapan ada acara di rumah ini," sahut Lea membela dirinya.


" Dia seharunya menutup pintu juga," sahut Lea yang tidak ingin di salahkan.


" Sudahlah mending sekarang kamu buruan mandi dan ikut bergabung di luar. Dari tadi Eyang juga mencari-cari kamu," ucap Melody.


" Iya," sahut Lea dengan terpaksa. Melody geleng-geleng dan langsung keluar dari kamar mandi.


" Aisssssssss kenapa semuanya jadi seperti ini. Aliya sih pakai di kamar mandi segala. Jadi aku yang menjadi korbannya dan kamu Lea Argggghhh kenapa bodoh sekali," ucap Lea mengacak rambutnya frustasi dan kembali melihat wajah berantakannya di depan cermin.


" Semoga matanya tidak jeli-jeli amat," ucap Lea mengusap ujung bibirnya dengan punggung tangannya yang sepertinya ada air liur di sana. Lea yang tadinya sesak pipis hilang begitu saja karena pertemuan tidak terduganya bersama Alvin dan lebih parahnya Pria yang di temuinya itu harus melihat penampilannya yang tidak pantas di pertontonkan.


Karena itu aib bagi Lea dan Lea juga tidak tau mau di taruh di mana wajahnya setelah ini. Karena tidak sesuai dengan kesombongannya bicara sebelumnya di depan Alvin dengan apa yang terjadi barusan.


*********


Lea pun akhirnya bergabung di acara yang di adakan di rumah itu. Tadinya dia tidak mau bergabung karena sudah terlanjur malu dengan Alvin. Namun Eyang mendesaknya terus dan mau tidak mau Lea harus berada di sana.


Lea hanya berdiri di samping minuman yang tersusun rapi dengan memakai dress toska di bawah lututnya. Dress dengan lengan pendek itu yang membuat dirinya tampak feminim dengan rambutnya yang di biarkan di gerai dengan ikal di bagian bawahnya.


Alvin berbicara-bicara dengan Ardian dan Melody sendiri tidak tau kemana. Yang mungkin sedang di dalam. Alvin yang mengobrol dengan Ardian matanya tiba-tiba melihat ke arah Lea yang tampak berdiri dengan gelisah.


" Jadi ini Ardian dan tadi istrinya Melody. Jadi mereka yang di tolong wanita itu," batin Alvin yang memang baru mengetahui orang yang di tolong Lea. Karena dia sama sekali tidak tau. Karena dia hanya mengurus Rio untuk membantu Lea.


" Pak Ardian apa wanita yang tadi adik anda?" tanya Alvin basa-basi yang sepertinya kepo dengan keberadaan Lea di rumah itu.


" Lea maksud Pak Alvin?" tanya Ardian. Alvin hanya menganggukkan kepalanya.


" Lea itu sepupu saya. Anak dari adik almh ayah saya. Ya dia kebetulan memang tinggal bersama kami. Karena ibunya berada di Luar Negri dan Lea tinggal di sini. Tetapi terkadang saja," jelas Ardian.


" Begitu rupanya," sahut Alvin.


" Pak Alvin sekali lagi saya minta maaf atas kejadian tadi, saya merasa tidak enak dengan pak Alvin," ucap Ardian.

__ADS_1


" Tidak masala Pak Ardian ini bukan salah anda. Walau saya belum mendapatkan permintaan maaf dari sepupu anda," sahut Alvin dengan tersenyum kaku.


" Pak Alvin Lea akan minta maaf pada bapak," ucap Ardian.


" Santai aja Pak Ardian saya hanya bercanda," sahut Alvin yang terlihat santai. Ardian mengangguk-anggukan kepalanya dan Alvin melirik kembali ke arah Lea yang mana Lea mengalihkan pandangannya ke arah lain yang tidak mau melihat Alvin.


Acara semakin berlanjut dan Lea sekarang mengambil makanan bersama dengan Melody yang mengambilkan untuk suaminya.


" Chaca tidak jadi datang Mel?" tanya Lea.


" Mungkin nanti malam," jawab Melody sambil mengisi makanan ke atas piringnya.


" Hmmm, begitu," sahut Lea yang juga mengisi lauk-pauk kedalam piringnya. Setelah selesai mengisi nasi beserta lauk pauk kedalam piring untuk suaminya. Melody pun langsung menghampiri suaminya kembali Lea masih mengambil makanan.


Saat ingin menuang sup kedalam mangkok tiba-tiba sebuah tangan hinggap di atas tangannya yang membuat Lea kaget dan menoleh ke sampingnya. Lea lebih kaget lagi saat melihat pemilik tangan tersebut yang tak lain adalah Alvin yang menatapnya dengan tajam.


" Kau. Apa yang kau lakukan?" Lea berusaha menarik tangannya dari sendok sayur itu. Namun Alvin menahan tangannya sehingga masih tetap pada posisinya.


" Kau, lepaskan tanganku!" berontak Lea.


" Sayurnya akan tumpah jika kau banyak bergerak," ucap Alvin mengingatkan dengan santai.


" Issss, kau benar-benar. Apa maumu?" tanya Lea dengan wajah ketusnya.


Alvin menyunggingkan senyumnya, " aku tadinya berpikir setelah pulang dari acara ini. Aku ingin menelponmu dan menagih janjimu. Tetapi setelah kejadian tadi pagi. Aku sedikit ilfil denganmu dan rasa tertarikku untuk bercinta denganmu tiba-tiba berkurang," ucap Alvin dengan seringai nakal di wajahnya terlihat meremehkan Lea.


" Oh iya benarkah, kalau begitu bagus, aku tidak perlu melakukan janji itu lagi," sahut Lea dengan menyunggingkan senyumnya yang kembali sok berani di depan Alvin. Padahal dia hanya menutupi rasa malunya karena kejadian tadi.


" Kau ingin ingkar janji?" tanya Alvin dengan seriangi nakal di wajahnya.


" Bukan aku yang ingkar janji. Aku orang yang menepati janji. Tetapi kau yang sudah tidak menginginkanku lagi," ucap Lea dengan matanya menatap mata indah Alvin yang begitu menusuk sampai ke uluh hatinya.


" Siapa bilang aku tidak menginginkan mu. Aku justru semakin penasaran pada mu," ucap Alvin dengan berbisik pada Lea.


" Ya sudah ayo selesaikan semuanya," sahut Lea.


" Kau memang sangat suka terburu-buru," ucap Alvin dengan geleng-geleng kepalanya.


" Sudah lepaskan tanganku!" Lea berhasil melepaskan tangannya dari Alvin.


" Kau jangan menggangguku di sini! ingat urusan kita hanya kita berdua. Kau jangan melibatkan dengan ini dan itu. Apa lagi dengan keluargaku. Kau jangan macam-macam," ucap Lea menunjuk tepat di wajah Alvin yang memberikan Alvin peringatan besar.


Alvin hanya mendengus kasar melihat keberanian Lea kepadanya.


" Lea, pak Alvin!" Ardian tiba-tiba datang dan membuat Lea berusaha untuk tenang.


" Pak Ardian, saya hanya menunggu niat baik sepupu anda kepada saya," ucap Alvin.


" Apa maksudnya," batin Lea yang merasa was-was.


" Lea kamu minta maaf sama Pak Alvin dengan kejadian tadi," ucap Ardian yang langsung to the point. Lea mendengarnya kaget dan langsung melihat ke arah Alvin yang membuat Lea begitu kesal, apalagi Alvin terlihat tersenyum penuh kemenangan.


" Lea minta maaf lah!" ucap Ardian lagi.


" Sial, dia benar-benar memanfaatkan situasi dan iya jika aku tidak melakukannya. Bisa-bisanya semuanya akan di ceritakannya," batin Lea yang menjadi serba salah.


" Lea!" tegur Ardian.


" Aku minta maaf soal kejadian tadi," ucap Lea dengan mengulurkan tangannya membuat Alvin menyunggingkan senyumnya.


" Baiklah!" sahut Alvin yang tidak menyambut uluran tangan Lea. Dan Lea harus menurunkan tangannya dengan bertambah kesal dengan sikap Alvin yang begitu sombong.


" Pria ini benar-benar. Semoga masalahku dan dia dia cepat selesai. Karena dia sungguh memuakkan," batin Lea dengan menatap tajam Alvin.


" Aku permisi!" Lea dengan penuh kemarahan pun langsung pergi.


" Kita lihat saja bagaimana selanjutnya. Kau benar-benar wanita aneh," batin Alvin.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2