Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 115 panik.


__ADS_3

" Chaca bangun, Chaca bangun!" teriak Melody yang sudah berada di samping Chaca tangan Melody juga di penuhi darah saat memegang kepala Chaca mengangkatnya ke pangkuannya. Di mana Chaca sudah tidak sadarkan diri dan lantai itu pun di penuhi darah yang terus mengalir dari kepala Chaca.


Teriakan Melody membuat orang-orang yang di rumah berkeluaran. Eyang besar, Shandra, Widia, Evan, Mila dan Novi langsung menghampiri teriakan di ujung anak tangga.


Betapa terkejutnya mereka saat melihat Chaca yang berlumur darah, sampai mata mereka terbelalak dan mulut mereka yang terbuka lebar dan menganga.


" Astagfirullah Al Azdim, apa yang terjadi!" ucap Widia kaget.


" Mah, Chaca tolongin Chaca mah," ucap Melody yang panik dengan air matanya yang berlinang.


" Apa yang terjadi Melody, kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Shandra ikutan panik.


" Sudah-sudah ayo kita bawa kerumah sakit," sahut Eyang. Yang lain mengangguk, Evan langsung menggendong Chaca membawanya kedalam mobil yang lain pun mengikuti.


Raisa masih tetap di tempatnya yang dengan wajahnya yang masih schok. Novi langsung menaiki anak tangga dan menghampiri Raisa yang diam membeku.


" Raisa apa terjadi?" tanya Novi pelan.


" Aku tidak sengaja Tante, dia menggigit ku dan aku, aku hanya, aku...." Raisa mengusap wajahnya kasar dengan ke-2 tangannya yang sekarang benar-benar panik nasibnya bagaimana selanjutnya.


" Kamu sih, kenapa ada-ada saja," sahut Novi menyalahkan Raisa.


" Tante diam dulu, jangan aku terus yang di salahin. Aku juga bingung," bentak Raisa yang semakin emosi karena Novi bukannya menenangkannya malah menyalahkannya.


*************


Sementara Ardian ternyata masih menyelidiki tentang kehamilan Melody. Awalnya Ardian tidak ingin tau dulu. Karena Melody juga tampaknya masih trauma dengan masalah itu.


Hanya saja banyak pemikiran beberapa hari ini yang membuat Ardian ingin mencari lebih dalam lagi. Bahkan kecurigaannya bermula pada Chaca yang banyak kemiripan dengan Melody dan juga dengan dirinya.


Ardian berjalan di koridir-koridor rumah sakit untuk mencari suster yang kemarin di temuinya. Lagi-lagi Ardian harus berpapasan dengan orang-orang gila. Namnya juga rumah sakit jiwa ya pasti orang-orang gila isinya.


Lelah mencari suster tersebut. Akhirnya Ardian pun menemukannya.


" Suster tunggu!"panggil Ardian membuat suster itu membalikkan tubuhnya dan melihat Ardian.


" Iya pak ada apa?" tanya Suster tersebut.


" Suster saya ingin melanjutkan pertanyaan yang kemarin tentang pasien yang bernama Melody," ucap Ardian langsung pada intinya menanyakan maksud kedatangannya.

__ADS_1


" Bukannya kemarin saya sudah mengatakan dengan jelasnya," sahut suster tersebut.


" Belum sus. Apa yang suster katakan kemarin belum jelas. Saya ingin mengetahui lebih dalam lagi yang pada intinya mengenai masalah Melody, suster tolong katakan kepada saya apa Melody melahirkan bayi yang di kandungnya?" tanya Ardian.


" Aduh mas, soal itu saya tidak tau. Karena saat perut Melody yang semakin besar, keluarganya membawanya dari rumah sakit ini. Karena juga dari saran Dokter rumah sakit yang tidak cocok untuk kehamilan Melody," jelas Suster.


" Lalu siapa Dokter yang memberikan saran itu, bukannya Dokter tersebut juga akan merujuk Melody ke tempat lain?" tanya Ardian yang menduga-duga.


" Pasti iya pak, karena pasti ada persetujuan dari salah satu Dokter di rumah sakit ini," ucap suster tersebut.


" Kalau begitu siapa Dokter yang mengeluarkan izin itu?" tanya Ardian.


" Dokternya sudah pensiun dan sudah kembali ke kampungnya," jawab suster tersebut.


" Di mana kampungnya?" tanya Ardian.


" Di Jerman pak," jawab Ardian terpekik.


" Ya ampun aku mana mungkin mencarinya sampai Jerman," batin Ardian.


" Ya sudah ya Pak, kalau sudah tidak ada yang mau di bicarakan lagi saya permisi. Karena percuma bapak bertanya ini itu pada bapak. Karena saya juga tidak tau pak," ucap suster tersebut.


" Hmmm, terima kasih suster," ucap Ardian. Suster mengangguk dan akhirnya pergi meninggalkan Ardian.


" Tapi mana mungkin Ardian kan kamu tau sendiri Chaca itu anak dari kakaknya Melody. Tetapi kenapa Chaca seperti lebih dekat dengan Melody di bandingkan dengan kak Marsel dan juga kak Gadis," batin Ardian dengan penuh tanda tanya yang tidak bisa menarik kesimpulan.


Terlalu banyak teka-teki yang tidak bisa di pecahkan yang membuat Ardian benar-benar bingung.


************


Ardian pun akhirnya keluar dari rumah sakit itu menuju mobilnya yang terparkir. Namun saat ingin membuka pintu mobil. Ardian melihat Febby di sebrang jalan.


" Febby!" lirih Ardian heran dengan Febby yang kelihatan sedang ingin menyebrang.


" Apa aku tanya Febby saja. Tidak mungkin dia tidak tau apa-apa dan kelihatan Febby dari dulu sangat jujur dan juga baik. Aku sebaiknya mengkorek-korek dari Febby saja," batin Ardian yang tiba-tiba kepikiran.


Ardian pun langsung menyebrang jalan dan menghampiri Febby yang bermain handphone.


" Febby!" tegur Ardian.

__ADS_1


" Eh kak Ardian lirih Febby yang terlihat kaget melihat Ardian.


" Kamu ngapain di sini?" tanya Ardian.


" Hmmm, ini lagi nungguin Taxi mau pulang, tadi soalnya lagi ngerjain tugas di rumah teman, di sana!" tunjuk Febby.


" Hmmm, begitu rupanya. Ya sudah ayo sekalian sama kakak pulang," ucap Ardian menawarkan.


" Nggak usah kak, ngerepotin," ucap Febby.


" Nggak apa-apa. Masa iya ngerepotin," ucap Ardian.


" Nggak apa-apa nih," sahut Febby.


" Iya. Ayo buruan!" ajak Ardian dan Febby pun mengangguk dan mereka langsung memasuki mobil Ardian.


*************


Ardian dan Febby sudah berada di Restaurant yang mana terlihat keduanya sedang makan. Sebelumnya Ardian bertanya pada Febby saat di mobil sudah makan apa belum dan Febby ternyata belum makan.


Ardian menggunakan kesempatan itu untuk bicara lebih santai pada Febby. Agar maksud dan tujuannya tidak terlalu mencurigai dan bahkan mereka mengobrol sedari tadi. Tetapi tidak belum membahas pokok permasalah yang ingin Ardian tanyakan pada Febby.


" Huhhhh, makanya jadi anak sekolah itu begitu sulit banyak tugas yang bikin pusing," sahut Febby mengeluh.


" Namanya juga sekolah," sahut Ardian.


" Ya nggak kayak gini juga lah, sulitnya," sahut Febby.


" Oh, iya Febby kamu sering kerumah sakit di dekat rumah teman kamu tadi?" tanya Ardian mulai basa-basi.


" Itu kan rumah sakit jiwa yang kak Melody pernah ada di sana," sahut Febby yang langsung konek.


" Berarti kamu sering dong kesana?" tanya Ardian. Febby menggelengkan kepalanya.


" Hanya sekali, waktu libur sekolah. Pernah kesana jenguk kak Melody," sahut Febby.


" Libur sekolah, memang kamu sekolah di mana dulunya?" tanya Ardian.


" Kan Febby SMP dulu di Malang tempat nenek. Jadi saat-saat kak Melody lagi sakit-sakit parah, Febby tidak tau," jawab Febby.

__ADS_1


" Jadi Febby tidak ada di saat Melody mengalami sakit jiwa," batin Ardian.


Bersambung


__ADS_2