
Raisa dengan penuh kemarahan melihat kepergian Melody yang menang darinya. Belum lagi Ardian telah membela Melody. Pasti Raisa semakin meledak-ledak. Raisa melihat ke arah Shandra dan juga Eyang yang seakan mencari pembelaan.
" Kalian diam saja dengan apa yang di lakukannya kepadaku," sahut Raisa yang mencari pembelaan.
" Raisa, Ardian sudah beristri dan memang seharusnya istrinya yang wajib menikmati harta suaminya," sahut Eyang besar. Raisa mendengarnya melotot.
" Eyang!" lirih Raisa yang protes.
" Shandra, kamu ganti ATM dan juga kartu kreditnya. Raisa kamu tanggung jawab kami. Bukan Ardian," tegas Eyang sekali lagi yang tidak mau mendengar protes dari Raisa lagi. Eyang besarpun langsung pergi.
" Eyang!" panggil Raisa.
" Nanti Tante akan mengganti semuanya," sahut Shandra yang langsung pergi yang juga malas untuk mengurus semuanya.
" Argggghhh!" teriak Raisa dengan mengusap kasar wajahnya. Novi juga tidak bisa melakukan apa-apa. Hari-hari mereka mungkin akan seperti ini terus.
" Kurang ajar kamu Melody!" geram Raisa menekan suaranya yang marah. Tetapi tidak bisa meluapkan pada Melody.
" Ardian juga, sekarang benar-benar membelanya," batin Raisa yang merasa sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
***********
Melody terlihat rapi-rapi di dalam kamarnya. Ardian keluar dari kamar mandi yang melihat Melody rapi-rapi yang sepertinya ingin pergi.
" Mau kemana kamu?" tanya Ardian dengan datar yang melap rambutnya dengan handuk putih.
" Aku mau ke Restaurant," jawab Melody dengan biasa.
" Untuk apa?" tanya Ardian.
" Ya untuk menjaganya. Aku sudah lama tidak kesana. Jadi mau kembali beraktivitas untuk bekerja," jawab Melody dengan santai sembari memberi makeup di wajahnya.
" Kamu tidak perlu bekerja lagi," sahut Ardian. Melody menghentikan make-upnya dan melihat ke arah Ardian.
" Apa maksud kamu?" tanya Melody.
" Aku bisa memberimu uang dan kamu tidak perlu bekerja," jawab Ardian singkat.
__ADS_1
" Ardian, aku tidak bekerja yang seperti-seperti apa. Restaurant itu milikku dan aku memang harus turun tangan untuk mengelolanya," jelas Melody.
" Aku tau. Tetapi tetap kamu itu istriku. Bukannya kamu mengatakan itu berkali-kali di orang lain. Kamu juga sudah mengambil kartu ATM dan kartu kreditnya. Jadi kamu gunakan itu dan tidak perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan kamu. Jangan seperti orang kekurangan yang harus bekerja untuk memenuhi biaya hidup. Aku masih bisa memenuhi kebutuhanmu," ucap Ardian memberikan ketegasan pada Melody.
" Aku tidak butuh kartu-kartu itu. Aku bisa mencari uang sendiri," sahut Melody yang membantah kata-kata Ardian.
" Jika tidak membutuhkannya. Kenapa mengambilnya dari Raisa. Kamu sengaja untuk menimbulkan keributan," sahut Ardian. Melody langsung kesal dengan Ardian. Pasti memang dia melakukan itu untuk membuat Raisa kesal.
" Siapa yang mau mencari keributan," sahut Melody membatah tuduhan itu.
" Kalau begitu gunakan itu. Dan aku tidak mengijinkanmu untuk pergi bekerja," tegas Ardian. Wajah Melody yang cantik itu langsung merengut.
" Kamu dengar ya Melody aku sudah menuruti apa-apa katamu. Jadi bersikap juga sebagai istri yang ada suaminya. Jangan istri hanya di depan orang lain," tegas Ardian.
" Aku akan bisa stress jika di rumah terus," sahut Melody yang mengeluh.
" Banyak kegiatan di rumah yang bisa kamu lakukan. Kamu bisa tanya kak Mila. Dia juga selalu di rumah. Jadi jangan bilang stress jika di rumah. Kamu belajar sama dia menjadi istri," sahut Ardian.
" Aku tidak perlu belajar," sahut Melody dengan ketus.
" Terserah kamu. Yang penting aku tidak mengijinkan mu untuk bekerja. Kamu gunakan apa yang sudah kamu ambil," tegas Ardian dengan wajah seriusnya.
" Aku tidak mau kartu fasilitas bekasnya," ucap Melody yang menarik selimut dan membelakangi Ardian yang meringkuk dalam selimut. Melody sepertinya ngambek pada suaminya makanya dia tidak mau bicara lagi dengan Ardian.
" Aku akan memberikan yang baru," sahut Ardian. Melody mengkerutkan dahinya yang masa bodo dengan apa lagi yang di katakan Ardian.
Ardian pun tidak bicara lagi dan langsung menuju lemari untuk mengambil pakaiannya. Dia pun harus kekantor. Walau Melody sempat protes pada Ardian. Tetapi Melody tetap menurutinya. Kesal wajar. Mana mungkin dia tidak kesal yang aktivitasnya yang di larang begitu saja. Melody bukan tipe anak yang diam.
************
Melody benar-benar begitu jenuh dengan aktivitas yang tidak ada sama sekali. Melody keluar dari kamarnya dan mendengar suara bayi membuat Melody heran.
" Bayi. Apa di rumah ini ada bayi?" tanya kebingungan.
Melody pun langsung melangkahkan kakinya untuk mencari suara bayi itu yang mana Melody berhenti di depan kamar dan melihat Mila yang mendiamkan seorang bayi di atas tempat tidur.
" Kak Mila!" tegur Melody yang memasuki kamar itu.
__ADS_1
" Hey Melody," sahut Mila.
" Ini bayi kakak?" tanya Melody yang duduk di pinggir ranjang.
" Bukan, ini anak Vivi dan Arya," jawab Mila.
" Lalu mana kak Vivi?" tanya Melody.
" Sudah pergi kerja," jawab Mila.
" Bekerja. Punya bayi tapi bekerja," sahut Melody. Mila mengangguk.
" Vivi itu wanita karir yang hobi bekerja. Makanya mau punya bayi dan tidak dia tetap bekerja," jelas Mila.
" Apa Kaka Vivi bisa tenang meninggalkan bayi seperti ini?" tanya Melody.
" Dia akan tenang, karena ada yang menjaganya," jawab Mila.
" Kakak yang menjaganya," sahut Melody.
" Ya, seperti yang kamu lihat," sahut Mila.
" Kaka mengurus semua keluarga ini?" tanya Melody lagi.
" Memang seharusnya tugas istri seperti itu. Mengurus keluarga dan juga mengurus suaminya," sahut Mila yang mengendong bayi itu untuk menidurkannya.
" Memang tugas istri seperti apa?" tanya Melody dengan pelan. Mika tersenyum mendengarnya.
" Ya banyak Melody. Untuk menciptakan rumah tangga yang harmonis. Seorang istri harus lebih mengutamakan suaminya. Agar suaminya bergantung pada kita dan tidak bisa aneh-aneh. Dia juga bisa-bisa akan jatuh cinta pada kita setiap hari," ucap Mila.
" Contohnya?" tanya Melody.
" Ya membangunkan dia, menyiapkan pakaian saat mau kerja, menyiapkan makanan. Itu tugas sehari-hari yang simple dan sangat biasa," sahut Mila.
" Selebihnya masih banyak. Jika kamu melakukan tugas biasa itu. Kamu akan tau sendiri apa-apa lagi tugas istri berikutnya. Karena semua itu adalah kebiasaan. Melody seorang istri yang di perlukan itu untuk memberi ketenangan pada suaminya. Tidak ada yang salah menjadi wanita karir. Asalkan kebahagian untuk suaminya. Itu yang terpenting. Karena membuat suami bahagia. Istri akan mendapat keberkahan," ucap Mila yang sedikit memberikan arahan pada Melody. Melody hanya mengangguk-angguk saja.
" Kamu mau coba gendong?" tanya Mila menawarkan bayi itu. Melody mengangguk. Mila pun langsung memberikannya dan Melody kelihatan bisa menggendongnya.
__ADS_1
Mila juga tersenyum melihat Melody yang tampak begitu tenang. Ya begitu teduh melihat Melody yang tenang dan tidak marah-marah.
Bersambung