
Ardian, Evan dan Alvin bergerak cepat mengurus segala persetujuan operasi Rasti, mereka langsung bertindak cepat agar Rasti bisa di operasi secepatnya. Evan memang yang mewakili Rasti. Karena Rasti sudah tidak punya siapa-siapa lagi dan Evan sudah seperti suami saja yang siap siaga dalam hal apapun.
Setelah semua di tanda tangani oleh Evan akhirnya ruangan persiapan untuk operasi Rasti pun sudah di siapkan. Ada 3 Dokter yang mengoperasi Rasti dan ada beberapa perawat yang membantu Dokter.
Sementara Rasti masih di ruang perawatan yang akan segera di bawa keruang operasi. Di dalam ruangan itu semuanya sudah berkumpul. Termasuk Eyang, Widia, Shandra, Melody, Ardian, Lea, Alvin dan Evan pastinya.
Sementara yang lainnya rencananya masih akan menyusul. Karena ingin juga mendoakanku Rasti yang sudah di anggap seperti keluarga sendiri.
" Rasti kamu jangan takut ya. Semuanya akan berjalan dengan lancar. Kamu jangan khawatir kami di sini akan mendoakan kamu," ucap Shandra yang memberikan Rasti semangat.
" Iya Tante makasih ya sudah ada untuk Rasti," sahut Rasti dengan suara pelannya yang matanya berkaca-kaca.
" Kamu intinya jangan gugup. Jangan memikirkan apa-apa. Kamu harus tenang pada intinya," sahut Eyang.
" Benar Rasti. Tidak akan terjadi apa-apa pada kamu jadi kamu harus tetap tenang," sahut Widia menambahi.
Rasti mengangguk-angguk pelan dengan air matanya menetes. Namun Evan langsung mengusap air matanya dan memeluk Rasti yang terbaring di ranjang.
" Jangan menangis. Operasi bukan kematian dan kematian tidak semenakutkan itu. Kita sudah bicara kemarin. Apapun yang terjadi aku akan tetap bersamamu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu dalam keadaan apapun. Jadi jangan takut Rasti," ucap Evan memberi semangat untuk kekesihnya itu.
Dia tau Rasti begitu takut. Jika Operasinya akan gagal dan tindakan selanjutkan akan di laksanakan pengangkatan rahim dan di sana dia tidak akan bisa mewujudkan impian Evan yang begitu tulus padanya.
" Rasti kamu jangan sedih ya. Kita akan mendoakan kamu," sahut Melody yang juga tidak bisa membendung kesedihannya melihat Evan dan Rasti yang saling mencintai yang begitu haru dalam pelukan mereka.
Lea juga sama yang di rangkul Alvin yang tidak kalah sedihnya.
" Apa pasien sudah bisa kami bawa?" tiba-tiba 2 Suster datang memasuki ruangan itu. Evan melepas pelukannya dari Rasti yang mana Evan juga sudah menangis.
" Evan, sudah Rasti harus segera di operasi," ucap Ardian mengusap punggung Evan yang terlihat berat hati melepaskan Rasti.
Evan menempelkan dahinya di dahi Rasti dengan mata mereka yang saling melihat yang sama-sama mengeluarkan air mata.
__ADS_1
" Aku mencintaimu. Kamu harus ingat aku pria yang sangat mencintaimu apa adanya. Jadi jangan takut dengan apapun. Karena aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi padamu nanti," ucap Evan dengan tulus bicara pada kekasihnya itu.
" Aku juga mencintaimu. Makasih sudah mencintaiku dengan tulus. Aku menjadi wanita yang begitu beruntung," ucap Rasti.
Evan mencium lembut kening Rasti dengan begitu lama.
" Kami harus segera membawanya," sahut Suster.
" Silahkan Suster," ucap Eyang.
Ardian dan Alvin berusaha mengajak Evan untuk berdiri, agar Rasti bisa segera di bawa. Evan juga pasti takut Rasti nanti akan kenapa-kenapa dia juga tidak siap jika hal buruk akan terjadi pada Rasti.
" Silahkan menunggu di depan ruang operasi!" perintah Suster. Lalu Suster itu mendorong tempat tidur Rasti membawanya ke ruang operasi dan Evan mengikuti dengan tangan mereka yang masih saling menggenggam dengan erat dengan mata mereka yang masih saling melihat.
Keluarga juga mengikut di belakang dengan mereka yang pasti harap-harap cemas. Menunggu yang terbaik dari Rasti setelah melakukan operasi.
Rasti di masukkan ke dalam ruang operasi sebelum pintu di tutup ke-2 Evan dan Rasti masih saling melihat. Rasti tersenyum pada Evan. Jika dia baik-baik saja. Dia bisa menghadapi semua ini dan tidak akan terjadi apa-apa.
" Evan kamu harus kuat. Rasti pasti baik-baik saja," ucap Shandra menepuk bahu putranya. Evan mengangguk dengan memeluk mamanya.
" Kita berdoa saja, agar operasinya berhasil," sahut Eyang.
" Ya Allah aku mohon angkatlah penyakit Rasti. Jangan biarkan dia seperti ini ya Allah. Aku mohon ya Allah. Aku sangat mencintainya. Aku tidak ingin dia menderita," batin Evan yang begitu mencemaskan Rasti.
" Semoga saja Rasti bisa sembuh. Dia dan Evan mempunyai impian yang begitu tinggi. Semoga mereka ber-2 tidak apa-apa sama sekali," batin Melody yang juga pasti mengkhawatirkan temannya itu.
***********
Rasti yang berada di ruang operasi sudah di operasi Dokter. Dengan Dokter-dokter yang terlihat telaten dan memang sudah biasa dalam menangani pasien.
Sementara di luar ruangan operasi semua orang begitu tegang, penuh kecemasan, kepanikan, takut dan lain-lain dengan perasaan mereka yang bercampur aduk. Sama dengan Evan yang sejak tadi tidak pernah tenang mondar-mandir seperti setrikaan, sebentar-sebentar duduk berdiri. Hal itu terus yang di lakukannya yang mana dia tidak bisa tenang sebelum operasi Rasti selesai.
__ADS_1
" Lama operasinya sayang," ucap Melody yang duduk di samping Ardian dengan kepalanya yang menyender pada bahu Ardian.
" Bersabarlah sayang, sebentar lagi operasinya akan selesai," jawab Ardian mengusap-usap rambut istrinya.
" Aku sangat takut Rasti kenapa-kenapa," ucap Melody.
" Aku juga sama Melody. Tetapi dia wanita yang sangat kuat. Jadi kamu jangan khawatir," ucap Ardian. Melody mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Sudah 3 jam tetapi kenapa belum selesai juga operasinya?" tanya Lea pada suaminya yang juga semakin lama semakin panik.
" Operasinya sangat besar sayang jadi wajar kalau selama itu," jawab Alvin.
" Lihat Evan dia sejak tadi tidak bisa diam. Dia pasti sangat takut Rasti Kenapa-kenapa," ucap Lea.
" Itu hal yang wajar. Dia sangat mengkhawatirkan Rasti," sahut Alvin.
" Hmmm, aku jadi kasihan pada Evan," ucap Lea yang tidak tega melihat Evan. Alvin hanya mengangguk saja.
Di tengah mereka yang menunggu dengan penuh kecemasan dengan tangan yang dingin. Lampu operasi mati yang menandakan operasinya sudah selesai.
Tidak lama dari situ Dokter pun keluar dari ruangan operasi dan Evan langsung berlari menghampiri Dokter yang baru membuka kaca matanya yang mengatur napasnya.
" Dokter bagaimana ke adaan Rasti?" tanya Evan dengan suaranya yang bergetar.
" Benar Dokter Rasti baik-baik saja kan?" tanya Shandra.
" Shandra tenanglah, biarkan Dokter bicara," sahut Eyang.
" Dokter katakan dengan cepat. Apa Rasti baik-baik saja? apa operasinya berhasil? dia Tidka kenapa-napa kan?" Evan terus bertanya dengan penuh ketakutan dan Dokter masih terlihat mengatur napasnya yang begitu berat yang membuat orang-orang menjadi khawatir saja.
Bersambung.
__ADS_1