
Marsel, Dania, Wawan dan Febby akhirnya memasuki ruangan perawatan Gadis. Yang mana Gadis sendiri pun sudah siuman. Marsel duduk di samping istrinya di bagian kepalanya dengan mengusap-usap pucuk kepala Gadis.
" Mama begitu bahagia Gadis dengan kehamilan kamu," ucap Dania.
" Iya ma, Alhamdulillah jika akhirnya Allah telah mempercayakan Gadis dengan kehamilan ini," sahut Gadis yang tidak kalah terharunya.
" Kak Gadis kenapa nggak tau sih. Kalau kak Gadis sedang hamil. Padahal Dokter bilang sudah 6 Minggu. Masa iya tidak ada gejala yang kak Gadis rasakan," ucap Febby.
" Kakak belakangan hanya merasa lemas Febby. Kakak juga tidak tau kenapa seperti itu. Dan kakak tidak kepikiran dengan kehamilan. Ya makanya kakak tidak tau," jawab Gadis.
" Apapun itu yang paling utama untung saja Febby menemukan kamu. Karena kata Dokter terlambat sedikit saja. Kamu dan bayi kita tidak akan baik-baik saja," sahut Marsel.
" Iya sayang, aku sangat berterima kasih untuk Febby," sahut Gadis tersenyum simpul.
" Sama-sama kak, yang penting kakak jaga kesehatan aja setelah ini. Biar kakak dan bayinya tetap sehat," ucap Febby.
" Kamu juga harus bantuin kakak kamu Febby, kami harus sering mengingatkannya," ucap Wawan.
" Pasti dong pah, apa sih yang tidak untuk calon ponakan aku," sahut Febby dengan mengajung kan 2 jempolnya yang membuat yang lainnya ikut tertawa-tawa kecil.
Ceklek.
" Mah!" tiba-tiba Melody, Ardian, dan Chaca sudah sampai dan Melody langsung memasuki ruangan itu dengan wajah paniknya.
" Kak Gadis apa yang terjadi, kenapa kakak bisa masuk rumah sakit?" tanya Melody dengan cemas yang menghampiri Gadis.
" Mama kenapa?" tanya Chaca yang juga berlari dan memeluk mamanya.
" Tidak apa-apa sayang," jawab Gadis.
" Bagaimana tidak apa-apa, kakak masuk rumah sakit gini dan Febby bilang kakak di temukan tidak sadarkan diri," ucap Melody dengan wajah cemasnya.
" Febby itu berlebihan, orang kakak tidak apa-apa kok," sahut Gadis dengan santai.
" Maaf kak Melody, kalau Febby ngasih tau sama kakak dengan nada-nada jantungan. Tapi Alhamdulillah kak Gadis tidak apa-apa. Justru kita semua sedang bahagia," sahut Febby.
Melody menautkan alisnya dengan penuh kebingungan, " bahagia, bagaimana mungkin kalian bisa bahagia, sementara kak Gadis sedang ada di rumah sakit," ucap Melody dengan wajah tanda tanyanya.
" Sayang kamu itu bahagia. Karena sebentar lagi Chaca akan punya adik," sahut Dania membuat Melody kaget dan Melody langsung melihat ke arah kakak iparnya itu dengan menatapnya serius yang seolah bertanya benar atau tidak.
Tanpa di tanyakan Melody Gadis menganggukkan kepalanya.
" Ini serius?" tanya Melody tidak percaya.
" Iya Melody doakan ya supaya baik-baik saja," sahut Gadis tersenyum simpul.
" Alhamdulillah ya Allah," sahut Melody dengan bahagianya yang tidak percaya dia akan punya keponakan. Ardian juga ikut merasa bahagia.
Ardian menghampiri Marsel menyalam dan memeluknya sebentar, " selamat kak Marsel," ucap Ardian.
" Makasih Ardian," sahut Marsel.
" Aunty Febby bilang Chaca punya adik.. Maksudnya apa?" tanya Chaca dengan polosnya.
" Chaca, itu artinya di dalam perut mama ada dedek bayinya dan kalau dedek bayinya lahir. Dia akan menjadi adik Chaca dan Chaca akan menjadi kakak," jelas Melody dengan bahasa yang muda di pahami anak seperti Chaca.
" Benarkah?" tanya Chaca yang tampaknya tidak percaya.
" Benar sayang," sahut Gadis.
" Horeeee!" teriak Chaca kegirangan sampai mengangkat ke-2 tangannya, saking bahagianya.
" Maka dari itu Chaca harus jagain mama juga ya," sahut Marsel.
" Pasti papa, Chaca akan jagain mama dan dedek bayinya," sahut Chaca yang memeluk perut Gadis bahkan sampai mencium-cium perut mamanya yang masih ramping. Semua orang tertawa-tawa girang dengan wajah mereka yang begitu bahagianya.
" Mungkin ini berkat dari kesabaran Gadis dan Marsel. Allah telah memberikan kebahagian untuk Marsel dan Gadis. Allah telah memberikan hadiah terbesar untuk kebesaran hati mereka," batin Dania yang terharu dalam situasi itu.
" Terima kasih ya Allah. Atas karunia yang kau berikan pada kak Marsel dan kak Gadis. Aku sangat bahagia dengan hadirnya si kecil lagi dalam keluarga kami," batin Melody yang tidak kalah bahagianya.
" Benar kata mama. Di saat kita bersabar dan ikhlas dengan semuanya. Allah akan membalas semuanya dan Allah justru membalasnya dengan berlipat-lipat ganda," batin Gadis yang tidak kalah merasa terharu karena kehadiran bayi kecil di dalam rahimnya.
__ADS_1
**********
Melody dan Ardian memilih pulang setelah mengantarkan Gadis pulang. Karena memang Dokter mengijinkan Gadis untuk pulang. Lagian kondisi Gadis sudah sangat baik-baik saja. Chaca tidak ikut bersama mereka. Karena Chaca ingin menjaga calon adiknya.
Melody dan Ardian sudah sampai rumah. Melody membantu Ardian membuka kancing kemeja Ardian.
" Aku benar-benar bahagia dengan kak Gadis yang akhirnya hamil juga," ucap Melody dengan tangannya yang terus membuka kancing baju suaminya.
" Ya Alhamdulillah," sahut Ardian.
" Chaca juga terlihat senang. Karena sebentar lagi punya adik dari kak Gadis," ucap Melody. Ardian menatap intens wajah istrinya yang sibuk membuka kancing kemejanya. Ardian menyunggingkan senyumnya dan menarik pinggang Melody sampai membuat Melody tertabrak dada bidang Ardian.
Melody kaget dengan menatap suaminya itu dengan matanya yang terbelalak kaget, " bikin jantungan aja," ucap Melody.
" Jika Chaca akan punya adik dari kak Marsel dan kak Gadis. Lalu kapan Chaca akan punya adik dari kita berdua?" tanya Ardian dengan menaikkan satu alisnya.
Melody menautkan ke-2 alisnya mendengar perkataan suaminya itu, " Hmmmm, aku mana tau," itu yang di bisa di jawab Melody.
" Kenapa tidak tau sayang?" tanya Ardian.
" Anak itu kan anugrah ya mungkin kita belum di kasih saja," sahut Melody dengan wajahnya yang tenang bicara di dekat suaminya itu.
" Mungkin kita kurang usaha," ucap Ardian menatap dalam-dalam Melody.
" U_u_usaha apa?" tanya Melody mulai gugup dengan suaminya yang menatapnya begitu intim.
" Hmmm, harus sering bekerja ekstra di atas ranjang agar membuahkan hasil," bisik Ardian. Membuat mata Melody melotot mendengarnya dan spontan memukul dada Ardian.
" Kamu ini," geram Melody dengan wajah kesalnya.
" Emang iya kan," sahut Ardian dengan santainya yabg menggoda istrinya.
" Nggak tau," sahut Melody melepas tangan Ardian dari pinggangnya dan memilih pergi dari pada suaminya semakin menggodanya yang membuat pipinya memerah.
" Sayang!" Ardian langsung mengejar Melody yang mau ke lemari dan langsung memeluk tubuh Melody dari belakang.
" Kenapa marah?" tanya Ardian dengan menempelkan kepalanya di ceruk leher Melody.
" Itu aku melihat wajah kamu terlihat jutek. Itu artinya kamu sedang marah," ucap Ardian.
" Nggak kok," sahut Melody. Ardian membalikkan tubuh istrinya untuk menghadapnya. Ardian mencium lembut kening istrinya.
" Memang kamu tidak mau memberikan adik untuk Chaca?" tanya Ardian.
" Siapa bilang aku tidak mau," sahut Melody.
" Kalau begitu mari kita buatkan untuk Chaca adik," ucap Ardian yang kembali menggoda Melody.
" Isss kamu ini ya, itu terus yang di bilangi, sekarang mendingan sana kak Ardian mandi," ucap Melody.
" Jadi setelah mandi nih ceritanya," goda Ardian.
" Nggak ada," sahut Melody kesal dan langsung mendorong punggung suaminya menuntuntunya kekamar mandi dari pada Ardian menggodanya terus menerus.
" Pokoknya setelah mandi ya," ucap Ardian.
" Nggak ada," sahut Melody.
" Harus," sahut Ardian tidak mau kalah. Mereka melakukan perdebatan sampai akhirnya Ardian memasuki kamar mandi juga.
" Isssss, dasar," ucap Melody geleng-geleng dengan tersenyum tipis. Namun dia menjadi kegelian karena sang suami tiba-tiba harus berbicara masalah anak.
**********
" Lea bangun! kamu ini ya perempuan sudah jam segini belum bangun-bangun juga," Shandra yang memasuki kamar Lea harus marah-marah karena jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi dan Lea masih tetap dalam pertapaannya tertidur dengan lelap yang menghiraukan Shandra yang sudah merocos sejak tadi.
" Lea kamu dengar tidak sih, bangun!" Shandra membuka jendela kamar itu sehingga cahayanya langsung mengarah pada wajah Lea dengan mata Lea mengkerut.
" Tante apaan sih!" protes kea menutup wajahnya dengan tangannya karena kesilaun.
" Bisanya kamu bertanya apa sih, kamu ini benar-benar, lihat ini sudah siang, bukannya bangun malah tidur aja. Siapa coba yang mau sama wanita yang pemalas seperti kamu. Gimana kamu mau jadi istri kalau kelakuan kamu nggak benar seperti ini," cerocos Shandra yang tidak henti-hentinya marah-marah yang sudah berdiri di samping ranjang memarahi Lea dengan suaranya semakin lama semakin kuat.
__ADS_1
" Aisss, Tante ini kenapa jadi bicara menikah. Emang siapa yang mau nikah," sahut Lea yang dengan entengnya menarik selimut sampai menutup kepalanya.
" Astaga ini anak benar-benar," geram Shandra geleng-geleng dengan menarik selimut dari tubuh Lea.
" Bangun kamu! cepat!" ucap Shandra yang mengusik tidurnya Lea. Selain menarik selimut Lea. Shandra juga menarik tangan Lea memaksa wanita yang masih mengumpulkan nyawanya itu dan setelah berusaha akhirnya Lea pun bisa terduduk.
" Issss, Tante!" geram Lea dengan wajah kesalnya yang masih menutup matanya dengan wajahnya berantakan dan jangan tanya rambutnya sudah seperti orang gila.
" Benar-benar ya kamu ini!" geram Shandra. " Ayo cepat kamu mandi, jangan jadi wanita pemalas," tegas Shandra.
" Orang masih ngantuk," sahut Lea dengan mengucek-ngucek matanya.
" Nggak ada cerita ngantuk-ngantukan. Ini sudah siang. Makanya jangan keseringan keluar malam. Eyang sudah beberapa kali menegur. Kamu itu tetap tidak mau dengarkan," ucap Shandra dengan marah-marah.
" Iya-iyaaaa. Udah deh Tante jangan marah-marah mulu," sahut Lea dengan kesalnya wajahnya.
" Ya sudah sekarang kamu buruan mandi," tegas Shandra.
" Iyaaaa," sahut Lea dengan terpaksa. Shandra geleng-geleng dan langsung keluar dari kamar Lea.
" Issss, ganggu orang tidur aja," geram Lea.
********
Setelah benar-benar nyawanya terkumpul Lea keluar dari kamar menuju dapur untuk minum. Di mana di dapur terlihat Mila dan Melody yang sepertinya sedang memasak.
" Baru bangun Lea?" tanya Mila sambil mengaduk-aduk sayur di panci sementara Melody sedang memotong-motong kentang.
" Hmmm," Lea hanya menjawab dengan deheman dan langsung mengambil air putih dan meneguk 1 gelas penuh.
" Tadi malam Eyang juga tanyain kamu. Kamu kemana sih?" tanya Melody.
" Kau itu lagi ke pesta teman," jawab Lea.
" Lalu kenapa handphonenya mati?" tanya Melody.
" Lobet, nih baru aja ada batrenya," sahut Lea menunjukkan handphonenya, " lagian kemari aku juga sama Evan dan Evan seharusnya ngasih tau, kalau aku pulangnya telat," jelas Lea yang kebetulan tadi malam bersama Evan dan juga Rasti kekasih dari Evan.
" Evan tidak bilang apa-apa," sahut Melody.
" Issss, memang dasar dia aja yang cari masalah," sahut Lea yang menyalahkan Evan. Melody dan Mila saling melihat dengan menggedikkan bahu mereka dengan kepala yang geleng-geleng.
Ting.
Notif pesan di handphone Lea berbunyi dan Lea langsung melihatnya.
" Jemput aku di Bandara, awas saja kalau kau berani telat apa lagi berani tidak datang," Alvin.
" What!!" umpat Lea kesal dengan di dalam hatinya dengan melihat pesan dari Alvin, " siapa dirinya menyuruh-menyuruhku, benar-benar Pria gila," umpat Lea dengan kesalnya.
" Kamu kenapa Lea?" tanya Melody yang melihat mulut Lea yang bergerutu.
" Hah, tidak apa-apa. Ya sudah aku mau mandi dulu," ucap Lea tersenyum kaku dan langsung pergi dari dapur.
" Anak itu benar-benar," ucap Mila geleng-geleng.
" Biarin ajalah kak," sahut Melody yang tetap melanjutkan pekerjaannya.
Lea adalah gadis yang keras kepala dan paling tidak mau di atur dan memang jika semakin di larang akan semakin berbuat. Karena dia menyukai kebebasan. Keluar malam-malam sudah beberapa kali membuat Eyang besar marah dan menegur Lea. Namun Lea tetap tidak peduli dan bahkan mengambil jalur diam-diam pergi.
Lea memang dulunya tinggal di New York yang tau sendiri bagaimana budaya barat di sana. Lea juga hidup tanpa pendamping orang tua atau siapapun. Karena Lea adalah wanita yang lahir tanpa ayah yang tidak tau di mana dan ibunya yang merupakan adik bungsu ALM ayah Ardian. Yang juga wanita yang bebas yang sudah beberapa kali menikah dan gagal, menikah dan gagal dan sudah tidak tau berapa mantan suaminya.
Lea dan ibunya juga jarang bertemu. Karena kalau bertemu pasti ribut. Sedari kecil Lea selalu bersama keluarga Ardian dan terkadang bersama eyangnya. Dan Lea jarang tinggal bersama ibunya. Ya begitulah kebebasan Lea yang tinggal tidak menentu. Kadang di sana, di sini, dan terkadang tinggal sendirian.
Kaena Eyang khawatir, jadi memutuskan membawa Lea kembali bersamanya dan bahkan tinggal di tempat keluarga Ardian. Agar Lea bisa di awasi dan tidak bergaul dengan suka-sukanya.
Tetapi semakin di kekang Lea akan semakin menjadi-jadi. Karena selain wanita yang ingin hidup penuh kebebasan. Lea juga tidak bisa di atur-atur. Namun belakangan ini semenjak berurusan dengan Alvin. Tidak satupun kata-kata Alvin yang di bantahnya dan iya tidak tau saja kenapa dia begitu takut dengan pria itu dan bahkan tidak punya mulut untuk mengatakan tidak saat Pria itu memerintahnya dan seperti sekarang ini baru di chat menyuruh di jemput di Bandara.
Lea sudah otw aja ke Bandara dan bahkan buru-buru tadi siap-siap. Karena takut terlambat. Seperti takut di marahi Alvin. Ya Lea belakangan memang sering berhubungan dengan Alvin Lewat telpon. Karena sudah lebih seminggu Lea tidak bertemu dengan Pria itu. Karena pria itu sedang di Luar Negri menjalankan perjalanan bisnis.
Bersambung
__ADS_1