
Suara sirene ambulan yang mana terlihat Ardian yang sekarang berada di dalam ambulan bersama Melody, Lea, Alvin, Rasti dan Evan.
Tangan Melody terus memegang telapak tangan itu dengan kuat saling menautkan dengan penuh kecemasan melihat suaminya yang terus mengeluarkan darah dari mulutnya dengan Ardian yang memuntahkan darah.
" Ardian kamu harus bertahan. Kita akan sampai. Kamu harus bertahan!" Melody terus menangis yang penuh ketakutan melihat suaminya yang semakin kritis.
Di tengah kritisnya Ardian. Masih sempatnya tersenyum dengan tangannya memegang pipi Melody yang mengusap air mata itu dengan lembut.
" Aku memenuhi janjiku pada kak Marsel. Aku telah membawamu pulang. Maafkan aku Melody telah membuatmu banyak menderita karena bersamaku dan penderitaan kamu benar-benar akan berakhir," ucap Ardian yang bicara terbata-bata.
Melody menggelengkan kepalanya dengan air matanya yang tidak henti-hentinya menetes.
" Apa yang kamu bicarakan. Aku tidak pernah menderita sama sekali. Aku selalu bahagia bila bersamamu. Jadi aku mohon bertahanlah. Kita akan sampai. Kita sudah berjanji untuk menemui Chaca. Kamu harus bertahan karena Chaca menunggu kita," ucap Ardian.
" Maafkan aku Melody. Tetapi aku tidak bisa bertahan. Maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku untuk sama-sama menemui Chaca. Katakan kepadanya aku sangat menyayanginya," ucap Ardian yang berbicara dengan menahan rasa sesak.
" Apa yang kamu bicarakan Ardian. Kamu harus bertahan. Kamu tidak boleh meninggalkan Melody dan juga Chaca. Kita sudah berjuang sama-sama. Jadi bertahanlah. Kita akan sampai sebentar lagi," ucap Evan yang juga memberikan semangat untuk Ardian agar bertahan.
" Benar Ardian, kamu harus bertahan, kasihan Melody. Kamu tidak bisa melihatnya seperti ini," sahut Lea yang juga menambahi.
" Bertahan Ardian, sebentar lagi akan sampai. Percayalah kamu tidak akan apa-apa. Kamu harus kuat," sahut Alvin yang juga menambahi.
" Kamu harus ingat Ardian Tante Widia dan yang lainnya juga sedang menunggu. Jadi bertahanlah. Kita akan pulang sama-sama dengan selamat," sahut Rasti lagi.
Ardian hanya diam saja dengan mengeluarkan senyumnya yang pasti sudah tidak sanggup lagi untuk bicara. Dan Melody terus saja menangis yang memegang dinginnya tangan Ardian yang terus menahan kesakitan akibat luka tembakan itu.
" Ya Allah aku mohon tolong selamatkan suamiku. Ini semua terjadi gara-gara aku. Aku mohon berikan dia kekuatan. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku. Jika terjadi sesuatu kepadanya. Jadi selamatkan dia ya Allah," batin Melody yang hanya terus berdoa dengan penuh harapan. Menatap lemahnya suaminya yang sedang mempertaruhkan nyawanya yang di ujung tanduk.
__ADS_1
Bukan hanya 1 mobil ambulan saja. Di belakang mereka juga ada dua mobil ambulan yang mengangkat Raisa dan juga Novi. Yang pasti tidak tau bagaimana keadaan 2 orang itu. Sementara untuk anak buah Raisa dan Novi sudah di bawa polisi tanpa tersisa satupun.
**********
Jakarta.
Akhirnya mereka sampai juga di Jakarta setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang dengan kecepatan yang tinggi. Setelah mobil ambulan itu sampai di depan rumah sakit Fatmawati.
Beberapa suster langsung cepat-cepat berlarian dengan membawa kereta dorong pasien dan dengan cepat langsung memindahkan Ardian dari ambulan ke atas kereta dorong pasien.
Mereka semua berlarian memasuki rumah sakit dengan mendorong buru-buru Ardian. Yang dikuti Melody, Rasti, Lea, Alvin, dan juga Evan.
" Maaf yang lainnya tolong tunggu di luar!" perintah suster yang menutup pintu.
" Tapi Dok. Saya ingin melihat suami saya," ucap Melody yang ingin masuk.
" Melody kamu harus bersabar. Semuanya akan baik-baik aja. Biarkan Dokter yang menangani Ardian. Percayakan semua pada mereka," ucap Rasti menegangkan Melody.
" Tapi aku takut, aku takut. Jika terjadi sesuatu padanya. Aku tidak akan memaafkan diriku. Jika terjadi sesuatu pada Ardian," ucap Melody yang tubuhnya bergetar hebat dengan perasaannya yang benar-benar campur aduk.
Lea langsung memeluk Melody agar Melody jauh lebih tenang
" Jangan khawatir Melody. Tidak akan terjadi apa-apa. Kita berdoa saja yang terbaik untuknya. Kamu harus tenang dan jangan berpikiran apa-apa," ucap Lea.
" Aku tidak bisa tenang Lea. Aku takut Lea," ucap Melody yang terus menangis dan Lea hanya terus memeluknya sembari mengusap-usap pundak Melody agar Melody benar-benar tenang. Hal yang sama juga di lakukan Rasti yang ingin menenangkan Melody.
" Aku keluar sebentar!" ucap Alvin.
__ADS_1
" Kamu mau kemana?" tanya Evan.
" Kekantor Polisi. Aku akan menyelesaikan masalah semuanya. Kalian di sini lah," jawab Alvin yang memang harus bergerak untuk mengurus masalah yang lainnya.
" Kamu hati-hati," ucap Lea. Alvin mengangguk dan dia langsung pergi dari tempat itu.
************
Rasti, Melody, Lea dan Evan terus menunggu Ardian buang masih di tangani di ruangan UGD yang tidak tau bagaimana kondisi Ardian sekarang dan mereka juga tidak tau sudah menunggu sampai jam berapa. Yang pentingnya sekarang mereka tetap menunggu dengan harap-harap cemas.
Berita sampainya Melody dan yang lainnya ke Jakarta terdengar pada keluarga Ardian dan juga Melody yang pasti merasa bersyukur dengan kembalinya Melody dan Lea dalam keadaan selamat. Namun mereka di kejutkan dengan apa yang terjadi pada Ardian yang mengalami kritis di rumah sakit karena luka tembakan.
Tidak menunggu lama mereka semua langsung menuju rumah sakit yang sebelumnya di beritahukan Evan. Dan Dania, Wawan, Marsel, Gadis, Eyang besar, Widia Shandra, Mila dan suaminya Bayu sudah menghampiri di mana Melody dan yang lainnya.
" Melody!" panggil Dania ketika melihat putrinya itu. Melody langsung menghampiri mamanya dan langsung memeluknya.
" Mah, Ardian mah, Ardian sedang kritis dan semua itu karena Melody. Melody Nyang menyebabkan Ardian seperti ini. Semua karena Melody," ucap Melody yang mengadu pada ibunya yang menyalahkan dirinya sendiri.
" Kamu tenang Melody, Ardian akan baik-baik saja. Jangan menyalahkan diri kamu. Itu bukan kesalahan kamu. Semua ini terjadi karena memang harus terjadi. Jadi tenanglah Melody," ucap Dania yang terus memeluk erat kekasihnya itu.
" Benar Melody, ini bukan kesalahan kamu. Ardian adalah suami kamu dan sudah sewajarnya dia melindungi kamu. Jadi jangan menyalahkan diri kamu," sahut Widia mengusap-usap rambut Melody.
Evan memang menjelaskan kronologi apa yang terjadi. Mana mungkin mereka menyalahkan Melody. Hanya karena Ardian mengorbankan dirinya untuk melindungi Melody.
Mereka juga tau Melody begitu ketakutan dan merasa bersalah. Jadi sebagai orang yang bijak mereka harus memberi ketenangan untuk Melody. Tanpa menyalahkan Melody atas kecelakaan yang terjadi.
Bersambung
__ADS_1