Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 258 Takut.


__ADS_3

Ruangan Dokter.


Ardian dan Melody sekarang duduk bersebelahan di depan Dokter Gita yang bicara dengan serius. Namun seriusnya bicara hanya untuk Ardian. Di mana mata Gita begitu fokus pada Ardian dan seolah tidak menganggap jika ada Melody di samping Ardian.


Melody harus menahan kekesalan melihat Dokter wanita yang pecicilan yang membuat hubungan orang-orang menjadi huru-hara.


" Astaga jadi ini yang di rasakan Lea. Ya ampun wanita benar-benar ya. Kenapa coba harus sama Ardian mengintipnya. Apa tidak bisa sama Evan saja. Dan aku disini seperti tidak di anggap aku hanya di anggap patung atau mungkin hantu," umpat Melody di dalam hatinya yang mengoceh menahan kekesalannya kepada Dokter yang menurutnya mencari perhatian pada suaminya.


" Jadi begitu lah kesimpulannya Ardian. Bagaimana menurut kamu?" tanya Dokter Gita.


" Hmmm, saya harus diskusikan pada yang lainnya. Keputusan ini tidak bisa di putuskan oleh sepihak saja," sahut Ardian.


" Ya saya mengerti. Tapi mohon jangan lama-lama ya. Karena kita harus memikirkan pasien juga," sahut Dokter Gita.


" Saya mengerti Dokter. Iya kan sayang!" ucap Ardian melihat ke arah Melody yang kelihatan begitu kesal.


" Aku tidak tau. Karena aku juga tidak dengar apa. Aku tidak mengerti dengan apa yang kalian bicarakan," sahut Melody dengan sindiran halus.


" Bu Melody. Kalau begitu seharusnya tidak masuk," sahut Dokter Gita, membuat Melody kesal.


" Apa katanya dia memanggilku ibu sementara suamimu Ardian. Wanita ini benar-benar dan berani mengusirku. Dasar gatel," umpat Melody di dalam hatinya.


" Baiklah Dokter, kalau begitu kami sebaiknya permisi dulu!" ucap Ardian yang tidak ingin terjadi perang karena sudah melihat kemarahan di wajah Melody.


" Baiklah silahkan," sahut Gita tersenyum lebar. Ardian memegang tangan Melody dan membawanya keluar dari ruangan itu. Namun Melody hanya melihat dengan kekesalan Dokter itu.


Gita mengangkat ke-2 bahunya dengan tersenyum, " sangat aneh. Kenapa istri-istri mereka itu pada pikirannya terlalu panjang," batin Gita merasa heran.


" Sayang kamu kenapa sih?" tanya Ardian yang sudah di luar ruangan Dokter Gita dan sekarang harus menghadapi Melody yang ngambek.


" Benar kata Lea. Dia Dokter aneh. Kenapa sih? Alvin harus jadikan dia Dokter Rasti. Sangat tidak kompeten dan tingkahnya banyak, menyebalkan," umpat Melody yang mengeluarkan unek-unekyang di tahannya sejak tadi.


" Sayang sudahlah, mau dia seperti apapun. Itu tidak ada urusannya yang penting aku tidak menanggapinya," ucap Ardian.


" Ya tapi tetap aja. Dia itu cari-cari perhatian pada kamu. Dia terus melihati kamu saat bicara. Dia itu sangat gatel," ucap Melody dengan kesalnya.


" Iya- iya aku paham dengan apa yang kamu khawatirkan. Tetapi intinya kamu tau. Kalau aku tidak akan tergoda dengan wanita seperti itu. Lihatlah di depanku sangat cantik, lalu untuk apa melirik wanita lain," bujuk Ardian memegang ke- bahu Melody.

__ADS_1


" Tapi aku yakin dia akan terus melibatkan mu dan dalam urusan Rasti kalau tidak ada Alvin. Kenapa bukan Evan coba. Jelas-jelas Evan yang berhubungan," ucap Melody dengan wajah kesalnya.


" Kalau begitu kita akan lebih tegas lagi pada Dokter itu," sahut Ardian.


" Memang kamu mau melakukan apa?" tanya Melody.


" Melakukan sesuatu yang tidak membuat istriku marah-marah dan penuh cemburu seperti ini," sahut Ardian dengan lembut yang benar-benar membujuk Melody agar ngambeknya hilang.


" Baiklah," sahut Melody tersenyum yang sekarang perasaannya jauh lebih baik.


" Ardian, Melody!" sapa Widia yang tiba-tiba datang, bersama Eyang, Mila, Widia dan Shandra.


" Mah. Sudah mau pulang?" tanya Ardian.


" Kita mau kerumah di mana Raisa di rawat. Dokter Axel mengatakan Rais a sudah di perbolehkan pulang," jawab Widia.


" Alhamdulillah kalau begitu," sahut Melody kelihatan begitu bahagia.


" Lalu dia akan pulang kemana?" tanya Ardian.


" Syukurlah kalau begitu. Jadi kalian semua akan pergi kesana?" tanya Ardian.


" Kakak tidak ikut Ardian. Kakak mau jemput, Dani, Aliya dan yoga ke sekolah. Sudah waktunya mereka pulang sekolah," sahut Mila yang lain tujuannya.


" Hmmmm, begitu rupanya," sahut Ardian.


" Kalian sendiri bagaimana. Mau ikut apa tidak?" tanya Shandra.


" Kita di sini saja. Soalnya masih ada hal penting mau di bicarakan pada Evan. Jadi nanti saja kami akan mengunjungi Raisa," ucap Ardian.


" Baiklah kalau begitu terserah kalian saja. Kalian jaga saja Rasti dengan baik," sahut Shandra.


" Pasti Tante," sahut Ardian.


" Ya sudah kalau begitu mama berangkat dulu!" ucap Widia pamit Ardian dan Melody mengangguk dan Eyang, Widia, Mila dan Shandra pun akhirnya pergi.


" Ayo kita temui Evan!" ajak Ardian. Melody mengangguk dan mereka juga pergi dari tempat itu.

__ADS_1


**********


Di rumah tempat Raisa di rawat. Terlihat 2 Suster sedang berkemas-kemas barang Raisa karena Raisa akan pindah setelah ini.


" Dokter Axel kemana?" tanya Raisa yang terlihat gelisah sejak tadi pagi dia tidak melihat Dokternya itu.


" Dokter Axel ada pasien mendadak Bu Raisa. Jadi tidak bisa ikut membantu pindahan Bu Raisa," jawab salah seorang suster.


" Apa ketika saya sudah pindah. Itu artinya Dokter Axel tidak akan merawat saja lagi?" tanya Raisa.


" Kalau pasien sudah sembuh memang tidak akan di rawat lagi dan Dokter Axel akan mengurus pasien lain," jawab Suster.


" Lalu saya tidak akan bertemu lagi dengan dia?" tanya Raisa yang kelihatan mencemaskan sesuatu.


" Masalah itu kami kurang tau Bu Raisa. Karena kami juga tidak menanyakan hal itu. Lagian di rumah Bu Raisa yang baru nanti. Kami ber-2 juga tidak ada di sana. Akan ada Suster baru yang menemani Bu Raisa. Karena tugas kami sudah selesai sama dengan Dokter Axel yang mana kami sudah menyelesaikan tugas kamu dan Bu Raisa sudah sembuh," jelas Suster.


Wajah Raisa terlihat cemas yang merasakan sesuatu di hatinya yang menakutkan segala sesuatu.


" Lalu kenapa dia tidak ikut mengantarkanku?" tanya Raisa dengan suara pelannya dengan kesenduan di wajahnya.


" Bu Raisa tidak apa-apa kan?" tanya Suster.


" Aku ingin bicara dengan Dokter Axel. Apa dia bisa datang sebelum aku pindah?" tanya Raisa.


" Kami akan menelpon Bu Raisa bisa bicara melalui panggilan telpon saja," ucap Suster tersebut.


" Baiklah kalau begitu," sahut Raisa dengan tangannya yang saling menggenggam yang mana Raisa begitu panik.


" Kenapa dia pergi begitu saja? seharusnya dia pamitan. Atau mengantarku dan seharusnya kami bicara banyak. Aku memang sudah sembuh. Tapi hubungan kami tidak mungkin selesai begitu saja. Karena aku dan Axel bukan antara pasien dan Dokter lagi. Lalu kenapa dia pergi begitu saja. Tanpa bicara apa-apa kepadaku. Semoga saja dia hanya memang ada pasien mendadak dan akan kembali secepatnya," batin Rais dengan kegundahan hatinya.


Dia merasa tidak akan bertemu lagi dengan pria yang menjadi Dokternya selama ini.


Pria yang membuatnya sembuh dan bahkan ada perasaan lain yang di rasakannya dan Raisa merasa hubungan mereka bukan hanya antara pasien dan Dokter saja. Hubungan mereka sudah lebih dan sangat dekat.


Jadi wajar Raisa tiba-tiba cemas. Karena saat dia benar-benar di nyatakan pulih. Axel malah tidak ada dan bahkan mendengar cerita Suster tadi menguat Raisa menjadi takut. Tidak tau apa yang di takutkannya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2