
Tangan Ardian perlahan bergerak yang terangkat sedikit untuk memegang kepala yang berada di sampingnya itu yang. Dengan perlahan tapi pasti akhirnya Ardian bisa menyentuh kepala Melody langsung dengan mengusap lembut rambut Melody.
Dalam tidurnya Melody yang merasakan ada sesuatu di kepalanya membuat Melody membuka matanya perlahan. Belaian dari rambutnya semakin terasa yang membuatnya merasa ada yang aneh dan Melody langsung meraih tangan di atas kepalanya itu tanpa mengangkat kepalanya.
Merasakan tangan itu membuat Melody dek-dekan yang merasa apa benar atau tidak. Tidak ingin bertanya-tanya dalam hatinya akhirnya perlahan Melody mengangkat kepalanya dengan tangannya yang masih memegang tangan tangan itu.
Air mata Melody langsung menetes. Ketika apa yang di rasakannya ternyata benar. Yang mana Ardian yang ternyata benar-benar sadar. Mata Ardian yang terbuka dan langsung dan mengerjap-ngerjapkan mata itu dengan perlahan.
" Kak Ardian!" lirih Melody yang tidak percaya. Jika benar adanya bahwa Ardian benar-benar sudah bangun. Melody langsung berdiri dari duduknya dan mendekati Ardian dengan membungkukkan tubuhnya mendekati wajahnya itu.
" Kak Ardian sudah bangun," ucap Melody dengan kepanikannya yang tidak percaya melihat Ardian sudah ada di depannya. Dia malah cemas sendiri yang tidak tau harus melakukan apa-apa.
" Kak Ardian, apa ku tidak bermimpi kamu benar-benar bangunkan," Melody masih tidak percaya dan memegang tangan Ardian. Ardian yang tidak bisa bicara hanya mengangguk pelan dengan tangannya yang perlahan memegang pipi Melody untuk mengusap air mata Melody dan Melody pun memegang tangan Ardian di pipinya dengan mencium tangan itu.
" Alhamdulillah ya Allah akhirnya suami ku bangun, Alhamdulillah," ucap Melody yang tidak bisa jika tidak harus menangis karena saking terharunya.
" Aku, aku harus memanggil Dokter," ucapnya yang tiba-tiba kepikiran.
" Dokter! Dokter, Dokter!" Melody memanggil- manggil Dokter untuk memeriksa suaminya. Dia bahkan menekan bel gawat darurat agar Dokter dan perawat datang. Namun apa yang terjadi Dokter sama sekali tidak datang membuat Melody langsung keluar dari kamar dengan buru-buru berlari-lari.
" Dokter! Dokter! Dokter!" panggil Melody dengan suaranya yang kerasa dan barulah Dokter datang menghampiri Melody.
" Dok suami saya sudah bangun. Tolong periksa dia Dok," ucap Melody dengan wajahnya yang panik.
" Baik Bu Melody. Ibu tunggu di luar ya. Saya akan periksa pak Ardian sebentar," ucap Dokter. Melody mengangguk-anggukkan dan menuruti apa kata Dokter yang lebih memilih menunggu di luar dengan wajahnya yang semakin cemas.
" Ya Allah terima kasih engkau telah mengabulkan doaku. Terima kasih ya Allah dengan apa yang kau berikan. Semoga suamiku benar-benar sadar dia bangun dari komanya dan angkat semua rasa sakit di tubuhnya, berilah dia kesembuhan," ucap Melody yang terus berdoa untuk suaminya yang sudah siuman dan sekarang Dokter sedang memeriksa kondisinya.
" Sayang papa kamu sudah bangun sayang. Dia mengabulkan doa-doa kita nak," ucap Melody yang mengusap-usap perutnya yang berbicara pada anaknya.
" Melody!" tiba-tiba Rasti dan Evan datang.
" Rasti!" lirih Melody. Rasti memegang tangan Melody yang terasa begitu dingin.
__ADS_1
" Ada apa Melody? apa yang terjadi?" tanya Rasti.
" Ardian sudah sadar," jawab Melody.
" Kamu serius?" tanya Evan yang tidak percaya.
" Aku serius dan Dokter sedang menanganinya di dalam sana," jawab Melody.
" Alhamdulillah kalau begitu," sahut Rasti dan Evan yang secara bersamaan yang jujur mereka begitu bahagia mendengarnya.
" Ya sudah Melody. Kamu tenang ya. Kita tunggu saja Dokter selesai memeriksa Ardian," ucap Rasti.
" Iya Rasti," jawab Melody yang memang tidak sabaran ingin tau kondisi suaminya. Namun dia harus bersabar.
Rasti, Evan, dan Melody terus menunggu Dokter dengan wajah mereka yang harap-harap cemas. Namun tidak lama akhirnya Dokter keluar dari ruangan itu.
" Dok bagaimana ke adaan suami saya?" tanya Melody yang langsung dengan cepat menghampiri Dokter.
" Alhamdulillah," jawab, Melody, Evan dan Rasti bersamaan yang mengucap rasa syukur atas kembalinya Ardian.
" Pak Ardian sudah melewati masa kritisnya dan tinggal pemulihan saja. Jadi Bu Melody dan yang lainnya juga harus memperhatikan kesehatannya agar pemulihannya semakin cepat," ucap Dokter memberikan saran.
" Baik Dokter. Terima kasih Dokter untuk selama ini memberi bantuan kepada suami saya. Terima kasih untuk semuanya," ucap Melody yang merasa lega.
" Sama-sama Bu Melody," jawab Dokter.
" Lalu Dokter apa kami boleh melihat Ardian?" tanya Evan.
" Maaf pak, untuk sementara belum. Biarkan suster melepas beberapa alat di tubuh Pak Ardian dulu yang tidak di gunakan lagi. Kami juga akan memindahkan pak Ardian ke ruang perawatan dulu. Setelah itu baru pihak keluarga boleh menjenguknya dengan catatan harus memenuhi prosedur yang ada," jawab Dokter dengan penjelasan.
" Baiklah Dokter kalau begitu. Terima kasih sekali lagi untuk bantuan Dokter," sahut Evan.
" Sama-sama. Ya sudah kalau begitu saya kembali dulu!" ucap Dokter yang akhirnya langsung pergi.
__ADS_1
Rasti langsung memeluk Melody.
" Alhamdulillah Melody. Akhirnya Ardian sadar juga. Ini semua karena doa-doa dan juga kesabaran kamu," ucap Rasti yang merasa begitu lega.
" Kamu benar Rasti. Aku sangat bersyukur dengan sadarnya Ardian," jawab Melody dengan air matanya yang menetes yang begitu bahagia dengan kembalinya suaminya yang sudah bangun dari koma.
" Alhamdulillah Akhirnya Ardian kau sadar juga. Dan Melody sudah tidak sedih lagi," batin Evan yang merasa lega dengan kabar bahagia yang barusan saja di perdengarkan itu.
*********
Di kediaman Ardian.
Baru saja Mila selesai menutup telpon dan terlihat Mila yang menghela napas dalam penutupan telpon itu.
" Telpon dari siapa Mila?" tanya Shandra yang kebetulan lewat.
" Tante. Aku dapat telpon dari Evan. Katanya Ardian sudah siuman," jawab Mila yang begitu gemetar menyampaikan berita itu.
" Ardian siuman?" bukan Shandra yang bertanya melainkan Widia yang tiba-tiba ada di tempat itu bersama Eyang besar dan Aliya.
" Benar mah, Ardian sudah siuman dan sekarang Dokter sedang memindahkannya keruang perawatan. Ardian sudah melewati masa-masa kritisnya," jelas Mila selengkap-lengkapnya.
" Alhamdulillah," sahut semuanya dengan serentak yang tidak percaya mendapatkan kabar bahagia itu.
" Ya Allah terima kasih. Akhirnya putra ku bangun dari komanya. Terima kasih ya Allah untuk kesempatan yang kau berikan ini," ucap Widia yang tidak henti-hentinya untuk bersyukur.
" Ya sudah. Kita jangan membuang waktu lagi. Ayo kita kerumah sakit," sahut Eyang.
" Iya-iya sebaiknya kita secepatnya kerumah sakit," sahut Shandra.
" Aliya ikut ya," ucap Aliya yang lainnya mengangguk dan semuanya langsung buru-buru untuk melihat Ardian kerumah sakit.
Bersambung
__ADS_1