
Ardian yang tiba-tiba kepikiran untuk melakukan tes DNA langsung memasuki ruangan Chaca di mana kondisi Chaca yang masih sangat kritis dengan mulutnya yang di beri alat bantu pernapasan. Ardian berada di samping tempat tidur Chaca dengan tangannya yang sudah memegang gunting.
" Aku tidak bisa mencari tau dengan jelas. Bertanya pada keluarga Melody hanya sama saja dan bertanya pada Melody juga hanya akan membuatnya kembali trauma. Aku tidak bisa memaksanya dan ini jalan satu-satunya," batin Ardian yang sudah yakin akan melakukan tes DNA.
Dengan tarikan napas yang panjang dan membuangnya perlahan. Ardian pun langsung menggunting ujung rambut Chaca hanya sedikit saja, setelah itu Ardian memasukkan kedalam plastik klip.
Ardian melihat wajah Chaca. Perasaannya begitu sakit saat melihat Chaca yang lemah tak berdaya.
" Kamu anak yang kuat. Pasti kamu akan sembuh secepatnya," batin Ardian dengan tatapan sendu kepada Chaca. Setelah berhasil mendapatkan apa yang di butuhkannya. Ardian pun melangkah keluar dari ruangan itu.
" Papa! tiba-tiba Chaca mengeluarkan suara yang membuat Ardian kaget dan langsung dengan cepat membalikkan tubuhnya untuk melihat Chaca.
" Chaca," pekik Ardian dengan wajah kagetnya yang buru-buru menghampiri Chaca. Di lihatnya gadis kecil itu dengan memegang kuat tangan Chaca.
" Papa!" Chaca kembali mengeluarkan kata yang sama yang membuat Ardian kaget. Chaca melindur.
" Ya Allah apa Chaca sudah sadar," ucap Ardian dengan memegang tangan Chaca yang begitu dingin. Mata Chaca masih terpejam layaknya orang tertidur.
Ardian mengusap-usap pucuk kepala Chaca dan mencium lembut kening Chaca.
" Anak baik, kamu harus sembuh," ucap Ardian yang tiba-tiba meneteskan air mata.
" Kak Ardian!" panggil Melody yang tiba-tiba memasuki ruangan itu. Mendengar nama Melody membuat Ardian langsung mengusap air matanya menyembunyikan sampel yang tadi di ambilnya.
" Hey, Melody," sahut Ardian.
" Chaca kenapa?" tanya Melody.
" Tidak apa-apa Melody, tadi dia hanya bersuara memanggil papanya," jawab Ardian apa adanya.
" Benarkah! apa itu artinya Chaca sudah sadar?" tanya Melody.
" Itu hanya mengingau yang terjadi di alam bawah sadarnya," sahut Ardian.
" Kalau begitu aku akan panggil kak Marsel," ucap Melody.
__ADS_1
" Tidak usah. Nanti saja," ucap Ardian mencegah istrinya.
" Hmmm, baiklah kalau begitu. Aku hanya berharap Chaca benar-benar sembuh secepatnya," ucap Melody.
" Pasti Melody, kita doakan yang terbaik untuk Chaca," sahut Ardian. Melody mengangguk. Ardian merangkul bahu Melody dengan mencium pucuk kepala Melody.
" Semoga hasil tes DNA ini menjawab segalanya," batin Ardian yang penuh dengan harapan.
***********
" Sayang ada apa?" tanya Gadis saat tangannya di pegang suaminya dan di bawa keluar dari rumah sakit menuju mobil mereka yang terparkir.
" Kamu masuk dulu!" titah Marsel.
" Untuk apa? memang kita mau kemana?" tanyanya dengan wajah bingungnya.
" Aku ingin bicara penting. Ayo masuk!" jawab Marsel. Gadi pun menurut dan akhirnya memasuki mobil dan suaminya juga menyusul.
" Ada apa sayang? apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya gadis yang terus penasaran.
" Chaca! kenapa Chaca?" tanya Gadis.
" Darah Ardian dan darah Chaca itu sama dan aku menanyakan kepada Dokter masalah itu. Dokter mengatakan golongan darah AB positif itu hanya di miliki orang tua kandungnya yang lebih sering dari seorang ayah," ucap Marsel.
" Lalu. Apa maksud kamu. Chaca itu anak Ardian?" sahut Gadis yang langsung bisa menangkap jalan pikiran suaminya.
" Banyak kemungkinan. Karena sudah banyak tanda-tanda nya. Kamu perhatikan wajah Chaca dia lebih mirip pada Ardian dari pada Melody. Yang ke-2 Chaca tidak menyukai kacang merah dan jika di campur sup Chaca menyukainya dan itu sama seperti Ardian dan yang paling parah darah Chaca sama dengan Ardian. Yang mana kamu dengar sendiri kata Tante Widia jika darah Ardian sama dengan papanya dan aku juga menanyakan pada Dokter dan penjelasan Dokter seperti yang aku katakan tadi," jelas Marsel.
" Apa itu tidak kebetulan saja?" tanya Gadis yang masih ragu.
" Jika kebetulan itu tidak mungkin Gadis," sahut Marsel.
" Tapi bukannya Melody waktu itu bilang kalau dia di perkosa oleh orang yang tidak di kenalnya," ucap Gadis.
" Berarti Melody bohong. Karena dia juga tidak mengatakan siapa orangnya saat itu," sahut Ardian.
__ADS_1
" Apa maksud kamu Ardian yang memperkosanya!" tebak Gadis.
" Mungkin iya dan Melody menutupi semuanya. Aku juga ingat dengan 3 pria yang di tangkap polisi waktu Raisa melaporkannya. Aku melihat ada sesuatu dengan Ardian dan juga Pria itu," ucap Marsel.
" Sayang kita tidak bisa menebak-nebak semuanya begitu saja. Kita harus membuktikannya terlebih dahulu," ucap Gadis.
" Hasil tes DNA nanti akan menjawab semuanya," sahut Marsel.
" Tes DNA. Kamu melakukannya?" tanya Gadis.
" Iya aku melakukannya dengan darah Ardian yang masih tersisa dan juga darah Chaca. Aku meminta bantuan Dokter dan tanpa sepengetahuan Ardian, Melody atau yang lainnya," ucap Marsel yang ternyata juga sudah melakukan hasil tes DNA.
" Lalu bagaimana jika hasilnya memang benar. Ardian bagaimana mau tau Chaca anaknya atau tidak. Melody tidak tau Chaca itu anaknya atau keponakannya. Apa kamu akan pada Melody sebenarnya ketika hasil tes DNA itu tepat?" tanya gadis.
" Jika Melody tau dan sadar Chaca itu anaknya. Aku tidak perlu memberi tahu siapa ayahnya karena dia pasti tau dan Ardian yang tidak tau," sahut Marsel.
" Lalu kamu akan memberitahu Ardian dengan kebenarannya?" tanya Gadis.
" Aku akan mencari tau apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa Melody harus membuat kebohongan hanya untuk melindungi Ardian itu akan aku lakukan setelah tes DNA itu keluar," ucap Marsel.
" Baiklah! terserah kamu saja. Aku juga berharap tes DNA keluar. Lagian Melody harus tau jika Chaca adalah anaknya dan bukan anak kita. Aku berharap Melody bisa menerima semuanya tanpa mengungkit masa lalunya," sahut Gadis yang hanya mengikuti suaminya.
" Iya," sahut Marsel, " sekarang kita kerumah Ardian," ucap Marsel.
" Untuk apa?" tanya Gadis.
" Memasukkan wanita itu kedalam penjara," ucap Marsel.
" Raisa maksud kamu?" tebak Gadis.
" Iya aku akan memenjarakan wanita itu. Dia sudah berani mencelakai Chaca. Kali ini aku tidak akan mengampuninya," ucap Marsel dengan mengepal tangannya.
" Aku juga setuju. Dia memang harus di penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Chaca seperti itu karena perbuatabnya. Aku sungguh geram dengannya. Walau Chaca bukan anakku. Tetapi tetap aku tidak bisa membiarkan orang lain menyakitinya," sahut Gadis yang ikutan geram.
" Ya sudah sekarang kita pergi!" ucap Marsel. Gadis mengangguk yang pasti hanya akan mengikuti kemana suaminya dan dia juga pasti mendukung suaminya untuk memenjarakan Raisa. Wanita kejam.
__ADS_1
Bersambung