
" Mau lari kemana kalian," tiba-tiba terdengar suara yang membuat semua orang itu menghentikan pekerjaannya dan melihat kebelakang yang ternyata suara itu berasal dari suara Pria berbadan besar. Adian, Melody, Lea, Alvin, Evan dan Rasti terkejut melihat apa yang sekarang di depan mereka bukan hanya satu Pria melainkan banyak Pria yang sekarang benar-benar mengepung mereka.
" Sial," umpat Alvin ketika benar-benar di jebak oleh musuh-musuh ini.
" Ardian, bagaimana ini?" tanya Melody yang ketakutan yang memegang lengan suaminya.
" Tidak apa-apa Melody, kamu jangan takut aku akan terus ada di sisi kamu, aku tidak akan jauh dari kamu," ucap Ardian yang memegang tangan Melody yang berusaha untuk menenangkan Melody.
" Gawat, bisa-bisanya mereka ada di sini. Raisa dan Novi benar-benar tidak menyerah. Apa lagi yang di ingin kan mereka. Rencana jahat mereka jelas berantakan," batin Lea yang gelisah dan panik dengan banyaknya pria-pria berbadan besar di hadapan mereka.
" Apa yang kalian inginkan. Di mana bos kalian tunjukan mereka kepada kami," sahut Alvin dengan menantang.
" Jika ada kami. Untuk apa bos kami akan turun tangan. Jadi langkahi dulu mayat kami. Agar kami mendapatkan yang kami inginkan untuk menghabisi kalian semua," sahut salah satu Pria itu dengan menyombongkan dirinya.
" Jangan mimpi kalian. Kalian itu bukan tandingan kami dan sebaiknya. Kalian pergi dari tempat ini," sahut Evan dengan wajah garangnya.
" Hahahaha," pria itu tertawa terbahak-bahak dan di ikuti yang lainnya. Sementara Melody dan yang lainnya hanya saling melihat dengan menautkan ke-2 alis mereka.
" Apa yang di tertawakan mereka. Memang ada yang lucu. Dasar sama saja gilanya dengan bosnya," ucap Rasti dengan geleng-geleng kepala.
" Kalian menyuruh kami pergi. Tidak salah. Kami akan pergi dan membawa mayat kalian," ucap Pria yang sejak tadi bicara yang mungkin dia itu adalah bosnya yang mewakili semuanya.
" Hahahaha," Pria-pria itu kembali tertawa-tawa yang sepertinya mengejek Ardian dan yang lainnya.
" Kita tidak punya pilihan lain, kita harus melawan mereka," ucap Ardian pada Evan dan Alvin.
__ADS_1
" Iya kita harus melawan orang-orang brengsek ini," sahut Alvin setuju.
" Tapi Ardian mereka sangat banyak. Mana mungkin kalian melawan mereka. Kalian hanya ber-3," ucap Melody yang begitu khawatir.
" Benar kata Melody, kalian bisa babak belur nanti," sahut Rasti.
" Tidak ada pilihan lain Rasti. Karena mau kabur pun tidak bisa. Jadi hanya dengan melawan mereka yang bisa kita lakukan," sahut Evan.
" Melody, Lea, Rasti. Kalian di sana menunggu. Jangan melakukan apa-apa. Kamu harus percayakan kepadaku dan Alvin juga Evan. Semuanya akan baik-baik aja," ucap Ardian yang menghadap Melody memberikan keyakinan pada Melody.
" Di dalam mobil ada pisau, kalian gunakan sebagai pegangan untuk melindungi diri. Apapun yang kalian dapatkan gunakan untuk melindungi diri di saat kalian lengah nanti," sahut Alvin menambahi yang memberi saran.
" Baiklah, kami akan melindungi diri kamu dengan cara kami dan kalian lawan lah merdeka," sahut Lea.
" Kalian ber-3 harus terus berdekatan jangan berpisah-pisah," ucap Ardian yang memberikan ingat.
" Eh, apa yang kalian diskusikan ha!" sahut Pria yang berbadan besar itu.
Rasti, Lea dan Melody saking berdekatan. Ardian, Evan dan Alvin saling mengangguk dengan kode mata dan akhirnya tidak menunggu lama-lama. Mereka langsung melakukan penyerangan yang mana saking baku hantam.
Melody, Rasti dan Lea menuju mobil yang melakukan apa yang di perintahkan Alvin tadi. Mereka harus mencari alat-alat yang bisa untuk melindungi mereka. Setelah mendapatkannya.
Melody, Rasti dan Lea sedikit menjauh dari pertempuran puluhan lawan 3 mereka bertiga hanya menyaksikan orang-orang yang mereka cintai yang kewalahan dalam menghajar musuh-musuh itu yang mana saling mengelak, saling memukul dan memang terlihat Ardian, Alvin dan Evan sangat ahli dalam berkelahi karena sudah ada beberapa musuh yang terlihat lemah dan bahkan ada yang sudah pingsan.
" Ya Allah tolong selamatkan suamiku. Semoga dia tidak apa-apa ya Allah. Aku mohon kepadamu ya Allah. Lindungi kami semua," batin Melody dengan kepanikannya yang hanya bisa berdoa meminta pada penciptanya.
__ADS_1
" Evan, aku tau kita sering ribut, sering bertengkar. Tetapi aku tau kamu itu laki-laki yang bertanggung jawab yang terus menerus melindungiku dan banyak yang kamu lakukan untukku. Sama dengan hari ini. Di mana kamu benar-benar melawan mereka semuanya. Aku janji setelah kejadian ini. Aku tidak akan mencari gara-gara lagi yang membuat kita bertengkar. Aku tidak akan memperbesarkan masalah lagi. Aku jauh lebih dewasa setelah ini. Aku janji Evan," ucap Rasti dengan matanya berkaca-kaca yang melihat perjuangan kekasihnya yang melawan orang-orang itu.
Bahkan Rasti merasa ngeri saat melihat Evan beberapa kali kenak pukulan karena kewalahan melawan banyak orang. Hatinya begitu tersentuh melihat keseriusan pacarnya itu.
" Alvin. Karena masalahku kau harus mengahadapi semua ini yang sebenarnya kau tidak perlu ikut-ikutan. Tetapi kau harus ikut-ikutan. Karena hanya untukku. Maafkan aku Alvin harus melibatkan mu terlalu jauh," batin Lea yang terus melihat Alvin yang mana baru saja ke-2nya.
Perkelahian terus saja terjadi. Tiba-tiba Ardian melihat salah satu anak buah yang ingin mencelakai Melody, Rasti dan Lea. Namun belum sempat hal itu terjadi Ardian langsung berlari dan mengajar orang-orang tersebut dan langsung menghajarnya.
Melody, Rasti dan Lea juga menghindar dalam ketakutan. Ardian sendiri ke walahan menghajar orang-orang yang berusaha menghajar Melody dan yang lainnya.
Tetapi Lea dan Melody, juga Rasti ikut melawan karena mereka juga membela diri dengan alat yang telah mereka ambil.
Perkelahian itu terus saja. Sampai Lea, Rasti, dan Melody ikut-ikutan melawan orang-orang itu bahkan sampai berpisah yang mana mereka semuanya tetap berusaha mengganjar orang-orang tersebut. Walau musuh-musuh itu sudah banyak berkurang karena di lumpuhkan Ardian dan yang lainnya.
Di tengah perkelahian yang semakin memanas itu tiba-tiba. Segerombolan anak buah berdatangan.
" Woy!" tiba-tiba terdengar suara lantang yang membuat perkelahian berhenti dan melihat ke arah sana.
" Akhirnya!" ucap Alvin menyunggingkan senyumnya. Kala melihat orang-orang tersebut.
" Kau mengenal mereka?" tanya Evan.
" Dia anak buahku," jawab Alvin.
" Syukurlah kalau begitu. Kita bisa terbantu sedikit," ucap Ardian yang merasa lega.
__ADS_1
" Ayo kita habisi mereka," sahut salah satu anak buah Alvin. Yang lain mengganguk dan langsung menghajar musuh-musuh bosnya itu. Yang mana pasti Alvin langsung lega karena anak buahnya datang tepat waktu. Walau baginya sudah telat.
Bersambung