Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 250 mengetahuinya.


__ADS_3

Melody dan Lea menghentikan langkahnya saat melihat Rasti menemui Suster.


" kenapa Rasti begitu serius sekali. Sepertinya dia sering ke rumah sakit. Aku bisa melihat hal itu," ucap Melody.


" Kamu benar. Dia juga tampak dekat dengan Suster itu terlihat dari cara bicaranya dia sering berkomunikasi dengan Suster," sahut Lea yang mereka berdua dari kejauhan memperhatikan gerak-gerik Rasti.


" Suster itu juga yang aku temui dan Ardian kemari," ucap Melody.


" Untuk apa ya Rasti kemari dan menemui Suster?" tanya Lea degan heran.


" Pasti ada sesuatu yang terjadi," sahut Melody.


" Ayo kita ikuti lagi," ucap Lea ketika melihat Rasti sudah pergi bersama suster. Melody mengangguk dan mereka mengikuti suster.


Lagi dan Rasti menghentikan langkah mereka dan melihat lagi Rasti memasuki ruangan Dokter firman yang sama dengan apa yang di lihat Melody kemarin.


" Untuk apa dia kesana?" tanya Lea.


" Berarti benar. Kemarin Rasti masuk


kedalam ruangan itu," sahut Melody.


" Maksud kamu?" tanya Lea.


" Yang aku ceritakan pada kamu. Aku kehilangan jejaknya di tempat ini. Aku curiga dia masuk kedalam. Namun tidak bisa di buktikan karena terhalang oleh Suster," jawab Melody.


" Itukan Dokter kanker rahim. Untuk apa dia memasuki ruangan Dokter itu?" tanya Lea dengan wajah herannya yang melihat jelas tulisan Dokter itu.


" Kita sama-sama di sini Lea. Jadi aku juga tidak tau," sahut Melody.


Mereka berdua hanya penasaran dengan penuh tanda tanya melihat Rasti yang memasuki ruangan itu. Namun ternyata Rasti tidak lama di ruangan itu. Rasti sangat cepat keluar dari ruangan itu. Lea dan Melody langsung bersembunyi.


" Apa sebenarnya yang di lakukannya?" tanya Lea.


" Aku tidak tau," sahut Melody.


" Lalu sekarang kita bagaimana. Apa yang harus kita lakukan. Percuma mengikutinya. Kalau tidak tau apa-apa," ucap Lea.


Melody tampak berpikir dengan serius dan melihat kondis yang ada, " aku ada ide," sahut Melody dengan cepat.


" Apa?" tanya Lea. Melody langsung berbisik di telinga Lea dan Lea tampak mendengarkannya dengan serius.


" Bagaimana menurut kamu?" tanya Melody.


" Ide kamu bagus. Ya sudah kalau begitu sekarang juga kita laksanakan jangan membuang-buang waktu," ucap Lea.


Melody mengangguk. Lea dan Melody tampak berpisah entah apa yang di lakukan 2 wanita yang sekarang menjadi Dektektif itu. Di mana mereka berpencar untuk mencari petunjuk yang tepat. Karena mereka benar-benar begitu penasaran dengan apa yang terjadi pada Rasti.


**********


Rasti ternyata belum pulang dari rumah sakit. Rasti menebus obat di apotik yang ada di rumah sakit.


" Makasih ya Suster," ucap Rasti mengambil obatnya dari tangan Suster dengan kantung obat. Lalu berbalik badan. Namun saat berbalik badan Rasti menabrak seseorang.


" Auhhh!" lirih Rasti yang terkejut dan obat-obatan ditangannya berserakan. Yang ternyata wanita yang di tabraknya adalah Melody.

__ADS_1


" Ya ampun maaf aku tidak sengaja," sahut Melody yang buru-buru berjongkok mengutipi obat-obatan tersebut. Rasti cukup terkejut melihat ke hadiran Melody yang tiba-tiba saja ada di rumah sakit. Rasti juga menjadi panik dan apa lagi melihat Melody mengutipi obat-obatan itu membuat Rasti juga berjongkok.


" Tidak apa-apa Melody biar aku saja," sahut Rasti yang langsung mengambil dari tangan Melody dan terlihat memang begitu panik dan Melody memperhatikan eksperesi wajah Rasti.


" Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Melody memegang tangan Rasti membuat Rasti mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Melody.


" Tidak aku tidak apa-apa. Memang aku kenapa?" tanya Rasti yang berusaha tenang. Namun dia terlihat gugup. Apalagi Melody melihatnya dengan penuh selidik. Rasti yang tidak ingin Melody mencurigainya. Langsung berdiri setelah berhasil memasukkan semua obat-obatan itu kedalam kantung plastik.


Melody pun menyusul untuk berdiri dan terus memperhatikan gerak-gerik Rasti yang terlihat begitu gugup.


" Kamu ngapain di sini Melody?" tanya Rasti.


" Aku lagi cek kandungan," jawab Melody bohong, " kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Melody.


" Aku, aku lagi jenguk teman," sahut Rasti dengan gugup.


" Hmmm, begitu. Apa obat-obatan itu juga untuk teman kamu?" tanya Melody.


" Iya kamu benar. Obat-obatan ini untuk dia," sahut Rasti dengan tersenyum kaku.


" Hmmm, di kamar no berapa teman kamu. Aku jadi ingin melihatnya," ucap Melody.


Rasti terlihat begitu terkejut mendengarnya. Tangannya memegang erat kantung plastik itu yang di pastikan dia begitu ketakutan.


" Hmmm, nanti saja Melody. Lain kali saja. Sialnya aku harus pulang. Aku buru-buru," sahut Rasti dengan gugup.


" Bukannya obat-obatan itu untuk dia?" tanya Melody.


" Iya benar," sahut Rasti.


" Aku pergi ya Melody. Aku buru-buru. Nanti kita mengobrol lagi," sahut Rasti yang kelihatan menghindar dan langsung pergi sebelum Melody banyak bertanya lagi padanya. Hal itu jelas membuat Melody mencurigai sesuatu dari Rasti.


" Aneh sekali dia," ucap Melody geleng-geleng. Melody membuka tangannya yang terkepal. Ternyata ada 1 jenis obat yang di sembunyikannya yang tidak di ketahui Rasti.


" Obat apa ini?" tanya Melody heran yang tidak melihat petunjuk apa-apa pada obat itu dan Melody jadi tidak tau obat apa itu. Melody melihat ke apotik dan langsung menghampirinya.


" Permisi Suster!" ucap Melody dengan ramah.


" Iya mbak ada apa. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Suster.


" Hmmm, begini mbak saya ingin mengambil obat seperti ini," jawab Melody menunjukkan obat yang di pegangnya yang berada di botol kecil dan Suster langsung mengambil dari tangan Melody.


" Resep dari Dokter nya mana mbak?" tanya Suster. Melody terdiam yang memang tidak ada resep.


" Hmmm, apa harus memakai resep Dokter?" tanya Melody.


" Iya mbak ini obat jika ingin di ambil. Harus ada resep dari Dokter," jawab Suster.


" Begitu rupanya. Soalnya saya hanya di suruh teman. Soalnya obatnya habis," jawab Melody dengan memberikan alasannya.


" Biasanya pasien kalau sudah kehabisan obat harus cek-up," sahut Suster.


" Cek- up?" tanya Melody heran.


" Iya mbak, teman mbak punya masalah di pada rahimnya kan?" tanya Suster yang mengejutkan Melody.

__ADS_1


" Rahim! maksud Suster?" tanya Melody dengan suaranya yang tertahan. Melody sudah mulai merasakan ada yang tidak beres.


" Ini obat untuk masalah rahim. Jadi biasanya pasien yang terkena kanker. Jika obatnya habis harus cek-up dan mendapat resep dari Dokter. Baru bisa di tebus," jelas Suster.


Melody begitu terkejut mendengar apa yang di katakan Suster.


" Tidak mungkin! apa yang di katakan Dokter. Kenapa dia mengatakan soal rahim. Apa yang di bicarakannya," batin Melody seakan sudah mendapatkan jawaban apa yang di carinya selama ini. Wajahnya terlihat begitu shock mendengar kata-kata dari Suster.


" Mbak!" tegur Suster yang melihat Melody bengong.


" Mbak!" Suster menegur lagi. Sampai akhirnya Melody tersadar.


" Iya Suster. Ya sudah kalau begitu saya akan menemui teman saya dulu. Saya akan mengatakan kepadanya untuk segera cek-up," ucap Melody.


" Baik silahkan," sahut Suster dengan tersenyum ramah dan Melody pun buru-buru pergi.


**********


Melody dan Lea akhirnya sama-sama kembali kedalam mobil. Lea yang duduk di kursi pengemudi dan Melody di sebelahnya.


" Aku sudah tanyakan pada Suster. Dan suster tidak memberi tahu apa-apa Melody. Dia bilang itu Rahasia pasien dan tidak boleh di beritahu kepada orang-orang. Jadi aku tidak tau jelasnya mengenai apa yang terjadi lada Rasti," ucap Lea yang ternyata tidak mendapatkan banyak informasi. Sementara Melody sejak tadi hanya diam saja yang wajahnya tampak berpikir keras.


" Tetapi kata Suster Dokter firman adalah Dokter ahli kanker pada rahim," sahut Lea.


" Itu berarti Rasti mengalami kanker rahim," sahut Melody tiba-tiba menarik kesimpulan membuat Lea dengan cepat melihat ke arahnya dan menatap Melody dengan serius.


" Apa maksud kamu?" tanya Lea yang begitu terkejut.


" Aku menemui Suster dan menayakan obat yang di tebus oleh Rasti dan obat itu untuk penderita kanker rahim dan kamu bilang Dokter itu adalah Dokter Ahli kanker dan Rasti adalah ya pasiennya," jelas Melody yang menarik kesimpulan dengan cepat.


" Kamu yakin Melody jika Rasti mengalami hal itu?" tanya Lea yang benar-benar terkejut dengan apa yang di katakan Melody.


" Aku tidak yakin. Tetapi itu mungkin. Aku rasa ini alasan Rasti memutuskan semua ini. Karena semuanya sangat tidak masuk akal dan begitu mengherankan," ucap Melody yang menduga-duga.


Lea terlihat masih terkejut yang benar-benar tidak bisa menyimpulkan begitu saja. Namun dengan cepat Lea menarik gas mobil.


" Kita mau kemana?" tanya Melody heran.


" Kita harus buktikan dugaan-dugaan kita," sahut Lea yang sepertinya akan melakukan sesuatu yang membuat Melody heran.


Namun Melody mengikut saja dengan Lea yang menyetir dengan kecepatan tinggi. Karena Sepertinya mendapatkan sesuatu untuk memperkuat petunjuk mereka.


**********


Di sisi lain ternyata Evan juga berada di dalam mobil yang juga menyetir. Evan mengingat-ingat beberapa percakapannya dengan Rasti beberapa hari terakhir ini. Evan tampak berpikir keras sambil menyetir.


" Apa maksud dari Melody. Apa mungkin semua itu, apa yang terjadi sebenarnya pada Rasti ada apa ini?" batin Evan yang kelihatan berpikir sesuatu yang menurutnya ada sesuatu yang membingungkan.


Ternyata Melody langsung mengabari Evan dan mengatakan semua apa yang di ketahuinya. Melody memang mengatakan itu hanya dugaan saja. Namun Evan langsung kepikiran dan langsung bergerak cepat.


" Rumah sakit. Sebelum berangkat ke Jepang. Rasti mengatakan rumah sakit. Dia periksa ke rumah sakit. Bahkan tes lab di rumah sakit. Lalu Rasti tidak mengatakan apa-apa setelah itu. Dan bahkan Rasti mulai berubah saat itu. Apa mungkin memang ini ada hubungannya," batin Evan yang terlihat berpikir begitu keras.


" Aku harus segera mencari tau apa yang terjadi sebenarnya dengan Rasti. Semuanya memang sangat aneh. Rasti Tidka mungkin mengakhirinya hubungan ini begitu saja. Pasti ada sesuatu," batin Evan yang kembali fokus menyetir yang tidak tau juga tujuannya sebenarnya mau kemana.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2