Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 116 Kritis.


__ADS_3

" Memang kenapa kak Ardian?" tanya Febby heran dengan Ardian yang bertanya mengenai Melody.


" Kakak pikir kamu ada di sisi Melody saat itu," sahut Ardian.


" Seharusnya sih memang iya. Tapi mau bagaimana lagi. Febby juga harus sekolah dan mama papa dan kak Marsel tidak ingin juga membuat Febby kepikiran masalah itu. Makanya Febby tidak ada di sisi kak Melody," jelas Febby yang memberikan alasannya.


" Febby apa itu artinya kamu juga tidak tau di mana Melody melahirkan?" tanya Ardian pada intinya.


" Kenapa kak Ardian tiba-tiba menanyakan hal itu ya," batin Febby yang kebingungan dengan Ardian yang seperti mengintrogasinya.


" Febby kamu tidak tau?" tanya Ardian memastikan lagi.


" Hmmm, aku kurang tau masalah itu kak. Yang aku ingat pada saat itu kak Melody mengalami gangguan mental dan juga dalam keadaan hamil dan setelah itu kak Melody tidak lama di rumah sakit dia langsung di bawa pulang," ucap Febby yang jujur apa adanya.


" Itu artinya Melody di rawat di rumah?" sahut Ardian.


" Iya aku sempat pulang sekali Kerumah. Dan kak Melody di tangani Dokter dan juga aku dengar-dengar cerita dari keluarga kak Melody berobat jalan dengan psikiater gitulah," jelas Febby.


" Lalu Melody melahirkannya kapan?" tanya Ardian.


" Yang melahirkan bukan kak Melody. Tapi kak Gadis. Karena saat aku pulang lagi. Sudah ada bayi dan kata mama itu anak kak Gadis. Ya Chaca sekarang," jelas Febby.


" Jadi kak Gadis yang melahirkan dan Melody tidak apa bayinya meninggal," batin Ardian kepikiran tiba-tiba.


" Febby apa kamu melihat perut Melody membesar?" tanya Ardian. Febby mengangguk yang jujur apa adanya.


" Lalu apa kamu mendengar ada kematian, atau kejadian pada Melody?" tanya Ardian lagi. Febby menggelengkan kepalanya.


" Lalu kamu tidak pernah bertanya. Kemana bayi yang ada di dalam perut Melody?" tanya Ardian lagi.


" Aku tidak tanya sih dan aku takut bertanya. Intinya aku pulang sudah ada bayi dan itu Chaca anak kak Marsel dan juga kak Gadis," jelas Febby.

__ADS_1


" Apa mungkin memang bayi itu sudah tidak ada," batin Ardian yang tidak bisa menarik kesimpulan apa-apa.


" Tapi sangat aneh sih," sahut Febby tiba-tiba membuat Ardian melihat kearah Febby.


" Aneh! apa yang aneh?" tanya Ardian.


" Waktu lagi masa-masa sulitnya kak Melody mama dan papa tidak pernah melihatku pas lagi di malang dan saat itu kak Gadis pernah datang aku melihat kak Gadis biasa aja perutnya tidak seperti orang hamil. Tetapi 3 bulan setelah kak Gadis datang dan aku pulang ke Jakarta kak Gadis sudah melahirkan," jelas Febby dengan wajahnya yang juga kebingungan.


Dari sekian lama baru kali ini Febby berpikiran dengan masalah itu. Ardian terkejut mendengar penjelasan Febby terkejut dengan matanya yang terbuka lebar.


" Ya mungkin saja kak Gadis hamilnya tidak terlihat. Karena kata orang banyak yang seperti itu," sahut Febby menyimpulkan sendiri.


" Ada apa ini. Apa dugaan ku benar, jika Chaca anak Melody. Karena mana mungkin ada orang mempunyai perut ramping dan 3 bulan kemudian langsung melahirkan. Itu sangat mustahil," batin Ardian yang langsung menarik kesimpulan setelah mendengar pernyataan yang baru dari Marsel.


" Apa aku bilang aja sama kak Ardian ya tentang pembicaraan kak Marsel dan kak Gadis waktu di mobil. Kenapa aku merasa pikiranku dan kak Ardian sama," batin Febby yang mengingat-ingat pembicaraan saat di mobil.


" Oh, iya kak Ardian....." sahut Febby


" Sebentar ya Febby," ucap Ardian melihat panggilan dari mamanya.


" Hallo ma ada apa?" tanya Ardian.


" Apa!" pekik Ardian dengan wajah kagetnya yang mendengar apa yang di katakan mamanya.


" Ya sudah Ardian akan segera ke rumah sakit," ucap Ardian yabg mendadak menjadi panik.


" Ada apa kak Ardian?" tanya Febby.


" Chaca masuk rumah sakit, ayo kita secepatnya kerumah sakit," ucap Ardian dengan panik. Febby mendengarnya kaget.


" Ayo cepat!" Ardian berdiri dengan tergesa-gesa dan langsung buru-buru keluar dari Restaurant. Febby yang panik pun langsung menyusul Ardian.

__ADS_1


************


Sementara di rumah sakit semua orang sudah semakin panik. Marsel dan Gadis, ke-2 orang tua Melody juga sudah ada di sana yang langsung datang dengan buru-buru ketika mendengar Chaca kecelakaan.


Melody sedari tadi menangis di pelukan mamanya dan Marsel juga memenangkan istrinya yang tidak kalah menangis seperti Melody. Chaca di tangani Dokter dengan kondisi Chaca yang kritis.


" Ya Allah kenapa masalah ini harus terjadi. Ada-ada saja yang terjadi. Pasti keluarga pak Wawan akan marah pada kami dengan kecelakaan yang di alami cucu mereka dan kejadiannya di rumah kami," batin Wida dengan wajahnya yang sendu melihat keluarga itu yang begitu paniknya.


" Kenapa Raisa ada di sana saat itu. Apa mungkin apa yang terjadi juga karena Raisa," batin Evan yang tiba-tiba kepikiran dengan Raisa.


" Sebaiknya aku pulang, Raisa dan Novi ada di sana. Jika apa yang terjadi dengan Chaca ada kaitannya dengan Raisa. Mereka bisa seenaknya menghilangkan barang bukti. Jadi sebaiknya aku pulang dan mencari tau. Sebelum mereka bertindak yang lain-lain," batin Evan yang langsung mengambil tindakan dan langsung ingin pergi.


" Mau kemana kamu Evan?" tanya Shandra.


" Hmmm, Evan mau pergi sebentar mah," sahut Evan yang langsung pergi.


" Mau kemana anak itu? Ya Allah apa lagi ini. Bisa-bisanya Chaca sampai jatuh, apa yang terjadi sebenarnya," batin Shandra yang memang dia atau yang lainnya belum ada yang tau apa yang terjadi pada Chaca. Karena Melody belum mengatakan apa-apa.


" Ya Allah mas, bagaimana Chaca, aku Chaca kenapa-kenapa," ucap Gadis yang menagis di pelukan suaminya.


" Maafkan Melody kak, ini salah Melody. Melody tidak bisa menjaga Chaca, maafkan Melody!" ucap Melody yang menyalahkan dirinya atas kecelakaan keponakannya.


" Sudah nak, kamu jangan menyalahkan diri sendiri, ini kecelakaan. Kita berdoa saja untuk keselamatan Chaca," sahut Dania.


" Benar kata mama kamu. Kamu juga jangan kepikiran dengan masalah ini. Kamu juga tenangkan diri kamu. Semuanya akan baik-baik saja. Percaya sama papa," sahut Wawan.


" Kami mohon maaf pak Wawan, Bu Dania atas kejadian ini," sahut Eyang besar. Wawan dan Dania hanya diam tanpa merespon. Tiba-tiba pintu ruangan UGD terbuka yang mana Dokter langsung keluar dengan wajah paniknya.


" Dok bagaimana anak saya?" tanya Marsel yang langsung menghampiri Dokter.


" Anak bapak dan ibu masih kritis. Beliau banyak kekurangan darah. Kami akan cek stok darah dulu. Jadi tetap berdoa untuk keselamatannya. Permisi!" jawab Dokter yang singkat dan langsung pergi yang ingin melihat stok darah terlebih dahulu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2