
Setelah memastikan Chaca istirahat, Melody dan Ardian pun keluar untuk makan malam di Restauran di dekat rumah sakit. Di mana mereka belum mengisi perut sama sekali. Melody dan Ardian sudah duduk berduaan yang saling berhadapan dengan Melody yang melihat-lihat menu.
" Kak Ardian mau pesan apa?" tanya Melody. Lagi-lagi mendengar panggilan itu membuat Ardian bergetar dan matanya tidak berkedip melihat Melody.
" Kak!" tegur Melody melambai di depan wajah Ardian yang melihat Ardian bengong.
" Hah, iya," sahut Ardian yang terlihat gugup dengan sedikit kaget.
" Kakak mau pesan apa. Kenapa jadi melamun?" tanya Melody.
" Samakan saja dengan kamu, apa yang kamu pesan itu yang aku makan," ucap Ardian.
" Hmmm, baiklah kak," sahut Melody yang langsung memesan dengan pelayan yang sedari tadi berdiri di sampingnya. Pelayan itu menulis makanan yang di pesan Ardian dan Melody dan begitu selesai mencatat pesanan itu. Pelayan tersebut langsung pergi.
Ardian meraih ke-2 tangan Melody membuat Melody heran.
" Kamu memanggil ku dengan panggilan dulu kamu memanggilku, apa aku tidak salah dengar," ucap Ardian dengan suara lembut.
" Maksudnya?" tanya Melody heran.
" Melody panggilan yang kamu ucapkan tadi. Aku jelas mendengarnya. Apa aku benar-benar tidak salah dengar," ucap Ardian.
" Hmmm, Oh itu. Apa itu aneh?" sahut Melody bertanya.
" Itu tidak aneh. Aku hanya tidak percaya jika kamu akan memanggilku dengan panggilan itu," ucap Ardian.
" Ya memang kenapa. Kitakan usianya beda jauh. Jadi aku harus memanggil kakak supaya terlihat sopan," sahut Melody memberikan alasannya.
" Benarkah hanya karena itu?" tanya Ardian. Melody diam tidak mengangguk ataupun menggeleng
" Melody. Apapun itu. Aku bahagia. Aku tidak perduli alasan kamu apa. Tetapi dengan kamu memanggilku dengan panggilan itu sudah menjelaskan jika kamu benar-benar sudah memaafkanku dan sudah menerima ku kembali," ucap Ardian. Melody tersenyum mendengarnya.
" Aku sudah tidak ingin mengungkit masa lalu. Karena bagiku itu sudah lewat. Yang terpenting sekarang kita berdua sama-sama mengetahui apa yang terjadi dan karena apa. Lalu siapa orang yang menjadi musuh dalam selimut. Kita sama-sama mengetahuinya dan itu sudah cukup untuk kita berdua. Masa lalu biarlah masa lalu. Aku tidak ingin mengungkitnya karena yang terpenting bagiku adalah hubungan kita," ucap Melody dengan keseriusannya.
__ADS_1
" Makasih ya," sahut Ardian. Melody mengangguk dengan tersenyum. Ardian pun mencium punggung tangan Melody. Sudah seperti mau pamitan saja.
Tidak lama akhirnya pelayan pun datang dengan membawa makanan yang di pesan Melody dan Ardian sebelumnya.
" Silahkan di makan mbak, mas," ucap pelayan itu.
" Terima kasih mbak," sahut Melody. Pelayan itu mengangguk dan langsung pergi.
" Ya sudah sekarang kita makan," ucap Melody. Ardian mengangguk dan mulai mencicipi makanan yang di pesankan istrinya dan Ardian tampaknya menyukai makanan itu. Karena Melody memesan makanan yang paling di sukainya. Dia dan Melody mempunyai kesamaan menyukai makanan yang sama.
Melody dan Ardian memang tampak menikmati kebersamaan mereka yang makan dengan romantis untuk menghibur diri. Karena ke-2nya yang memang butuh ketengan. Walau sudah cukup tenang sih.
**************
Setelah makan malam selesai Melody dan Ardian juga langsung pulang dan sebelumnya pasti sudah berpamitan pada orang tua Melody. Chaca juga besok sudah di perbolehkan pulang. Kedatangan Melody memang membuat Chaca merasa jauh lebih baik bahkan sudah sembuh.
Melody dan Ardian yang keluar dari mobil langsung di hampiri Lea yang terlihat Lea begitu terburu-buru dan seperti ingin mengatakan sesuatu.
" Ada apa Lea?" tanya Melody heran dengan Lea.
" Ayo masuk kedalam mobil kembali," ucap Lea. Melody dan Ardian heran namun pun mereka mengikuti Lea yang memasuki mobil kembali di mana Melody dan Ardian duduk di depan dan Lea duduk di belakang.
" Ada apa Lea apa ada hal yang sangat penting?" tanya Ardian penasaran dengan sikap Lea.
" Ardian aku sudah menemukan bukti. Bahwa Raisa yang membakar Villa. Vidio yang pernah aku tunjukkan kepada kamu dan sekarang aku sudah menemukannya," ucap Lea yang membuat Ardian dan Melody kaget.
" Kamu yakin?" tanya Ardian tidak percaya.
" Aku yakin, aku akan mengirimnya langsung ke handphone mu. Sebelumnya aku juga sudah mengertinya ke ponsel Evan untuk jaga-jaga agar ada salinannya," jelas Lea.
" Vidio, jadi kamu mempunyai Vidio itu?" tanya Melody yang tampaknya memang tidak tau.
" Benar Melody," sahut Lea.
__ADS_1
" Lalu kenapa tidak memberi tahunya Karin?" tanya Melody heran.
" Handphonenya tiba-tiba rusak makanya kemarin aku diam dan tidak bisa melakukan apa-apa. Tetapi sekarang. Vidio itu sudah ada. Kamu bisa lihat nanti di handphone Ardian," jelas Lea dengan singkat.
" Syukurlah kalau begitu. Yang penting sekarang Vidio itu sudah ada dan kita sudah punya pegangan," ucap Ardian.
" Iya aku juga lega mendengarnya.
" Ya sudah sebaiknya sekarang kita masuk kedalam kita harus lebih hati-hati dan jaga-jaga. Ingat kita harus berprilaku seperti biasa yang seperti Tidka mencari bukti apapun," ucap Ardian mengingatkan.
" Iya. Kita akan mengikuti saja skenario Raisa yang sampai mana. Yang penting kita sudah menemukan bukti yang lumayan kuat dan biarkan Raisa melakukan apapun yang di inginkannya," ucap Lea.
" Ya sudah ayo kita masuk," sahut Melody Ardian dan Lea mengangguk dan sama-sama memasuki rumah sebelum ada yang tau. Apa lagi mereka juga harus waspada dengan Raisa yang pasti akan membuat ulah.
***********
Feby. Marsel dan Gadis beras di dalam mobil. Di mana Marsel yang menyetir, di sampingnya ada istrinya dan di belakang ada Febby yang sibuk bermain handphone.
" Hmmm, sayang kita ketoko kue sebentar ya," ucap Gadis tiba-tiba.
" Memang kamu mau beli kue?" tanya Marsel.
" Kue kecil aja untuk anniversary pernikahan kita," ucap Gadis.
" Astaga aku lupa sayang," sahut Marsel menepuk jidatnya.
" Tidak apa-apa, yang penting doa untuk pernikahan kita kedepannya," sahut Gadis. Marsel langsung meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat.
" Semoga pernikahan kita langgeng dan kita segera di berikan keturunan," ucap Marsel dengan doanya yang singkat dan padat. Febby yang ada di belakang yang bermain handphone tiba-tiba kaget mendengar pernyataan kakaknya itu.
" Amin. Aku juga mempunyai dia yang sama seperti kamu. Semoga kita di berikan keturunan secepatnya," sahut Gadis yang memperjelas lagi.
" Apa maksud kak Gadis dan kak Marsel, keturunan apa maksud mereka bukannya mereka sudah mempunyai Chaca. Kata-kata mereka seperti pasangan yang belum di karunia anak sama sekali," batin Febby yang kebingungan dengan pernyataan pasangan suami istri itu yang membuat pikirannya jadi bercabang-cabang.
__ADS_1