
Setelah mendapatkan perawatan yang cukup dan kondisi Ardian sudah kau lebih baik. Hari ini Ardian akan kembali kerumah. Yang mana keluarganya juga ikut membantu kepulangannya.
Semuanya berbagi tugas. Mama Melody, papa, Marsel, Gadis, Evan, Rasti dan Widia juga Shandra ikut membantu kepulangan Ardian.
Sementara keluarga yang lainnya menunggu di rumah yang pasti menyiapkan penyambutan Ardian.
" Baiklah aku sudah mengurus administrasi dan yang lainnya. Sebaiknya kita langsung pulang saja," sahut Evan yang baru kembali bersama Rasti.
" Ya sudah lah, kalau memang tidak ada lagi yang harus di urus. Ya alangkah baiknya kita memang langsung pulang," sahut Widia.
" Oke," semuanya tampak setuju saja.. Marsel dan Evan membantu Ardian turun dari ranjang di mana Ardian menggunakan kursi roda dulu untuk menuju mobil.
" Makasih kak," ucap Ardian. Marsel mengangguk saja.
" Ya sudah sekarang ayo kita pulang. Jangan buang-buang waktu," sahut Wawan. Yang lainnya mengangguk dan langsung keluar dari ruangan itu dengan Melody yang mendorong kursi roda suaminya.
" Chaca bantu mami!" sahut Chaca yang tidak mau ketinggalan.
" Tidak usah sayang, mami bisa sendiri," sahut Melody.
" Ayo Chaca biar aunty gendong," ajak Febby.
" Baik Aunty," sabut Chaca yang langsung naik ke gendongan Febby.
Akhirnya mereka sampai depan rumah sakit. Di mana Ardian di bantu Marsel dan Evan masuk kedalam mobil duduk di kursi belakang bersama Melody dan Chaca. Sementara Gadis dan Marsel di bagian depan.
Dania, Wawan dan Febby naik mobil berbeda. Begitu juga dengan Evan, Rasti Widia dan juga Shandra mereka naik mobil berbeda dan pergi dari rumah sakit dengan 3 mobil.
**********
Sementara di kediaman rumah Ardian. Juga sibuk mengadakan acara syukuran penyambutan Ardian. Biasalah keluarga besar itu kalau tidak heboh dan tanpa acara namanya bukan keluarga Eyang besar penuh dengan adat istiadat. Padahal Ardian hanya pulang dari rumah sakit. Tetapi penyambutannya sudah seperti menantu saja.
Eyang besar pasti di kepala panitia yang sejak tadi sibuk memerintah, cucunya, cucu menantunya dan juga cicit-cicitnya.
" Ayo Aliya, Dani Sofanya di geser kemari!" perintah Eyang yang memantau di ruang tamu.
" Iya Eyang," jawab Aliya dan Dani dengan serentak. 2 remaja itu sebenarnya paling malas kalau sudah menghadapi acara seperti itu. Pasti serba salah dan mereka terpaksa aja ikut bantu sana-bantu sini.
Eyang melihat Vivi yang duduk di anak tangga yang asyik bermain handphone.
" Astaga Vivi, kamu ini ya sejak tadi ada-ada aja kerja kamu. Handphone terus. Kamu bantuin dong," tegur Oma geleng-geleng melihat cucu menantunya.
__ADS_1
" Baru aja ngecek handphone Eyang. Ngecek notif masuk ke handphone," sahut Vivi.
" Kamu ini ngeles aja taunya," sahut Eyang besar dengan kesal.
" Cepat bantuin yang lainnya," sahut Eyang.
" Iya Eyang," sahut Vivi dengan terpaksa bangkit dari duduknya.
" Eyang, ini di taruh mana?" tanya Arya yang membawa paper bag.
" Sini Eyang aja yang taruh," sahut Eyang yang langsung mengambilnya.
" Itu kamu kasih tau istri kamu. Supaya tidak malas-malasan," sahut Eyang.
" Aku baru duduk mas," sahut Vivi.
" Ya sudah kamu sebaiknya ke atas. Lihat anak kita, siapa tau dia menangis!" titah Arya.
" Iya," sahut Vivi yang langsung menaiki anak tangga. Untung saja suaminya menyuruhnya naik ke atas melihat anak. Jadi dia bisa sambil leha-leha.
" Hmmm, ada-ada saja," gumam Eyang geleng-geleng kepala dan Eyang tampak langsung pergi kedapur.
" Mila kue bugisnya sudah kamu siapakan?" tanya Eyang besar.
" Oh iya Mila Bayu suami kamu sudah pulang," tanya Eyang besar.
" Sebentar lagi Eyang," jawab Mila.
" Ohhh, ya sudah kalau begitu. Kamu lanjutkan pekerjaan kamu. Kalau ada apa-apa. Kamu bilang sama Eyang," ucap Eyang.
" Iya Eyang. Memang Ardian sudah di mana. Apa sudah keluar dari rumah sakit?" tanya Mila sambil tangannya terus bekerja.
" Tadi Shandra bilang mereka baru keluar. Makanya kamu harus cepat-cepat," jawab Eyang.
" Baik Eyang," sahut Mila dengan tersenyum mengangguk.
" Eyang kembali ke depan ya untuk memeriksa yang lainnya," ucap Eyang. Mika hanya menganggukkan kepalanya dan Eyang pun kembali ke depan dan bertepatan berselisih dengan Iriana yang terlihat rapi- yang sepertinya ingin pergi.
" Mau kemana kamu Iriana?" tanya Eyang membuat langkah itu terhenti.
" Mau keluar bosan di kamar," jawab Iriana.
__ADS_1
" Kamu ini ya. Kamu tau tidak kalau Ardian itu pulang," sahut Eyang.
" Ya tau. Itu mama baru kasih tau," jawab Iriana yang bicara begitu santai.
" Kamu ini benar-benar ya. Bisa-bisanya kamu nggak tau," sahut Eyang kesal.
" Ya ampun ma. Aku tidak mungkin harus mengetahui semuanya. Kayak nggak ada kerjaan aja. Sudahlah aku itu males debat sama mama. Aku mau pergi," sahut Iriana.
" Kamu tidak boleh pergi," cegah Eyang besar.
" Kenapa?" tanya Iriana heran.
" Hari ini Ardian itu pulang dari rumah sakit dan dia sudah di jalan. Jadi kamu tidak boleh pergi. Mengerti!" tegas Eyang.
" Lalu kenapa? kalau Ardian pulang dari rumah sakit. Apa urusannya aku pergi atau tidak. Aku harus menyambut begitu seperti kesibukan orang hari ini kerja tidak menentu. Memang Ardian siapa presiden apa," sahut Iriana terlihat kesal.
" Kamu jangan banyak protes. Pokoknya kamu tidak boleh pergi," tegas Eyang.
" Udahlah ma. Mama itu jangan berlebihan. Ardian itu bukan cucu satu-satunya mama. Bukan juga cucu laki-laki satu-satunya. Jadi nggak usah heboh sana-sinu pakai penyambutan segala. Lebay tau," sahut Iriana.
" Kamu ini benar-benar ya. Mau apapun itu. Ardian jauh lebih baik dari pada kamu," sahut Eyang.
Iriana mendengus kasar mendengar perkataan mamanya itu, " lebih baik dari mana nya. Bukannya sama aja. Aku hamil di luar nikah dan dia juga menghamili wanita sebelum menikah. Jadi lebih baik dari mananya," sahut Iriana dengan sinis.
" Iriana kamu!" sentak Eyang yang terlihat terpancing emosi karena perkataan Iriana yang kelewat batas. Eyang besar menetralkan emosinya dengan mengatur napasnya perlahan.
" Masuk kamar kamu!" tunjuk Eyang pada lantai atas. Iriana masih diam di tempatnya.
" Kamu tidak mau menuruti mama," sahut Iriana dengan wajahnya yang terlihat penuh amarah merasa Iriana sangat keterlaluan.
" Masuk kamar!" bentak Eyang dengan suara keras bahkan membuat orang-orang yang ada di dekat-dekat tempat itu yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing tersentak dan melihat ke arah Eyang dan juga Iriana.
Iriana dengan kesalnya pun akhirnya tidak jadi pergi dan masuk kembali kekamarnya.
" Keterlaluan anak itu," ucap Oma mengusap wajahnya dengan napasnya yang naik turun yang tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulut Iriana. Ya menurutnya itu sangat lancang.
Bersambung.
...Mampir ke karya terbaru aku ya. Jangan lupa like komen, vote sebanyak-banyaknya. Di tunggu ya para readers setiaku.
Jam 10
__ADS_1
...