
Lea keluar dari kamarnya bersamaan dengan Melody yang juga keluar kamar. Karena kamar mereka memang saling berdekatan.
" Lea!" tegur Melody sembari menutup kamarnya.
" Iya Melody," sahut Lea yang juga sama menutup pintu kamarnya.
" Kamu mau kemana malam-malam seperti ini?" tanya Melody berjalan menghampiri Lea. Lea terlihat rapi dan begitu cantik yang seperti ingin pergi ke pesta. Karena penampilannya dengan dress merah selutut nya dengan bagia dada dan punggungnya terbuka.
Namun Lea memakai jaket jeans untuk menutupi bagian terbuka itu. Karena mungkin sangat dingin.
" Hmmm, Aku- aku mau_ Hmmm_ mau," Lea begitu gugup sampai tidak bisa menjawab apa yang sebenarnya yang ingin di lakukannya.
" Mau apa?" tanya Melody menunggu jawaban temannya itu, " Hmmmm kamu mau undangan," Melody menebak sendiri.
" Hah, iya benar," jawab Lea dengan terburu-buru mengangguk.
" Hmmm, begitu rupanya," sahut Melody.
" Ya sudah Melody. Kalau begitu aku pergi dulu ya, daaaa," ucap Lea yang pamitan dan langsung pergi dari hadapan Melody..Terlihat Lea uang begitu gugup. Bahkan sampai menghelai napas saat pergi dari hadapan Melody.
" Aneh sekali. Kenapa aku merasa dia seperti ada sesuatu, lagian tumbenan juga Lea undangan segala, bukannya dia anaknya mageran ya," batin Melody yang melihat punggung Lea yang semakin lama semakin jauh dan sudah tidak terlihat lagi.
" Sayang!" Ardian yang keluar kamar melihat Melody yang bengong.
" Hah iya," sahut Melody sedikit terkejut.
" Kamu kenapa kok bengong gitu?" tanya Ardian.
" Oh, tidak apa-apa. Ya sudah aku ke dapur dulu. Hampir lupa tadi kan mau masakkan kamu mie instans," ucap Melody.
" Ya sudah kita makan di taman aja ya. Aku tunggu di sana," ucap Ardian.
" Iya," jawab Melody Melody dengan tersenyum.
********
Setelah memasak mie instan kuah akhirnya Melody membawa makanan itu ke taman belakang yang mana Ardian sudah ada di sana.
" Sudah selesai!" ucap Melody yang langsung memberikan pada suaminya.
" Makasih ya," ucap Ardian.
" Sama-sama," sahut Melody tersenyum lebar dan Ardian mulai menikmati makanan sederhana yang siapa saji itu. Tidak lupa dia juga menyuapi istrinya.
" Aku tidak percaya akhirnya hari ini datang juga," ucap Ardian.
" Sama aku juga tidak percaya kita bisa bersama lagi," sahut Melody dengan wajahnya yang penuh dengan kebahagian.
" Oh, iya sayang, besok kita jemput Chaca ya. Kita ajak dia main ke tempat biasa!" ucap Ardian yang punya rencana.
" Boleh!" sahut Melody yang pasti sangat setuju. Ardian tersenyum dan kembali menyuapi istrinya yang cantik itu. Ya mereka menikmati kebersamaan mereka do momen yang simple.
Ardian dan Melody yang menikmati kebahagiaan mereka hasil dari segala usaha mereka, berbeda dengan Raisa dan Novi yang harus menelan pil pahit yang berada di penjara yang mana sekarang ke-2nya sangat menyedihkan yang makan apa adanya.
Ya pasti taulah makanan penjara itu seperti apa. Raisa dan Novi yang satu sel dengan beberapa orang yang lainnya yang sekarang duduk di lantai yang begitu dingin yang membuat tulang sakit-sakitan. Dengan makanan yang berada di atas piring plastik.
" Aku tidak percaya jika aku akan berada di tempat ini," ucap Raisa yang tampak tidak terima dengan apa yang terjadi kepadanya.
" Mereka semua itu tidak tau terima kasih, kita sudah melakukan banyak hal. Tetapi ini yang di berikan balasannya kepada kita," sahut Novi.
" Ternyata Lea benar-benar tidak bisa di anggap spele selama ini. Sungguh dia benar-benar bisa melakukan apapun. Bahkan bisa menguasai pikiran Rio," ucap Raisa dengan mengepal tangannya.
" Kamu tau tidak Raisa jika Rio sudah meninggal," ucap Novi yang membuat Raisa langsung melihat serius tantenya itu.
__ADS_1
" Meninggal!" pekik Raisa yang tampaknya memang tidak tau apa-apa.
" Iya dia sudah meninggal," jawab Novi membenarkan.
" Kok bisa dan tante tau dari mana?" tanya Raisa heran.
" Kemarin waktu Tante sedang di periksa penyidik. Tante melihat di televisi jika Rio itu melarikan diri dengan helikopter dan helikopter yang di naikinya terjatuh di gunung salak," jelas Novi.
" Rio melarikan diri dengan helikopter. Berarti secara otomatis orang yang membantu Rio keluar dari penjara bukan orang sembarangan," sahut Raisa menebak-nebak.
" Ya iyalah, asal kamu tau saja. Kalau Rio itu ternyata bandar judi, dan dia punya kekayaan yang sangat banyak. Dia bukan orang sembarangan," ucap Novi semakin membuat Lea semakin tidak bisa berkutik ini itu lagi.
" Tante serius?" tanya Raisa tidak percaya.
" Iya lah rente serius," sahut Novi.
" Dan Lea berhasil menguasai Rio, sampai-sampai Rio memberitahu semua kepadanya," sahut Raisa.
" Ya seperti yang kamu bilang Lea tidak bisa di anggap spele dan meskipun Rio orangnya seperti itu. Lea bisa menaklukkannya dan kita yang menjadi korbannya yang tidak tau sampai kapan kita akan berada di penjara memuakkan ini," ucap Novi.
" Isssss, sial semua ini gara-gara Melody. Lihat saja aku membalasnya dan pasti bukan hanya si Melody itu saja. Aku juga akan membalas Ardian dan juga keluarganya termasuk keluarga Melody. Lihat saja. Aku tidak akan membiarkan mereka semua hidup bahagia di atas penderitaanku," ucap Raisa dengan mengepal tangannya yang penuh dendam kepada orang-orang yang membuatnya di penjara.
" Kita pasti akan membalas mereka. Kita akan menukar posisi mereka. Jadi mereka semua yang akan masuk kepenjara ini. Termasuk Melody si wanita pembawa sial itu," umpat Novi tidak kalah dengan dendamnya.
Bukannya bertaubat mereka malah memiliki dendam kesumat. Kalau sudah memang hati sejak awal sangat kotor. Maka akan tetap kotor seperti itu. Jadi sangat wajar jika ke-2nya yang tidak mungkin bertaubat. Tetapi lebih memilih dendam.
*********
Di malam yang sama. Rasti dan Evan sedang menikmati makan malam di salah satu Restaurant mewah. Rasti baru pulang dari Palembang. Makanya jarang terlihat.
Dan sekarang dia bersama pacaranya sedang menikmati makan malam. Mengingat mereka jarang ada waktu untuk berduaan.
" Kira-kira, Raisa dan Novi bakalan taubat tidak ya," ucap Rasti sambil mengunyah makanannya.
" Iya juga sih. Aku itu nggak percaya deh Evan. Jika keluarga kamu kok bisa ya hidup sama 2 ular yang penuh sandiwara. Huhhhhh bisa-bisanya hidup sampai bertahun, belasan tahun bahkan puluhan, isssss, nggak kebayang aku," ucap Rasti yang geli sampai menggedikkan ke-2 bahunya.
" Seperti konsep awalnya. Apa lagi kalau hutang Budi," sahut Evan.
" Ya, Raisa dan Ardian memang berteman dari kecil dan si Raisanya punya perasaan berlebihan sementara si Ardian tidak sama sekali dan Ardian malah jatuh cinta pada Melody dan tidak mempedulikan perasaan Raisa," ucap Rasti.
" Itulah asal usulnya makanya Raisa menjadi wanita yang tidak terkendalikan. Karena cinta buta dan di tambah lagi dengan pengaruh tantenya ya cinta membuatnya menjadi wanita yang jahat," sahut Evan menyimpulkan.
" Tetapi Melody yang sangat kasihan. Yang menjadi korban dari perbuatan Raisa yang terlalu obsesi dengan Ardian," sahut Rasti.
" Tetapi untung juga Melody nggak bodoh-bodoh amat dan yang penting sekarang masalahnya sudah selesai. Kebenaran akan tetap menang dan Melody pemenangnya dan yang jahat ya sekarang akan menerima balasannya. Karena pasti apa yang di taman itu yang di tuai. Semua ada porsinya masing-masing," ucap Evan dengan bijaksana.
Apa yang di bicarakan Evan sampai membuat Rasti sampai kagum.
" Tumben amat bicara bijak seperti ini," ucap Rasti dengan tersenyum penuh kekaguman.
" Ya sekali-kali tidak apa-apa," sahut Evan dengan tersenyum sambil meneguk orens jus yang di pesananya.
" Iya deh. Tetapi apapun itu. Tetap Lea si paling keren," ucap Rasti dengan mengacungkan 2 jempol untuk Lea.
" Ya Lea, Sicantik dan pemberani, keren sih," sahut Evan tidak kalah memuji sepupunya itu.
" Tapi kira-kira siapa ya yang membantu Lea. Karena jelas masalah sebesar ini pasti ada orang terhebat di belakangnya. Apa lagi sampai berhubungan dengan Rio, semua kejahatan Rio terungkap. Ya aku yakin pasti ada yang membantu Lea. Makanya bisa sampai menyelesaikan semua ini," ucap Rasti merasa Lea tidak mungkin sendiri menuntaskan masalah itu.
" Ya siapapun yang membantunya. Lea ataupun orang itu juga sudah membantu keluarga ku. Yang terpenting masalah selesai," ucap Evan.
" Iya aku lega sekarang," sahut Rasti.
" Sama, aku juga Lea. Ya sudah sekarang kita lanjut makan lagi. Jangan kebanyakan ngobrol," ucap Evan.
__ADS_1
" Baiklah," sahut Rasti dengan tersenyum yang kembali makan dan sekarang menyuapi Evan makan.
" Makasih," sahut Evan. Rasti mengangguk.
" Aku mengenal Lea adalah wanita yang nekat. Aku juga sependapat dengan Rasti yang mana pasti ada yang membantu Lea dan terlebih lagi pasti banyak yang di korbankan. Aku hanya berharap Lea tidak akan apa-apa," batin Evan yang tiba-tiba kepikiran dengan Lea.
*********
Flass back.
Setelah Lea bertemu dengan Rio yang mana ternyata Rio memberikan Lea alamat dan Lea pun langsung menemui orang itu. Alamat yang di tuliskan Rio di handphonenya ternyata rumah besar dan Lea yang datang kesana langsung di antarkan seorang pelayan menuju 1 ruangan yang bernuansa klasik dengan penuh rak-rak buku yang tersusun begitu rapi.
Lea duduk di sofa berwarna putih menunggu gelisah dengan kepalanya yang berkeliling yang mengamati isi ruangan itu yang pasti Lea begitu dek-dekan dengan ke-2 tangannya yang saling mengatup yang dengan hembusan napasnya yang begitu berat.
Tuk, tak, tuk, tak tuk tak.
Suara injakan sepatu membuat jantung Lea semakin dek-dekan yang mana suara sepatu orang berjalan itu semakin dekat dan terdengar suara bukaan pintu yang berasal dari belakangnya.
" Dia ada di sana tuan!" terdengar suara pelayan yang berbicara yang membuat Lea semakin dek-dekan.
Suara langkah itu semakin dekat dan berhenti tepat di belakang Lea. Lea menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan dan Lea ingin berdiri.
" Duduklah!" suara dingin itu membuat Lea tidak jadi berdiri. Suara yang terlihat berwibawa yang membuat Lea semakin jantungan.
Seorang Pria akhirnya duduk di depan Lea. Lea memberanikan diri mengangkat kepalanya dan melihat Pria tampan dengan tubuh bak seperti seorang atlet. Mempunyai sorot mata yang begitu tajam yang mampu menusuk sampai ke uluh hati.
" A_aku_aku datang atas perintah Rio, dia memberikan alamatmu kepadaku," ucap Lea memberanikan diri untuk berbicara dan sebelum Pria itu bertanya kepadanya.
" Kau bernegosiasi dengannya!" Pria itu langsung menebak.
" Jika aku ada di sini. Berarti iya dan aku hanya menemuimu yang aku rasa bisa membantuku," sahut Lea yang bicara sudah mulai tenang.
Pria itu menanggapi keberanian Lea dengan senyum miring, " jika kau bernegosiasi dengan adik tiriku yang kurang ajar itu dan hanya membuat obat itu dan sekarang datang seorang wanita yang membutuhkan bantuanku. Jika kau kemari karena hasil negoisasi. Maka aku juga harus bernegosiasi denganmu," sahut Pria itu dengan wajah tenangnya.
" Ya aku tau kau bukan orang yang bisa di minta bantuan tanpa imbalan. Jadi aku akan menerima tawaran apapun. Jika masalahku dalam 1 hari selesai," sahut Lea yang tanpa basa-basi.
Pria itu sampai geleng-geleng kepala dengan keberanian Lea, " kau benar-benar sangat berani dan langsung to the point. Aku juga sudah menyelidiki mu dan kau begitu tau banyak mengenai Rio. Ya harus aku akui. Jika kau benar-benar hebat," sahut Pria itu.
" Kalau begitu langsung saja. Kau bisa membantu ku apa tidak. Aku tidak punya waktu soalnya," sahut Lea yang ingin bicara pada intinya.
" Baiklah tidak masalah jika harus membantumu untuk negosiasi mu kepada Rio. Kau ingin aku menyelesaikan masalahmu dan juga mengeluarkan Rio dari penjara sebagai imbalan. Maka jika aku melakukan semua itu. Imbalan yang paling besar harus aku dapatkan," ucap Pria itu.
" Aku sudah tau apa yang kau inginkan," ucap Lea yang sudah tau apa yang di inginkan Pria itu.
Pria itu mendengarnya tertawa-tawa kecil. " katakan kenapa rela melakukannya?" tanya Pria itu.
" Aku hanya melakukannya untuk orang yang sudah hancur karena perbuatanku. Jadi tidak masalah untukku. Jika harus melakukannya. Tetapi aku hanya ingin kau menepati janjimu untuk menyelesaikan semuanya," ucap Lea dengan penuh penegasan pada pria itu.
" Tenang nona, aku tidak ingin imbalan dulu baru hasil. Aku harus menunjukkan hasil kerjaku dulu dan setelah semua tuntas. Aku juga akan meminta hak ku," ucap Pria.
" Bagus lah kalau begitu. Jadi aku tidak merasa khawatir lagi. Atau merasa ditipu. Baiklah aku rasa pertemuan singkat kita cukup sampai di sini. Sekarang aku harus pergi," sahut Lea yang langsung berdiri tetapi mata ke-2nya saling menatap.
" Bagaimana jika aku memberikan lebih," sahut Pria itu membuat Lea heran.
" Maksudnya?" tanya Lea.
" Kau juga ingin membersihkan Rio sekalian. Karena kehadirannya membuatku pusing. Anggap saja itu bonus untukmu. Karena kau begitu berani kepadaku," sahut Pria itu dengan senyum mengandung arti.
" Terserahmu. Dia saudaramu. Itu bukan urusanku. Karena yang terpenting bagiku hanya masalahku selesai," sahut Lea dengan menggedikkan bahunya.
" baiklah! anak buahku akan mengabarimu di saat aku menginginkan imbalan ku," ucap Pria itu. Lea hanya mengangguk dan langsung pergi.
" Aku tidak percaya dia sesantai itu," batin Pria itu dengan menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
Bersambung