
Setelah waktunya jam makan siang. Ardian yang sudah berjanji dengan Melody akan menjemputnya di rumah mertuanya. Akhirnya pun kerumah mertuanya.
" Melody tidak mengangkat telponku dari tadi. Apa dia sudah di rumah mama atau belum?" batin Ardian yang menyetir sambil terus menghubungi istrinya yang tak kunjung mengangkat teleponnya.
" Mungkin dia memang sudah di rumah mama. Melody kalau main sama Chaca pasti sudah tidak peduli dengan handphonenya. Makanya Melody tidak mengangkatnya," ucap Ardian berpikiran positif.
Padahal perasaannya tiba-tiba merasa ada sesuatu yang mana mencemaskan istrinya. Padahal istrinya baik-baik saja menurutnya. Tetapi mungkin feeling-nya tidak salah. Karena istrinya memang sedang dalam bahaya.
************
Sementara di rumah Dania dan Wawan. Chaca terlihat bermain-main bersama Gadis. Di mana Gadis yang duduk dengan Marsel di sampingnya yang merangkul istrinya dan Chaca sedari tadi terus bicara pada perut ramping Gadis.
" Mama kapan adiknya akan keluar?" tanya Chaca dengan polosnya. Gadis dan Marsel saling melihat dengan mengeluarkan senyum mereka.
" Chaca harus sabar. Karena masih lama adiknya keluar," sahut Gadis.
" Kok gitu. Kenapa bukan sekarang saja. Kan Chaca pengen ada teman mainnya," sahut Chaca yang di kiranya bisa dikeluarkan begitu saja tanpa adanya proses yang panjang.
" Tidak bisa sayang. Semuanya tidak semudah itu. Semauanya ada prosesnya dan Chaca harus bersabar. Karena adik kecil yang di perut mama itu masih sangat kecil. Kalau adiknya sudah besar baru bisa keluar," jelas Marsel.
" Kalau adiknya mau keluar. Berarti perut mama akan di belah?" tanya Chaca. Marsel dan Gadis saling melihat dengan wajah yang bingung harus menjawab apa.
" Iya sayang," sahut Gadis mengiyakan aja. Mana mungkin dia menjelaskan sang anak akan keluar dari mana. Ya kalau Operasi memang perut akan di belah. Tetapi kalau Normal, mana mungkin ada penjelasan yang detail untuk Chaca yang pasti belum paham.
" Hmmm, begitu. Ya sudah dedek bayi yang di perut mama. Tetap di sana ya. Kakak nungguin dedek bayi supaya cepat keluar. Biar kita bisa main sama," ucap Chaca yang tidak hentinya mengobrol dengan calon adiknya. Marsel dan Gadis hanya tersenyum-senyum saja.
" Gadis, Marsel!" tiba-tiba suara Dania menghampiri ruang tamu dan memanggil anak dan menantunya itu.
" Iya ma ada apa?" tanya Gadis.
" Melody belum sampai bukannya dia mau ngajak Chaca makan siang bersama Ardian?" tanya Dania.
" Tadi di bilangnya lagi di jalan. Tapi dah lama banget," jawab Gadis.
" Mungkin dia langsung kekantor Ardian. Jadi mereka barengan kemari," sahut Marsel yang berpikiran positif.
" Mungkin aja sih. Soalnya dia tadi di antar Lea. Ya mungkin aja di jalan Melody berubah pikiran," sahut Gadis yang sebelumnya memang berkomunikasi dengan adik iparnya itu.
" Assalamualaikum," sapa Ardian yang memasuki rumah.
__ADS_1
" Walaikum salam," sahut semuanya serentak.
Ardian pun menyalam mertuanya itu.
" Papi," sahut Chaca yang langsung memeluk Ardian.
" Sayang kamu apa kabar?" tanya Ardian.
" Baik papi," sahut Chaca yang dengan senangnya bertemu Ardian. Marsel dan Gadis juga begitu senang melihat Chaca yang bahagia.
" Loh Melody mana kok nggak ada sama kamu?" tanya Dania. Ardian menautkan alisnya mendengar pertanyaan mertuanya itu.
" Bukannya Melody sudah ada di sini?" tanya Ardian balik.
Dania, Marsel dan Gadis heran dengan jawaban Ardian yang malah kembali bertanya.
" Jadi Melody tidak menyusul kamu kekantor?" tanya Gadis.
Ardian menggelengkan kepalanya, " tidak sama sekali. Jadi Melody belum sampai?" tanya Ardian yang semakin panik.
" Dia belum sampai. Tadi sebelum kemari. Melody Ngabari kakak yang katanya masih di jalan. Tapi udah lebih 1 jam yang lalu. Makanya kami pikir Melody malah kekantor kamu," jelas Gadis.
" Melody tidak ada kekantor. Kalaupun ada seharusnya mengabariku terlebih dahulu. Dan aku juga menelponnya dari tadi tidak di angkat," ucap Ardian dengan wajah cemasnya.
" Coba telpon lagi. Mungkin lagi di jalan, lagi macet atau mobilnya bermasalah," sahut Dania yang mencoba untuk tenang.
Ardian pun melakukannya. Ardian pun menelpon Melody kembali.
" Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan," sahut operator.
" Sekarang malah tidak aktif," ucap Ardian semakin panik.
" Coba telpon Lea. Karena tadi Melody bilang Lea yang mengantarnya," sahut Gadis Ardian pun menelpon Lea. Dan jawabannya sama. Handphone Lea ternyata mati.
" Mati juga," sahut Ardian. Mereka semua menjadi panik.
" Kemana sih mereka. Kenapa tidak mengangkat telpon," umpat Ardian yang begitu kesalnya. Kesal yang bercampur panik dan khawatir.
" Padahal tadi Melody bilang lagi di jalan. Tapi kok nggak sampai-sampai," sahut Gadis yang juga heran atas apa yang terjadi.
__ADS_1
" Ardian. Coba kamu hubungi penghuni rumah dan siapa tau saja Melody tidak jadi kesana dan sudah pulang kesana," sahut Marsel menyarankan.
Ardian pun melakukan apa yang di katakan Marsel dan dengan paniknya dia menghubungi orang di rumahnya. Terlihat wajah Ardian yang resah saat menghubungi orang dirumahnya.
" Melody tidak ada di sana dan Lea juga pergi dan belum kembali," ucap Ardian setelah menghubungi keluarganya.
" Ya Allah kemana Melody," batin Dania yang semakin panik.
" Aku akan pulang, aku akan tunggu Melody di sana. Kakak kabarin aku nanti jika Melody sampai kemari. Aku akan
" Ya sudah Ardian. Kamu juga kabarin nanti kalau Melody ada di sana," sahut Dania.
" Iya ma," jawab Ardian.
" Jadi makan siangnya tidak jadi?" tanya Chaca.
" Lain kali ya sayang, papi cari mami dulu," ucap Ardian mengusap rambut Chaca.
" Ya sudah papi," jawab Chaca.
" Aku pergi," sahut Ardian dan langsung pergi.
***********
Sementara Alvin di ruangan kerjanya yang bersandar di bangku kerjanya dengan tangannya yang memegang memijat-mijat pangkal hidungnya dengan mata yang terpejam. Dia tidak tidur hanya saja memejamkan matanya yang sepertinya banyak pikiran.
" Kenapa aku terus memikirkan wanita itu. Alvin kau sudah melepasnya. Jadi biarlah dia lepas dark mu," batin Alvin yang ternyata pikirannya fokus pada Lea.
" Tetapi kenapa begitu mudah bagiku untuk melepasnya. Aku tidak pernah sebelumnya seperti ini. Ada apa denganku sebenarnya. Apa yang salah denganku," batin Alvin dengan perasaannya yang tidak bisa di jelaskan.
" Argggghhh sudahlah Alvin. Apa yang kau pikirkan," sahut Alvin yang membuka matanya. Semakin memikirkan Lea kepalanya semakin sakit.
Alvin melihat ponselnya yang berada di atas meja. Tangannya mengambilnya dengan perlahan. Ada rasa ingin menelpon Lea yang mana Alvin sudah melihat kontak Lea.
" Apa aku harus menelponya," batin Alvin yang tiba-tiba ingin menelpon Lea. Padahal baru tadi mereka bertemu dan itu menjadi pertemuan terakhir mereka.
" Argh, sudahlah," umpat Alvin kesal.
Bersambung
__ADS_1