
Penegasan dari mulut Ardian jelas membuat Raisa kaget dengan mata Melotot yabg hampir ingin keluar.
" Apa yang kamu katakan Ardian?" tanya Raisa dengan suara yang menekan yang memprotes keputusan Ardian.
" Aku sudah mengatakan dengan jelas. Siapkan resepsi itu," sahut Ardian menegaskan sekali lagi dan langsung pergi yang tidak ingin mendengar perdebatan lagi. Melody tersenyum miring dengan persetujuan Ardian.
" Ardian, kamu tidak bisa melakukan ini!" teriak Raisa yang berdiri, " Tidak Tante, tidak Eyang, ini tidak bisa terjadi. Bagaimana dengan aku. Aku yang seharusnya menikah dengan Ardian," sahut Raisa marah-marah.
" Siapa kamu?" sahut Melody. Mata Raisa langsung menatap tajam pada Melody.
" Kau masih bertanya siapa aku," sahut Raisa geram.
" Dengar Raisa aku dan Ardian yang menikah. Dan kami bahkan sudah memiliki kesepakatan dan persetujuan Ardian tadi. Karena sudah di pikirkan baik-baik. Di mana dia hanya memikirkan ku dan juga pernikahan kami. Jadi kalau kamu protes itu tidak ada gunanya. 1 Ardian atau aku tidak akan mengubah keputusan itu dan yang ke-2. Kamu bukan siapa-siapa yang harus ikut protes dan lagian aku juga tidak butuh saran mu atau tanggapanmu. Karena kau bukan orang tua, adik, kakak atau bahkan bukan istrinya," ucap Melody bicara dengan tenang yang membuat Raisa mengepal tangannya yabg menahan diri untuk tidak berbuat gila pada Melody.
" Jaga bicaramu Melody. Kau itu hanya istri sementara," sahut Raisa menekan suaranya dengan menatap tajam Melody.
" Apa yang kau pikirkan istri sementara. Raisa aku bukan dirimu yang sebodoh itu. Oh iya satu lagi yang aku lupa mengatakan kepada kalian dan kebetulan Raisa mengungkitnya jadi aku mengingatnya," sahut Melody melihat satu persatu orang di ruang tamu itu.
" Aku istri Ardian dan aku tidak mau di madu atau pernikahan diam-diam di belakangku. Jika itu terjadi maka maaf aku mempidanakan keluarga ini dan termasuk wanita yang mencoba merusak rumah tanggaku. Jadi jika kalian ingin mempertahankan dia untuk di jadikan istri cadangan. Harus menunggu pernikahan ku selesai dulu dan aku tidak tau kapan itu mungkin saja tidak akan pernah selesai," ucap Melody tersenyum miring pada Raisa.
Raisa kesabarannya semakin di uji oleh Melody yang sepertinya sengaja mengatakan hal itu.
" Kurang ajar kamu Melody," batin Raisa yang hanya bisa menyimpan kemarahannya.
__ADS_1
Tidak ada yang berani membantah kata-kata Melody. Semua hanya diam. Eyang besar pun tidak bisa bicara lagi. Dan mungkin memang itu hak yang di inginkan Melody selama menjadi menantu di rumah itu.
" Aku rasa sudah cukup semuanya. Aku permisi dulu," sahut Melody yang langsung pergi dan sebelum pergi dia tersenyum pada Raisa. Senyuman seolah mengejek.
Novi langsung berdiri menghampiri Raisa dan menenangkan Raisa.
" Raisa sudah, kamu sabar ya. Kamu anggap saja ini ujian untuk hubungan kamu dengan Ardian, ayo kamu tenangkan diri dulu," ucap Novi dengan wajah sedihnya yang begitu memprihatinkan dan membawa Raisa pergi dari ruangan tersebut.
" Ya semua sudah jelas. Apa lagi kita siapkan semua resepsinya," sahut Eyang besar.
Yang lain hanya mengangguk tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Memang seharunya tidak ada pernikahan yang di sembunyikan. Dan Melody juga tidak ingin perpisahan.
***********
" Ini jalan yang terbaik. Butuh menjadi orang lain untuk membuat orang-orang itu mendapatkan pelajarannya dan resikonya kerugian untukmu. Kau sudah memikirkannya Melody. Walau ini hanya menyiksa hatimu saja. Harus menjalani kehidupan, Tingg 1 rumah bahkan sekamar dengan laki-laki yang sangat kau benci. Tapi itu pilihan. Kau yang memilihnya. Itu antara pilihan atau takdir mu sudah seperti itu," ucap Melody di dalam hatinya.
Ceklek. Pintu kamarnya terbuka membuat Melody melihat ke sana yang ternyata adalah Lea yang berdiri di depan pintu kamarnya dan tersenyum pada Melody. Melody melihat dengan malas Lea. Bahkan mengalihkan pandangannya dari Lea. Namun Lea memasuki kamar itu.
" Hmmmm, butuh bantuan WO tidak?" tanya Lea yang sudah berdiri di depan Raisa.
" Keluar lah dari kamarku!" usir Melody dengan suara rendahnya.
" Melody kenapa mengusirku. Kau hanya ingin membantumu. Apa kau masih marah kepadaku? tanya Lea. Melody langsung melihat wajah Lea yang terlihat santai.
__ADS_1
" Kau sama seperti mereka dan tidak ada alasan untukku membedakannya. Kau juga menjadi salah satu orang pada saat itu," ucap Melody dengan melihat serius wajah Lea. Lea diam dan tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
" Aku minta maaf Melody," ucap Lea. Melody diam dan kembali tidak melihat Lea lagi.
" Pergilah, jangan mencampuri urusanku," ucap Melody dengan pelan yang tidak ingin melihat Lea.
" Maaf Melody. Aku akan terus mencampurinya. Aku datang kemari karena mendengar Ardian menikah denganmu. Makanya aku ikut Eyang kemari dan pasti juga datang dalam mengakui kesalahan dan juga ingin menebusnya dan dengan cara mencumburi urusanmu dan mengembalikan apa yang seharunya jadi milikmu," ucap Lea dengan kata-kata yang lembut.
" Aku tidak butuh semua itu. Aku bisa mengatasi masalahku sendiri," ucap Melody dengan matanya yang bergenang.
" Tidak Melody. Kamu bukan wanita yang sekuat itu. Jika kamu mengatasinya. Tidak mungkin bertahun-tahun kamu seperti ini. Dan aku hanya ingin membantumu," ucap Lea lagi.
" Melody, kita sudah berteman dari kamu belum mengenal Ardian. Kita bersahabat saling mengetahui satu sama lain," ucap Lea.
" Cukup Lea. Jangan menyinggung persahabatan. Itu hanya akan semakin membuat luka yang kembali perih. Bukan aku yang merusak semuanya tapi kau dan orang-orang itu. Jadi jangan menyinggung kata persahabatan. Bagi ku sekarang aku menantu di rumah ini yang itu artinya kau sepupu Ardian yang juga berarti kau sepupuku dan kata sahabat ataupun apapun itu aku rasa tidak ada. Mungkin dulu iya aku mempunyai sahabat yang sangat aku sayangi. Ataupun aku mempunya pasangan yang aku percayai yang aku cintai. Tapi sama dengan pasangan yang akhirnya aku kubur dan termasuk sahabat itu," ucap Melody dengan mata yang bergenang.
Bicara dengan nada bergetar yang seolah menunjukkan rasa sakit yang masih ada. Tanpa Lea sadari air matanya menetes ketika mendengar kata-kata Melody.
" Pergilah!" usir Melody lagi dengan suara rendahnya. Lea hanya diam mematung yang melihat wajah Melody yang penuh kekecewaan, kemarahan yang seakan baru di keluarkan sekarang.
Ternyata di balik pintu kamar itu terlihat Ardian yang berdiri dan mendengar percakapan Melody dan juga Lea. Hanya ekspresi sendu yang di keluarkan Ardian yang mendengar jelas kata-kata Melody.
Bersambung
__ADS_1