
Lea pun akhirnya mencari-cari kemana Alvin. Karena panik dengan Alvin yang tiba-tiba saja pergi yang dapat di pastikan jika Alvin memang pasti marah dan pasti marah akibat yang terjadi barusan.
" Di mana Alvin? aku harus bicara dengannya. Aku tidak bisa membiarkan dia pergi begitu saja. Alvin aku minta maaf. Semoga kau mengerti Alvin. Jika aku tidak bermaksud melakukan semua ini," ucap Lea yang terus berjalan sambil kepalanya yang berkeliling mencari di mana keberadaan Alvin.
Lea juga sekalian menelpon Alvin. Tetapi Alvin tidak mengangkat sama sekali panggilan telpon itu membuat Lea semakin panik. Lea yang keluar dari rumah sakit akhirnya menemukan Alvin yang terlihat memasuki mobil
" Itu Alvin. Aku tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja. Aku harus pergi," ucap Lea yang langsung mengejar Alvin sebelum Alvin memasuki mobilnya.
" Alvin tunggu!" panggil Lea yang langsung mengejar Alvin, menghentikan Alvin yang memasuki mobil dengan menahan tangan Alvin.
" Alvin kenapa pulang?" tanya Lea. Wajah Alvin terlihat menahan kekesalan.
" Untuk apa aku di dalam?" tanya Alvin balik.
" Alvin kau marah?" tanya Lea dengan lembut.
" Kau masih bertanya aku marah atau tidak," sahut Alvin yang kembali bertanya lagi.
" Alvin...." lirih Lea.
Alvin melepas tangan Lea, " aku hanya rekan bisnis keluargamu saja. Jadi aku tau batas ku harus berapa lama di sana dan aku juga hanya menjenguk saja," jawab Alvin dengan ketus yang pasti penuh sindiran.
" Alvin kau marah?" tanya Lea.
" Kau masih bertanya?" tanya Alvin lagi yang lama kelamaan benar-benar kesal pada Lea.
" Aku bisa jelaskan semuanya Alvin. Mengertilah Alvin. Aku hanya tidak siap dengan semuanya," ucap Lea.
" Aku tidak mengerti denganmu Lea," ucap Alvin geleng-geleng.
" Aku hanya belum siap Alvin. Aku mohon mengertilah. Kamu tau bagaimana posisi ku," ucap Lea.
" Jangan menyuruhku untuk mengerti dirimu. Jika kau tidak siap. Seharusnya jangan bicara dengan ku. Aku sendiripun sudah muak dengan semua ini. Kita sudah membicarakan semua ini. Aku hanya ingin yang terbaik untuk kita berdua. Tetapi apa kau menghentikan begitu saja," tegas Alvin yang kelihatan memang begitu marah pada Lea.
__ADS_1
" Alvin apa yang kau katakan. Semudah itu kau mengatakan muak," tanya Lea yang begitu terkejut mendengar perkataan Alvin yang membuatnya begitu kesal.
" Lalu apa lagi. Jika kau di posisi ku mungkin kau juga akan muak dengan semuanya," ucap Alvin.
" Alvin...."
" Lea cukup!" sentak Alvin. Kita baru saja membahas semuanya tadi. Baru saja di dalam mobil dan apa yang kau lakukan. Kau mempermalukan ku di depan keluargamu yang membuat seakan aku tidak ada artinya. Aku pikir kau mempercayai ku. Atas semuanya. Tapi apa. Lihat apa yang kau lakukan hah!" ucap Alvin yang benar-benar marah pada Lea.
" Kau salah paham Alvin," ucap Kayra.
" Salah paham apa lagi. Semuanya sudah jelas dan masih kau katakan salah paham. Aku tidak mengerti denganmu," sahut Alvin.
" Alvin ini terlalu mendadak untukku. Kau belum terlalu mengenal keluargaku. Kau tidak tau bagaimana keluargaku. Ini tidak semudah kau pikirkan. Tidak semua yang kau katakan Alvin," ucap Lea yang berusaha menjelaskan panjang lebar pada Alvin yang menjadikan alasannya tidak bisa memberitahu hubungan mereka.
" Alvin. Kau hanya tidak sabar. Aku mohon sabarlah sedikit saja Alvin. Semuanya akan baik-baik saja. Bersabarlah," ucap Lea merendahkan suaranya.
" Sampai kapan?" tanya Alvin.
" Aku tidak tau sampai kapan," sahut Lea.
" Apa maksudmu?" tanya Lea.
" Minggir aku mau masuk!" ucap Alvin.
" Kau belum menjawab pertanyaan ku. Apa maksudmu?" tanya Lea.
" Kau mengerti apa maksudku. Jadi minggirlah," sahut Alvin dengan menatap Lea serius.
" Kau tidak menyelesaikan semuanya semudah ini kan?" tanya Lea yang merasa akan ada yang tidak beres.
" Itu jauh lebih baik," sahut Alvin.
Hal itu sungguh mengejutkan untuk Lea yang bisa-bisanya mengatakan hal itu yang mengejutkan bagi Lea.
__ADS_1
" Alvin!" lirih Lea. Alvin tidak bicara lagi yang langsung bertindak dengan menggeser Lea dari mobilnya. Agar dia bisa memasuki mobil dan langsung masuk mobilnya begitu Lea tersingkirkan dan Lea saking terkejutnya melihat sifat Alvin yang 180 derajat berubah membuat jantungnya berdetak kencang sampai tidak bisa berkata-kata dan membiarkan Alvin pergi begitu saja.
" Apa yang dia bicarakan. Apa itu artinya...." Lea merasa sakit di hatinya melihat kenyataan itu.
Ternyata apa Lea dan Alvin yang bertengkar hebat di perhatikan dari jauh Evan dan juga Rasti yang mana mata mereka berdua penuh selidik melihat kejadian itu.
" Aku yakin mereka ber-2 pasti ada hubungan yang serius," ucap Rasti.
" Ya kalau tidak ada. Mana mungkin Alvin sampai ikut-ikutan mencari Lea, melindungi Lea dan lihat kedekatan mereka," sahut Evan.
" Iya. Tapi kenapa mereka seperti tidak ada hubungan ketika di depan umum?" tanya Rasti.
" Aku juga tidak tau mungkin mereka ada Rahasia yang harus di sembunyikan," sahut Evan.
" Hmmm, tapi lihatlah mereka barusan bertengkar. Apa yang mereka tengkarkan?" tanya Rasti.
Evan merangkul bahu kekasihnya itu, " aku tidak tau sayang. Kita sama-sama di sini. Jadi kita tidak mendengar apa yang mereka bicarakan dan biarkan saja mereka ingin membicarakan apa. Itu bukan urusan kita. Mau mereka ada hubungan atau tidak. Itu juga bukan urusan kita. Jadi biarkan saja mereka," ucap Evan yang kelihatan santai menanggapi semuanya.
" Iya sih. Tapi aku juga penasaran dengan hubungan mereka," sahut Rasti.
Evan menghela napasnya panjang, " kenapa harus penasaran. Dari pada kita mengurus hubungan mereka ber-2. Alangkah baiknya kita sekarang jalan-jalan. Kita sudah lama tidak jalan-jalan, tidak dinner, kita sangat lama tidak berduaan," ucap Evan.
Mendengarnya membuat Rasti tersenyum lebar melihat kekasihnya yang juga tersenyum kepadanya itu.
" Hmmmm, kamu benar. Kita tidak pernah bersama. Karena begitu banyak masalah yang terjadi yang kita hadapi," sahut Rasti.
" Iya. Jadi alangkah baiknya kita reflesing dulu," sahut Evan tersenyum lebar.
" Hmmm, baiklah. Tapi kita mau kemana?" tanya Rasti.
Evan mengangkat ke-2 bahunya, " aku tidak tau mau kemana. Sekarang aku antar kamu pulang. Kamu dandan yang cantik. Aku akan mengajakmu jalan-jalan kemana aja yang kamu mau," ucap Evan.
" Benarkah?" tanya Rasti. Evan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu. Ayo!" ajak Rasti. Evan mengangguk lagi dan menggenggam tangan kekasihnya dan mengajaknya ke mobil yang mana mereka akan pergi bersama. Alias pacaran dulu.
Bersambung