
Akhirnya malam semakin larut yang mana mereka ber-2 memasuki mobil untuk beristirahat. Dan lagian juga hujan turun yang mau tidak mau harus membuat mereka memasuki mobil untuk berteduh yang mana semuanya sudah memasuki mobil.
" Semoga besok pagi kita bisa pergi dari tempat ini dan jalanan bisa lancar," ucap Rasti dengan penuh harapan.
" Amin!" sahut semuanya serentak.
" Oh iya apa yang anak buah Raisa dan Novi tidak akan menemukan kita," sahut Melody yang tiba-tiba kepikiran.
" Semoga saja tidak. Aku, Evan dan Alvin akan berjaga-jaga. Jadi kalian istirahat lah," ucap Ardian.
" Semoga tidak ada yang terjadi. Semoga mereka tidak menemukan kita. Karena aku yakin mereka pasti masih mencari-cari kita. Karena mereka tidak akan mungkin membiarkan kita untuk lolos," ucap Lea.
" Lea benar. Aku juga yakin pasti mereka berusaha untuk mencari-cari kita," sahut Melody yang juga kepikiran dengan hal itu.
" Sudahlah kalian jangan memikirkan hal itu. Kalian sekarang yang penting kalian beristirahat," sahut Ardian.
Mereka menganggukkan kepala dan mulai mengambil posisi yang mana mereka duduk saling berhadapan.
" Kamu istirahatlah!" ucap Ardian yang menyuruh Melody untuk beristirahat dengan menepuk pahanya agar Melody tidur di pahanya sebagai bantalnya.
" Melody mengangguk dan langsung merebahkan dirinya tidur di paha suaminya meringkuk seperti janin dan Ardian menyelimuti Melody dengan jaket agar istrinya itu tidak kedinginan.
Sementara Evan dan Alvin pun langsung kedepan di bagian kursi pengemudi untuk beristirahat. Lea dan Rasti juga istrirahat yang rebahan di dekat Melody dan Ardian.
" Aku mengantuk banget dan enak juga kalau tidur hujan-hujanan," ucap Rasti pelan pada Lea yang berada di sampingnya.
" Hmmm, tapi tetap kita harus waspada," sahut Rasti.
" Iya kamu benar. Jangan sampai dedemit itu pada keluar nantinya," sahut Lea
" Ya sudah mati kita istirahat," sahut Rasti.
************
__ADS_1
Malam semakin larut, Melody, Rasti sudah tertidur dan Ardian sendiri hanya bersandar pada mobil yang tidak tertidur yang hanya berjaga-jaga. Sama dengan Evan dan juga Alvin yang tidur-tidur ayam. Sementara Lea kelihatan sudah tidur yang bergerak ke sana kemari.
" Ya ampun kenapa tiba-tiba kebelat pipi ya. Sudah tau hujan," batin Lea yang ternyata menahan kencing makanya begitu gelisah.
Lea juga melihat Rasti dan melihat Rasti yang terlelap tidur dan begitu juga dengan Melody yang pasti lebih nyenyak yang berbantalkan paha suaminya.
" Argggghhh bagaimana ini," batin Lea yang memegang bawah perutnya karena benar-benar menahan pipis.
" Kamu kenapa Lea?" tanya Ardian yang melihat Lea gelisah.
" Hmmm, aku mau pipis," jawab Melody yang akhirnya duduk yang bersandar pada mobil.
" Ya sudah ayo aku temani," ajak Evan yang mendengar kelurahan Lea yang berminat menemani sepupunya itu. Karena tidak mungkin membiarkan Lea untuk keluar sendirian ke pinggir sungai.
" Sana di temani Evan!" suruh Ardian lagi. Lea menganggukan kepalanya.
" Biar aku aja!" tiba-tiba Alvin mengeluarkan suaranya yang tampaknya tidak rela jika Evan harus menemani Lea.
" Ayo!" ajak Alvin mengambil payung yang ada di dekatnya dan langsung keluar dari mobil. Lea tampak ragu yang harus di temani Alvin.
" Sana Lea buruan!" suruh Evan lagi yang masih melihat Lea bengong.
" Ya sudah," sahut Lea yang akhirnya mau dan juga turun dari mobil yang keluar dari belakang.
***********
Akhirnya Alvin menemani Lea untuk kepinggir sungai untuk buang air kecil. Mereka 1 payung ber-2 yang mana ke-2nya terlihat tampak canggung. Baik Lea maupun Alvin yang mendadak gugup. Dari mobil sampai ke pinggir sungai mereka hanya diam tanpa ada obrolan sama sekali.
" Kamu tunggu di sini saja!" ucap Lea yang mana mungkin Alvin menemaninya.
" Baiklah, kamu bawa payungnya," sahut Alvin. Lea menganggu dan akhirnya mengambil payungnya. Sementara Alvin menunggu Lea di bawah pohon. Berlindung di bawah pohon dan ke ke pinggir sungai untuk membuang air kecil.
Walau malam. Tetapi mentari masih begitu terang. Di mana rembulan yang begitu terang menyinari bumi di dampingi dengan bintang-bintang yang indah.
__ADS_1
Tidak lama akhirnya Lea pun selesai membuang air kecil dan kembali menghampiri Alvin. Yang mana Lea semakin gugup dengan Alvin yang di depannya yang menunggunya sejak tadi.
" Sudah selesai?" tanya Alvin.
Lea menganggukkan kepalanya " iya sudah selesai. Ayo!" ajak Lea. Alvin mengangguk dan meraih payung itu dari tangan Lea yang mengambil alih untuk memayungi Lea.
Saat baru beberapa langkah Alvin menghentikan langkahnya dengan memegang tangan Lea yang juga akhirnya membuat Lea berhenti. Lea mengangkat kepalanya melihat Alvin yang di sampingnya yang mana dia begitu terkejut dengan apa yang di lakukan Alvin.
" Apa kau menghindariku?" tanya Alvin dengan menatap intens Lea.
" Siapa yang menghindarimu?" tanya Lea balik.
" Kau. Aku melihat kau menghindariku," ucap Alvin.
" Tidak aku tidak menghindar. Aku hanya bingung harus berekspresi seperti apa. Aku bingung," ucap Lea dengan wajahnya yang memang terlihat bingung.
" Apa karena kata-kata ku kemarin?" tanya Alvin menebak. Lea menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Alvin menghadap Lea, " Apa yang aku katakan kemarin membuatmu tidak nyaman?" tanya Alvin.
" Bukan begitu Alvin. Aku hanya bingung. Karena semuanya tiba-tiba," ucap Lea yang memang menyampaikan apa yang di pikirkannya.
" Lea aku juga tidak tau kenapa seperti itu. Aku juga tidak tau kapan perasaan itu ada. Tetapi pada intinya aku merasa semua yang aku lakukan itu karena beralasan menyukaimu. Aku mempunyai rasa yang berlebihan dari rasa khawatir, peduli, takut terjadi sesuatu padamu," ucap Alvin yang memperjelas perasaannya.
" Lea aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Saat pertama bertemu denganmu Jujur aku begitu penasaran dengan dirimu. Kata-kata mu yang tinggi membuatku tertantang dan ingin menyentuhmu. Tetapi saat aku melihat titik kelemahan mu seketika perasaanku yang aneh muncul. Yang aku tidak tau apa itu dan bahkan rasanya tidak ingin menyentuhmu begitu saja,"
" Saat kamu membatalkan perjanjian kita, aku marah bukan karena tidak tidur dengan mu. Tetapi karena aku dan kau tidak akan pernah bertemu lagi. Itu yang membuatku rasanya tidak terima. Karena selama ini aku punya alasan untuk bertemu denganmu," ucap Alvin yang mengeluarkan semua isi hatinya yang membuat Lea hanya diam saja.
" Aku benar-benar menyukaimu Lea dan aku tidak ingin memaksamu," lanjut Alvin lagi.
" Ya Allah aku tidak percaya ternyata benar Alvin mempunyai perasaan itu kepadaku. Aku benar-benar tidak percaya ya Allah," batin Lea yang masih tidak percaya pria di hadapannya itu menyukainya dan bahkan dengan tulus mengungkap perasaan itu.
Bersambung
__ADS_1