
Setelah kepergian Ardian dan Melody. Alvin langsung menutup pin dan membuang napasnya panjang kedepan dengan mengusap dadanya yang merasa begitu lega.
" Huhhhhhh, syukurlah jika mereka tidak menemukan Lea," gumamnya yang benar-benar begitu lega.
" Tetapi di mana Lea. Di mana dia bersembunyi. Kenapa di kamar mandi juga tidak ada," ucapnya yang mendadak panik.
Alvin pun langsung mencari Lea di sekitar kamar, melihat di kolong tempat tidur yang ternyata kosong. Melihat di tempat-tempat persembunyian yang juga kosong.
" Lea kamu di mana, mereka sudah pergi, Lea!" panggil Alvin yang terus mencari Lea entah di mana. Bahkan kembali mengecek di kamar mandi dan kamar mandi juga kosong.
" Di mana dia?" ucap Alvin yang benar-benar tidak menemukan Lea. Alvin melihat ke jendela yang ada di kamar itu. " tidak mungkinkan jika Lea melompat," batin Alvin dengan pikirannya yang kemana-mana.
" Apa yang kamu pikirkan Alvin, mana mungkin dengan bodohnya dia melompat yang ada dia akan mati," ucap Alvin mengusap mulutnya. Jadi pusing mencari Lea kemana.
Mata Alvin tiba-tiba melihat ke arah lemari yang ada di sana. Dan Alvin yang punya firasat ada Lea di sana langsung melangkah menuju lemari tersebut. Alvin langsung membuka lemari tersebut dan saat membukanya Lea langsung jatuh ketubuh Alvin yang ternyata benar Lea berada di sana dan bahkan sudah tidak sadarkan diri.
" Astaga Lea!" Alvin panik dengan melihat wanita yang pingsan di pelukannya. Alvin pun langsung membaringkan Lea di lantai dengan menggoyang-goyangkan tubuh Lea agar terbangun dan memukul-mukul pipi Lea dengan lembut.
" Lea bangun! bangun!" Alvin terus membangunkan Lea.
" Dia kehabisan napas sepertinya," batin Alvin.
Alvin yang panik dengan pingsannya Lea akhirnya mengambil tindakan darurat yang langsung memberi Lea napas buatan. Sekali memberi tidak bisa dan Alvin mengulang lagi sampai akhirnya Lea tersadar.
Uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk.
Lea terbatuk-batuk dengan memegang mulutnya.
" Lea kamu tidak apa-apa?" tanya Alvin yang merasa lega yang akhirnya Lea bangun.
Alvin pun membantu Lea untuk duduk. Alvin berdiri dan mengambil air mineral yang di sediakan di kamar hotel tersebut. Alvin membuka tutup botolnya dan memberikannya pada Lea yang masih batuk-batuk dengan wajah Lea yang mendadak begitu lemas.
__ADS_1
" Lea kamu tidak apa-apa kan?" tanya Alvin dengan wajahnya yang begitu panik. Lea menggelengkan kepalanya.
" Aku tidak apa-apa, bagaimana Ardian dan Melody apa mereka sudah pergi?" tanya Lea dengan suara lemahnya.
" Mereka sudah pergi," jawab Alvin.
" Apa mereka benar-benar mencariku?" tanya Lea masih terlihat begitu panik.
" Aku tidak tau jelasnya. Apa tujuan mereka sebenarnya," sahut Alvin.
" Aku boleh pulang?" tanya Lea meminta ijin. Dia sadar dia punya tugas yang harus di laksanakan nya. Namun karena merasa khawatir Lea tidak bisa melakukannya dan harus meminta izin pada Alvin.
" Baiklah jika kamu ingin pulang. Tapi kamu yakin baik-baik saja," sahut Alvin menyetujui permintaan Lea. Namun rasanya dia harus memastikan wanita itu baik-baik saja atau tidak.
" Aku baik-baik saja," sahut Lea.
" Ya sudah pulanglah jika ingin pulang," jawab Alvin tanpa tidak masalah.
Tanpa ada jarak di antara ke-2nya, di mana mata mereka saling bertemu, saling melihat dengan napas yang saling menerpa dan debaran jantung yang saling memburu di dalam sana.
" Ada apa denganku, kenapa jantungku berdetak tidak menentu seperti ini," batin Lea merasa ada sesuatu yang aneh dengannya yang tidak biasanya.
" Tidak Alvin, mana mungkin kau tertarik padanya. Tetapi kenapa jantungmu tidak normal seperti ini. Tidak. Kau jangan bego. Mungkin kejadian hari ini. Di mana kau melihatnya tadi. Hanya membuatmu iba kepadanya. Hanya itu saja. Kau tidak mungkin menyukai wanita ini," batin Alvin yang bergejolak dengan perasaannya yang aneh.
Bahkan Alvin menyadari jika ada perasaan yang berlebihan pada Lea. Namun Alvin ingin membantah perasaan itu.
Mereka ber-2 yang terus saling menatap dengan mata berkeliling yang mana bola mata itu seakan sama-sama berbicara. Lama saling Melihat yang akhirnya ke-2nya sama-sama sadar dan Lea langsung menjauh.
" Maaf," ucap Lea salah tingkah dan Alvin sama salah tingkahnya dengan Alvin yang terus membuang napasnya dengan kasar.
" Ya_ya_ sudah aku pergi dulu," ucap Lea dengan gugup. Alvin mengangguk saja dan Lea pun buru-buru mengambil tasnya yang tiba-tiba merasa canggung.
__ADS_1
Sementara di luar Astina dan Melody yang sama-sama berjalan yang baru selesai dari kamar Alvin.
" Tidak ada Tante Iriana di dalam dan tidak mungkin juga dia bersama Alvin," ucap Ardian dengan wajah bingungnya.
" Apa kita salah kamar?" tanya Melody.
" Mungkin salah kamar dan untung saja Pak Alvin tidak tersinggung tadinya," jawab Ardian.
" Iya, dia juga sangat ramah dan mengijinkan kita untuk masuk," sahut Melody.
" Mungkin kita tidak bisa menemukan Tante Iriana. Ya sudah sebaiknya kita pulang saja," sahut Ardian. Melody menganggukkan kepalanya dan mereka kembali melanjutkan langkah mereka. Namun saat melewati kamar 206 pintu kamar itu terbuka.
Ardian menghentikan langkahnya dan terkejut saat melihat wanita dan Pria yang keluar dari kamar itu adalah yang di carinya. Iriana pun terkejut saat melihat melihat Ardian. Mata Ardian langsung menoleh ke arah Pria yang di samping orang yang di carinya itu. Ardian geleng-geleng dengan kelakukan tantenya. Ya Ardian orang dewasa dan pasti sudah tau apa yang terjadi.
" Tante!" lirih Ardian dengan menekan suaranya.
" Ardian, apa Lea yang memberitahu jika aku ada di sini. Anak itu memang kurang ajar. Tidak main-main dengan omongannya. Dia benar-benar memberitahukan pada mama jika aku ada di sini dan aku yakin Ardian pasti di suruh untuk membawaku," batin Iriana yang bisa membaca situasi yang terjadi.
" Jadi benar kata Eyang, Tante ada di Jakarta. Dan ini yang Tante lakukan. Tante benar-benar keterlaluan ya," ucap Ardian marah-marah.
" Jadi ini yang namanya Tante Iriana. Mamanya Lea. Masih sangat muda sih," batin Melody yang memang tidak mengenali mama dari temannya itu. Jelas masih muda. Karena Iriana melahirkan Lea saat masih 17 tahun. Ya pergaulan yang membuatnya hamil di luar nikah.
" Siapa lagi ini?" tanya pria itu melihat Iriana.
" Pergi dari sini!" usir Ardian pada Pria itu.
" what," sahut Pria itu tampak tidak terima.
" Kau bilang pergi. Sebelum aku menghajar mu," sahut Ardian memberi ancaman.
" Sudah kamu pergi aja. Nanti kita akan bicara," ucap Iriana menyuruh pasangannya itu pergi sebelum Ardian berbuat yang tidak-tidak. Pria itu mengangkat ke-2 bahunya dan langsung pergi. Ya walau dia penasaran dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Bersambung