
Semenjak memilih suaminya dan melepaskan anaknya. Melody menjadi murung. Kejadian itu sudah berlalu 2 hari dan dia tidak tau apakah Chaca sudah pergi di bawa kakaknya atau Chaca masih ada dirumahnya. Melody sendiri tidak mendapat kabar apa-apa. Karena tidak ada yang berkomunikasi dengannya.
Melody hanya berdiri di teras kamaranya di balkon dengan ke-2 tangannya yang di letakkan di atas pagar. Melody melihat ke bawah di mana ada Mila yang sedang mengajak bayi Vivi dan Arya untuk berjemur.
Melihat Mila kakak iparnya menggendong bayi itu membuat Melody teringat dulu dia juga pernah menggendong bayi. Namun dia tidak tau apa-apa tentang bayi yang sudah besar itu.
Air matanya harus jatuh karena rasa haru dengan apa yang telah di lihatnya yang pasti membuatnya sedih. Ardian memasuki kamar dengan membawakan segelas air putih. Ardian melihat di sekitar kamar dan tidak menemukan istrinya. Ardian melihat ke segala arah dan menemukan istrinya berada di teras.
Ardian membuang napasnya perlahan kedepan dan menghampiri istrinya memegang pindang Melody, membuat Melody berbalik badan. Ardian memberikan air yang di bawanya dan Melody langsung meminumnya yang di bantu Ardian.
Setelah selesai minum. Ardian melihat ada butir air mata di pipi istrinya membuatnya langsung menghapusnya dengan menatap sendu istrinya itu. Dan Melody langsung memeluk Ardian.
Tanpa Melody bercerita. Ardian sudah tau jika Melody pasti sedang merindukan Chaca makanya istrinya itu sampai menangis. Ya Ardian sampai saat ini belum bisa melakukan apa-apa.
Ada keinginan berjuang untuk mengambil hak Chaca. Tetapi pasti hanya akan membuat keluarga menjadi pecah belah dan kembali pada hal yang di khawatirkan masa lalu yang ujung-ujungnya keluarganya pasti tau. Bukan tidak berani untuk memberitahu keluarganya. Tetapi itu juga sama saja akan memperjelek nama Melody. Karena apa yang terjadi merupakan aib yang juga seharusnya di tutupi dan nama Melody juga bersih di mata keluarganya.
Karena tidak ingin sempat keluarganya memberi steatmen jika Melody bukan wanita baik-baik. Ya lagi-lagi tidak ada yang bisa di lakukan, bergerak ke sini salah, bergerak kesana salah. Semua serba salah.
Hanya saling menguatkan yang bisa mereka lakukan dan saling memeluk untuk memberi ketengan satu sama lain.
**************
Ternyata Marsel dan Gadis belum membawa Chaca dan masih ada di rumah Wawan dan Dania yang mana hari ini mereka sarapan bersama juga ada Febby di sana.
__ADS_1
Sarapan itu terlihat hening seperti keluarga yang bermusuhan. Memang Marsel sedang perang dingin terhadap orang tuanya karena permasalahan kemarin. Untuk Febby sendiri juga malas bicara karena merasa kakak dan kakak iparnya itu sangat keterlaluan.
Dan Chaca pasti takut jika berbuat apa-apa. Takut mamanya marah dan bahkan semenjak Gadis membentaknya. Keesokan harinya dia juga di marahi Marsel karena keras kepala dan merengek untuk menyuruh Melody datang. Papa yang biasa menurutinya dan memanjakannya itu malah memarahinya yang membuatnya sekarang juga tidak berani lagi bicara pada ke-2 orang tuanya.
Chaca sekarang hanya diam saja dengan makan yang tidak nafsu tanpa terdengar suaranya yang biasanya begitu cerewet.
" Sayang makan pakai telor mata sapi ya," Gadis mengambil telor dan ingin meletakkan kepiring Chaca. Namun Chaca menggeser piringnya dari mamanya. Sehingga telur itu tidak jadi masuk kepiringnya.
Kejadian itu mencuri perhatian dan membuat Gadis hanya diam dan meletakkan kembali telur itu pada tempatnya. Yang mana anak yang di rebutkannya itu tidak pernah bicara lagi kepadanya semenjak malam itu.
" Chaca kenapa makanannya hanya di aduk-aduk saja. Apa masakan bibi tidak enak?" tanya Dania dengan mengusap rambut Chaca.
" Enak kok Oma. Tapi Chaca belum lapar," jawab Chaca.
Dia berbicara pada yang lainnya tapi tidak dengan Marsel dan Gadis yang di pikirnya orang tuanya.
" Apa Chaca mau memakan yang lain?" tanya Wawan. Chaca menggeleng.
" Makanlah Chaca jangan cari penyakit," sahut Marsel sedikit tegas membuat Chaca kembali menunduk yang takut di sembur papanya.
" Chaca mau di masakin sosis tidak," sahut Febby dengan cepat dan Chaca menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Febby tersenyum dengan tanggapan Chaca, " ya sudah Aunty gorengkan sebentar ya," ucap Febby yang berdiri dari tempat duduknya dan Chaca juga langsung turun dari kursinya.
__ADS_1
" Chaca mau ikut," sahut Chaca yang memegang tangan Febby dan sepertinya sengaja ikut untuk menghindari orang tuanya yang marah kepadanya.
Gadis hanya diam tanpa bicara apa-apa. Dania geleng-geleng. Dan Wawan sendiri melanjutkan makannya. Jika saja tidak ribut dengan Marsel kemarin. Mungkin Wawan akan menegur Marsel yang terlalu kasar pada Chaca. Tetapi kali ini dia malas dan juga merasa tidak ada gunanya.
Marsel melihat satu persatu orang yang ada di meja makan itu, " aku dan Gadis besok akan membawa Chaca pergi. Kami akan menetap di Malaysia," sahut Marsel tiba-tiba.
Sontak pernyataan Marsel membuat Wawan dan Dania kaget sampai berhenti makan dan menatap putranya tajam yang berbicara seenak jidat itu.
" Apa yang kamu katakan Marsel. Berhenti berpikir untuk membawa Chaca pergi," sahut Davin mulai saraf-sarafnya naik untuk jauh lebih tegas pada Marsel yang suka-suka mengambil keputusan.
" Aku memang akan membawanya pergi dan tidak membiarkannya di sini yang hanya akan membuatnya terus memikirkan Melody," sahut Marsel.
" Kau ingin memisahkan anak dari ibunya," sahut Wawan.
" Aku tau papa tidak setuju. Melody hanya melahirkannya dan Gadis yang membesarkannya, memberinya ASI dan juga segalanya dengan banyak pengorbanan," ucap Marsel yang benar-benar keras kepala.
" Marsel kamu benar-benar keterlaluan. Jika adik kamu tidak depresi saat itu. Dia juga pasti merawat anaknya. Jangan bicara soal asi kamu. Melody yang depresi juga memberikan pada Chaca walau tidak bisa setiap hari. Adik kamu sakit dan apa kamu harus perhitungan dalam hal ini," sahut Wawan menegaskan dengan suaranya yang pasti besar dan mungkin kedengaran kedapur.
Febby yang mendengar berusaha mengalihkan pendengaran Chaca dan pasti tidak berencana untuk kembali ke meja makan karena di sana sudah mulai perang.
" Tapi pa, bukannya waktu itu kita sepakat. Jika Chaca akan menjadi anakku," sahut Gadis yang tidak akan mengalah walau kenyataan tidak berpihak padanya.
" Kita tidak menyembunyikan hal itu Gadis dari Melody. Kita hanya tidak ingin Melody mengingat apa yang terjadi padanya dengan memberitahu bayi anaknya. Lagian jika memberitahunya saat itu apa dia akan mengerti. Dia tidak akan mengerti," tegas Wawan.
__ADS_1
" Marsel Gadis kalian tidak bisa egois seperti ini. Mama sudah mengatakan jangan hanya memikirkan perasaan kalian ber-2. Pikirkan Melody dan juga Chaca," sahut Dania menegaskan pada anak dan menantunya itu.
Bersambung