Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 152 Pagi yang indah.


__ADS_3

Mentari pagi kembali tiba. Malam indah sudah di lewati. Begitu juga dengan pasangan suami istri Ardian dan Melody yang kamar nya layaknya kamar pengantin baru. Kamar itu terlihat berantakan dengan pakaian yang berserakan di atas lantai.


Jangan tanya tempat tidur itu begitu kusut dan berantakan karena permainan panas Ardian dan Melody tadi malam. Ardian dan Melody bahkan masih sama-sama polos yang tertutupi selimut.


Bahkan Melody masih tertidur dengan yang membelakangi Ardian. Ardian sudah bangun dan hanya membelai-belai rambut Melody, sesekali mencium kening Melody, memeluknya, ya entah apa saja yang di lakukan Ardian. Sinar matahari yang cerah memang tidak membuat Melody bangun.


Mungkin Melody masih mengantuk parah. Karena Melody memang baru tidur. Ya maklum lah jika Melody baru tidur pasti Ardian berhentinya mungkin subuh. Terlihat dari wajah lelahnya Melody.


Ardian mencium lembut bahu telanjang Melody, lalu mencium ceruk leher Melody yang masih terdapat bekas memerah hasil perbuatannya. Hal itu mampu membuat Melody merasa geli dan sedikit menggeliat. Melody membalikkan tubuhnya menghadap Ardian dan langsung memeluk Ardian.


Ardian tersenyum melihat wajah cantik itu sekarang ada di depannya. Mata indah itu masih terpejam dengan wajah yang begitu teduh. Bibir indah yang menjadi candunya dan tadi malam bibir itu menjadi favoritnya.


Sangat berdosa rasanya jika Ardian tidak menempelkan bibirnya pada bibir Melody. Baru selang beberapa jam. Tetapi dia sangat merindukan bibir yang begitu nikmat itu.


Awalnya hanya mengecup saja. Namun karena itu bagian favorit nya membuat Ardian mencium lebih dalam lagi yang seakan menuntun masuk dan ingin menikmati lebih dalam lagi. Hal itu mampu membuat Melody terbangun dan langsung dan mendorong Ardian dengan ke-2 tangannya untuk mengikis jarak di antara mereka.


Namun Ardian tidak bergerak sama sekali dan bahkan lebih memperdalam ciumannya. Sampai akhirnya ciuman di pagi hari itu di hentikan nya dan memberikan oksigen pada istrinya.


Melody terlihat manyun dengan dadanya yang kembang kempis mengatur napasnya. Ardian tersenyum dengan membelai-belai pipi Melody.


" Maafkan aku. Aku menyerangmu tanpa permisi!" ucap Ardian merasa bersalah.


" Kamu mengganggu tidurku. Aku masih mengantuk," ucap Melody dengan wajah kesalnya.


" Aku minta maaf. Tapi ini sudah siang. Bukannya seharunya kamu bangun!" ucap Ardian.


" Aku masih mau tidur. Aku sangat mengantuk soalnya," sahut Melody yang memang begitu mengantuk.


" Kalau begitu tidurlah," ucap Ardian.


" Tidak apa-apa aku tidur. Apa nanti mama dan yang lainnya tidak akan bertanya kenapa aku tidak turun-turun untuk beristirahat?" tanya Melody yang merasa segan jika sudah pagi masih saja di kamar.


Resiko tinggal di rumah mertua, apa lagi tinggal di keluarga besar. Ya resikonya karena harus jaga sikap.


" Aku katakan pada mereka jika istriku capek," jawab Ardian.

__ADS_1


" Jangan!" cegah Melody


" Kenapa?" tanya Ardian heran.


" Masa iya kamu bilang seperti itu. Aku tidak mau mereka berpikir yang lain-lain. Aku tidak mau," ucap Melody dengan kesal.


" Kan memang kenyataannya. Kalau kamu benar-benar capek," sahut Ardian.


" Ahhhhh, sudahlah jangan membahas itu. Aku malu. Pokoknya jangan mengungkit-ungkit hal itu. Itu kan masalah pribadi kita. Masa iya harus jadi konsumsi semua orang," ucap Melody kesal. Wajah yang cantik itu terlihat menggemaskan karena wajahnya yang begitu kesal.


" Baiklah! aku hanya bercanda. Jika ingin istirahat maka istirahatlah. Jika ada yang bertanya kenapa istriku belum keluar dari kamar, aku akan bilang jika di masih ingin istirahat. Mereka tidak akan bertanya apa alasannya," ucap Ardian.


Melody tersenyum mendengarnya, " makasih ya," ucap Melody yang merasa lega.


" Aku yang berterima kasih. Makasih untuk malam ini. Dan aku minta maaf jika membuatmu sampai tidak bisa bergerak dari tempat tidur. Maafkan aku," ucap Ardian lembut.


" Jangan meminta maaf, itu adalah kewajibanku," ucap Melody dengan tersenyum.


" Ya sudah kamu sekarang tidur kembali. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kamu. Dan kalau kamu sudah bangun kamu sudah bisa sarapan," ucap Ardian. Melody menganggukkan kepalanya.


***********


Tidurnya Melody sudah selesai sekarang dia sudah bangun dan bahkan sudah mandi. Namun masih menggunakan bathrobe putih dengan rambutnya yang masih basah.


Melody dan Ardian sekarang sedang menikmati sarapan. Tetapi lebih tepatnya makan siang karena ini sudah siang. Mereka memang layaknya pengantin baru yang makannya harus di dalam kamar.


Mereka yang makan di atas tempat tidur dengan bersilah kaki dan saling berhadapan.


" Kak Ardian yang memasaknya?" tanya Melody sambil mengunyah pasta yang nikmat itu.


" Iya apa enak?" jawab Ardian dan ingin tau apa respon istrinya untuk masakan itu.


" Hmmm, sangat enak," jawab Melody dengan wajahnya yang tersenyum lebar. Yang memang benar apa adanya makanan itu begitu nikmat.


" Kalau begitu harus di habiskan," sahut Ardian.

__ADS_1


" Memang harus di habiskan. Lagian aku juga pasti kurang dengan makanannya. Karena perutku juga sangat lapar," ucap Melody dengan wajahnya yang tersenyum lebar.


" Aku tau kamu begitu lapar. Maka makanlah yang banyak dan kalau memang masih kurang aku akan membuatkannya lagi," ucap Ardian.


" Aku tidak tau. Kalau kak Ardian ternyata bisa memasak dan seenak ini," ucap Melody.


" Seharusnya kamu tidak perlu tau. Aku khawatir kamu tau nanti kamu akan meminta memasakkan terus kepadaku. Jadi aku tidak mau," ucap Ardian dengan nada bercandaan.


" Jadi aku tidak boleh meminta untuk di masakkan lagi?" tanya Melody dengan menautkan ke-2 alisnya.


" Boleh," sahut Ardian dengan tertawa sedikit.


" Di kirain tidak boleh," sahut Melody.


" Aku hanya bercanda. Sudah makan lagi. Setelah ini. Aku ingin mengajakmu ketempat sesuatu," ucap Ardian membuat Melody heran.


" Mau kemana?" tanya Melody bingung.


" Ada deh, nanti kamu juga tau," sahut Ardian.


" Baiklah kalau begitu," sahut Melody yang kembali makan dengan lahap. Ardian tersenyum dengan mengusap-usap pucuk kepala Melody.


*********


Lain Melody yang terlihat bahagia di mana ternyata Lea tidak bahagia- bahagia amat. Walau menyelesaikan masalah Melody dan Ardian dengan tangannya sendiri. Tetapi Lea terlihat gelisah yang duduk di pinggir ranjang dengan handphone yang ada di tangannya yang mana Lea sepertinya menunggu telpon seseorang.


Atau sebenarnya dia khawatir jika ada yang menelponnya. Yang jelas dia terlihat panik yang sebentar-sebentar menyibakkan rambutnya kebelakang.


Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt.


Ponsel Lea berdering dan harus membuat Lea mengangkatnya. Di mana nomor yang tidak di kenal masuk sebagai penelpon.


" Nona Lea. Kami sudah mengirimkan alamatnya. Tuan sudah menunggu Anna. Jangan datang terlambat. Dua tidak suaka orang yang terlambat datang," ucap suara seorang wanita dari panggilan telpon itu.


Tidak ada lagi yang di katakan wanita itu dan langsung menutup telpon itu begitu saja. Lea hanya terlihat membuang napasnya dengan perlahan kedepan. Napas berat yang mengandung arti. Tetapi tidak tau apa artinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2