
Telapak tangan Melody yang berada di dada Ardian, merasakan getaran jantung Ardian yang berdebar yang sama dengan jantungnya yang juga bergetar. Getaran itu memang tidak akan pernah hilang saat bertemu dengan Ardian dan apalagi dekat dengan Ardian getaran itu semakin kencang, semakin tidak normal. 10 kali lipat berdetak dari normal biasanya.
" Kamu taukan Melody perasaanku seperti apa kepadamu. Perasaanku tidak pernah hilang. Perasaanku tetap seperti ini," ucap Ardian memegang tangan Melody yang ada di dadanya dengan menciumnya sekali.
Melody hanya diam saja yang mencoba untuk memahami perasaan Ardian kepadanya. Yang mana Ardian memang terus meyakinkannya.
" Aku mencintaimu Melody!" ucap Ardian yang akhirnya kembali mengakui perasaannya yang mana cinta itu masih ada dan pasti rasanya masih sama seperti dulu.
" Melody apa kamu mempercayaiku?" tanya Ardian.
Melody masih diam dengan matanya yang sendu menatap Ardian. Tangan Melody membelai wajah Ardian dengan lembut yang mana dia semakin bergetar dengan apa yang di lakukannya. Dan Melody memajukan wajahnya mencium bibir Ardian sekilas.
Apa yang di lakukan Melody sudah menjelaskan jika Melody menerima Ardian kembali dan memberinya kesempatan lagi.
Mendapat ciuman itu dari Melody Ardian pun langsung membalasnya dan mencium bibir Melody. Bukan hanya sekedar mengecupnya. Tetapi juga mencium dengan dalam. Mata mereka ber-2 sama-sama terpejam dengan ke-2 tangan Ardian memegang pipi Melody yang terus semakin memajukan wajah Melody agar semakin memperdalam kan ciumannya dan Melody meremas kuat baju.
Mereka berciuman dengan lembut yang sama-sama saling mengungkap perasaan yang memang tidak pernah hilang dan perasaan itu semakin dalam yang pada akhirnya mereka ber-2 saling menerima kembali. Setelah mengetahui kebenaran apa yang membuat ke-2nya saling mencintai. Walau ke-2nya belum bisa memberi pelajaran untuk orang-orang yang Susan membuat hubungan mereka seperti itu.
**********
Pencarian terus di lakukan tim SAR dan juga keluarga Melody dan juga Ardian. Yang mana sudah hari ke-3 mereka sama sekali tidak di temukan dan bahkan tidak ada jejak yang sama sekali di tinggalkan.
Namun Gadis semakin panik dengan Chaca yang tiba-tiba demam tinggi yang membuatnya panik yang duduk di samping putri kecilnya.
" Sayang bagaimana Chaca?" tanya Marsel yang memasuki kamar.
" Panasnya tidak turun sayang," jawab Gadis semakin panik.
" Aunty, Aunty, Aunty!" Chaca mengingau memanggil nama Aunty nya yang siapa lagi jika bukan Melody.
__ADS_1
" Sepertinya dia tau jika Melody hilang, Chaca tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia sering terpisah dari Melody. Bahkan menikah dengan Ardian hampir 1 bulan tidak bertemu Melody Chaca tidak pernah sakit sama sekali. Sekarang Melody hilang dan baru 3 hari. Tetapi dia sudah seperti ini dan terus menyebut nama Melody," ucap Gadis dengan mengusap-usap pipi Chaca yang panasnya minta ampun.
" Panasnya juga semakin tinggi," ucap Marsel yang juga memegang putrinya yang begitu panas dan bahkan sangat menggigil.
" Bagaimana ini sayang, aku khawatir Chaca akan kenapa-kenapa. Jika Melody tidak juga di temukan. Aku khawatir Chaca akan semakin parah," ucap Gadis yang semakin panik, bahkan matanya berkaca-kaca dengan paniknya dia kepada Chaca.
" Kita bawa ke Dokter saja. Supaya Chaca mendapat perawatan," ucap Marsel menyarankan.
" Lalu bagaimana jika tidak ada perubahan," sahut Gadis yang tidak yakin.
" Kita coba saja dulu, kita berdoa supaya Melody cepat di temukan," ucap Marsel. Gadis mengangguk dan akhirnya Marsel mengangkat Chaca membawanya langsung buru-buru keluar dari kamar yang akan membawanya ke rumah sakit.
*************
Sementara keluarga Ardian juga tidak kalah panik dan bahkan terkadang sudah pasrah. Hari ini mereka kembali ke lokasi untuk mengecek jatuhnya Melody dan Ardian yang mana tidak ada jejak sama sekali yang menjadi petunjuk.
" Bagaimana jika Ardian mati. Tidak Raisa apa yang kaku pikirkan. Mana mungkin kaku memikirkan Ardian yang pada akhirnya mati itu sungguh aneh. Kamu jangan ada-ada Raisa. Melody yang seharusnya mati yang langsung di terkam buaya," batin Raisa.
" Raisa!" tegur Novi.
" Iya Tante," jawab Raisa.
" Kenapa Ardian tidak di temukan juga. Ini sudah hari ke-3. Tante jadi curiga. Jika Melody membunuh Ardian dan Melody melarikan diri," ucap Novi dengan pelan dengan pemikirannya yang jelek.
" Aku juga punya pikiran seperti itu. Melody itukan benci banget sama Ardian. Dia pasti sudah membunuh Ardian," sahut Raisa yang sama gilanya dengan Novi yang pikiran mereka berdua memang tidak ada beresnya.
Sementara yang lainnya panik. Termasuk Widia yang terus saja berdoa, menangis karena putranya tak kunjung di temukan dan hanya Mila menantu tertuanya yabg terus menenangkan Widia.
" Mah, percaya sama Mila, Ardian dan Melody akan secepatnya di temukan. Percayalah ma," ucap Mila yang mencoba untuk menenangkan mertuanya itu.
__ADS_1
" Mama tidak tau Melody harus berharap apa lagi untuk Ardian dan Melody. Apa ini sudah takdir untuk mereka berdua yang memang harus pergi bersama-sama," ucap Widia yang sudah pasrah dengan anak dan menantunya.
" Mama jangan bicara seperti itu. Ardian dan Melody pasti akan di temukan dalam ke adaan selamat, percayalah mah," ucap Mila yang terus menguatkan ibu mertuanya tersebut.
" Semoga saja Allah masih memberi kesempatan itu, berikan ya Allah keselamatan untuk Melody dan juga Ardian," ucap Widia yang terus berdoa.
**********
Sementara Melody dan Ardian adem ayem sekarang seakan merasa tidak perlu untuk kembali ke tempat mereka. Seperti sekarang ini Melody, Ardian, ibu dan bapak yang memberi mereka tumpangan sedang makan bersama. Duduk di lantai dengan bersilah dan makan apa adanya.
" Makan yang banyak, supaya perut kalian kenyang," ucap Ibu.
" Benar jangan sungkan-sungkan. Anggap saja rumah sendiri," sahut bapak.
" Terima kasih ibu dan bapak. Kami sangat senang bisa bertemu sama ibu dan bapak memberi kami tempat dan bahkan pakaian ganti juga makanan yang enak-enak," ucap Ardian.
" Sama-sama jangan berlebihan, itu bukan suatu yang sulit," sahut bapak.
" Nak, Melody kamu kenapa terlihat murung ada apa?" tanya Ibu yang tiba-tiba melihat Melody yang makan dengan melamun dan Ardian juga melihat wajah istrinya yang tampak berpikir.
" Oh, tidak apa-apa Bu," jawab Melody dengan tersenyum.
" Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Ardian. Melody mengangguk dengan tersenyum yang seperti menutupi sesuatu.
" Ya Allah, kenapa perasaanku tidak enak. Aku terus memikirkan Chaca. Apa yang terjadi pada Chaca keponakanku itu," batin Melody yang merasa kepikiran dengan Chaca. Tiba-tiba saja pikiran itu ada.
" Apa yang di pikirkan Melody?" batin Ardian yang penuh tanda tanya.
Bersambung
__ADS_1