
Pernikahan.
Akhirnya pernikahan yang di tunggu-tunggu pasangan kekasih Rasti dan Evan terlaksanakan juga. Pasangan kekasih yang baru melewati banyak ujian itu merayakan pernikahan mereka dengan bertemakan out door.
Setelah tadi pagi melaksanakan ijab kabul dengan lancar di kediaman istana rumah Ardian. Sekarang tinggal melaksanakan resepsi di suatu lokasi yang terlihat begitu indah yang di bantu dengan pemandangan alam yang begitu indah.
Dekor-dekor bertemakan putih dengan bunga-bunga hidup yang membuat lokasi itu semakin indah. Banyak tamu yang berdatangan naik dari keluarga besar Evan. Maupun teman-teman Evan dan Rasti sendiri.
Evan dan Rasti juga berada di pelaminan yang menjadi ratu dan nyonya sehari yang berpenampilan begitu cantik dengan Rasti yang mengenakan gaun putih tanpa lengan dengan mahkota di kepalanya dan tangannya yang memegang kembang yang membuat pasangan itu begitu serasi dan pasti wajah ke-2nya terlihat tersenyum yang tidak lepas dari saling melihat dengan penuh dengan cinta.
Mereka bahkan kewalahan menyambut para tamu yang terus bersalaman dengan mereka. Sama dengan Marsel, Gadis dan Chaca yang sekarang naik kepelaminan untuk memberi ucapan selamat pada Rasti dan Evan.
" Selamat ya Rasti, Evan, semoga pernikahan kalian itu langgeng sampai kakek nenek dan cepat- punya momongan,"ucap Gadis sembari memeluk Rasti.
" Makasih ya kak Gadis. Sudah hadir di acara kami," sahut Gadis yang sudah melepas pelukannya.
" Kalian berdua jangan berrtengkar-tengkar terus. Ingat kalian sudah menikah. Melody juga sudah menikah. Jadi mana mungkin Melody akan ikut mengurus masalah rumah tangga kalian kalau kalian terus bertengkar seperti anak kecil. Harus membedakan pernikahan dengan pacaran," ucap Marsel memberikan pesan serius pada 2 pengantin baru itu.
" Iya kak Marsel. Makasih sudah mengingatkan kami, insyaallah kami akan mengingat petuah dari kakak," sahut Evan.
" Ya sudah sekali lagi selamat ya untuk kalian berdua," ucap Marsel.
" Kak Gadis dan kak Marsel langsung pulang?" tanya Rasti.
" Iya kebetulan kami juga ada kondangan setelah ini," jawab gadis.
" Ohhh, begitu. Yang penting kak Marsel dan kak Gadis sudah datang dan Chaca juga. Makasih anak manis sudah datang," ucap Rasti sedikit membungkuk dengan mengelus-elus pipi Chaca.
" Sama-sama Tante. Tante cantik banget hari ini," ucap Chaca yang memuji Rasti.
" Kamu ini paling pintar memuji," sahut Rasti.
" Ya sudah ayo kita turun. Di belakang banyak yang antri," ucap Marsel Gadis mengangguk dan mereka langsung turun. Rasti dan Evan kembali bersalaman dengan tamu yang antri di belakang Gadis dan juga
" Chaca mau ikut mama papa atau mau sama mami dan papi?" tanya Gadis.
" Chaca sama mami dan papi saja. Chaca capek kalau mau ikut kondangan lagi," ucap Chaca.
" Baiklah sayang!" sahut Gadis tersenyum dan menghampiri Melody dan Ardian yang berbicara dengan Wawan, Febby dan Daniah.
" Chaca sudah mau pulang?" tanya Melody.
" Belum mami. Chaca mau nginap di tempat mami saja," jawab Chaca.
" Baiklah sayang," sahut Melody.
" Chaca soalnya kangen sama papi. Papi tidak pernah ajak Chaca jalan-jalan lagi," ucap Chaca dengan wajah cemberutnya.
" Maafkan papi sayang. Nanti kita jalan-jalan ya," ucap Ardian.
" Baik papi," sahut Chaca.
" Ya sudah kalau begitu. Melody, Ardian mama dan yang lainnya pulang dulu ya," ucap Dania.
" Iya mah, mama hati-hati ya," sahut Melody.
" Iya kamu juga ya hati-hati. Jaga diri jangan aneh-aneh kamu. Ingat kamu itu lagi hamil jadi jangan aneh-aneh ya harus jaga kandungan kamu. Jangan sampai kenapa-kenapa," ucap Dania yang mulai cerewet pada Melody.
" Iya mah, mama santai aja," sahut Melody.
" Ya sudah mah ayo kita pulang," ajak Wawan setelah berpamitan.
" Dada Chaca Aunty pulang ya. Chaca jangan bandel-bandel di sini," ucap Febby.
" Baik Tante," sahut Chaca dengan wajah menggemaskannya.
" Kami balik ya Melody, Ardian," sahut Marsel. Ardian dan Melody mengangguk dan keluarga Melody langsung pergi yang sebelumnya juga sudah perpamitan pada keluarga Ardian.
" Chaca tidak mengantuk?" tanya Ardian.
" Tidak tapi Chaca mau main-main," sahut Chaca.
" Sama Tante Aliya aja ya," ucap Melody. Chaca menganggukkan kepalanya. Melody melihat-lihat ke sekitar pesta untuk mencari Aliya sampai akhirnya dia menemukannya.
" Aliya!" panggil Melody. Si pemilik nama langsung mendengar dan melihat ke arah Melody yang memanggilnya dan langsung menghampiri Melody.
" Iya kak Melody?" tanya Aliya.
" Kakak minta tolong ya sama kamu untuk bawa Chaca bermain," ucap Melody.
" Baik kak Melody. Ayo Chaca kita main-main," ucap Aliya.
" Baik Tante," sahut Chaca dengan tersenyum dan sebelum pergi melambaikan tangan dulu pada Ardian dan juga Melody.
__ADS_1
Ardian dan Melody saling melihat dengan tangannya mereka yang tidak lepas sejak tadi.
" Tamunya lumayan banyak," ucap Melody.
" Kamu tidak capek sayang?" tanya Ardian. Melody menggelengkan kepalanya.
" Ehemmm," tiba-tiba Lea dan Alvin menghampiri Melody dan Ardian.
" Kalian dari mana aja. Kenapa baru muncul sekarang?" tanya Melody.
" Biasalah nganterin Lea kekamar mandi," jawab Alvin.
" Manja amat di antar-antar segala," sahut Melody.
" Alah kayak yang bilang nggak manja aja," sahut Lea.
" Kalian itu berdua sama saja. Sama-sama manja ke-2 nya. Jadi sama-sama manja jangan saling mengatai," ucap Ardian.
" Setuju!" sahut Alvin.
" Ehemm!" tiba-tiba di tengah pembicara mereka Raisa menyapa mereka.
" Raisa!" pekik Lea. Raisa mengangguk tersenyum. Raisa terlihat cantik dengan Dress biru Navy dengan rambutnya yang dililit di samping.
" Kamu cantik sekali Raisa," puji Melody.
" Kamu jangan berlebihan Melody. Aku bisa melayang-layang karena pujian kamu," ucap Raisa.
" Tetapi Melody benar, kamu memang cantik," sahut Alvin yang tiba-tiba memuji dan Lea langsung menyulitkan perut suaminya.
" Issss, kamu ini!" geram Lea kesal dengan suaminya yang memuji Raisa. Ardian dan Melody hanya saling melihat dengan tertawa.
" Nggak bercanda kamu yang paling cantik," ucap Alvin.
" Kalau itu aku tau," sahut Lea dengan menyombongkan dirinya.
" Ya sudah kalau begitu aku kesana dulu ya mau bersalaman dengan pengantinnya," ucap Raisa.
" Nggak perlu. Tuh lihat pengantinnya turun," sahut Lea melihat Evan dan Rasti yang menghampiri mereka.
" Raisa kamu datang juga?" tanya Rasti yang tidak percaya.
" Kalau Raisa tidak datang itu namanya kelewatan. Melody sudah mengundangnya, Eyang sudah mengundangnya, aku juga sudah. Semua orang mengundangnya dan dia tidak datang itu sangat aneh," ucap Evan.
" Makasih Raisa," sahut Rasti melepas pelukan itu.
" Evan selamat ya. Jadi suami yang terbaik untuk Rasti," ucap Raisa yang juga memberikan selamat dengan perpesanan singkat.
" Makasih Raisa atas sarannya. Semoga kamu cepat menyusul ya," ucap Evan.
" Iya doain aja," sahut Raisa dengan tersenyum dan yang lainpun tersenyum.
Rasti melihat-lihat di sekitarnya sembari teman-temannya mengobrol.
" Sintia!" tiba-tiba Rasti memanggil seseorang. Sintia dan Axel yang secara kebetulan juga ada di pesta pernikahan itu.
Sintia tersenyum dan mengajak Axel untuk bertemu Rasti yang mana yang lainnya bum melihat Sintia dan Axel.
" Rasti selamat ya untuk pernikahan kamu!" Sintia langsung memeluk Rasti dan melihat Sintia membuat Melody, Ardian dan Raisa terkejut. Axel juga terkejut melihat kedatangan Axel dengan penuh tanya.
" Dokter Axel," batin Raisa yang terlihat kaget bertemu kembali dengan Axel dan Axel terlihat canggung bertemu Raisa.
" Wanita ini bukannya yang waktu itu," batin Melody yang masih mengenal wajah Sintia yang masih memeluk Rasti.
" Kamu cantik sekali!" puji Sintia melepas pelukan itu dengan mengamati penampilan Rasti.
" Kamu itu bisa aja. Aku merasa biasa aja padahal. Lagian kamu juga sangat cantik makasih ya sudah datang kemari," ucap Rasti.
" Sama-sama. Oh iya kenalin. Ini tunangan aku. Axel," Sintia langsung memperkenalkan Axel dan belum menyadari Raisa ada di sana.
" Axel. Selamat menempuh hidup baru," ucap Axel yang berjabat tangan dengan Rasti dan Evan.
" Aku seperti mengenalnya," batin Evan yang kelihatan merasa tidak asing dengan Axel.
" Kalian nikmati ya acaranya," ucap Rasti.
Sintia terlihat tertawa dengan mengangguk dan tidak sengaja matanya melihat ke sebelahnya yang matanya langsung melihat ke arah Raisa dan betapa mengejutkan bagi Sintia yang lagi-lagi bertemu dengan Raisa.
" Kau!" pekik Sintia dengan wajah terkejutnya. Raisa hanya biasa saja.
" Sedang apa kau di sini. Kau pelayan di sini!" ucap Sintia menuduh sembarangan.
" Kamu kenal sama Sintia?" tanya Rasti.
__ADS_1
" Lalu Kalian saling mengenal Rasti?" tanya Ardian.
" Hmmm, kebetulan Sintia ini teman aku dan dia datang untuk acara pernikahan ku," jawab Raisa.
" Jadi kalian berdua salah satu undangan," sahut Ardian.
" Memang kamu mengenal Sintia dan Sintia kamu kenal Raisa?" tanya Rasti kebingungan.
" Tidak sudi mengenalnya dan namanya saja aku tidak tau. Hey kau sendiri ngapain di sini. Kau itukan pelayan bodoh yang sudah merugikan ku. Ya seharusnya aku tidak bertanya karena kau pasti pelayan di sini," ucap Sintia dengan marah-marah pada Raisa dan Raisa hanya terdiam saja. Dan membuat Lea, Evan dan Alvin kebingungan dan Melody dan Ardian terlihat sudah paham.
" Dia itu siapa sih seenaknya mengatai orang pelayan bodoh," batin Lea yang mulai kesal.
" Aku permisi dulu!" ucap Raisa yang pamitan yang tidak mau mencari masalah dengan Sintia.
" Hey tunggu!" Sintia langsung menariknya, " urusan kita belum selesai," ucap Sintia.
" Tunggu-tunggu Sintia. Ini sebenarnya ada apa. Kalian saling mengenal dan kenapa kamu marah-marah dan jangan main tarik-tarik seperti ini," ucap Rasti heran dan melepaskan tangan Sintia dari tangan Raisa.
" Rasti wanita ini adalah pelayan Restaurant. Wanita kampungan yang tidak tau diri yang begitu bodoh dan tidak bejus dalam bekerja," maki Sintia lagi yang tidak selesai-selesai nya.
" Sintia sudahlah! kamu jangan bikin keributan, jangan mengungkit masalah itu lagi," Axel mencoba untuk melerai tunagannya itu agar tidak membuat keributan.
" Apasih, aku tidak akan membuat masalah jika wanita bodoh ini tidak meminta maaf padamu," tegas Sintia.
" Maaf ya kamu itu siapa. Berani sekali mengatai orang sembarangan, bodoh ini. itu dan Raisa bukan pelayan. Raisa itu keluarga kami. Jadi kau seharusnya tidak mengatai dia dengan seperti itu," sahut Lea yang terlihat tidak terima dengan Raisa yang di hina begitu saja.
" Saudara. Apa maksudnya dan apa urusannya dengan Rasti. Dia pasti hanya menjadi pelayan di tempat ini kan. Sok kecantikan memakai pakaian seperti ini. Wau jadi pusat perhatian," ucap Sintia yang masih saja mengatai Raisa.
" Maaf mbak Sintia. Suami Rasti adalah sepupu dari Ardian yang juga saudara dari Raisa. Jadi Mbak jangan mengatakan Raisa yang tidak-tidak dan lagian pula tunangan mbak itu Dokter Raisa," ucap Melody dengan menegaskan pada Sintia.
Mendengar hal itu membuat Sintia terkejut yang ternyata Axel adalah Dokter dari wanita yang sangat di bencinya. Axel pun membuang napas beratnya perlahan.
" Apa maksudnya Dokter?" tanya Sintia terlihat terkejut.
" Akhirnya aku mengingat siapa kamu. Ya kamu yang pernah datang kerumah. Kamu keponakan Dokter Rosa yang menggantikan merawat Raisa. Ya Dokter Axel," sahut Evan yang akhirnya tau.
Mendengar penjelasan itu semakin membuat Sintia terkejut dan Raisa tidak tau harus melakukan apa.
" Jadi Dokter Raisa selama ini adalah kamu?" sahut Lea yang memang tidak pernah bertemu dengan Axel.
" Jadi kamu mengenalnya?" tanya Sintia dengan wajah terkejutnya melihat ke arah Dokter Axel yang mana Axel terlihat resah.
Terlihat ketegangan di antara mereka semua dan Sintia semakin kesal dan menatap Axel dengan penuh pertanyaan.
" Axel. Kamu jawab aku. Jadi kamu mengenal wanita ini sebelumnya dan itu sebabnya kamu melarangku untuk memberinya pelajaran," ucap Sintia.
" Sudahlah Sintia. Kita sebaiknya pulang. Kamu lihat orang-orang mulai melihat kemari," tegas Axel.
" Kamu jawab dulu pertanyaan ku. Kamu mengenalnya atau tidak?" tanya Sintia menguatkan volume suaranya.
Raisa mendengus mengeluarkan senyum. Sangat terlihat Axel tidak ingin mengakui Raisa. Dan itu membuat hatinya begitu sakit.
" Hey, kau!" Sintia langsung mendorong dada Raisa sampai Raisa mundur ke belakang dan membuat yang lain terkejut.
" Cukup Sintia!" gertak Rasti yang mencegah Sintia yang ingin kembali melabrak Raisa.
" Kamu kenapa mendorongku!" Raisa mulai kesal dan maju mendekati Sintia
" Kau menantangku hah!" sahut Sintia.
" Aku tidak menantang mu tetapi kau keterlaluan. Kau itu... Eghek, Eghek," tiba-tiba Raisa menutup mulutnya yang ingin muntah.
" Raisa kau tidak apa-apa?" tanya Melody memegang Raisa.
" Aku tidak apa-apa. Aku ketoilet dulu!" ucap Raisa yang langsung pergi. Saat perutnya mual dan ingin membuang isi perutnya.
Axel terlihat khawatir melihat kepergian Raisa.
" Dia sepertinya kurang enak badan. Aku akan melihatnya," sahut Melody yang menyusul Raisa.
" Dasar wanita sialan!" umpat Sintia.
" Sintia ada apa ini sebenarnya?" tanya Rasti.
" Arghh, sudahlah aku mau pulang saja. Ayo kita pulang!" Sintia langsung menarik tangan Axel untuk meninggalkan pesta itu.
" Dari kemarin dia memang mempunyai dendam kesumat dengan Raisa. Aku juga tidak mengerti kenapa wanita itu membesar-besarkan masalah," ucap Ardian.
" Jadi itu Dokter yang menangani Raisa. Tapi kok kelihatan diam saja ya," sahut Alvin.
" Aku juga berpikiran seperti itu," sahut Evan.
Bersambung.
__ADS_1