
Rumah sakit.
Akhirnya mereka membawa Raisa kerumah sakit dan Raisa sedang dalam perawatan. Di mana Raisa yang memakai selang infus dan juga alat pernapasan di hidungnya.
Axel duduk di sampingnya dengan memegang tangan Raisa dan matanya melihat fokus ke arah Raisa.
" Maafkan aku. Aku begitu jahat kepadamu. Pikiran terlalu buntu Raisa sampai aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku benar-benar sangat menyesal dengan semua kejadian ini. Maafkan aku Raisa," batin Axel menatap nanar wajah Raisa. Penuh penyesalan pada wanita yang telah di hancurkan hidupnya setelah di sembuhkan nya itu.
" Kau harus tau Raisa apa yang terjadi malam itu bukan hanya sekedar nafsu saja. Tetapi juga karena aku mempunyai perasaan kepadamu. Perasaan yang mungkin sama dengan apa yang kau rasakan. Maafkan aku Raisa aku sudah menghancurkanmu. Maafkan aku!" Axel terus merasa bersalah dengan meminta maaf terus kepada Raisa dengan air matanya yang keluar.
Melody, Ardian, Lea, Alvi, Rasti dan Alvin menunggu di luar. Semua orang yang menunggu itu pasti sudah tau apa yang terjadi.
" Kalau aku melihat dari wajah Axel. Dia kelihatan mencintai Raisa," ucap Rasti berpendapat.
" Jika mencintai. Lalu kenapa pergi dan tau-tau sudah bertunangan dengan wanita itu lagi," sahut Lea kelihatan kesal.
" Mungkin saja memang mereka sudah bertunangan terlebih dahulu baru Axel mengenal Raisa," sahut Alvin.
" Ya seharunya kalau punya tunangan. Jangan berlebihan pada pasien dan membuat pasien baper dan akhirnya lihat semua terjadi seperti ini. Dia yang menyembuhkan dia yang membuat makin parah," cicit Lea dengan kekesalanya.
" Lea jangan hanya melihat dari satu sisi saja. Mungkin semua yang kamu pikirkan pada Dokter Axel tidak semuanya benar. Mungkin ada posisi berat yang sedang di hadapinya dan kita tidak tau apa itu. Dan benar kata Rasti Dokter Axel terlihat mencintai Raisa dan bahkan tatapannya sangat tulus pada Raisa," sahut Melody yang mencoba berpikiran positif. Mungkin karena sebelumnya dia juga pernah bicara dengan Axel.
" Aku setuju sama Melody. Karena waktu Dokter Axel datang kerumah. Dia juga sangat sopan dan terlihat sangat bersemangat untuk menyembuhkan Raisa," sahut Ardian.
" Ya itu lah yang di tunjukkannya. Sampai Raisa akhirnya bodoh dan luluh begitu saja dan sampai semua kejadian ini terjadi. Lihat apa yang terjadi padanya dan hampir saja mati. Anak itu dari dulu tidak pernah berubah cintanya selalu salah dan begitu obsesi," ucap Lea yang terus marah-marah.
" Lea sudahlah kamu jangan terus marah-marah. Kita biarkan Axel menyelesaikannya masalahnya dengan Raisa," sahut Alvin memegang bahu istrinya untuk menenagkan istrinya.
__ADS_1
" Tapi bagaimana masalah ini akan selesai. Bisa kita lihat apa yang terjadi dan Axel sendiri punya tunagan," sahut Evan.
" Sintia juga temanku masalahnya," sahut Rasti.
" Teman seperti itu aja di banggakan," cicit Lea. Melody dan Ardian hanya geleng-geleng saja dengan Lea yang paling emosian di antara semuanya.
Tidak lama akhirnya Axel keluar dari ruangan Raisa dan mereka semua langsung diam. Wajah Axel terlihat sedih dan penuh dengan kebingungan. Axel juga mengusap wajahnya dengan tangannya.
" Maafkan aku!" ucap Axel dengan napasnya yang berat.
" Jangan hanya meminta maaf. Tetapi bertanggung jawab dengan apa yang terjadi kepadanya," ucap Lea dengan sinis.
" Lea!" tegur Melody.
" Axel kami tidak akan mencampuri banyak urusan kamu dan apa yang akan kamu lakukan. Raisa keluarga kami dan sebelumnya kami mempercayakannya kepadamu dan kamu juga membuatnya sekarang seperti ini. Jadi tolong selesaikan masalahmu dan jangan hancurkan Raisa lagi," ucap Ardian yang bicara tenang namun penuh dengan penegasan.
" Aku mengerti dan paham apa yang kalian maksud. Aku sungguh meminta maaf dengan semua yang terjadi pada Raisa dan memang itu kesalahan ku sepenuhnya. Aku terlalu pengecut dan membiarkannya menanggung semua ini. Aku sungguh menyesal," ucap Axel mengakui kesalahannya di depan semua orang yang sudah menjadi dalang kehancuran pasien yang berusaha di sembuhkan nya.
" Lalu bagaimana kelanjutannya?" tanya Lea yang tidak ingin mendengar basa-basi dari Axel.
" Apa yang terjadi pada Raisa adalah kesalahanku dan aku akan bertanggung jawab atas dirinya," ucap Axel dengan yakin membuat Melody dan yang lainnya merasa lega sedikit.
" Lalu bagaimana dengan Sintia?" tanya Rasti. Yang lainnya juga menunggu jawab Axel.
" Benar bagaimana dengan Sintia, wanita bar-bar itu?" tanya Lea.
" Beri aku kesempatan untuk menyelesaikan masalahku dengannya. Jujur aku mencintai Raisa dan hubunganku dan Sintia hanya bisnis keluarga pertunangan karena bisnis. Jadi aku mohon beri aku waktu untuk menyelesaikan semua ini. Aku pasti bertanggung jawab untuk semua luka yang di alami Raisa," ucap Axel dengan yakin.
__ADS_1
" Kami tidak punya hak untuk melarang kamu. Mendengar kamu bertanggung jawab pada Raisa itu sudah cukup dan kami percaya padamu dah jangan jadi pengecut lagi Axel!" tegas Ardian. Axel menganggukan kepalanya yang setelah ini akan berpikir masalah hubungannya dengan Sintia. Bagaimana cara penyelesaiannya.
**********
" Apa kamu bilang kita harus mengakhiri hubungan ini!" pekik Sintia dengan terkejutnya mendengar pernyataan Axel.
" Iya ada sebaiknya kita mengakhiri hubungan kita," jawab Axel.
" Kau gila Axel. Apa yang kau bicarakan," sahut Sintia dengan kesal.
" Aku tidak mencintaimu Sintia. Aku mempunyai wanita lain dan kau juga tau hubungan kita seperti apa selama ini. Jadi aku rasa kau tidak akan keberatan jika kita mengakhirinya," ucap Axel dengan yakin.
" Axel kau jangan main-main. Kau tau sendiri kan resiko yang akan kau dapatkan jika melakukan semua ini. Keputusanku akan menghancurkan dirimu sendiri!" tegas Raisa.
" Aku lebih baik hancur dari pada melihatnya hancur," jawab Axel dengan yakin.
" Jangan bercanda Axel. Siapa wanita itu sampai kau mau kehilangan segalanya?" tanya Sintia dengan melihat Axel penuh kemarahan, " apa jangan-jangan. Jangan-jangan wanita itu adalah. Wanita bodoh itu!" tebak Sintia.
" Cukup kau mengatainya bodoh dan dia tidak seperti itu," sahut Axel membela Raisa.
" Jadi benar dia wanita yang membuatmu akan kehilangan segalanya," sahut Sintia yang ingin memastikan.
" Iya dia wanita yang aku cintai dan aku tidak peduli akan kehilangan apa-apa. Jadi kita akhiri saja hubungan kita dan aku bicara seperti ini. Karena tau resikonya," ucap Axel dengan berdiri dari tempat duduknya.
" Maaf jika waktumu banyak terbuang sia-sia. Aku permisi!" ucap Axel menundukkan kepalanya dan pergi dari hadapan Sintia.
" Axel!" panggil Sintia. Namun Axel tidak melihat kebelakang yang meninggalkan Sintia dalam kemarahan. Karena di putuskan secara sepihak dan hanya karena Raisa wanita yang selalu di katainya bodoh dan di maki-makinya.
__ADS_1
Bersambung