Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 255 Suasana menegangkan.


__ADS_3

Kata-kata Raisa membuat Dokter Axel diam terpaku yang masih menatap 2 bola mata Raisa dalam-dalam. Raisa mengambil tangan Axel yang masih memegang punggungnya dan telapak tangan itu di letakkan di dadanya.


" Apa Dokter bisa mendengarkan apa yang saya rasakan. Ada getaran di sana yang saya tidak mengerti. Jantungku berdebar dengan kencang dan aku sangat gugup," ucap Rais lagi.


" Dokter....."


Raisa tidak melanjutkan kalimatnya saat benda kenyal sudah menempel di bibirnya yang mana Axel sudah menciumnya yang membuat Raisa diam terpaku yang tidak bisa bicara apa-apa dan hanya diam dalam ciuman itu, memejamkan matanya yang menerima ciuman dari Axel.


Axel merasa perasaannya menggebu-gebu sampai harus mencium Raisa dengan lembut membuat Raisa semakin tidak mengerti dengan perasaannya. Axel semakin memperdalam ciumannya dengan memegang ke-2 pipi Raisa.


Axel mencium Raisa dengan menggebu-gebu dengan perasannya yang juga aneh dan baru ini berani melakukannya pada Raisa. Hanya Raisa pasien yang membuatnya seperti ini. Yang mana ke-2nya berciuman dengan mesra dengan perasaan yang sama-sama aneh.


*******


Alvin dan Lea berada di dalam kamar yang mana pasangan suami istri itu tertidur lelap dengan Lea yang berada di pelukan Alvin. Kalau tidak berada di dada bidang suaminya Lea rasanya tidak akan nyaman untuk tidur.


Dratttt Dratttt Dratttt.


Ponsel Alvin berdering yang di letakkan di atas nakas. Lama berdering akhirnya mampu membangunkan Alvin dan meraba-raba nakas untuk mendapatkan handphonenya. Setelah mendapatkannya Alvin mengucek matanya untuk panggilan masuk itu dan langsung mengangkatnya.


" Ada apa Dokter?" tanya Alvin yang seorang Dokter menelpon dan Alvin terlihat serius bicara sampai bergeser sedikit dari Lea, menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang dan menelpon serius.


" Lalu tindakan apa yang harus di lakukan?" tanya Alvin. Mendengar suara Alvin membuat Lea terbangun mengangkat kepalanya dan melihat ke arah suaminya yang begitu serius menelpon.


" Baiklah kalau begitu. Besok saja di bicarakan!" ucap Alvin menutup telpon itu.


" Siapa yang menelpon?" tanya Lea dengan suara seraknya.


" Dokter yang menangani Rasti," jawab Alvin.


" Menelpon se malam ini. Memang ada apa?" tanya Lea heran.


" Tidak apa-apa Lea. Dia hanya mengatakan kondisi Rasti setelah hasil cek-up Rasti tadi pagi," jawab Alvin.


" Begitu rupanya. Aku pikir ada apa-apa sampai harus menelpon kamu malam-malam seperti ini. Aneh!" ucap Lea yang mengganggu tidur saja.


" Sudahlah jangan di pikirkan. Ayo kita istirahat kembali," sahut Alvin kembali merebahkan dirinya dan membawa istrinya ke dalam pelukannya.


" Mengganggu saja. Memang Dokter Rasti tidak bisa apa bicara besok saja," batin Lea yang langsung memeluk suaminya yang tidurnya harus terganggu. Karena masalah itu.


********


Pagi-pagi Melody dan Ardian seperti biasa sudah siap-siap di pagi hari yang sepertinya akan pergi.


Seperti sekarang ini Melody yang memasangkan dasi ke leher suaminya dengan wajahnya yang begitu serius.


" Kita temui Rasti dulu, setelah itu aku akan mengantarmu tempat mama agar bisa bertemu Chaca dan baru aku kekantor," ucap Ardian yang ternyata banyak rute hari ini.


" Baiklah sayang terserah kamu saja. Yang penting kita tau kondisi Rasti seperti apa. Karena Rasti belum mengatakan apa-apa masalah cek-up kemarin. Ya semoga ada kabar baiknya. Baru setelah itu aku bertemu Chaca. Soalnya sudah sangat merindukan Chaca," ucap Melody.


" Aku mengerti. Maaf ya aku belakangan ini sangat sibuk. Jadi aku tidak bisa mempertemukan kamu dengan Chaca. Kita juga sudah lama tidak ajak Chaca main bareng. Ya semoga saja semua masalah selesai agar kita ber-2 bisa main-main sama Chaca," ucap Ardian memegang pipi Melody sembari membelai-belai rambutnya.


" Iya sayang. Chaca pasti ngerti kok," sahut Melody.


" Ya sudah kita turun yuk. Kita sarapan bareng-bareng. Setelah itu kita langsung pergi!" ajak Ardian


" Oke ayo, aku ambil tas dulu," sahut Melody yang mengambil tasnya dan langsung pergi bersama suaminya.

__ADS_1


**********


Rasti, Evan, Ardian, Melody, Alvin dan Lea menyambangi rumah sakit untuk bertemu kembali Dokter Gita yang menanyakan masalah Rasti. Mereka sudah menunggu di ruangan Dokter tersebut yang seperti biasa di antarkan suster dan mereka masih menunggu Suster tersebut.


Seperti biasa mereka akan menunggu dengan wajah-wajah cemas yang penuh ketegangan.


" Aku rasa masih ada harapan untuk Rasti agar tidak melakukan operasi pengangkatan rahim," sahut Alvin yang memulai obralan.


" Kenapa kamu bisa beranggapan seperti itu. Apa Dokter sudah memberitahu ke adaannya?" tanya Melody.


" Ya bukannya memang sudah di beritahu hasil cek-upnya?" tanya Alvin balik. Melody bingung dan bahkan Rasti dan Evan juga bingung.


" Rasti tidak mengatakan apa-apa ke pada kami dengan hasil cek-upnya," sahut Ardian.


" Sayang kamu kenapa tidak mengatakan hasil pemeriksaan kemarin?" tanya Evan.


" Aku bagaimana mau cerita. Aku saja belum di beritahu," sahut Rasti yang benar-benar heran.


" Kamu belum tau sama sekali?" tanya Alvin yang heran.


" Kalau aku tau. Ya pasti kalian juga tau," sahut Rasti apa adanya.


" Dan kamu sudah tau Alvin?" sahut Lea.


" Ya memang sudah tau. Tadi malam Dokter menelpon dan memberitahu hasil cek-upnya Rasti dan makanya aku bisa memprediksi selanjutnya dan bukannya kita haru datang kesini untuk mengambil tindakan ke-2," jelas Alvin.


" Yang sakit siapa sih. Kenapa jadi kamu yang di kasih tau," sahut Lea heran.


" Selamat pagi semuanya!" tiba-tiba Dokter Gita memasuki ruangan itu dan membuat semua mengarah padanya. Lea heran sendiri karena memang belum bertemu dengan Dokter yang menangani Rasti.


" Maaf sudah menunggu lama," ucap Dokter Gita.


" Siapa dia?" tanya Lea.


" Itu Dokternya Lea," jawab Lea.


" Hay salam kenal saya Dokter Gita, temannya Alvin dan akan menjadi Dokter Rasti. Saya kemarin tidak bertemu kamu," ucap Gita dengan ramah menjulurkan tangannya pada Lea.


" Saya Lea. Istrinya Alvin," jawab Lea singkat dengan wajah datar tanpa tersenyum.


" Oh begitu rupanya," sahut Gita tersenyum kaku.


" Hmmm, jadi Dokternya seorang wanita. Alvin tidak mengatakan apa-apa. Jika Dokter yang katanya temannya itu wanita," batin Lea yang terus melihati Dokter itu dengan mengamati Dokter itu.


" Baiklah kalau begitu langsung saja kita akan mengambil tindakan ke-2," sahut Dokter Alvin.


" Tindakan apa?" tanya Evan.


" Bukannya seharusnya kalian sudah tau. Karena saya sudah menceritakannya pada Alvin tadi malam," sahut Dokter Gita.


" Kamu itu aneh sekali. Bisa-bisanya kamu malah menghubungi Alvin yang bukan pasien kamu. Pasiennya di sini Rasti. Seharusnya kamu memberitahu dia dan dia tidak kebingungan seperti ini," sahut Lea dengan ketus.


" Astaga jadi Mbak Rasti belum tau sama sekali," sahut Dokter Gita dengan rasa bersalah.


" Ya ampun Alvin. Kenapa kamu tidak memberitahunya menjelaskannya akan membutuh waktu lagi dan dalam dunia kedokteran waktu yang terbuang sia-sia itu tidak baik," sahut Dokter Gita.


" Dokter yang membuang waktu sendiri. Apa ada seorang Dokter yang harus memberi tahu kondisi pasien melalui lewat telpon dan itu bukan pada pasiennya. Dokter yang membuang waktu kami untuk bangun di tengah malam," sahut Lea dengan menatap serius Dokter Gita.

__ADS_1


" Lea!" lirih Melody yang merasa jika urusannya sudah lain.


" Kalau begitu maafkan saya. Saya akan menjelaskan kembali tolong semuanya tenang," sahut Dokter Gita dengan santai yang tersenyum ramah pada semuanya. Namun Lea tampaknya sangat kesal dengan Dokter wanita itu. Tidak tau kenapa dia begitu kesal dengan wanita itu.


Akhirnya Dokter itu kembali menjelaskan semuanya dengan pelan-pelan dan mudah di pahami. Melody, Rasti, Evan, Ardian dan Alvin mengangguk-angguk dengan wajah serius. Namun Lea hanya fokus melihat Dokter wanita yang lebih fokus bicara pada Alvin. Bisa di katakan sebenarnya Lea sangat tidak suka dengan wanita itu yang menurutnya terlalu berlebihan pada Alvin.


**********


Akhirnya pertemuan itu selesai dan hasil keputusan untuk Rasti yang harus di rawat untuk melakukan operasi. Namun tidak harus operasi pengangkatan rahim. Hal itu merupakan semangat untuk Rasti. Walau sebelumnya Dokter mengatakan akan ada resiko yang tinggi dan tidak jauh- jauh dari kematian. Namun tetap Rasti semangat karena adanya teman-temannya yang selalu mendukungnya.


" Ya sudah kalau begitu aku sama Melody kembali duluan ya. Soalnya aku harus mengantarkan Melody kerumah untuk menemui Chaca," ucap Ardian yang pamit.


" Iya Ardian Melody, makasih ya kalian sudah menyempatkan waktu untuk hari ini," sahut Rasti.


" Tidak apa-apa Rasti. Kamu semangat terus ya dan harus istirahat supaya kondisi kamu semakin membaik," sahut Melody.


" Iya Melody pasti," sahut Rasti.


" Evan kamu juga jangan lupa untuk mengurus semua keperluan Rasti di rumah sakit. Nanti aku juga minta bantuan mas Bayu untuk mengurus sebagian," sahut Ardian.


" Iya Ardian, makasih ya sudah di bantuin," sahut Evan.


Ardian dan Melody mengangguk.


" Ya sudah kalau begitu kami pergi ya," ucap Melody dan Ardian pamitan. Sebelum pergi Melody memeluk Rasti untuk memberikannya semangat.


" Mari Lea, Alvin," ucap Melody sebelum berpamitan. Lea dan Alvin mengangguk saja.


" Aku sama Lea juga pergi sebentar. Nanti kembali lagi," sahut Alvin yang juga pamitan.


" Baiklah makasih juga ya. Kalian hati-hati," sahut Evan.


" Iya," sahut Alvin, " ayo sayang!" ajak Alvin, Lea hanya mengangguk.


" Alvin sebentar!" Alvin dan Lea tidak jadi pergi ketika Dokter Gita memanggil Alvin.


" Ada apa Gita?" tanya Alvin.


" Keruanganku sebentar ada yang ingin aku bicarakan dan kamu juga harus menandatangani beberapa berkas," ucap Gita.


Lea mendengarnya mengkerutkan dahinya yang mendengar ajakan Gita.


" Memang masalah apa?" tanya Evan.


" Ya masalah pasien," sahut Dokter Gita.


" Lalu kenapa dia yang harus menandatanganinya," sahut Lea dengan ketus.


" Maaf sebelumnya. Aku dan Alvin sudah saling mengenal dan sebelumnya bukan cuma Rasti pasien yang di serahkan Alvin kepadaku. Sudah banyak pasien yang di percayakan Alvin kepadaku dan selama itu aku dan Alvin yang sering mengurus ini itu di bandingkan dengan pasien atau keluarga pasien. Karena itu untuk menjaga kondisi dan ketenangan pikiran pasien. Jadi bukan karena apa-apa," jelas Dokter Gita dengan santai yang tersenyum pada Lea.


" Oh begitu ternyata. Ya sudah sana pergi. Aku menunggu di mobil," sahut Lea dengan ketus dan langsung pergi.


" Lea!" panggil Alvin.


" Ayo Alvin jangan membuang-buang waktu!" Gita menarik Alvin dan membuat Alvin tidak punya pilihan lain sementara Rasti dan Evan saling melihat.


" Ada apa sebenarnya?" tanya Rasti.

__ADS_1


" Jangan di pikirkan. Tidak ada apa-apa," ucap Evan mengusap-usap rambut Rasti yang tidak ingin Rasti kepikiran.


Bersambung


__ADS_2