
Widia, Shandra, dan Eyang besar melihat nyata di mana memang benar apa adanya Melody sudah bisa berjalan. Widia tersenyum dengan melihat menantunya yang sudah bisa berjalan.
" Alhamdulillah akhirnya Melody bisa berjalan kembali. Aku berharap dengan berjalannya Melody dia bisa bertambah semangat dalam menjalani kehiduoannya," batin Widia yang merasa bahagia dengan Melody yang sekarang berpelukan dengan Aliya.
Widia juga melihat Melody yang tertawa lepas. Tawa yang tidak telah hilang. Bunga-bunga seakan bermekaran melihat tawa lebar itu. Seakan mereka begitu bahagia dengan Melody yang memberi tawa di sekitar bunga-bunga itu.
" Ya lihatlah, dia sudah bisa berjalan. Itu artinya keluarga ini bisa memberinya kesembuhan dan mempertanggung jawabkan semuanya," sahut Eyang besar.
" Tinggal selanjutnya apa yang harus di lakukan?" tanya Shandra.
" Jangan memikirkan selanjutnya Jika mengarah pada perceraian. Melody dan Ardian punya hak masing-masing. Jadi biarkan mereka yang memutuskan segala sesuatunya," sahut Eyang besar.
" Aku setuju kata mama. Tidak ada salahnya memberi mereka berdua kesempatan," sahut Widia.
" Baiklah. Kita jangan bahas masalah itu lagi. Aku mendengar Melody tidak satupun mengikuti adat pernikahan," ucap Eyang besar tiba-tiba kepikiran untuk menanyakan hal itu.
" Iya benar mah, Melody sempat menolaknya," sahut Shandra.
" Dan kita tidak bisa membiarkannya menolaknya lagi," sahut Eyang besar.
" Maksud mama apa?" tanya Shandra.
" Dia sudah menikah dengan anggota keluarga ini. 2 menantu di rumah ini sudah mengikuti aturannya dan Melody juga harus mengikuti adat di rumah ini dan segala aturannya. Dia juga sudah bisa berjalan. Jadi tidak ada penghalangnya lagi atau alasan apapun lagi. Jadi kalian siapkan semuanya. Dia harus mengikuti semuanya. Karena menantu wajib mengikutinya," ucap Eyang besar menegaskan tanpa basa-basi.
" Tapi mah. Apa itu perlu, Melody juga akan menolak dan aku rasa itu hanya menimbulkan masalah lagi," sahut Shandra yang kelihatan tidak setuju.
" Kita belum mencobanya Shandra. Jadi jangan berpikiran yang lain-lain dulu. Siapa tau kali ini Melody mau," sahut Widia yang berpikiran positif.
" Tapi Mbak," sahut Shandra.
" Sudah-sudah. Kalian jangan malah bertengkar. Ini itu memang harus di lakukan dan tidak boleh ada penolakan. Jadi harus di lancarkan secepatnya. Dan Ya kita harus mencobanya. Melody menolak atau tidak itu nanti kita urus. Jadi untuk kalian ber-2 sebaiknya siapkan semuanya yang benar-benar di butuhkan," sahut Eyang menegaskan. Shandra diam dan tidak bisa membantah lagi. Widia mengangguk dengan berharap memang Melody tidak menolak apapun lagi.
__ADS_1
" Apa kalian mengerti?" tanya Eyang besar.
" Baik mah," jawab Widia dan Shandra serentak.
Widia kembali melihat ke bawah melihat Melody yang sudah bisa berjalan membuatnya begitu lega. Melodi yang memang sangat bahagia.
***********
Mila berada di dapur yang sibuk membereskan dapur. Widia memasuki dapur yang sepertinya khusus menemui menantunya itu.
" Mila!" tegur Widia.
" Iya mah," sahut Widia yang membalikkan tubuhnya melihat Widia.
" Mama ingin minta tolong kamu. Untuk mempersiapkan adat istiadat di rumah ini untuk Melody," ucap Widia.
" Maksud mama untuk menantu?" tanya Mila memastikan.
" Lalu apa Melody bersedia?" tanya Mila yang Setaunya Melody sudah menolak semuanya sebelumnya.
" Mama tidak tau. Tapi Eyang ingin melakukannya dan mama juga tidak tau Melody mau apa tidak. Tapi kita belum mencobanya," sahut Widia yang juga penuh keraguan.
" Mah, Melody baru bisa berjalan dan dia juga belum betapa pulih Dokter bilang juga masih banyak masalah pada pikiran dan juga mentalnya. Apa mama yakin ingin melakukan ini. Mama kan tau sendiri Melody paling benci di paksa dan nanti ujung-ujungnya akan ribut dengan Rendy," ucap Mila memberikan saran.
" Mama tau Mila. Tapi cobalah kita buat dan semoga saja Melody tidak berulah. Kita berdoa saja yang terbaik," sahut Widia yang pasrah kepada Tuhannya.
" Ya sudah mah, jika memang mama maunya seperti itu. Nanti biar Mila siapkan semuanya," sahut Mila.
" Iya Mila, makasih ya," ucap Widia. Mila mengangguk dan Widia pun pergi dari dapur.
************
__ADS_1
Melody yang sudah bisa berjalan berdiri di depan cermin yang memutar-mutar tubuhnya seolah yang tidak percaya dia bisa berdiri tegak kembali dan melangkahkan kakinya untuk berjalan.
" Apa aku telpon mama dan papa, mengatakan jika aku bisa berjalan," batin Melody yang kepikiran dengan orang tuanya.
" Tetapi tidak. Aku tidak akan memberitahu mereka. Mereka tidak peduli kepadaku. Jika mereka peduli. Mereka tidak akan meninggalkan ku di rumah ini. Jadi aku tidak akan memberi tahu mama dan juga papa. Biarkan saja seperti itu. Mereka sudah mengeluarkanku dari keluarga mereka," ucap Melody dengan wajah sedihnya yang masih marah pada ke-2 orang tuanya yang memang itu sangat wajar dia masih semarah itu.
" Ahhhh sudahlah," ucapnya dengan mengibas kan tangannya. Lalu Melody keluar dari kamarnya.
Saat Melody keluar dari kamar dengan kebetulan Evan lewat. Evan Tampak schock dengan Melody yang tiba-tiba sudah berdiri tegak di depannya.
" Melody!" lirih Evan dengan matanya yang melotot seperti melihat setan.
" Apa aku tidak salah ini benar-benar kamu?" tanya Evan tidak percaya yang benar-benar nyata melihat Melody.
" Apaan sih. Biasa aja," sahut Melody ketus dengan Evan.
" Kamu sudah bisa berjalan. Kok bisa cepat kayak gitu. Sejak kapan kamu bisa berjalan," ucap Evan dengan banyaknya pertanyaannya yang membuat Melody memutar bola matanya malas dengan Evan.
" Sudahlah Evan, apa itu penting. Aku bisa berjalan. Kamu tidak peduli denganku. Kalau kamu peduli. Kamu pasti tau perkembangan ku tidak kayak orang shock seperti ini," sahut Melody dengan ke-2 tangannya di lipatnya di dadanya.
" Ya ampun Melody. Aku hanya benar-benar tidak percaya. Siapa yang tidak peduli denganmu. Sungguh aku sangat peduli. Ya aku benar-benar tidak percaya saja dengan semua ini tapi sumpah aku senang banget, melihat kamu bisa berjalan sungguh Melody ini kabar paling bahagia. Akhirnya kamu bisa berdiri tanpa kursi roda lagi berjalan seperti biasanya," ucap Evan yang tidak bisa membohongi perasaan bahagianya dengan temannya yang bisa berjalan.
" Iya, aku juga tidak percaya bisa secepat ini berjalan," sahut Melody yang juga merasa lega.
" Melody maafkan aku ya. Kamu kecelakaan gara-gara perbuatan ku," ucap Evan yang tiba-tiba keceplosan. Melody langsung menatap Evan dengan serius.
" Maksud kamu?" sahut Melody heran. Evan membulatkan matanya yang menyadari jika dia tadi benar-benar sudah keceplosan. Memang setau Melody Ardian yang membuatnya kecelakaan dan sekarang kenapa jadi Evan. Apa yang di dengarnya jelas membuatnya penuh kebingungan.
" Mampus! Bagaimana ini, Melody bisa membunuhku. Kalau dia tau aku yang membuatnya kecelakaan," batin Evan yang kepanikan sendiri. Namun Melody benar-benar menunggu jawaban Evan.
Bersambung
__ADS_1