
Jing Ling mencoba menghadapi kelompok Zhao Zirui yang mencoba menghadangnya. Amarahnya benar-benar telah memuncak, tapi sekuat apa pun dia mencoba, usahanya hanya berakhir sia-sia.
Ya, itu karena Zhao Zirui dan dua pria lainnya memiliki kultivasi satu tingkat di atasnya. Sebagai gadis biasa dia tidak memiliki banyak pengalaman dalam bertarung.
"Tidak bisa dibiarkan," gumam Jing Ling.
Pada saat itulah bayangan putih nampak melesat cepat menuju kelompok Zhao Zirui. Mereka sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menghindar karena bayangan itu datang terlalu tiba-tiba.
Boomm!
Bunyi ledakan yang memekakkan telinga langsung bergema. Debu-debu beterbangan menghalangi pandangan. Ketika udara kembali normal, ketiga pria itu telah dilemparkan beberapa meter ke belakang. Wajah mereka nampak pucat, bahkan ada yang langsung meludahkan seteguk darah.
Jika orang lain berpikir mereka akan marah maka itu salah. Bukannya marah, sebaliknya mereka tertegun saat melihat siapa yang telah melemparkan serangan. Rasa sakit yang ditanggung seolah lenyap begitu saja, digantikan oleh perasaan takjub.
'Surga! Siapa gadis itu?' pikir mereka secara bersamaan.
Bukan hal yang mengejutkan, siapa pun pria yang melihat kecantikan Qing Yue'er pasti akan merasakan hal yang sama. Ini tidak berlebihan sama sekali.
Meskipun Qing Yue'er sudah menutup simbol Phoenix di dahinya, namun kecantikan alaminya tidak pernah memudar. Apalagi setelah bermandikan air Yin Yang selama beberapa bulan, tentu saja dia bukan kecantikan yang bisa ditandingi oleh manusia biasa.
Jing Ling senang karena Qing Yue'er telah menolongnya, tapi dia juga heran kenapa gadis itu bisa ada di sini bukannya mengurus Mei Yiran.
"Xinyu, di mana rubah itu?" tanya Jing Ling.
Qing Yue'er tersenyum masam. Dia tidak menjawab pertanyaan Jing Ling sebaliknya mendatangi Zhao Zirui. Dengan langkah anggun dia berhenti tepat di depan ketiga pria yang masih tercengang.
"Kawan, tidakkah kalian mengetahui di mana Mei Yiran pergi?" tanya Qing Yue'er dengan nada yang menyenangkan.
Ketiga pria itu menggelengkan kepala dengan bodoh. "T-tidak, tidak tahu."
"Oh?" Qing Yue'er mengangkat kedua alisnya.
__ADS_1
"Katakan saja, bodoh! Di mana rubah itu pergi?! Kalian pasti mengetahui sesuatu!" seru Jing Ling yang sudah mulai menyadari situasi.
Dia memukul wajah mereka satu persatu karena masih kesal dengan kejadian sebelumnya. Seandainya orang-orang ini tidak menghalanginya pasti dia bisa membantu Qing Yue'er lebih lama menahan Mei Yiran.
Kepalan tangannya tidak berhenti hingga membuat ketiga pria itu memiliki memar di sekujur tubuh. Mereka benar-benar dipukul seperti ****.
"Uhuk! Nona Jing, tolong lepaskan aku! Aku hanya tahu bahwa Nona Mei sering bepergian ke kota Fuli. Mungkin dia ada di sana," jawab Su Hen dengan sedikit terbata.
"Melepaskanmu?! Kenapa kalian sangat bodoh? Apa kalian pikir aku akan melepaskan kalian begitu saja?!" Jing Ling berseru sambil menarik ketiga orang itu menjauh.
Dengan bantuan orang lain dia menggantung tubuh mereka terbalik di depan gerbang kota. Bukan hanya itu, dia bahkan meminta orang lain menelanjangi mereka untuk mempermalukannya.
Segala teriakan dan kutukan tidak Jing Ling pedulikan. Dia hanya tersenyum puas saat melihat hasil kerjanya sendiri.
Qing Yue'er tidak berminat dengan hal-hal yang dilakukan oleh Jing Ling. Dia lebih memilih untuk menunggu gadis itu selesai dengan tindakan konyolnya.
Sebenarnya dia sedikit heran dengan Jing Ling. Ternyata gadis keturunan penguasa kota ini memiliki sikap yang 'cukup' barbar juga.
Saat ini dia tengah memikirkan sesuatu. Jika memang kota Fuli adalah kota yang biasa Mei Yiran datangi, mungkin orang yang bekerja di belakangnya juga berada di kota itu.
Kota Fuli yang merupakan ibu kota kerajaan Xirei tentu saja memiliki berbagai kekuatan, termasuk klan Jiang dan Feng. Itu berarti dia harus melanjutkan perjalanannya ke sana.
Hanya saja ada sedikit perasaan yang mengganjal. Jika terlalu lama menunda, apakah orang-orang yang jiwanya terserap oleh sitar Mei Yiran itu tidak mengalami masalah?
"Kenapa kau harus dipusingkan oleh hal seperti itu? Tidak ada yang perlu kamu pedulikan. Lagipula siapa di sini orang yang kamu kenal?" Ying Jun berkata dari ruang dimensinya.
Qing Yue'er tertegun. Memang benar, orang-orang di sini tidak memiliki hubungan apa pun dengannya. Bahkan tindakannya sejauh ini sudah cukup dikatakan 'peduli'.
Siapa pun harus tahu. Dunia ini sangat kejam. Bunuh-membunuh pun bukan hal yang aneh. Tindakannya yang berani menentang Mei Yiran sudah merupakan keberanian yang hanya dimiliki oleh sedikit orang.
"Hidup di dunia ini jangan terlalu memegang hati yang lunak. Seringkali balasan mereka tidak sesuai dengan apa yang telah kita berikan."
__ADS_1
Ying Jun memberikan pandangan pada Qing Yue'er. Dia sudah menjalani hari yang panjang. Tentu saja pengalamannya tidak bisa dibandingkan dengan manusia pada umumnya.
"Ya, kamu memang benar," balas Qing Yue'er.
***
Di sisi lain, Mei Yiran berdiri menunduk di belakang punggung seseorang. Dia merasa sedikit takut setelah menceritakan apa yang telah terjadi pada orang tersebut.
"Bodoh! Hanya menyikapi seorang anak saja tidak bisa!" maki orang yang ada di depannya. "Jangan beralasan kalau dia kuat, atau tidak sederhana. Aku mengirimmu jauh-jauh bukan hanya untuk membuatmu dikenal orang lain."
"Tapi dia benar-benar akan menghancurkan sitar itu. Jika aku tidak membawanya pergi mungkin semuanya akan lenyap begitu saja." Mei Yiran menjelaskan dengan nada yang tidak menyenangkan.
Dia mungkin bersikap hormat kepada orang ini, tetap patuh dan menjalankan apa pun tugas-tugasnya, namun ada satu hal yang membuatnya tidak senang.
Ya, dia tidak senang dengan cara bagaimana orang ini memperlakukannya. Jika bukan karena kehendak ayahnya mungkin dia tidak akan mau bekerja sama dengannya.
"Apa pun alasanmu, pada intinya kamu benar-benar tidak becus!"
Orang itu berbalik dan menatap Mei Yiran dengan tajam. Aura yang terpancar dari tubuhnya terasa sangat menakutkan. Hal itu tentu saja membuat nyali Mei Yiran menciut.
"Jangan berpikir karena statusmu tinggi lalu aku akan memperlakukanmu dengan spesial. Jangan bermimpi. Semua orang dihadapanku memiliki kedudukan yang sama," lanjutnya.
Mei Yiran mengepalkan kedua tangannya. Meskipun dia marah namun dia tidak bisa melakukan apa pun. "Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Lupakan saja. Aku akan mengirim orang lain. Kamu tetap di kota ini mengawasi tempat itu."
"Baik."
Mei Yiran pergi meninggalkan orang itu dengan perasaan jengkel. Dia mungkin harus kembali untuk membicarakan masalah ini dengan ayahnya.
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote ya ^_^