
Waktu berjalan begitu lama. Ketika murid-murid tinggal sedikit yang sedang berbaris, Qing Yue'er dan Luo Qingqi akhirnya masuk kembali ke lapangan dan menunggu giliran. Terik matahari sempat membuat kepanasan tapi mereka bisa mengatasinya dengan mudah.
Ketika giliran Luo Qingqi tiba, akhirnya dia mengeluarkan dua beruang yang dipinjamnya dari Qing Yue'er. Perasaannya menjadi gugup, takut jika orang lain mengetahui triknya. Tiba-tiba dia mendengar suara lirih dari belakang. "Jika kamu gugup mungkin mereka justru akan merasa curiga."
Akhirnya dia berhasil merasa menenangkan diri. Dia membawa kedua beruang kecil itu menuju tugu yang tersedia. Dia menarik masing-masing tangan beruang dan menempelkannya ke permukaan tugu yang transparan. Setelah itu tugu pun bersinar dengan cerah. Sebuah tulisan muncul di sana, yaitu tanah.
Luo Qingqi tidak begitu memahaminya. Mungkin maksudnya serangan yang digunakan oleh kedua beruang itu adalah memanfaatkan tanah. Ini seperti elemen-elemen di dunia. Akhirnya dia menarik napas dan mengambil kedua beruang kecil itu. Dia menatap Qing Yue'er sebentar sebelum akhirnya pergi untuk mengelompokkan diri ke dalam kelompok binatang roh yang berelemen tanah.
Sekarang giliran Qing Yue'er tiba. Dia menoleh menatap guru-guru. "Apa aku harus mengeluarkan naga itu? Kalian semua pasti sudah mengetahuinya bukan?"
He Jin mengambil kesempatan ini. "Kamu tentu saja tidak bisa melewatkan tes ini. Apa kamu pikir hanya karena binatangmu begitu luar biasa sehingga kamu bisa bersikap semaumu?"
Qing Yue'er terkekeh, membuat siapa saja langsung memalingkan wajah untuk menatapnya. Mereka semua tentu merasa takjub. Ini adalah salah satu dari tiga kecantikan baru dan yang ini merupakan orang yang sepertinya paling beruntung.
"Aku dengar tujuan tes ini adalah untuk memeriksa apakah semuanya sudah memiliki binatang kontrak yang layak atau tidak. Pak Tua, semua orang sudah tahu tentang naga emasku dan itu sangat layak. Jadi sebenarnya apa yang kamu inginkan?" Qing Yue'er menatap He Jin dengan kepala dimiringkan. "Atau ... kamu memiliki tujuan lain?"
Wajah He Jin langsung menegang. Dia tidak menyukai kenyataan bahwa gadis itu memiliki seekor naga. Dan sekarang, ternyata gadis itu juga bisa berpikir dengan teliti seperti ini. Apa dia terlalu bertidak terang-terangan? Tidak, dia pikir dia tidak buruk dalam berakting.
"Jadi kamu ingin membantah?!" He Jin berseru tidak senang.
Niu Ren yang ada di sebelah He Jin pun segera berdehem. Dia menatap Qing Yue'er penuh arti. "Tidak perlu. Kamu tidak perlu melakukan tes tersebut."
He Jin menatap Niu Ren dengan wajah masam. Jika pria itu sudah mengatakan tidak perlu maka dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Jadi dia hanya mendengus dan membiarkan gadis itu terbebas begitu saja.
"He Tua, kenapa kamu begitu tidak menyukainya? Bukankah apa yang dikatakan oleh Xinyu adalah kebenaran? Jangan bilang kalau kamu ingin merebut naga itu darinya." Tiba-tiba Peng Liang berkata dari samping. Ucapan itu tentu saja membuat He Jin semakin tidak senang.
"Apa kamu pikir aku serakus itu?" He Jin menatap Peng Liang dengan cemberut.
Setelah itu apa yang terjadi hanya perdebatan para tua-tua. Qing Yue'er tidak berniat berlama-lama. Jadi dia hanya menatap Niu Ren dan mengedipkan sebelah matanya dengan cantik. Bibirnya terangkat menjadi senyum tipis dan dia pun melenggang pergi tanpa melakukan tes binatang roh.
Tindakannya yang begitu berani membuat Niu Ren tidak bisa berkata-kata. Tidak bisa dipungkiri bahwa dia benar-benar tertarik pada kecantikan itu. Namun, dia tidak mungkin mengingkari kata-katanya sendiri bukan? Jika He Jin mengetahui ini pasti orang tua itu tidak akan tinggal diam. Bagaimanapun juga orang tua itu pasti memiliki pikirannya sendiri
Dia tidak tahu bagaimana sikap He Jin yang sebenarnya. Namun, jika pria tua itu mengetahui perasaannya yang bisa berubah kapan saja, siapa yang akan tahu apa yang mungkin direncanakan?
Setelah itu akhirnya uji binatang roh itu selesai. Ternyata ada banyak murid yang memiliki binatang roh dengan serangan api. Mungkin ada sekitar lima puluh orang. Itu jumlah yang sangat banyak. Mereka semua langsung digiring ke tempat yang tidak diketahui.
Tentu saja tindakan itu membuat murid-murid bertanya dengan heran. Apa yang akan dilakukan oleh akademi? Apa sebenarnya pihak akademi hanya ingin mengumpulkan binatang-binatang dengan serangan api? Kenapa mereka harus menyembunyikan niat seperti itu?
Tidak ada yang benar-benar tahu, kecuali Qing Yue'er dan Luo Qingqi. Namun, kedua gadis itu tentunya tidak akan mengatakan apa-apa. Mereka berdua akhirnya berjalan untuk meninggalkan lapangan. Tidak ada apa pun untuk dilakukan di sana.
"Kakak Luo, bagaimana binatangmu bisa berubah menjadi dua ekor beruang?" Tiba-tiba suara yang Qing Yue'er kenal terdengar dari arah belakang. Dia dan Luo Qingqi segera berbalik. Di sana Jing Ling sedang menatap keduanya dengan heran.
Luo Qingqi mengawasi sekitar. Untung saja di sana sudah sepi jadi tidak ada yang mendengar pertanyaan Jing Ling. Dia pun menghela napas dengan lega. Namun, bibirnya menjadi cemberut ketika melihat Jing Ling.
Menyadari ekspresi Qing Yue'er dan Luo Qingqi yang tidak biasa, Jing Ling pun menjadi heran. Dia menatap dengan bingung pada kedua orang itu. "Apa aku membuat kesalahan? Kenapa kalian menatapku seperti itu?"
"Ya, kamu bodoh." Qing Yue'er mencibir.
"Bagaimana aku bisa bodoh? Aku hanya tidak tahu kenapa binatang Luo ...."
"Masih mau berbicara lagi?"
Jing Ling menutup mulutnya dan tersenyum malu. "Seharusnya kalian menceritakan sesuatu padaku bukan?"
"Ikutlah," ucap Luo Qingqi. Kemudian dia dan Qing Yue'er melanjutkan perjalanan. Di belakang mereka, Jing Ling pun mengikuti dengan pikiran yang mengembara. Mungkin hanya gadis sepertinya yang masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Setelah tiba di depan asrama Luo Qingqi pun langsung menjelaskan apa yang menjadi kewaspadaan mereka. Dia heran kenapa Jing Ling tidak bisa berpikir sampai di sana. "Apa kamu mengerti sekarang?"
Jing Ling mengangguk. Dia menatap Qing Yue'er dengan takjub. "Jadi kamu memiliki binatang roh yang lain?" Qing Yue'er hanya mengangguk dengan malas. Jing Ling ternganga sebelum bersorak dengan takjub. "Hebat! Aku jadi bertanya-tanya, seberapa banyak hal hebat lainnya yang kamu sembunyikan dari orang lain?"
"Itu tentunya rahasia," kata Qing Yue'er, "ngomong-ngomong di mana Ming Yuxia?"
"Gadis itu memiliki urusan lain, aku tidak tahu." Jing Ling menggeleng. Baru saja dia berkata tiba-tiba ketukan pintu terdengar. Luo Qingqi pun segera membuka pintu. Di sana berdiri seorang murid yang masih tampak asing.
"Apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Luo Qingqi.
"Aku hanya ingin menyampaikan pesan, tuan muda Niu ingin bertemu dengan Xinyu. Sore ini di kediamannya," ucap murid itu dengan sopan.
Luo Qingqi mengerutkan kening. Dia menoleh untuk menatap Qing Yue'er. Gadis yang sedang ditatapnya itu menatap pada murid yang berdiri di depan pintu. "Bagaimana jika aku tidak datang?"
"Jika kamu tidak datang maka dia yang akan datang ke sini."
Qing Yue'er mengangguk mengerti. "Baik, aku akan menemuinya nanti." Kemudian murid itu pun pergi. Qing Yue'er tersenyum samar. Apakah sekarang dia sudah berhasil menangkapnya?
"Kenapa Niu Ren ingin bertemu denganmu? Sepertinya dia begitu memaksa," ucap Luo Qingqi dengan heran. "Dia tidak mungkin mengetahui bahwa kita yang sudah membunuh Ling Suyao bukan?"
"Aku tidak berpikir begitu. Aku selalu percaya Xinyu selalu menyelesaikan hal-hal dengan baik." Jing Ling menolak pemikiran Luo Qingqi.
"Kita akan mengetahuinya setelah aku datang. Tidak perlu mencemaskan hal-hal yang masih samar," ucap Qing Yue'er. Dia tidak berpikir kalau pembunuhan itu sudah diketahui. Lagipula dia sudah melakukan sebaik mungkin untuk meninggalkan jejaknya.
***
Ketika hari sudah sore, akhirnya Qing Yue'er keluar dari asrama. Dia berjalan dengan tenang menuju tempat yang sebenarnya tidak pernah dia duga. Ya, ini adalah sesuatu yang berada di luar rencana. Namun, dia juga memiliki tujuan lain.
Setelah berjalan beberapa lama akhirnya dia berhenti di depan kediaman yang besar. Ada beberapa penjaga yang berdiri di luar pintu. Ketika mereka melihat Qing Yue'er, mereka langsung memasang penjagaan. "Siapa kamu?"
"Aku Xinyu, tuanmu ingin aku datang ke sini," ucap Qing Yue'er dengan tenang.
Qing Yue'er mengikuti orang itu hingga berakhir di sebuah paviliun. Paviliun itu berada di atas kolam yang sangat indah. Ada banyak lotus yang sudah berbunga tumbuh di permukaan kolam. Ini memang berbeda dengan suasana akademi yang terbilang ramai dan pengang. Sangat cocok untuk bersantai atau merefleksikan diri.
"Nona, silakan tunggu sebentar. Tuan Muda Niu akan segera datang."
Qing Yue'er mengangguk dan memasuki paviliun tersebut. Dia duduk memandangi kolam yang cukup nyaman dipandang. Orang yang mengantarnya sudah pergi setelah mengatakan beberapa patah kata.
"Gadis, jangan coba-coba untuk mendekati orang lain." Tiba-tiba suara yang lain datang di benaknya.
Qing Yue'er tersenyum samar. Timbul pikiran untuk menggoda pria itu. "Memangnya kenapa? Aku bebas melakukan apa pun."
Mo Jingtian mendengus. "Ya, kamu bebas melakukan apa pun."
"Jadi apa aku boleh mendekati pria itu? Dia terlihat cukup tampan," ucap Qing Yue'er.
"Kamu boleh mendekatinya." Suara Mo Jingtian menjadi dingin.
"Benarkah?" Qing Yue'er bertanya dengan heran. Dia tidak mengharapkan jawaban seperti ini yang keluar dari mulut Mo Jingtian. Sorot matanya menjadi redup.
"Lalu, kamu akan melihat mayatnya besok pagi."
Qing Yue'er langsung terkekeh. "Kenapa kamu begitu kejam?"
"Aku harap kamu juga akan melakukan hal yang sama jika ada seorang wanita yang mendekatiku," ucap Mo Jingtian dengan santai. Suaranya tidak sedingin sebelumnya.
__ADS_1
"Aku tidak mau mendengarnya. Tidak ada. Tidak akan ada hal seperti itu." Qing Yue'er segera menolak pemikiran itu. Dia menolak memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang mengganggunya.
Mo Jingtian hanya tersenyum. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi hingga akhirnya Niu Ren tiba di paviliun di mana Qing Yue'er berada. Pria itu kini terlihat lebih santai daripada saat berada di depan murid-murid yang lain.
"Nona Xinyu, aku sudah yakin kamu akan datang menemuiku," ucapnya.
Qing Yue'er tersenyum. "Aku memang harus datang bukan? Tidak mungkin aku membiarkan Tuan Muda Niu datang menemuiku. Ah, itu mungkin akan membuat keributan di sana."
Niu Ren mengangguk dengan senang. Dia duduk di hadapan Qing Yue'er. Gerakannya memang berwibawa, seperti calon pemimpin yang baik. "Aku senang karena akhirnya ada murid yang bisa menaklukkan seekor binatang illahi."
Qing Yue'er tidak mengatakan apa-apa, hanya tersenyum biasa. Kemudian Niu Ren melanjutkan lagi. "Aku merasa salut. Murid sepertimu harus diberi sebuah penghargaan."
"Apa itu tidak terlalu berlebihan? Aku rasa tidak ada yang perlu dilebih-lebihkan. Ini hanya keberuntungan baikku saja." Qing Yue'er berkata dengan sopan. Hal itu membuat perbedaan status mereka terlihat begitu jelas.
"Keberuntungan juga patut dikagumi. Tidak semua orang seperti itu," ucap Niu Ren. Dia melihat gadis di depannya ini semakin indah dipandang saja.
"Kalau begitu terima kasih, Tuan Muda Niu."
"Kamu tidak perlu sopan seperti itu. Bagaimanapun juga akademi membutuhkan orang berbakat sepertimu."
Qing Yue'er terkekeh. "Sebenarnya aku merasa penasaran kenapa Tuan Muda ingin aku datang ke sini."
Niu Ren tersenyum. "Apa perlu alasan jika aku ingin melakukan sesuatu? Aku rasa aku ingin mengenalmu lebih jauh. Ya, hanya itu."
Ucapan itu membuat Qing Yue'er meraih kemenangan. Dia mengangguk mengerti. Kemudian selanjutnya dia selalu menjawab apa yang ditanyakan secara tersirat oleh Niu Ren. Ah, pria itu sangat jelas saat mendekati seseorang.
Namun, ketika hari sudah berubah menjadi senja, wajah Qing Yue'er menjadi tidak sedap dipandang. Ada kecemasan yang terpampang di wajahnya. Hal itu membuat Niu Ren bertanya, "Apa yang terjadi?"
Qing Yue'er seolah tersentak. "Bukan apa-apa."
"Kamu memiliki pikiran yang mencemaskan. Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku?" Niu Ren bertanya dengan cara yang menuntut.
Qing Yue'er terlihat ragu sejenak. Setelah beberapa saat akhirnya dia membuka mulutnya. "Sejak aku pulang dari perburuan binatang roh, aku selalu merasa cemas."
"Apa sesuatu mengganggumu?"
Qing Yue'er mengangguk. "Aku tidak tahu, tapi sudah beberapa hari ini seseorang datang menggangguku di tengah malam. Dia ingin mencelakaiku. Beruntung aku selalu bisa menghindarinya, tapi siapa yang akan tahu kapan aku bisa lengah?" Wajahnya terlihat khawatir dan tidak nyaman.
Niu Ren merasa tergerak melihat keadaan gadis di depannya. Dia terlihat begitu lemah, seperti mengharuskan seseorang untuk melindunginya. Bagaimana dia bisa membiarkan kecantikan itu menjadi begitu tidak berdaya? Akhirnya dia pun bertanya, "Apa kamu tidak bisa mengalahkannya?"
"Itu tidak mungkin. Dia menghilang begitu cepat. Sepertinya kekuatannya jauh lebih tinggi dariku, tapi aku heran kenapa dia tidak langsung melukaiku. Apa mungkin dia menginginkan sesuatu?" Qing Yue'er bergumam dengan kebingungan.
"Itu seharusnya tidak dibiarkan begitu saja." Niu Ren menghela napas. "Apa kamu berhasil menemukan sesuatu darinya?"
Qing Yue'er langsung mengangguk. Kemudian dia mengambil sebuah belati yang terlihat polos. "Aku hanya berhasil menemukan ini. Bagaimana aku harus mencari tahu?"
Niu Ren mengambilnya dan memeriksa dengan teliti. Matanya terpejam untuk sesaat. "Aku bisa membantumu."
"Apa kamu serius?" Qing Yue'er bertanya tidak yakin.
"Ya, aku akan membantumu. Jadi jangan khawatir. Aku pasti akan menemukan siapa pelakunya," ucap Niu Ren untuk meyakinkan Qing Yue'er.
Senyum manis merekah di bibir Qing Yue'er. Ah, ternyata begitu mudah untuk memanfaatkan seseorang. "Terima kasih. Aku pasti akan mengingat kebaikanmu, Tuan Muda."
"Ini bukan apa-apa." Niu Ren tersenyum.
__ADS_1
Setelah itu Qing Yue'er pun berpamitan untuk kembali ke asrama karena hari sudah gelap. Selain itu sebenarnya dia juga enggan untuk berlama-lama dengan pria itu. Bagaimana mungkin ada pria yang begitu mudah untuk digoda? Aih, itu tidak patut untuk dijadikan sebagai kekasih.
Niu Ren menatap kepergian Qing Yue'er dengan senyum senang. Dia tidak tahu kalau sebenarnya dia sedang dimanfaatkan oleh gadis yang sedang malas untuk mencari pelaku kejahatannya sendiri.